
Tama menikmati udara segar di pagi hari, padangannya tidak teralihkan oleh seraut wajah yang cantik natural butiran-butiran air menetes di pelipis. Ia begitu fokus melihat wajah istrinya, yang baru beberapa detik menikmati guyuran dari shower, handuk sebatas paha memperlihatkan tubuh mulus Ega, membuat kedua bola mata itu tidak berkedip dalam waktu begitu lama. Ia sedari tadi sibuk mengerikan rambut panjangnya tanpa sadar ada sosok di belakang memperhatikan begitu dalam.
"Hem..." sebuah dehemen tertangkap di pendengaran.
"Kak Tama, sejak kapan berada di sini?" Ucapnya heran tanpa menoleh ke arah belakang, ia melihat pantulan suaminya dari cermin.
"Sejak tadi" Balasnya.
"Kenapa tidak menunggu di bawah saja, koper sudah di angkat, peralatan yang lain, terus-" terpotong, sebuah tangan melingkar ditubuhnya,
"Sudah sayang..."imbuhnya, dagu Tama masih menempel di bahu Ega. Ia begitu menikmati aroma tubuh perempuan yang terlihat begitu segar. Ega begitu terpesona melihat wajah tampan suaminya, ia memberi kecupan sekilas. Gemes...banget suami aku.
Ternyata kecupan sekilas membuat Tama semakin memberontak meminta hak yang sudah lama tidak ia dapatkan, kenapa tidak sekarang saja. Dengan cepat ia mengangkat tubuh istrinya di atas kasur, akhirnya ia membalas kecupan Ega begitu dalam, membuat nafas lawannya tersengal-sengal. Perempuan itu membalas meski awalnya terlihat canggung.
"Boleh kita memulai saja..." ia meminta izin sebelum meminta haknya, walau sebenarnya itu adalah haknya.
"Jadi, bukan di villa dong?" Asal ceplos, Ega begitu malu dengan perkataanya yang terdengar konyol.
Tama membalas dengan kekehan kecil, "kita mulainya di sini, lanjutnya di sana biar dapat banyak ronde, hehehh"
"Lebih banyak berusaha lebih cepat jadinya" ia kembali menggoda istri yang sudah bersembunyi di dalam kemeja Tama.
Cleguk, cleguk, cleguk...
"Jadi apanya Kak"
"Jadi dedek bayi"
"Haa.."
"Dedek bayi"
"Ihhh gemes banget, pengen gigit"
"Jangan nanti sakit"
"Yaa Allah kenapa istriku tiba-tiba sekonyol ini" Membatin.
"Mau lagi dong"
"Kissnya..."
"Enak, manis"
"Kak Tama ganteng banget deh!"
"Gantian aku yang mulai ya" Tama menelan seliva dengan kasar.
Tama terdiam membisu melihat reaksi istrinya yang berubah begitu cepat. Jangan-jangan dia mabuk.
"Jangan-jangan air ini?" ia mencium air yang baru saja di teguk istrinya.
"Tapi kok bisa..." Memastikan.
"Pantes, ini pasti ulah dia, dasar tak sabaran" Gerutu Tama
Ega merangkul begitu erat mencium Tama berulang kali, sehingga membuat ia kewelahan. Handuk yang melekat di tubuh perempuan terlepas perlahan, sehingga memperlihatkan secara sempurna tubuh istrinya, selama ini ia belum pernah melihat tubuh itu, meski beberapa kali ingin melakukan hubungan suami istri, tapi selalu saja di gagalkan oleh keadaan yang tidak tepat.
Melihat tubuh itu, membuat dirinya memberontak ingin menyerang tubuh mulus itu. Sebuah hantaman bertubi-tubi membuat Ega pasrah, ia yang tidak sadar apa dia lakukan begitu menikmatinya, tanpa sadar ia telah meremas kepala suaminya begitu kuat, Tama tidak memperdulikan hal itu, kenyamanan yang di rasakan mengalahkan rasa sakit. Tuhan salahkah, mengembil hakku dengan cara seperti ini. Di sisi lain Tama merasa kasihan, ia mengambil haknya di saat istrinya setengah sadar.
Pukul 15.30 Wib. Ega masih terlelap di dalam dekapan Tama, pada akhirnya ia memilih menunda keberangkatan daripada melihat istrinya yang masih kelelahan. 15 menit berlalu perempuan dalam dekapannya masih saja belum terbangun.
Tama membisikkan sebuah kalimat di telinga istrinya "Makasih" lanjutnya "semoga kamu tidak membenciku saat sadar"
"Hemm, semoga berhasil ya sayang" Mengecup kening dengan takzim.
"Hem..Kak Tama, uda jam berapa? Kita jadi berangkatnya" tuturnya dengan suara purau.
"Kak, badan aku kok pada pegal-pegal ya? Aku habis ngapain"
"Ini kok aku, tidak mengenakan handuk, bukannya tadi aku lepas mandi" memegang kepala yang sedikit pusing.
"Terus kenapa aku merasa ada yang aneh pada tubuhku" Ucapnya tanpa memberi waktu Tama untuk menjawab.
"Hem..aku..."
"Apa Kak?"
"Hemm.."
"Kamu mandi sana, kamu mau ke villa kan, atau kalau kamu masih lelah biar di tunda aja dulu"
"Kenapa di tunda Kak, bukannya hari ini yang baik buat kita memulainya"
"Tapi, aku sudah-" terpotong,
"Sudah apa Kak" Balasnya, ia menatap heran kenapa wajah Tama terlihat gugup.
"Darah..." Ega begitu terkejut melihat darah di atas seprai berwarna cerah itu.
"Hemmm...itu..darah.." ia gugup harus mengatakan apa ke Ega, rasa bersalah tidak ia sembunyikan.
Ega perlahan bangkit dari tempat tidur, ia merasa ada hilang dari tubuhnya. Tapi, perempuan ini tidak mengubris hal itu, mungkin efek datang bulan batinnya.
Tanpa sadar Ega bangkit tanpa mengenakan sehelai benang, membuat laki-laki itu secepat kilat menutupi dengan selimut, ia merasa kepalanya terasa berat membuat otak tidak bekerja dengan benar.
"Terimah kasih Kak, aku mandi dulu ya" melangkah perlahan ke arah kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, Tama terduduk termenung melihat ke arah pintu kamar mandi.
Ceklek, suara pintu terbuka perlahan "Kak tolong handuk"
"Iya, bentar"
Ia melangkah pelan, rasa bersalah itu masih saja menghantuinya. Sebuah tangan keluar dari balik pintu, Tama segera mengulurkan handuk ke perempuan dari balik pintu. Sungguh di luar dugaan tangan itu bukannya mengambil handuk, malah menarik pergelangan tangan Tama. Ia membisu ketika melihat tubuh istri untuk kedua kalinya, mata itu kembali tak berkedip.
"Kamu, ke-ke-, ken-kenapa..." terbata-bata, Ega terkekeh pelan melihat suaminya terlihat takut, seolah dia ingin dilecehkan seorang perempuan penghibur.
"Kak Tama kenapa?" Sontak ia memegang dahi Ega, dia sakit atau masih dalam pengaruh obat itu.
Ega perlahan mendekat, membuat Tama terdorong sampai terkunci di dinding. Nafas mereka saling beradu, membuat tubuh laki-laki ini semakin memanas. Sebuah tangan menarik handuk di tangan Tama.
"Kak, handuknya dong"
"Hem, iya, iyaa"
Ega menjijit, ia berbisik "Kak Tama, tertipu nih ya!"
"Haa, tertipu, maksudnya" Tanpa jawaban, Ega telah berlalu keluar dari mandi.
"Tertipu..."
......................
Beberapa jam berlalu, belum ada tanda-tanda dari pergerakan gadis itu dari balik kamar, tanpa menunggu lama lagi ia akhirnya merusak salah satu jendela, lagi-lagi ia kewalahan karena jendala ini terbuat dari kaca anti peluru, shingga tidak mudah untuk memecahkan. Diam sejenak ia berfikir, akhirnya sebuah ide muncul. Bersusah payah ia menaiki tangga yang cukup tinggi agar bisa lewat dari atap rumah.
Gubrak...tubuhnya terjatuh saat hendak melewati genteng. Auhhh, meringis kesakitan, Fhira mendengar rintihan dari atas loteng, ia perlahan bangkit dari keterpurukan. Itu bukannya suara Kak Baraa.
Ia menangis keluar membuka pintu dengan paksa,
"Pa, Kak Baraa..."
"Ayok Pa, cepat" ia menarik lengan papanya, meski saat ini ia begitu marah kepada pria yang menginjak kepala empat itu.
Ia mengikuti arah langkah kaki anaknya, menuju ke arah loteng. Di sana mereka mendapati sosok laki-laki penuh luka lebam di di sekujur tubuh, bahkan beberapa goresan di bagian lengan dan kaki. Dengan cepat, ia menyobek gaun pengantin yang ia kenakan saat ini, baginya luka Baraa begitu parah.
"Seharusnya gua tidak keras kepala, jika gua tidak keras kepala Kak Baraa tidak akan terluka separah ini, gua memang egois dan bodoh" Fhira meracau, sepasang bola mata itu meneteskan air mata.
Sebuah tangan cepat mengusap air mata itu. "Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil"
"Luka kecil apa? Ini berdarah banyak, kalian kenapa dia cepat angkat suamiku dan panggil dokter secepatnya" ia manatap tajam kearah bodyguard
Terimah kasih Tuhan, dia istri yang baik sungguh, jangan sakiti dia lagi.
Laki-laki paruh bayah itu menatap anaknya penuh haru, ia melihat sosok istrinya dari anak sematang wayangnya itu. Air mata meluruh begitu saja, ia membalikkan tubuhnya agar tidak diketahui oleh Fhira.
"Ini semua gara-gara Papa," Gadis itu kembali meluapkan amarahnya.
Hening...
"Dok, bagaimana suami saya?"
"Suami ibu baik-baik saja, hanya luka memar dan beberapa goresan"
"Tidak ada patah tulang kan Dok?" Tanya Fhira penuh rasa kekhawatiran.
"Tidak Bu, semuanya baik-baik saja" Nada menyakinkan.
"Terimah kasih Dok, mari saya antar"
"Sama-sama Bu, ini sudah tugas saya"
"Kak Baraa, mau makan atau istirahat"
"Aku mau kamu"
"Aku..."
"Iya" Mengcup pelan tangan istrinya.
"Baiklah, sebaiknya istirahat, saya juga mau mandi dulu" Fhira menyelimuti Baraa, sebelum beranjak dari tempat tidur. Sesekali ia menatap ke arah Tama.
Pukul 19.00 Wib. Fhira kembali ke kamar itu ia memastikan agar suaminya baik-baik saja. Tak lupa membawa sebuah tampan berisi susu dan beberapa potonh roti tawar yang telah dibaluti selai.
"Sayang, temui papa" Baraa membuka mulut, sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Baiklah, jangan lupa makan ya!" Ucap Fhira tegas,
"siap bu boss" Mengacungkan jempol.