
Bukk!
Sebuah pukulan keras di atas wastafel mengeraskan deratan giginya. "Liat aja nanti!"
"Baju mu ganti aja ya? Itu terlihat kotor jika masih di pakai." Tangannya yang sibuk membersihkan lengan baju suaminya, tapi pikirannya entah kemana.
"Tidak masalah, kita kesini bukan untuk masuk ke kampus apalagi untuk mengikuti pelajaran. Melainkan memperkenalkan menantu Fhirmatara di kampus ini. Selaku direktur utama." Penjelasan tanpa melihat wajah istrinya. Berdiri tegap dengan ketegasan, sosok aura kepemimpinan.
Ega merasa heran, kenapa sampai sebegitunya Ayah Tama untuk menantunya. "Terimah kasih ayah. Jangan lupa jaga kesehatannya" Ia berdoa didalam hati dengan penuh ketulusan untuk mertuanya yang kini berada di luar negeri demi memperluaskan saham bisnisnya.
"Gua mau nongkrong sama gang motor mau ikut apa tunggu di sini?" Ia menoleh ke arah Ega sebelum pergi setelah membayar pesanan makanan mereka.
"Hem. Aku disini aja nanti minta Fhafa yang temani." Balasku pelan.
"Hem. Ciee pengantin baru masih muda lagi? Betah banget dirumah!" Sindir Bu Fifi penjaga kasir. Mereka hanya saling melemparkan pandangan satu sama lain sambil terkekeh pelan. Yaa. Allah baru kali ini aku melihat tawa darinya. Maaf? Tidak akan lama lagi.
......................
"Haii bro...betah banget di rumah?" Sindirnya.
"Biasalah...pengantin baru, iya nggak" Menyenggol bahu Tama.
"Gak sangka gua kalau lo bakan nikah sama Ega. Padahal dia incaran gua selama ini?" Imbuh laki-laki yang juga memiliki ketempanan tidak jauh dari Tama.
Uhhhh! Sorakan bergema di markas Gang Black Panther.
"Bro! Ketua tikungan lebih tajam oy, sedangkan kita tikungannya masih noob hahaha" Sambung yang lain.
Mereka tertawa terbahak-terbahak melihat wajah kesel ketuanya. Dasar! Bisa-bisanya terpojok di antara mereka. Turun harga diri sebagai ketua, ia lebih milih mondar-mondir di sekitar ruangan itu daripada meladeni bacotan tak jelas temannya.
"Aku dengar kalian di jodohin om Fhirmatara sama kakak lo ye?" Tanya salah satu di antara mereka.
Tak menggubris di perkataan dari pertanyaan yang terlontarkan. "Fico mana? Tumben tak ikut ngumpul"
"Biasalah anak mami. Ngekor mami hahhaha"
"Maksudnya?" Penasaran.
"Mami dan papi keluar negari. Yaa...ngikut juga dia"
"Oh iya. Kami dengar lo amesia dan tak ingat kalau lo! Uda nikah. Benar ya?"
"Iya. Maksudnya tidak..." Tama bingung dengan ucapannya sendiri. Apa yang harus ia jawab dari pertanyaan itu.
"Gimana maksudnya" Serentak menatap tajam ke arah Tama.
"Hem. Huft" Menghembuskan nafas kasar, "sebenarnya gua pura-pura lupa ingat."
Haa...
Mereka sontak kaget, bahkan ada di antara mereka hampir saja jatuh dari tempat duduk, jawaban yang mereka terimah sama sekali tidak bisa di pahami oleh rekan Tama.
"Tega banget sih loh Tam. Mending Ega buat gua aja ya?" Asal jeplak, sebuat tangan melayang menjitak kepalanya.
"Auhh! Sakit" Meringis kesakitan.
"Udahlah jangan ngehalu mulu napa! Istri orang woy...sadar."
"Gua harap, tidak yang berkhianat berani membocori hal ini ke siapapun!" Ancaman Tama tidak main-main terlihat jelas diwajahnya yang kini menampakan wajah datar. Tanpa bertanya lebih dalam mereka hanya mengangguk kepala menandakan iya.
Tanpa mereka sadar ada 6 sepasang mata mengawasinya sadari tadi. "Oh! Begitu...padahal awalnya gua ingin membuat mereka hancur dengan cara lain? Tapi kayakanya ini lebih menarik!"
"Uda sore siang nih! Gua pulang dulu kasian istri gua nunggu!" Beranjak dari tempatnya, terhenti lengan tertarik "Benar dia di sini? Pertemui kami dong!" Rengek salah satunya.
"Tidak" Dingin sorotan tajam, seolah ingin membakar tubuh manusia.
"B-ba-baiklah" Mengehla nafas kasar.
......................
Tama menatap Ega yang sedang tetidur pulas. Di dekat kursi Bu Fifi, ia terdiam sejenak. Maaf! Entah kata itu sudah berapa kali terucap dibibirnya. "Bu, sejak kapan istri saya tidur di sini?" Tanya pelan.
"Tidak lama semenjak nak Tama pergi"
"Hem. Terimah kasih ya Bu uda jagai Ega." Pamitnya kini Ega berada di gendongan Tama. Ratusan mata menatap takjub melihat Tama mengbopong istrinya dari lantai 3. Ya...meski lewat lift tapi itu sangat melelahkan pastinya. Ia lebih memilih hal itu daripada membangunkannya.
......................
Pukul 15.30 WIB. Ega terbangun dari tidurnya, perlahan ia membuka mata. Tempat ini tidak asing baginya, inikan kamar aku dan Tama. Dia bingung bagaimana dia bisa berada secepat itu padahal terakhir kalinya dia tertidur di ruang bu Fifi karena kelamaan menunggu suaminya.
"Hem. Uda bangun" Dehaman kecil dari Tama.
"Sudah. Bagaimana aku bisa di sini?" Sambil meregangkan tubunya karena kelamaan tidur.
"Diantar Fhafa." Dia terpaksa berbohong.
"Kok bisa. Kenapa dia tidak membangunkan aku?" Beranjak dari kasur.
"Entah" Membalas sambil tersenyum.
Setelah posisinya berlawanan Tama terkekeh geli melihat Ega seperti orang linlung. Ega yang menatap bahunya dari belakang cuman bisa diam seribu bahasa. Ia bingung mau ngapain, akhirnya iya memilih turun melihat kegiatan suaminya. Di bawah sana ia melihat sosok itu lagi asik bermain game menggunakan alat playstation. Ega perlahan menghampirinya, ia membatu di samping Tama.
"Mau ngapain kesini?" Tama menyadari keberadaan Ega di sampingnya.
"Hem. Mau liat aja" Perasaan gugup yang dirasakan saat ini.
"Bilang aja mau liat gua. Cari alesan!" Ega terkejut apa yang terlontarkan dari mulut Tama.
Suami apa ini, bisa-bisa nyindir mulu?
Baru saja hendak beranjak dari tempat duduknya tangan Tama menghentikan pegerakan Ega, tertarik sehingga terduduk kembali. Mendekap erat pinggang Ega, Tama menghapus jarak yang tercipta.
Tangannya satunya yang saat ini masih memegang alat PS dia buang sembarangan tempat. Hembusan nafas menerpa wajah, Ega sedikit kegelagapan ia bingung dengan sikap Tama yang kembali romantis.
Sehingga keheningan itu tercipta, perasaan gugup semakin dirasakan Ega. Sebisa mungkin dia bersikap normal, perlahan bibir Tama menyentuh bibirnya dengan lembut, entah kenapa untuk kali ini Ega tedorong untuk membalasnya. Setelah selasai melakukan aktivitasnya dia menenggelamkan wajahnya didada Tama. Wajah Ega kini benar-benar menjadi kepiting rebus, meski tanpa disadari olehnya. Ia benar-benar malu menatap mata suaminya itu.
Hening!
Di meja makan mereka hanya terdiam setelah apa yang terjadi dia antara mereka. Tanpa ada yang berani membuka suara. Tama menyudahi makannya meninggalkan Ega sendirian di rumah makan.
"Tam." Kegugupan terlihat jelas diwajahnya, perlahan Ega melangkah kearah Tama.
"Iya" Balasnya dingin dengan lirikan.
"Tam, apakah kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini? Aku tahu kita menikah karena perjodohan orang tua kita, dan bahkan sudah hampir 6 bulan setelah kita menikah hingga sampai saat ini, kamu tidak pernah sama sekali menganggap aku sebagai isterimu? Kamu lebih memilih menghabiskan waktu di luar sana nongkrong bersama gang motor itu." Lirih gadis berlesung pipit.
Aku sudah siap menerima konskuensi balasan dari pertanyaanku.
"Ehhh!"
Plakk!
Pukulan meja begitu jelas ditelinga. Menetralkan emosi yang kini mulai menggebu.
"Berapa kali harus gua bilang ha! Gua... terpaksa menerima lo! Lo tuh ya! sadar-diri-selama ini, gua pernah bahagia semenjak menikah. Tidakan! Lo hanya membawa sial dalam hidup gua dan beban, sehingga gua tidak bisa bebas. Satu lagi!" Diam sejenak dengan tatapan yang begitu tajam kearah istrinya.
Setan apa yang merasukin tubuhnya kini sudah menjadi pemberontak di tengah-tengah kegundahan hati Ega.
"Jangan coba-coba bawa teman gang motor gua lagi ingat itu!" Membentak Ega dengan keras sebelum berlalu.
Selamat Tama kamu sukses membuat hati Ega hancur berkeping-keping!
Dorrt....
Suara bantingan daun pintu yang cukup keras sehingga membuat hati Ega terasa lebih sakit dan sesak, perlakuan Tama selama ini tidak pernah kasar apalagi sampai membentak. Suara motor di balik tembok pembatas antara mereka terdengar begitu jelas ditelinga Ega sebelum Tema benar-benar berlalu.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.40 WIB. Rasa kesepian dan sunyi. Rumah yang cukup besar ini hanya ditinggali oleh mereka berdua tanpa ART (Asisten Rumah Tangga) ataupun Satpam. Karena rumah ini baru beberapa bulan ditempati oleh mereka, sehingga Ega memilih tinggal berdua tanpa ART dan Satpam. Hanya karena ingin melayani suaminya dengan sepenuh hati. Tapi, semua itu hanya impian belaka, tanpa kasih sayang apalah gunanya berumah tangga.
"Hiksss hikss" Tangis Ega pecah seketika yang dari tadi dibendung dihadapan Tama. Ega meluapkan semua rasa sakitnya sambil memeluk bantal kesayangannya.
"Maaa! Aku butuh mama" Lirihnya baru saja hendak menekan nomor mamanya, Ega tersadar kalau posisinya saat ini sudah menikah dia bukan lagi anak manja mama dan papanya. Uhh! Begini amat nasibku. Entah dosa apa sudah aku perbuat di masa lalu.
Akhirnya perempuan ini tertidur sejanak dengan wajah sembab. Notif di ponsel membuatnya sontak tersadar sambil mengusap mata yang sudah memerah. Jam dinding dikamar sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. Tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Tama. Ega menuruni tangga menuju ruang tamu, duduk di sofa sambil menyalahkan tv agar tidak bosan menunggu kepulangan suaminya.