EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 17 (SABAR DALAM KETAATANNYA)



"Hal yang tersulit dilakukan ialah berusaha percaya ketika terlalu sering dihancurkan!"


_Tama


^^^"Akankah aku mampu tetap berada dalam ketaatanmu disaat aku harus kehilangan kembali."^^^


^^^_Ega^^^


......................


Pemakaman Firrosi dilakukan lebih cepat dari waktu yang ditentukan sebelumnya. Melihat kondisi Tama yang belum ada tanda-tanda kesadaran, sehingga keluarganya memilih untuk mempercepat pemakaman.


Hampir sepuluh jam Ega berada di sana, belum ada satu pun yang mengisi perut perempuan ini. Dia lebih memanfaatkan waktunya untuk membaca ayat-ayat suci Al Quran untuk kesembuhan Tama, tidak lupa membaca surat yasin untuk ketenangan kakak iparnya di alam disana.


"Ega...maaf aku hanya membuatmu menderita" Air mata perlahan membasihi pelupuk mata Tama yang masih memejam. Jiwa dan batin begitu tersiksa, melihat kondisi istrinya.


Andai malam itu aku tidak gegabah, tidak akan terjadi seperti ini.


Andai aku tidak lari dari dikenyataan, penyesalan tidakkan terjadi.


Andai, waktuku masih lama bersamamu. Ega aku takut?


Takut tak di sampingmu lagi?


Roh Tama membelai lembut puncak kepala istrinya.


Memeluk dengan kehangatan.


Ada rasa gundah dan resah di dalam hati yang paling dalam.


YAA...ALLAH...YAA ALLAH.


Jika takdir ku hanya sesingkat ini. Bisakah memberi waktu sedikit lagi, meski itu hanya untuk menghapus air matanya?


Aku sayang istriku, sungguh aku sangat mencintainya.


Tittt..tttit...tti.....


Suara monitor icu berbunyi tiada henti. Menandakan bahwa suaminya kini berada dalam keadaan tidak aman. Ketakutan itu semakin menyelimuti hati serta pikirannya. Ia perlahan melangkah untuk mencari sebuah bel darurat. Ia berusaha berjalan bertati-tati wajahnya semakin pucat dan melamas, semar-semar kegelapan menghampiri. Hampir saja ia tidak mencapai bel itu.


Suara bel darurat menggelegar di ruangan, sontak membuat para dokter dan suster lari menuju suara itu.


"Dok Farah tolong rawat Ibu Ega, pak Tama biar saya mengurusnya." Ucapan dokter lelaki paruh baya itu. Ia mempersiapkan berbagai macam alat medis di atas meja.


"Dok tidak ada respon jantungnya kini semakin melemah," ucap suster itu.


"Kita coba lagi. 1, 2, 3." Setruman sepasang kini kembali menyentuh tubuhnya." Masih belum ada respon, hampir saja ia putus asa. Dokter Rawal kembali untuk untuk terakhir kalinya. Bismillah!


......................


Bau ruangan ini terasa menyesakan isi tubuhku. Ega perlahan membuka matanya, kepalanya yang masih terasa berat, ia berusaha bangkit dari kasur yang menyiksa itu. Meski empuk tapi terasa penuh duri bagi Ega. Melihat sekeliling hanya dinding putih.


Kak Tama...tidak mungkin dia meninggalkan aku. Dia pasti selamat.


Kak Tama. Terimah kasih telah menjadi suami dan penasihat dalam hidupku.


Ega meracau tak jelas pikirannya sudah melayang terlalu jauh. Isak tangis kembali pecah. Air mata itu berlinang dengan tatapan kosong ia merangkul erat lututnya.


"Permisi Bu waktunya makan malam." Menyedorkan tampan berisi makanan menu sehat.


Tidak ada jawaban ataupun respon bahasa tubuh. Ia perlahan mengelus punggung wanita itu untuk menyadarkan dari lamunannya. Ia paham apa yang dirasakan seorang istri, saat ini melihat kondisi suaminya diambang kematian.


Tuhan...aku tidak sanggup kehilangan sosok orang yang aku cintai.


Kenapa cintaku selalu saja menghianatiku!


Sebuah tangan menyentuh pundaknya. "Sus. Suamiku dimana? Dia pasti masih hidupkan" Suara serak tersengal-sengal.


"Mari ikut saya Bu" Ia terpaksa naik kursi roda, jika berjalan sangat berisiko disaat kondisi infus masih terpasang.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok. Dia selamatkan?!"


"Iya Bu. Allhamdulillah" Disambung oleh Suster di samping Tama "Detak jantungnya kembali normal Dok," Tutur suster yang sambil memasang infus di mulut Tama.


"Syukurlah...Pak Tama sudah bisa melewati masa kritisnya? Sus nanti tolong cek setelah 2 jam kedepan ada perkembangan apa tidak?." Dibalas anggukan pelan. "Baik Dok."


Ega mengeratkan jeri-jemarinya ditangan suaminya itu. "Sayang bangun...aku janji gak bakal nolak lagi, kita honey moon kapan saja kamu mau. Janji..." Ia kembali melanjutkan ucapanya tanpa menghiraukan kalau masih ada seorang suster yang lebih tua darinya sekitar 2 atau 3 tahun, ia sedang memperhatikan sikap lucu Ega yang terkesan konyol.


"Mungkin mereka pengantin baru? hem...menikah di usia lumayan muda" Membatin sambil berpura-pura tidak mendengarnya.


Sebuah respon baik setelah setetes cairan bening Ega meluruh mengenai kulit ditangan Tama. Jari-jamarinya perlahan bergerak dengan mata yang masih tertutup.


"Sus. Tanganya bergerak?" Teriak bahagia.


"Iya Bu syukurlah. Saya pergi panggil Dokter Rawal."


"Terimah kasih Sus" Ia menciup kening suaminya begitu lama. Terimah kasih Yaa..Allah.


10 menit berlalu hasil chack up hasil tes suaminya keluar. Wanita itu menatap lekat kartas putih dia dalam genggamannya.


Yaa Allah ujian apa lagi ini?


Selemah ini kah aku? Sampai kapan ini akan berakhir!


"Mama. Papa, Kak Tama..." Rasa sakitnya selama ini ia luapkan di kedua orang tuanya.


"Sabar sayang. Mama di sini" Mengeratkan pelukan hangat di anaknya yang kini terlihat kurus dan pucat.


"Makan dulu sayang. Kasian Tama jika melihat dirimu selemah ini"


"Tapi..."


"Makalan walau sedikit"


"Baiklah Ma."


"Pa, suamiku" Dibalas senyuman dan anggukan.


"Mama sama papa kok bisa di sini?" Raut wajah datar.


"Mertuamu, dia menghubungi kami saat suami kecelakaan, beliau minta kami menemani kamu disini sampai semua kembali membaik"


"Soal Kak Ro..." Ia membukam mulut menahan tangisnya. Sebuah pelukan hangat memberi kenyamanan dalam dekapan itu.


"Terimah kasih Ma" Lirinya.


"Papa di sini yang jaga Kak Tama siapa?"


"Ada mertuamu di sana. Pak Fhirman menyuruh kita membawa pulang Ega. Jika masih di sini keadaan dia akan semakin buruk"


"Tapi Pa-"


"Kali ini dengarkan Papa dan pesan mertuamu"


"Baiklah Ma"


"Kerumah Ega sama Kak Tama ya?" Mereka mengangguk. Menandakan setuju.


3 hari berlalu rasa sepi tanpa kehadiran suami di dalam hidupnya. Doa kesembuhan selalu ia sematkan di setiap akhir sholat.


"Cium tangan cuman? Cium di sini kapan?" Cubitan kecil mendarat di lengannya yang kekar. Cubitan itu tidaklah berfungsi di kulitnya yang tebal, Tama hanya sengaja pura-pura meringis kesakitan. Dasar suami manipulatif!


Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepala Ega. Kini mata sudah mulai berkaca-kaca mengingat masa itu. Suara Mama terdengar dari luar.


"Assalamalaikum ada tamu Ga?"


Menghapus air matanya, sambil membereskan sejadah. Ia bergegas keluar tanpa melepas mukena yang ia kenakan. Senyum merekah ketika melihat siapa yang menjadi tamu. Raut wajah kini menjadi rasa kebahagian, kesedihan sirna begitu saja.


"Kak Tama...." Pelakukan erat kepada suaminya. Tidak ada respon apapun tubuhnya terasa kaku begitu saja.


"Ck. Kamu siapa?" Pertanyaan yang begitu sangat menyakitkan hati Ega.


Dia lupa aku? Lupa istrinya?


Tuhan... kenapa kini Engkau meregut ingatannya?


Ingin rasa Ega teriak. Tapi dia memilih memendam perasaannya.


"Hem. Masuk" Menetralkan emosi yang kini rasanya ingin memukul keras tembok di hadapannya.


"Nak. Kamu harus sabar sampai Tama sembuh" Ucapnya pelan sambil membawa Tama masuk ke dalam kamar. "Tolong jangan buat dia tertekan, sayangi suami saat ini ia kembali tenggalam di masa lalu saat kehilangan mamanya"


Apa yang harus aku lakukan? Seperti apa masa lalunya.


Kak Ros... aku butuh kakak di sini! aku butuh jawaban.


Bu Fhirma mengelus pelan bahu anaknya, banyak hal yang terpedam di dalam hatinya terlukis di wajah Ega. Saat ini ia hanya bisa menguatkan anaknya.