
Mobil Dylan terparkir tepat di depan tangga Pendek yang terhubung dengan Pintu utama sebuah rumah mewah. Dylan menatap gadis yang sudah terlelap di jok sebelah kemudi. Tiba-tiba bibirnya mencetak senyum miris Di luar gadis itu terlihat sangat ceria dan kuat. Namun, di dalamnya, siapa yang tahu betapa lemah dan rapuh ahli waris utama ERLANGGA
Tiba-tiba satu tekad berbunga di relung hati Dylan.
" Gue bakalan buat hidup lo berwarna lagi.”
“ Ara,” Dylan menepuk lembut Pipi Ara
“Hmm.” Ara bergumam dalam lelap seakan tak ingin diganggu. Dylan Pun melepas sabuk Pengaman kemudian keluar dari mobil, lalu mengitari mobil tersebut dan membuka Pintu Penumpang dengan sangat hati-hati.
“ Capek banget yah,” Dylan berucap seolah Ara akan membalas kata katanya.
Dengan gerakan lembut, Dylan melepas sabuk Pengaman yang membelit tubuh langsing Ara. Dylan kemudian menggendong Ara dengan gaya bridal. Setelah itu Dylan menendang Pintu mobilnya menggunakan kaki kanannya Ketika Dylan sampai di depan Pintu utama rumah Iqbal, ia mencoba untuk memencet bel dengan menggunakan hidung mancungnya.
" Ada gunanya juga Punya hidung mancung,” kekeh Dylan geli. Kemudian Pintu rumah itu terbuka. Keluarlah seorang wanita yang umurnya berkisar 45 tahunan.
“Siapa ya,” tanya wanita bersuara lembut yang Dylan Perkirakan adalah wanita yang biasa dipanggil Bunda oleh Ara.
“ Aku Dylan Tante. Teman ....”
" Heh Lo bawa ke mana aja cewek gue,” sergah Iqbal dari belakang bundanya.
" Cewek,” Dylan tersenyum sinis.
“ Masak iya Pasangan kekasih tinggal serumah dan mempunyai nama akhiran yang sama,” sindir Dylan yang langsung membuat Iqbal terbelalak kaget dan Bunda mengernyit kebingungan.
Ketika melihat tatapan dan aura kurang mengenakkan keluar dari sorot mata Dylan dan Iqbal, Bunda memilih untuk menengahi kedua Pemuda itu sebelum terjadi keributan fatal antara mereka berdua.
" Nak Dylan, ayo masuk. Ara Nya langsung dibawa ke kamarnya aja Kamarnya di atas, Pintu warna Pink,” tutur Bunda lembut. Dylan mengalihkan Pandangan dari Iqbal dan mengiyakan arahan Bunda Iqbal.
“ Lo kenapa sih, Bal ? Santai ajalah sepupu lo aman sama gue. Gue kan bad boy, yang baik,” kata Dylan yang sudah sampai tepat di depan Pintu berwarna Pink yang disebut oleh Bunda Arin.
“ Mana ada bad boy yang baik. Bad boy itu Pembuat onar, yang hobi matahin hati cewek, yang Nggak sopan sama guru, yang hobi ngerusuh sana-sini, buat malu nama sekolah,” Iqbal membuntuti Dylan yang sedang menidurkan Ara di atas kasur king size terbalut bed cover tebal berwarna Pink.
Setelah merasa Ara mendapatkan Posisi yang nyaman untuk tidur Dylan berjalan ke luar kamar. Masih dengan Iqbal yang mengekorinya
" Nakal-nakalnya gue, gue Nggak Pernah buat malu nama sekolah Karena gue selalu di Posisi yang benar,” elak Dylan
" Oke Emang Nggak Pernah bikin malu nama sekolahan, sih. Tapi kemarin lo hampir mesumin cewek gu ... eh ralat, sepupu gue,” Iqbal melipat tangan ke dada sambil berdiri menghalangi akses Dylan
" Gue Nggak mesumin dia. Gue cuma mau godain dia aja,” jawab Dhirga.
" Ngeles mulu kayak bajaj,” dengus Iqbal tak terima.
" Daripada lo Nggak Pintar nyembunyiin rahasia," ledek Dylan Puas.
" Sialan lo emang Balik gih. Enek gue lihat lo di sini,” Iqbal kemudian melenggang masuk ke dalam kamarnya.
" Siapa juga yang mau lama-lama lihat muka sok kegantengan lo,” sahut Dylan tak mau kalah.
“ Heh Gue denger, ya," Pekik Iqbal dari dalam kamarnya.
“ Bodo amat.” Dylan mulai berjalan menuruni satu Persatu anak tangga di rumah Iqbal.
...•••••...