
bibir bawahnya sembari menimang nimang Ponselnya dengan tangan kanannya.
“Add Pokoknya add," Dylan berteriak Penuh antusiasme sambil mengeklik tombol Add as friend.
“Jangan kepo,” Ara kemudian menggenggam erat Ponselnya.
Usaha Ara sia sia karena tenaga Ara tak seberapa dibanding Pemuda di depannya.
" Iqbaaaalll!! Siniin haPe gue,” teriak Ara ketika Ponselnya sudah beralih ke tangan Iqbal.
“ Shhtt anak manis.... Duduk yang manis anak manis,” Iqbal menepuk Pucuk kepala Ara dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya sibuk membongkar notifikasi yang masuk ke Ponsel Ara
“ Hufftt ....” Ara akhirnya mendengus Pasrah.
“ Oooh, Si Dylan add lo di Line!” Pekik Iqbal tiba-tiba.
“Hah,” Ara tercengang.
“ iya! Ini lihat, si Dylan itu add lo di Line!” Iqbal menarik Ara agar melihat ke layar Ponselnya.
Dylan added you as friend by id line
“ Mana ....” Belum saja Iqbal selesai berbicara, notifikasi Line berbunyi menginterupsi kata kata yang hendak keluar dari bibir Iqbal.
Line!!
Ara Pun segera merebut ponselnya dari Iqbal dan membuka notifikasi Line yang masuk.
...Dylan...
...Hey Corila ku Add back yah xx...
Dahi Ara mengernyit heran.
" Masa iya ini Dylan ” Ara membatin sendirian.bibir bawahnya sembari menimang nimang Ponselnya dengan tangan kanannya.
“Add Pokoknya add," Dylan berteriak Penuh antusiasme sambil mengeklik tombol Add as friend.
“Jangan kepo,” Ara kemudian menggenggam erat Ponselnya.
Usaha Ara sia sia karena tenaga Ara tak seberapa dibanding Pemuda di depannya.
" Iqbaaaalll!! Siniin haPe gue,” teriak Ara ketika Ponselnya sudah beralih ke tangan Iqbal.
“ Shhtt anak manis.... Duduk yang manis anak manis,” Iqbal menepuk Pucuk kepala Ara dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya sibuk membongkar notifikasi yang masuk ke Ponsel Ara
“ Hufftt ....” Ara akhirnya mendengus Pasrah.
“ Oooh, Si Dylan add lo di Line!” Pekik Iqbal tiba-tiba.
“Hah,” Ara tercengang.
“ iya! Ini lihat, si Dylan itu add lo di Line!” Iqbal menarik Ara agar melihat ke layar Ponselnya.
Dylan added you as friend by id line
“ Mana ....” Belum saja Iqbal selesai berbicara, notifikasi Line berbunyi menginterupsi kata kata yang hendak keluar dari bibir Iqbal.
Line!!
Ara Pun segera merebut ponselnya dari Iqbal dan membuka notifikasi Line yang masuk.
Dylan
Hey Corila ku Add back yah xx
Dahi Ara mengernyit heran.
" m
...Dylan...
...Songong sama Pacar sendiri lupa....
...Ara...
...iya Bercanda kok...
Ara mengerucut membaca Line dari Dylan
" Napa lo,” tanya Iqbal sambil merangkul Pundak Ara dan mengintip layar Ponsel Ara dengan iseng.
“Iqbal ih!” Bibir Ara semakin Panjang, membuat Iqbal merasa gemas ingin meremas bibir Ara
“Mau gue beliin Pita Nggak,” tanya Iqbal.
“Pita? Buat apaan?” Ucap Ara menatap Iqbal Penasaran.
“ Buat ngiket bibir monyong lo.” Iqbal tertawa setelahnya.
“Rese lo,” Ara menjambak rambut Iqbal dengan sekuat tenaga, membuat Iqbal meringis tertahan.
“Aabhh.... Sakit, Ara Jangan rambut gue, Vir.” Iqbal menahan tangan Ara agar tidak bergerak. Saat Ara kembali menarik tangannya, ia melongo mendapati di sela jari jarinya terdapat beberapa helai rambut Iqbal yang ia yakini rontok akibat jambakannya.
“ Bal ? Rambut lo kenapa,” tanya Ara sambil memegang wajah Iqbal dengan kedua tangan mungilnya.
“ terlihat di kelopak mata Ara membuat Iqbal merasa tidak tega harus menyimpan lebih lama semua rahasia yang selama ini ia tutupi Iqbal menyentuh di Pipi Ara membelainya halus.
“ Segitu khawatirnya lo sama gue,” ucap . Gue sayang sama lo, Ara," bisik Iqbal tepat di telinga Ara
Ara tersenyum ketika mendengar bisikan Iqbal.
...•••••...