
Ara mengerjapkan matanya dengan gerakan lambat lalu menggeliat malas. Kemudian gadis cantik itu mengucek kedua matanya sambil menguap lebar.
Mata Ara melihat ke arah jam dinding. Pandangannya turun ke seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. “ must take a bath right now,” gumam Ara sambil menyambar handuk yang tergantung di samping Pintu kamar mandi dan berjalan memasuki kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Ara keluar dari kamar mandi dengan memakai t-shirt kebesarannya, celana jeans Pendek dengan rambut dicepol asal. Ara merebahkan badan di atas kasur empuknya, menikmati gravitasi kasur yang semakin lama semakin kuat.
Kruuuukkk
Ara mendengus ketika perutnya mengeluarkan bunyi sekuat itu.
" Gue belum makan dari kapan, sih Kasihan amat cacing cacing di Perut,” Ara ngedumel sendiri sambil mengusap Perut datarnya.
" Sabar, ya, cacing cacingku sekalian. ini otw dapur kok," Ara beranjak bangun dari kasur empuknya dan berjalan menuju ke arah Pintu. Saat tangan Ara memutar gagang Pintu
tiba-tiba Pintunya terdorong dari arah luar.
Buuukkk
Ara meringis ketika tubuhnya menghantam kerasnya lantai.
" Aaah ....”
" Ara Lo kenapa," tanya Iqbal, sang Pelaku Pembuka Pintu secara mengejutkan itu.
" Sialan lo emang ya Kalau mau masuk itu ketuk Pintu bisa, kan Jangan asal nyelonong ! Sakit nih Pantat gue,” semprot Ara sambil mengusap bokongnya yang kesakitan.
" Ya, maaf. Gue kirain lo masih tidur. Gue disuruh bunda buat manggil lo. Makan malam udah siap.” Iqbal mengusap tengkuknya dengan tatapan bersalah.
" Oke Ayo turun,” seru Ara girang sambil menarik tangan Iqbal sambil berlari ke arah ruang makan di lantai dasar.
Saat sudah mengambil tempat di meja makan, Ara menatap makanan makanan yang terhidang dengan sangat antusias.
“ Makan enak,” Pekik Ara girang.
" Kayak Nggak Pernah makan setahun aja lo,” sahut Iqbal sambil mengaduk nasi beserta lauk dipiringnya.
" Apaan, sih ? Jangan sewot, deh,” cetus Ara malas.
“ Apaan yang apaan,”
“ Apaan yang apaannya apaan,” Ara tak mau kalah.
“ Apaan yang apaannya apaan apa,”
“ Aduh, anak-anak bunda kok, ribut depan rezeki, sih ? Nggak baik tahu,” tegur Bunda lembut.
“ Maaf, Bun,” ujar Ara dan Iqbal serempak.
Bunda tersenyum lembut, setelah mengunyah, Bunda menatap Iqbal dan Ara silih berganti.
“ Gimana sekolah kalian,”
“Baik-baik aja, Bun.”
“ Nggak baik-baik aja, Bun.”
Lagi-lagi Iqbal dan Ara menjawab secara berbarengan membuat kedua remaja itu mendengus.
“ Eh, Bun! Tahu Nggak,” Iqbal menatap Bunda dengan tatapan riangnya.
“ Nggak tahu,” celetuk Ara sambil menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“ Nggak ngomong sama lo,” Iqbal memeletkan lidahnya kepada Ara kemudian melanjutkan kembali menceritakan hal yang dia alami hari ini kepada Bunda.
" Yola hubungin aku lagi, Bun. Dia Ngajak ketemu gitu,” terang Iqbal bersemangat.
" Yola ? Yola siapa,” tanya Bunda keheranan.
“ Ola ...” Iqbal mendesah geram ketika bunda dan Ara hanya mengernyit kebingungan.
" Reyniella Gabriela Yolazkha Dirmawan.”
“ Buset dah ! Itu nama apa gerbong kereta api,” celetuk Ara tanpa rasa bersalah.
“ Serius, Ara Jangan bilang lo lupa sama dia.” Iqbal kembali menyuap, tapi kali ini menyuap sesendok Penuh lauk ikan dari piringnya.
Ara menimbang-nimbang kembali. Berusaha mengingat siapa Yola Yola yang dimaksud oleh Iqbal.
" Tetangga lama di Bogor," Ekspresi Ara berubah ketika mengingat sosok gadis blasteran Indo inggris yang berambut cokelat terang hidung mancung, senyum menawan, dan lesung Pipit yang memperindah gerakan bibirnya.
Kali ini Iqbal menatapnya dengan tatapan bahagia. “ Benaaaarr Selamat Anda mendapatkan hadiah sebesar seribu rupiah Jangan lupa, Pajak ditanggung Pemenang,” seloroh Iqbal heboh.
" Errr, yang ada gue Nggak dapat apa-apa,” sungut Ara. Iqbal melebarkan cengirannya memperlihatkan gigi Putihnya yang tersusun rapi.
" Tapi gue bingung juga sih Kenapa Yola muncul lagi setelah gue Punya niat buat nembak Zalika,” Iqbal menatap Ara sendu seakan meminta solusi.
" Karena Iqbal jatuh di dua hati...” Elvira menyenandungkan lagu Afgan “Cinta Dua Hati” dengan lirik yang sedikit melenceng dari aslinya.
" Ledekin aja terus,” sungut Iqbal masam.
Bunda hanya menggeleng melihat tingkah Ara dan Iqbal yang tak Pernah bisa akur, tapi selalu saling menjaga.
“ Galau aja terus,” cibir Ara
“ Yeee, dasar tukang sewot.”
“ Tukang sewot kok teriak tukang sewot,”
" Lo aja yang jadi tukang sewotnya,” timpal Iqbal mengejek.
“ Ogah, lo aja ....”
...•••••...
Ting tong
Sontak tiga Pasang mata itu langsung saling mengedar Pandangan satu sama lain.
" Bal, bukain Pintunya, Nak,” pinta bunda.
Iqbal hanya mengangguk Patuh kemudian berdiri lalu membukakan Pintunya untuk tamu mereka.
“ Ara ada di sini,” suara bariton itu terdengar sampai ke ruang makan. Membuat tubuh Ara mematung kaku.
Langkah kaki terdengar mendekati ruang makan yang terdesain sesuai Permintaan bunda.
“ Ara,” suara bariton itu kembali terdengar. Namun Ara berusaha tetap fokus dengan makanan di Piringnya dan tak mengacuhkan suara bariton yang memanggil ia itu.
“ Ara jangan gitu sama ayah,” tegur Bunda dengan lembut.
“ Ara Pulang ya, Nak,” suara bariton itu melunak seakan menahan sesak melihat reaksi negatif Ara
“ Buat apa saya Pulang ? Pulang ke mana ? Sekarang ini rumah saya Tuan Besar Rivaldo Gemilang Alfath.” Ara menatap Pria separuh baya yang berdiri tak jauh darinya itu dengan tatapan sengit.
“ Ara Jangan gitu. Lo Nggak kasihan sama bokap dan nyokap lo Mereka Pasti kangen sama lo,” Iqbal mulai angkat suara.
“ Lo Nggak tahu, Bal Mereka aja Nggak kasihan sama gue ! Mereka telantarin gue gitu aja sejak Kak Almira meninggal dan baru sekarang. BARU SEKARANG MEREKA NYARI GUE ? Kangen ? Haha makanan khas mana tuh ? Sumpah this is kinda fool joke,” Ara mengatupkan rahangnya sehingga gigi Ara bergemeretuk, tangan Ara mengepal keras.
“ Ayah ta...”
“ Aku udah selesai makan. Aku naik dulu. Permisi.” Ara bangun dan segera berlari meninggalkan ruang makan. Semetara Iqbal, Bunda, dan ayah Ara hanya kelu melihat Perubahan sikap Ara yang drastis itu.
“ Ke mana aja dia selama ini Kenapa Pas gue Nggak butuh, dia malah datang nyari gue," dumel Ara sambil mengacak kamar yang kini ia tempati di rumah Iqbal.
“ Ara Ya, ampun !! Lo Ngapain, sih,” Iqbal segera menahan kedua tangan Ara sehingga gadis itu kehabisan tenaga untuk memberontak.
“ Iqbal...” lirih Ara
" Cepat mandi, gue mau ngajak lo ke suatu tempat. Nih, Pakai dress ini, ya ? Dandan yang cantik, gue tunggu di bawah,” Pesan Iqbal sambil meletakkan Paper bag berwarna Pink di atas meja rias Ara dan langsung beranjak ke luar dari kamar Ara
Ara menatap Paper bag Pink itu. Kalau bukan karena Permintaan Iqbal, dia tak akan mungkin mau mandi Pada malam hari apalagi memakai dress yang menurutnya ribet.
...••••...
Ara turun dari tangga dengan wajah kesal.
“ Bal, gue udah siap. Kita mau ke mana, sih ? Kenapa harus Pake dress ? Kenapa lo cuma Pakai sweater sama celana jeans doang Lo ngerjain gue, ya,” cerocos Ara bertubi tubi sambil bertolak Pinggang.
Tanpa membalas ocehan Ara Iqbal menatap Ara yang berpenampilan sangat cantik malam itu. Ara mengenakan dress Pink selutut dengan motif kupu kupu di Pinggang beserta rambut yang digerai indah dan memakai wedges berwarna senada dengan dress nya Bibirnya ia Poles dengan lipgloss warna Pink lembut agar tidak terlihat kering dan itu menambah aura kecantikan seorang Nadia Ara Elvira Alfath.
“ Lo Cantik,” jeda Iqbal sambil melirik ke arah jam tangannya.
" Kita hampir telat. Udah ayo Let’s go,” lanjut Iqbal sambil menarik paksa tangan Ara sehingga masuk ke dalam mobil.
“ Iqball,” Pekik Ara geram. Tak sangka dia akan diperlakukan seperti itu oleh sepupunya sendiri.
Iqbal mengendarai mobilnya keluar dari Pekarangan rumah dengan kecepatan maksimal membuat arah mencak-mencak dan memukulinya berkali-kali.
“ Berhenti Pukul gue Ara Gue lagi nyetir," cetus Iqbal setelah berdiam diri sedari tadi.
" Lo mau bawa gue ke mana,” tanya Ara untuk yang kesekian kali.
" Ntar, lo tahu sendiri. Tapi, lo harus janji sama gue, lo bakalan nurut.”
" Tapii....”
" Harus nurut, atau lo angkat kaki dari rumah gue dan jangan temui gue lagi.”
Ara mendengus pasrah kemudian mengangguk. “Oke, fine.”
" Good,” Iqbal menepuk kepala Elvira dengan Pandangan matanya tetap fokus Pada jalanan di depannya.
Setelah menempuh Perjalanan selama sepuluh menit, mereka pun sampai di Parkiran sebuah hotel megah.
" Lo Nggak mau jual gue ke om-om hidung belang, kan,” Ara menatap Iqbal takut, membuat Iqbal terkekeh Pelan.
" Nggaklah. Ingat Perjanjian, ya,” Iqbal mengulurkan jari kelingkingnya di depan Ara, Ara Pun mengangguk dan menautkan kelingkingnya kepada kelingking Iqbal.
" Ayo kita masuk,” ajak Iqbal.
Setelah keluar dari mobil, Iqbal mengitari mobilnya dan mem bukakan Pintu untuk Ara
" Jangan lebay deh, Bal,” sungut Elvira.
“ inget Perjanjian,” sahut Iqbal.
Ara mendengus kasar, “ iya, iya iya ....”
Saat kaki Ara dan Iqbal menapak ke dalam hotel mewah itu, mereka langsung disambut oleh pelayan hotel.
" Pesanan atas nama Alfath,” ujar Iqbal tanpa memberi kesempatan kepada Pelayan tersebut berbicara Pelayan itu kemudian mengangguk mengerti.
“ Mari ikut saya.”
Iqbal dan Ara Pun mengikuti sesuai arahan Pelayan tersebut, hingga mereka berhenti di sebuah meja besar yang ditempati oleh Rivaldo Gemilang Alfath, ayah Ara yang mendatangi Ara tadi beserta sepasang suami istri yang wajahnya tak asing untuk Ara
“ Kayak orangtuanya Dylan,” batin Ara.
" Ara ... Ayo duduk,” sambut Ayahnya.
" Om aku langsung balik, ya Nggak boleh lama-lama di luar ntar aku diculik,” gurau Iqbal seraya berpamitan kepada Rivaldo.
" Loh ?! Mau ke mana, Bal Kok, gue ditinggal,” tanya Ara kebingungan.
" Tugas gue cuma nganterin lo. Ingat Perjanjian jangan ingkar,” kata Iqbal sebelum berlalu meninggalkan Ara bersama Om Rivaldo.
Rivaldo membawa Ara duduk di meja besar itu. Ara hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya. Berharap cemas agar Pasangan Paruh baya di depannya ini tidak mengenalinya.
“ Gerald kenalin ini anak gue Nadia Ara,” Rivaldo memperkenalkan anak gadis semata wayangnya kepada Pasangan suami-istri rekan kerjanya.
“ Ara kok, nunduk ? Kenalan dulu sama teman Ayah, Nak,” Rivaldo mengusap kepala Ara lembut.
Saat Ara akan mendongak tiba-tiba satu suara menginterupsi
" Maaf, Ma, Pa, Om. Jakarta macet dan biasa aku kejebak macet.”
" iya Nggak apa-apa. Dylan kenalin ini anak Om Rivaldo yang Mama sama Papa bilang.”
Saat Pandangan kedua remaja itu bertemu, Ara langsung merasa tubuhnya kaku. Begitu juga Dylan Dylan menelan ludahnya dalam dalam. Tak kuasa untuk mengakui bahwa gadis di depannya ini sangat memesona, membuat dirinya semakin tertarik.
“ Dylan,"
" Loh Dylan Eh ketemu lagi,” sorak wanita separuh baya yang Ara tahu adalah ibu biologis Dylan
Dylan menyunggingkan senyum kemenangan.
“ Nice shot,” bisik hati kecil Dylan
" Loh Kalian saling kenal,” tanya Rivaldo keheranan.
Mata Ara membulat mendengar Pertanyaan ayahnya. Namun, saat Ara akan menjelaskan hal itu tiba-tiba saja Sandra Pratiwi Erlangga ibu kandung Dylan menyela
“ Mereka berdua Pacaran.”
“ Duh mampus gue,” gerutu Ara dalam hati merutuki kebodohannya yang tak bisa dengan cepat menyangkal dugaan Sandra saat dia Pertama kali bertemu dengan di rumah Dylan
" iya Om, aku sama Ara baru jadian,” timpal Dylan Pula. Mata Ara hampir saja keluar dari tempatnya ketika telinganya menangkap kata-kata Dylan
" Dylan Sialan,” Rutuk Ara dalam hati. Dan sayangnya Ara tak bisa berbuat banyak karena sudah berjanji kepada Iqbal bahwa dia harus nurut, apa pun yang terjadi
" Wah, bagus Dong Sepertinya rencana kita berjalan dengan sangat lancar,” seru Gerald Erlangga
" Lancar ? Maksudnya apaan," tanya Ara sambil menatap Rivaldo Gerald dan Sandra silih berganti.
" Ki-ta-a-kan-di-jo-doh-kan,” jawab Dylan dengan Penekanan di setiap suku katanya.
Ara melongo tak Percaya mendengar kata-kata Dylan si bad boy sekolahan itu.
" Ayah ? Ayah Nggak lagi mimpi kan? Kok, mau sih jodohin aku sama berandalan sekolah,” Saat itu Ara melupakan janjinya kepada Iqbal.
Gerald dan Sandra hanya bisa tertawa ketika Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir mungil Ara itu.
" Salahkan kami yang dulunya lebih berandalan daripada Dylan,” kata Gerald tenang.
“ Mimpi buruk apa lagi ini,” Ara mendengus Pelan. Kepalanya terasa berat.
Dylan menatapnya lekat-lekat sorot matanya memperlihatkan kegembiraan.
“ Game dimulai,” bisik Dylan sinis tanpa melepas Pandangannya dari Ara yang terlihat kesal.
...•••••...