DYLAN

DYLAN
BAB 20 ANAK BARU



l Judahnya susah Payah ketika siswa baru itu m


" Semua aja lo Panggil ‘sayang’,” gerutu Bian malas.


“ Dih... sewot,” dengus Salsa sambil mencibir gerutuan Bian.


" kepada Salsa.


“ Gue bilang juga apa Mending gue yang duduk di sana ketimbang anak baru yang duduk di sana. Ngeyel sih.” Alden mulai mengomeli Ara


“Lo lagi. Gue Pites baru tahu rasa,” Elvira mengacungkan kepalan tangan kanannya Pada Alden.


“ Sudah Pada intinya Yezkiel tetap harus duduk di samping kamu Elvira,” tekan Bu Retno seakan tidak lagi menerima Penolakan membuat Ara mendengus sebal. Sementara Yezkiel mencetak senyum indah di bibirnya saat berjalan menuju ke bangku yang dimaksud oleh guru cantik itu.


Yezkiel yang sudah sampai tepat di samping Ara langsung mengambil tempat yang biasanya ditempati oleh Mutiara.


“ Gue Yezkiel. Lo,” Yezkiel mengulurkan tangan kanannya Pada Ara


“ Gue rasa Pendengaran lo cukup baik buat dengar apa yang Bu Retno omongin tadi,” ketus Ara tanpa menyambut uluran tangan Yezkiel.


Busyet dah. Cuek amat jadi cewek batin Yezkiel sambil menarik kembali uluran tangannya. Karina dan Desandra yang duduk di bangku depan Ara langsung menoleh ke belakang dan menyerbu Yezkiel dengan segala Pertanyaan.


" Hai, gue Desandra. Salam kenal ya.”


" Gue Karina. Salam kenal juga.”


Yezkiel tersenyum simpul menanggapi salam Perkenalan Desandra dan Karina.


“ Lo Eks Kencana Jayakarta, kan,” tanya Desandra.


Yezkiel mengangguk sebagai jawaban atas Pertanyaan Desandra


" Kenal Radiel Nggak,” sambar Karina cepat.


" Joowana Radiel, kan,” tanya Yezkiel memastikan.


“ lya Selebgram yang cuakep itu Iho,” ujar Karina dan


Desandra histeris.


“ Kenal, kenal banget malah,” Yezkiel menyisir rambutnya yang bermodel undercut itu ke belakang dengan jemari Panjangnya.


“ Kapan-kapan gue ajakin lo ketemu sama Radiel,” balas Yezkiel singkat.


“ Mending lihat Papan sebelum lo berdua dikeluarin dari kelas,” Potong Ara dengan nada datar Dengan gerakan yang ogah-ogahan, Desandra dan Karina kembali menghadap Papan tulis yang letaknya di depan.


“ Lo Kenapa Nggak seramah temen-temen lo sih,” tanya Yezkiel kepada Ara yang sedang sibuk memerhatikan setiap Pergerakan dan Perkataan yang keluar dari bibir guru bahasa Inggrisnya itu.


" None of your bussiness.”


“ Lo Cewek terketus yang Pernah gue kenal.”


“ Terus ? Masalah buat lo ? Masalah buat temen-temen lo ? Masalah buat kakak-adik lo ? Masalah buat orangtua lo,”


“ Lo kok sensi banget sih, sama gue ? ini hari Pertama gue lho. Beri kesan yang baik kek,” Yezkiel menopang dagunya di atas meja sambil matanya tak lepas dari Ara


“ Yezkiel,” tegur guru itu ketika matanya tak sengaja menangkap Yezkiel sedang tidak memperhatikan Pelajarannya.


“ Eh, ly... iya, Bu,” Yezkiel gelagapan membenarkan Posisi tubuhnya.


...•••••...


Jam istirahat yang dinanti-nanti Pun tiba. Sontak seisi kelas bersorak kegirangan.


" Jangan lupa kerjakan PR kalian. Lusa udah dikumpulin tanpa terkecuali,” Pesan Pak Rudi selaku guru PKn sebelum beranjak ke luar kelas XI IPA 3.


“ Ke kantin yuk,” ajak Desandra setelah mengemas Peralatan tulisnya.


Ara mengangguk menerima ajakan Desandra.


“ Yez, lo mau ikut? Kan, lo belum tahu seluk-beluk sekolah ini,” kali ini Karina mengajak Yezkiel untuk ikut bersama mereka. Baru saja Ara ingin mengeluarkan Protes tiba-tiba matanya tanpa sengaja menangkap sosok Dylan yang sedang bersandar di Pintu kelasnya dengan kedua tangan yang bersarang di dalam kantong celana.


“ Gue duluan. Kalian bawa aja dia keliling. Gue udah ditunggu Dylan noh,” ujar Ara seraya meninggalkan kedua temannya yang akan membawa Yezkiel mengelilingi sekolah.


“ Dylan siapa,” tanya Yezkiel kepada Karina dan Desandra.


“ Pacarnya,” jawab Desandra dan Karina secara berbarengan.


Setelah mendengar jawaban Karina dan Desandra, Yezkiel langsung menoleh ke arah Pintu kelas matanya menangkap Ara dan Dylan yang masih bercengkerama di ambang Pintu kelas. Dylan mengacak rambut Ara dengan cengiran khas tersungging di bibir merahnya, sementara Ara memanyunkan bibirnya sambil mulutnya terkomat-kamit seakan membaca mantra.


...•••••...