
mengangguk mengerti. “Aku sih yes.”
"'Gue juga Nggak tahan buat siapin mental ditonjok lagi sama si Dylan," sahut Yezkiel.
"
HAPE MATI?”
Ara menepuk dahinya sambil mulutnya sibuk mengumpat kebodohan yang ia lakukan.
" Astaga. Kenapa bego banget sih,"
...••••...
Tok-
" Kangen sama lo ? Pengin banget dikangenin sama gue," tanya Ara dengan nada sakarstisnya.
"
" Gimana keadaannya sekarang," tanya Ara Penuh minat.
" Alhamdulillah udah baikan dianya. Udah mau makan banyak, mau banyak ngomong, udah Nggak sepesimistis dululah,” terang Iqbal dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
" Senang banget "
" iyalah "
" dari Zalika Ara pun membuka galeri Foto di Ponsel Iqbal.
Menyimak satu Persatu dari sekian ratus foto kebersamaan mereka dari foto baru kenal, foto first date, foto aib foto sok imut, foto candid, dan berbagai jenis foto lainnya. Dalam keheningan, bibir
Ara mengukir senyum Pedih. " Yang HTS-an aja bisa seromantis ini, Nggak ada badai. Kenapa hubungan gue banyak banget ya badainya?
" Yang ada di otak lo Pasti yang HTS-an aja bisa seromantis ini, Nggak ada badai. Kenapa hubungan gue banyak banget ya masalahnya ?’ lya kan?” tebak Iqbal dengan bakat cenayangnya.
"
Ara mengernyit heran membaca balasan Zalika " Buset, Cepet amat responsnya,” gerutu Ara tak Percaya Namun, beberapa detik kemudian Zalika kembali mengirimi Iqbal Pesan singkat yang seakan meluapkan kesenangannya.
...Zalika...
...Mau bal mau...
" Heh Kebo bangun ini Zalika nerima lo jadi Pacarnya Buat syukuran tujuh hari tujuh malam gih," Ara mengguncang tubuh Iqbal yang sudah terlelap sambil memeluk guling yang biasa Ara peluk.
" Hmm .... " gumam Iqbal tanpa sadar.
" Woy Lo udah Nggak HTS-an lagi,” jerit Ara tepat di telinga Iqbal, membuat Pemuda itu langsung terlonjak kaget.
" Aduh Bikin kaget aja sih, lo,” umpat Iqbal sebal.
" Lo udah nggak HTS-an lagi, Bal,” ulang Ara dengan sisa kesabaran yang ia miliki sambil menoyor kepala Iqbal geram.
" Hmmm .... Udah, jangan ganggu gue ngantuk banget,” gerutu Iqbal sembari mendorong tubuh Ara menjauh.
" ini kasur gue, ini kamar gue. Lo aja yang Pergi,” dumel Ara tak terima.
" Husssttt ....” Iqbal mengusir Ara dari atas kasur, tak menghiraukan dumelan yang keluar dari bibir Ara
" Aish Sepupu kurang ajar,” Ara Pun turun dari Ara mengucek matanya, mengerjap beberapa kali lalu menguap lebar sambil menggeliat untuk merenggangkan badannya
" APAAN WOY " balas Ara dengan teriakan yang tak kalah lantang
" Kurang sial apa gue dapat teriakan sepagi ini," batin Ara
" LO DI MANA, KAMPRET " seru Iqbal.
" KAMAR TAMU,” Ara kembali menarik selimut sebatas dada, Perlahan matanya mulai terpejam kembali
" WOY KEBO! BANGUN " Iqbal membuka Pintu kamar tamu yang ditempati Ara dengan kasar, mendekati Ara yang berbalut selimut tebal.
" Bangun " Iqbal menyingkap selimut tebal yang digunakan Ara lalu mengguncang lengan Ara dengan gerakan terburu-buru.
" Bangun dulu,” seru Iqbal sambil menarik kedua tangan Ara agar mau duduk.
" Hmm ...,” gumam Ara sambil berusaha untuk duduk dan tak kembali jatuh di atas kasur.
" Lo Ngapain chat si Zalika ? Pakai acara nembak lagi," Iqbal menjamak rambutnya frustrasi sambil mengambil tempat tepat di Pinggiran kasur
" Kalau nunggu lo yang nembak, sampai moyang kita bangun lagi Pun nggak bakalan ada tuh status berpacaran antara lo dan Zalika,” kata Ara santai sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Tapi .... "
" Udah deh Nggak usah munafik gitu Gue tahu lo seneng,” ujar Ara sembari menyentil dahi Iqbal hingga memerah.
" Aduh " Iqbal mengaduh sambil mengusap dahinya.
" Tapi .... "
" Sepupu Nggak tahu terima kasih,” rutuk Ara dengan wajah masam.
" Ya ampun, Ara. lya deh, iya, terima kasih, ya," ujar Iqbal sambil menarik Ara ke dalam Pelukannya. “ ini berkat lo. Sekali lagi makasih. Lo memang sepupu terbaik gue,” bisik Iqbal yang tak bisa menahan senyumnya.
Ara yang semulanya sebal langsung menyambut Pelukan Iqbal dengan hangat.
" Lo juga sepupu terbaik ya walaupun sekarang kita udah nggak sesering dulu barengannya. Kita sibuk sama doi masing-masing,” balas Ara
" Eh, sarapan yuk,” ajak Iqbal.
" Lo yang bikinin ya "
" Nggak ah masak gue terus. Lo dong sekali-sekali, lo kan cewek yang tugasnya masak.”
Ara mendengus malas, kemudian mengangguk pasrah. " iya, gue yang masakin. Tapi nasi goreng doang lho ya,"
" dapur,” Perintah Iqbal.
" Gue belum mandi "
" Nggak usah mandi, Nggak ngaruh juga,” Protes Iqbal.
“Tapi ngaruh buat gue.”
“Ah, iya deh, iya Buruan Gue tunggu di bawah,” Iqbal pun beranjak ke luar kamar untuk menuju ke ruang makan meninggalkan Ara yang mulai berjalan untuk memasuki kamarnya yang dikuasai oleh Iqbal tadi malam.
" Ngomong ngomong, gimana kabar bunda," tanya Ara yang tak ikut makan.
" Baik kok. Bunda sering nanya ke gue kenapa lo jarang main ke rumah lagi. Ya gue cuma bilang kalau lo lagi sibuk sama tugas,” jawab Iqbal sambil mengaduk aduk nasi goreng di depannya.
"
" Lo sama Dylan gimana ? Kok gue sering lihat lo upload foto sama si anak baru yang namanya Yakizel,"
" Nah, iya itu,” Iqbal berseru heboh.
" Dia yang Nggak Pekaan atau lo yang keras hati,” Skakmat.
Ara mengusap tengkuknya canggung Kata kata Iqbal Pas kena di hati Ara membuat Ara merasa canggung
" Lagian emang dia yang salah kok,” ujar Ara sambil mengulum bibir bawahnya.
" Kalian sama-sama salah. Nggak ada yang benar,” kata Iqbal sambil menyuap sesendok terakhir nasi goreng buatan Ara
" Belain gue dong, Bal,” rengek Ara
" Nggak. Ngapain " Iqbal kemudian menenggak air Putih yang tersedia dalam gelas tepat di depannya
Ara memasang wajah cemberut dengan k
" Kenapa " tanya Iqbal sambil menarik rambut Ara
"