DYLAN

DYLAN
BAB 15 FITNAH



“Biasa aja lo,”di lantai dua


Jingga membuka Pintu kamarnya dan speechless Jingga tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan apa yang ia lihat kini di depan matanya


kamarnya telah di sulap dengan sangat romantis. penuh dengan balon gas di setiap talinya di tempel foto Cahaya dan Al


dan ada juga foto besar di langit-langit kamar Cahaya dengan foto mesra mereka berdua


Regan menghampiri Jingga


Jingga Tak Percaya Regan bisa seromantis Jingga saking Romantis nya Regan Jingga sampai meneteskan air mata ini bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan


Regan mengambil sebuket bunga mawar merah dan kue tart


" happy birthday. happy birthday happy birthday to you Jingga,"


" Happy 2nd month anniversary and I want to say thank you to you all this time because you have given a new color to your life I'm sorry because I often make you sad so long as you know and make you happy seventeenth birthday hopefully your dreams are all achieved yes i love you,"


Jingga langsung memeluk Regan begitu erat dengan Penuh kasih sayang


" Udah dong Nangis nya " sahut Regan mengusap air mata Cahaya


" YaUdah sekarang kamu tiup lilin nya dan jangan lupa mekuis dulu ya "


" iya "


Jingga pun meniup lilin nya dan mekuis di dalam hati harapan nya di hari ulang tahun ini


" Semoga aku sama Regan bisa terus bersama Amin...."


" Sekali lagi makasih iya Kak "


“ Lo Ngapain di sini,"


“ Mata lo Nggak lagi error, kan Bisa lihat sendiri kan gue lagi Ngapain sekarang,”


“ Yee, sinis amat sama gue kemarin mana deh,” Dylan merebut sendok di tangan Ara dan memakan siomay yang dipesan Ara


“ Heh !! Makanan gue!!


“ Lo lagi PMS Sensi amat. Gue kan minta siomaynya dikit,” cibir Dylan


" Bodo amat. Jauh-jauh sana.


" Lah kok gitu Sih,"


" Ah, ah, lap,"


" Dih, Lo buta ? ini Terang gini Lo bilang gelap," Kekeh Dirga


" Bawel,"


" Darl, lo tahu Nggak,”


" Nggak tahu,” tuka


“ Dengerin dulu. Lo itu Cantik kalau lagi marah,”


“ Dih, manis amat tuh kata-kata Tapi mending lo diam aja deh Pusing gue dengar suara lo," sambar Ara


“ Lo Ngapain sih, dari tadi di sini,” tanya Dylan lagi, seakan tak puas dengan jawaban sarkastis Ara


“ Dikeluarin dari kelas ya,” terka Dylan.


“ Ih masih zaman dikeluarin dari kelas?”


“ Gue disuruh keluar sama Bu Laiyas gara-gara PR gue belum lengkap,” terang Ara sembari mengembungkan kedua Pipinya.


“ Ih, masih zaman PR Nggak lengkap?” sindir balik Dylan


" Kambing. Lo sendiri Ngapain di sini,” Ara balik bertanya.


" Dikeluarin dari kelas gara gara tidur,” jawab Dylan enteng.


"Asdfghjkl,” Terang Ara


“ Napa lo,” tanya Dylan heran.


" Kalo nasibnya sama mending Nggak usah nyindir deh,” gerutu Ara


“ Kan lo yang duluan,” sanggah Dylan


“ Nggak Lo yang duluan,"


“ Lo yang duluan,”


“ Lo yang mulai duluan,”


“ Lo Dasar nenek gayung!”


“ Pokoknya lo yang mulai duluan,”


“ Nggak, nggak, nggak! Lo...”


“ Dylan Ara,”


Tiba-tiba terdengar suara nyaring menggelegar mengisi ruangan kantin yang sepi. Dengan gerakan lambat, Dylan dan Ara menoleh ke arah sumber suara Napas mereka tercekat seketika melihat seorang guru dengan kacamata tebal dan berbadan dua itu sedang menatap horor Tanpa menunggu waktu lama, Ara dan Dylan langsung berdiri dari duduknya.


Sambil berjalan mendekati Ara dan Dylan yang bergeming, guru yang ber name tag Leni Arlena itu membuka suara.


“ Kalian Ngapain di kantin Pas jam Pelajaran ? Kalian mojok berdua ya,”


“ Dylan lagi, Dylan lagi ! Kamu nggak bosan berurusan sama saya Dan kamu, Ara ! Sejak kapan kamu mulai bergaul dengan berandalan seperti Dylan,” ucap Bu Leni bertolak Pinggang di depan Ara dan Dylan


Ara menggeleng sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. “ Nggak, Bu. Saya nggak bareng dia, tadi saya....”


“ lya, dia bareng saya, Bu. Dia Pacar saya. Rencananya saya nemanin dia makan di sini sambilan mau kencan kilat gitu sih sebenarnya,” sela Dylan sambil merangkul Pundak Ara dengan senyum kemenangan menghiasi bibirnya.


Kontan Ara terbelalak kaget. Dhirga membuat fitnah yang tidak bermutu tentang dirinya di depan guru BP Hancurlah reputasinya!


“ Nggak Bu! Itu fitnah Saya sama Dylan nggak Pacaran. Dia bohong jangan percaya, Bu,” rengek Ara sambil mencoba melepas rangkulan Dylan di Pundaknya.


Bu Leni memijit Pelipisnya. “ Nggak ada alasan lagi. Kalian berdua sekarang harus ikut saya ke ruang BP,” kata Bu Leni sembari mendahului Dylan dan Ara


Setelah merasa Bu Leni sudah beberapa langkah di depan, Ara menatap Dylan Penuh emosi


" Lo apa-apaan sih ? Ngapain bawa bawa nama gue,”


" Hahaha, gue Pengin kali dihukum bareng calon istri,” kekeh Dylan


“ Ah, kesel gue," rutuk Ara sambil beranjak menyusul Bu Leni yang sudah jauh di depannya.


“ Ara Tunggu,” Dylan berlari kecil menyusul Ara


" Pokoknya ini Pertama dan terakhir kalinya gue dihukum bareng lo," ucap Ara marah di depan Dhirga.


“ Yah ..., kok gitu, sih ? Padahal gue Pengin di hukuman selanjutnya tetep bareng lo.” Dylan memasang wajah memelasnya.