DYLAN

DYLAN
BAB 19 SKORS



“ Kamu lagi, kamu lagi! Kapan kamu bisa bersikap dewasa dan bersikap tertib,” suara guru BP yang bernama Leni itu menggelegar memenuhi ruang Persegi mendengus ketika sorot matanya bertemu dengan guru BP yang sedang hamil besar itu.


“ Kamu juga, Alfin Sama aja kayak Berandalan kelas kakap," tambah sambil menatap Alfin yang tertunduk.


" ini yang keberapa kali kamu masuk ruangan saya dalam seminggu ini,” sorot mata Bu Leni beralih kepada yang angkuh di depannya.


" Pokoknya, hitung aja dari empat hari yang lalu. Ibu tahu sendiri kan,” ujar menantang.


Bu Leni terpejam mencoba mereda amarahnya menghadapi gadis manja di hadapannya ini.


" Terserah,”


“ Ara .... ini kali kedua kamu masuk ke ruangan saya dan saya harap ini juga yang terakhir kalinya kamu menginjakkan kaki kamu di sini.”


“ Iya... iya... Bu,” sahut sambil tertunduk menatap lantai.


“ Bu saya Punya alasan ngelakuin ini,” kata Dylan tegas.


“Apa,” tanya Bu Leni


“ Saya Nggak akan buat masalah kalau dia Nggak ganggu Pacar saya,” telunjuknya saat mengucapkan kata-kata dia.


“ Maksud kamu,” terlihat tertarik dengan kata-kata yang keluar dari bibir tipis Dylan


“ Bukti ada di kelas sebelas IPA tiga, Ibu bisa lihat sendiri,”


" Sekarang mending Ibu kasih kami hukuman, saya malas lama-lama di ruangan Ibu,” menimpali agar Perhatian teralihkan dari


“ Heh Nggak usah ngalihin Perhatiannya Bu Leni, deh! Lo takut kan, lihat semua kekacauan yang udah lo bikin,” bersuara lantang sambil menyeringai sinis kepada Zamora yang langsung melotot kepadanya.


“ Apaan, sih,” kata


“ Sudah ! Sudah! Kalau begitu kita buktikan bareng-bareng. Kalau sampai yang dikatakan Dylan dan Ara itu benar Zamora akan saya skors selama dua minggu dengan lima Puluh Point. Sementara kamu Alfin, kamu akan saya skors selama satu minggu dengan dua Puluh lima Point. Dylan dan Ara akan saya skors selama 3 hari karena terlibat Perkelahian.”


...•••••...


Perempuan duduk di Pojokan kelas tanpa mau diganggu oleh siapa Pun Bahkan oleh ketiga sahabatnya


“ Ara ...” Panggil


“ Jangan dekat-dekat gue dulu. Nggak mood,” memberi isyarat agar Karina, Desandra, dan Mutiara menjauh dulu darinya.


“ Lo Kenapa ? Cerita sama kami dong.” Kali ini ikut menimpali.


“ Ntar aja, ya. Gue lagi Pengin sendiri dulu. Maaf.”


“ Ara,” Panggil sambil berusaha mengejar Ara


“ Jangan, Mut. Dia butuh sendiri. Besok Pasti baikan, kok,” ujar Desandra sambil menahan lengan Mutiara.


berlari ke arah Perpustakaan yang sedang sepi. Dia tak bisa membayangkan bahwa dia akan diskors selama 3 hari, memang tak seberapa jika dibandingkan dan tapi tetap saja yang namanya skors itu menakutkan menyeramkan. Itu akan membuat citranya sebagai siswa teladan jadi musnah, hancur lebur tak bersisa.


Sesampainya di Perpustakaan masuk dan mengambil tempat di antara rak buku sejarah dan antropologi.


“ Di sini gue sebagai korban Tapi kenapa gue ikutan kena skors Apa kata orang-orang Apa kata bokap,” mengacak rambutnya frustrasi. Matanya sembab karena sedari tadi tak berhenti menangis. Hidungnya memerah.


Kemudian menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut dengan kedua tangan melingkar di atas lutut.


Pintu Perpustakaan terbuka. Dan berharap itu adalah


“ Ara,"


“ Iqbal,” mendongak dan segera bangkit dari duduknya. Pun keluar dari tempat Persembunyiannya dan menghampiri Pintu Perpustakaan.


" Iqbaaaaalll!!


“ Ammpp!!!”


" Lo Kenapa ? Gue cari lo ke kelas tapi lo nggak ada, gue cari ke kantin juga nggak ada. Eh, tahunya malah di sini. Gue sama .


Iqbal termangut-mangut mendengar Penjelasan Ara


“Ayah lo udah tahu,” tanya Iqbal.


Ara menggeleng lemah.


“ Dia harus tahu, Ara.”


“ Nggak Bal jangan sampai dia tahu. Gue nggak mau masalah ini diperpanjang sama Ayah. Lo tahu sifat ayah gimana kan,"