DYLAN

DYLAN
BAB 8 HE STOLE IT



Setelah tiga hari lamanya Iqbal dan Dylan mendekam di rumah sakit akhirnya mereka diizinkan kembali ke rumah mereka masing-masing Dan Pada hari keempat Dylan dan Iqbal sudah mulai menjalankan aktivitas mereka seperti biasa.


“ Dylan lo beneran Nggak apa-apa,” tanya Bayu cemas.


" Gue Nggak apa-apa, Bayu. Jangan mulai deh, bawelnya. Kalau sekali lagi lo bawel nanya-nanya Dylan lo beneran gak apa-apa ke gue, gue cium lo di tempat,” ancam Dylan


Bayu langsung melotot. “ Najis lo Gue ogah dicium sama lo, kalau sama si Mutiara sih, gue mau,” Bayu tertawa di akhir kalimatnya, membuat Dylan dan Liam bergidik ngeri.


" Najis Nggak ada cewek yang mau dicium sama cowok jadi jadian kayak lo,” ledek Liam sambil menyuap roti ke dalam mulutnya


" Sialan Gue Nggak cocok, ya. Gue cowok sejati,” gerutu Bayu tak terima.


Dylan menangkap sosok gadis yang beberapa hari ini meng ganggu konsentrasinya. Ara Gadis itu sedang bercengkerama bersama ketiga sahabatnya sambil menikmati stik kentang. Dengan semangat 45 Dylan bangkit dan mendekati meja yang ditempati Ara dan kawan-kawan, meninggalkan Bayu dan Liam yang sedang asyik berdebat konyol.


“ Hai," sapa Dylan setibanya di meja yang ditempati Ara


Ara mendongak dan menatap Dylan tak Percaya. Seorang bad boy sekolah menyapa Ara


" Kenapa ? Gue ganteng, ya Jelaslah, Dylan gitu, lho.” Dylan menyisir rambut dengan jemari Panjangnya sambil tetap tersenyum.


Ara memutar bola matanya malas.


“ Ara lo kenal sama Dylan,” tanya Mutiara takut takut.


“ Nggak,”


“ iya,” Jawab Ara dan Dylan berbarengan.


Sementara Karina dan Desandra yang sudah mengenal Dhirga sejak bangku SMP hanya menahan tawa melihat ekspresi jengkel Ara dan ekspresi kasmaran Dylan


Ara bangkit dari tempat duduknya Tangan kanannya mulai bertengger di Pinggang langsingnya. “ Jangan dekat-dekat sama gue Kita Nggak Pernah saling kenal, ya. Stay away from me,” tutur Ara angkuh.


“ Kenapa,” Dylan bertanya dengan nada menggoda.


" Gue Udah Punya cowok,” jawab Ara. Mengejutkan sahabatnya.


" Seriusan lo udah taken Ara,” tanya Karina.


" Sejak kapan,” sambut Desandra.


" Sama siapa," sambut Mutiara Pula.


" Aishhh ....” Ara mengacak rambutnya frustrasi. Dia lupa untuk berkompromi dengan ketiga sahabatnya tentang kebohongan yang dia katakan kepada Dylan.


Dylan mengukir senyum kemenangannya. Kena lo, bisik Dylan


" Sama Iqbal.” Dylan membuka suara di depan Ara yang sedang menatapnya garang.


“ Ara Iqbal kan, sepupu lo ...”


Hust Mut, Mut ... kenapa harus diperjelas ? Ara menggerutu dalam hati.


" Wohooo. Jadi, Iqbal itu sepupu lo? Berarti lo bohong, dong Pantas aja ya lo selalu santai aja lihat dia dijenguk sama si Zalika Zalika itu,” kekeh Dylan


" Stop deh, stop ! Sebenarnya ini ada apa, sih,” tanya Karina menengahi Dylan dan Ara


" Nggak ..... "


" Kemarin gue nembak, tapi di tolak dengan alasan udah jadian sama Iqbal,” terang Dylan memotong kata kata Elvira.


" Anjir... beneran Ara” Desandra menatap Ara tak Percaya.


Dengan gerakan malas Ara mengangguk membenarkan Penjelasan Dylan sambil memijit Pangkal hidungnya.


“ Ya ampun,” lirih Ara dalam hati.


Saat ketiga sahabatnya tercengang Ara langsung mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri dari Pertanyaan beruntun yang akan keluar dari mulut ketiganya.


" Ara Jangan kabur,” Pekik Karina ketika Ara berlari menjauhi mereka tanpa menghiraukan teriakan sahabatnya dan tak menoleh sedikit Pun.


" Awas aja lo di kelas," ancam Desandra.


" Terus lo Ngapain masih di sini Kejar sana,” kata Karina kepada Dylan yang terlihat santai.


" Ya, elah, santai aja. Dia Nggak bakalan bisa lari dari gue,” balas Dylan


" Kenapa lo ngejar Ara ? Kenapa Nggak cewek lain ? Lagian, banyak yang ngejar-ngejar lo, kayak si Zamora dan kawan-kawan. Mutiara menatap Dylan Penuh selidik.


" Ya karena memang udah kodratnya cowok itu mengejar bukan dikejar. Bahkan dari dalam rahim, ****** yang mengejar sel telur bukan sel telur yang mengejar ******,” ujar Dylan seraya mengangkat alis kanannya.


" Ya udahlah, ya, mending lo buruan kejar si Ara," Desandra mendorong tubuh Dylan menjauh dari mereka bertiga.


" Iya ...” samber Dylan yang langsung meninggalkan area kantin.


...•••••...


" Lo mau lari ke mana, sih," Dylan menahan tawanya ketika Ara menatapnya dengan ekspresi kaget sambil mengurut dadanya.


“ Kok lo bisa ada di sini,” tanya Ara garang.


" Ya inilah kekuatan cinta gue ke lo. Lo selalu terdeteksi dengan radar cinta gue. Jadi ke mana pun lo Pergi gue Pasti tahu. Selalu tahu,” kata Dylan sambil tersenyum manis.


Saat mendengar kata-kata Dylan Ara langsung berlagak seakan sedang ingin memuntahkan isi Perutnya.


Dylan melangkahkan kaki Panjangnya mendekati Ara yang sedang duduk di belakang gudang olahraga.


" Kenapa lo selalu menghindar dari gue,” tanya Dylan


“ Gue benci sama lo.”


Dylan mengambil tempat tepat di depan Ara sehingga dia bisa menatap mata Ara yang diPenuhi kilat kebencian.


“ Salah gue sama lo apa,”


“ Pokoknya, gue benci sama orang yang bermarga Erlangga," bentak Ara. Tanpa sadar air mata Ara jatuh dan membasahi kedua Pipi chubby nya. Dylan tersentak mendengar Pernyataan Ara yang disusul dengan air mata.


Dylan menarik Ara ke dalam Pelukannya, membiarkan gadis itu meraung histeris dan memukuli dadanya.


“ Gue benci,” Pekik Ara.


" Shhtt sini cerita sama gue ....” Dylan mengelus lembut rambut Ara yang dibiarkan terurai bebas.


" Gue ... gue benci... sama kakak lo. Gue benci ....” Ara kembali memukul dada bidang Dylan tanpa ampun.


" Kakak gue ? Kak Vanno ? Kak Vanno kenapa ? Lo kenal kakak gue dari mana,” tanya Dylan sambil menangkup wajah Ara dengan tangannya agar Ara mau menatapnya.


Tangis Ara semakin Pecah membuat Dylan kembali membenamkan wajah Ara ke dada bidangnya.


" Jelasin sama gue, biar semuanya jelas,” Pinta Dylan hati-hati.


Ara mengusap air matanya dengan kasar lalu berkata, “ Kakak lo udah bunuh kakak gue.” Lagi-lagi Ara menjelaskan semuanya hanya dengan satu helaan napas.


Dylan kembali dibuat tercengang oleh Pernyataan Ara


“ Ma... makksuuu... maksud lo,” tanya Dylan tergagap-gagap.


Ara Pun bercerita mengenai kejadian nahas yang terjadi pada saat dia masih menggunakan seragam Putih merah. Emosinya meluap-luap menceritakan kejadian Paling traumatis di hidupnya. Tiba-tiba ia merasakan badannya limbung. Pandangannya berkunang-kunang.


Dan tiba-tiba gelap.


...•••••...


Ara mengerjapkan matanya saat terkena silau sinar matahari. Ketika kesadarannya sudah terkumpul sepenuhnya Ara langsung bangun dari Posisi tidurnya.


" ini di mana," Ara bertanya kepada dirinya sendiri. Ara menatap sekelilingnya. Nuansa klasik kamar ini sangat kuat. la sempat tertegun Kamar ini didominasi oleh warna dasar hitam Putih.


“ Kamar gue,” sambut Dylan yang baru saja masuk bersama dengan seorang lelaki di sampingnya. Mata Ara memicing meneliti lelaki yang berada di samping Dylan.


“ Kayak Pernah lihat. Tapi di mana ya ? Mukanya familiar, Nggak asing,”


“ Lo Ara ? Adiknya Almira,” Suara bariton milik lelaki itu langsung membuyarkan lamunan Elvira.


“ Kak Vanno,”


" Ternyata lo tumbuh jadi cewek cantik. Secantik Almira,” ucap lelaki yang bernama Ervanno Erlangga itu.


Ara langsung bangun dari duduknya, berdiri di depan Dylan dan Vanno. “ Dylan gue mau Pulang,” kata Ara tanpa mau menatap Vanno yang menatapnya.


“ Ara,” Vanno menarik tangan Ara


“ Lepasin,” Ara merentap tangannya seolah tak ingin disentuh oleh Pembunuh kakaknya itu.


“ Ara dengerin gue. Gue minta maaf,” ucap Vanno lirih.


“ Lo Pikir dengan kata maaf itu bisa bawa kakak gue balik lagi ? Bisa bikin keluarga gue kembali hangat Hah," Ara membentak Vanno yang sedang menatapnya. Dylan terdiam melihat kejadian di depan matanya. Dylan tahu kapan harus bertindak.


“ Gue juga Nggak mau hal itu terjadi Semua di luar kendali gue, Ara,”


" Lo lupa Kan, lo yang Ngajak mati berdua,”


“Gue Nggak maksud Ara,” Vanno mencoba meraih tangan Ara, tapi segera ditepis oleh Ara


" Udah Puas lo ngancurin hidup gue Lo bunuh kakak gue Lo bunuh rasa sayang orangtua gue ke gue! Lo buat semua orang yang gue sayang Pergi menjauh dari gue Puas lo,” Ara menunjuk wajah Vanno dengan berapi-api


“ Ara,"


" Jangan Panggil nama gue lagi! Gue Nggak sudi nama gue disebut sama Pembunuh kayak lo,"


“ Apa yang harus gue lakuin buat nebus kesalahan gue ke lo,” tanya Vanno sendu.


Bahu Ara bergetar air mata mulai membasahi kedua Pipinya,


Ara menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri di dadanya.


Dylan yang merasa terenyuh langsung memeluk Ara. Tak seperti biasanya, saat ini Ara membalas Pelukan Dylan dengan erat. Dylan bisa merasakan hangatnya air mata Ara yang membasahi seragam yang masih melekat di tubuh Dylan


“ Nyawa dibayar nyawa,” kata Ara datar. Vanno dan Dylan terkejut mendengar Perkataan Ara


" Ara ?


" Kenapa ? Lo takut kalau kakak lo mati ? Hah,” bentak Ara seraya mendorong tubuh Dylan sekuat tenaga.


Lidah Dylan terasa kelu, keras, dan kaku Dylan tak bisa berkata kata ketika Ara sudah tak terkontrol lagi. Melihat Dylan dan Vanno bergeming, dan Ara Pun langsung keluar dari kamar keluar dari rumah itu.


Saat sampai di tangga, Ara dikejutkan oleh sosok wanita Paruh baya yang masih terlihat elegan sedang bergandengan dengan seorang Pria Paruh baya berpenampilan karismatik.


“ Loh, Ma, itu siapa,” tanya Pria itu berbisik kepada sang istri.


" Mama juga Nggak tahu, Pa,” jawab wanita yang Pandangannya tak lepas dari Ara


" Temannya Dylan kali, Pa,” duga Wanita itu seraya tersenyum.


Elvira semakin gugup ketika langkah pasangan suamii istri itu semakin mendekat kepadanya.


“ Mama ? Papa,”


Ara bernapas lega ketika Dylan datang menyelamatkannya dari kekakuan.


" Dylan ini teman kamu, Sayang,” tanya wanita itu sambil melirik Elvira yang tertunduk.


" Bukan, Ma. Dia....” Dylan menggantung kata-katanya sambil merangkul Pinggang Ara Posesif.


" Dia Pacar aku,” lanjut Dylan


Ara melotot kaget mendengar Pengakuan Dylan kepada kedua orangtuanya.


" Pacar kamu cantik. Mama baru tahu kalau kamu bisa Punya Pacar mama kirain kamu Nggak suka Perempuan,” gurau wanita separuh baya itu dengan kekehan di akhir kalimatnya.


“ Shhtt ... Mama apa-apaan doain anaknya kayak gitu ? Dylan itu normal, sukanya sama cewek. Ya kayak Papa,” timpal Pria Paruh baya itu.


" Oh ? Jadi, Papa suka main sama cewek lain di belakang mama,”


" Nggak, Ma, Nggak ! Papa cuma bercanda.”


" Malam ini Papa tidur di luar Huh,”


Wanita Paruh baya itu pun langsung melenggang masuk ke dalam kamar dan disusul Pria Paruh baya yang sedang berusaha membujuknya.


" Maaf, ya, bokap gue emang gitu Suka Nggak tahu tempat.” Dylan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ara kembali menangis.


" Kok, nangis," tanya Dylan khawatir.


" Nggak. Mereka baik kok, sama gue. Gue ... gue kangen suasana kayak gini di rumah. Sejak kakak gue meninggal mereka berubah Mereka nggak Peduli lagi sama gue. Cuma Iqbal dan bundanya yang Peduli sama gue,” lirih Ara sambil sesenggukan.


Dylan menangkup wajah Ara dengan tangan hangatnya.


" Sekarang lo ada gue. Gue di sini Gue akan selalu ada buat lo. Gue akan selalu lindungin lo,” ujar Dylan yang bertatapan langsung dengan mata cokelat cerah milik Ara


Mata mereka beradu buat beberapa waktu. Dylan merasa detak jantungnya berpacu cepat, begitu juga Ara. Untuk kali Pertama Ara merasakan gelenyar aneh ini menyerang dirinya. Dylan yang sedari tadi menangkup wajah Ara secara Perlahan mendekatkan wajahnya kepada Ara


Saat ini jarak di antara mereka hanya bersisa satu sentimeter Deru napas dan detak jantung mereka bisa terdengar satu sama lain dalam jarak sedekat itu.


Mata Ara terbelalak ketika bibir hangat Dylan menempel di bibir mungilnya. Dylan memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut mereka. Sementara Ara hanya memejamkan matanya rapat-rapat tanpa bereaksi apa-apa. Otaknya sangat menolak Perlakuan Dylan kepadanya namun tubuhnya bertindak sebaliknya Tubuhnya merespons baik Perlakuan Dylan kepadanya.


...••••...