
" Tuh, lo dengar sendiri, kan " cibir Zamora dengan senyum kemenangan yang tercetak di bibir merahnya. “Gue Nggak salah. Bibi yang salah. Makanya kalau Nggak tahu apa apa, mending diam aja,” tambah Zamora sambil berjalan menuju ke kamarnya. Namun, saat hendak melewati Arka, Zamora menubruk bahu Arka, membuat Pemuda itu menarik tangan Zamora hingga Pergerakan
Zamora tertahan oleh tangan kokoh Arka.
“Apa lagi sih,” tanya Zamora sengit.
Mata Arka beralih Pada Bibi Dina yang sedang menatapnya sendu.
" Bibi boleh balik ke dapur,” titah Arka tegas, membuat Bibi Dina tak sanggup melayangkan kalimat Protes dan langsung kembali Pada kerjaannya di dapur yang sempat tertunda.
" Sopan santun lo ke mana " Arka balik bertanya dengan nada datar khasnya ketika berbicara dengan adik Perempuannya.
" Sopan santun ? Udah gue buang ke laut lepas,” jawab Zamora sambil berusaha melepas tangannya dari Arka.
" Apa Perlu gue minta Papa buat ajarin lo sopan santun lagi "
" Nggak usah bawa bawa Papa deh Gue muak Yang ada di otak Papa itu cuma lo, Bang! Semua yang keluar dari mulut Papa itu cuma nama lo Arka juara satu, Arka menang olimpiade ini itu, Arka yang akan gantiin Posisi Papa nanti di Perusahaan, Arka anak baiknArka Penurut, Arka..... "
Plaak
Satu tamparan Pedas hinggap di Pipi Zamora, membuat gadis itu hampir saja tersungkur jika kakinya tak kuat menyangga tubuhnya yang sempoyongan. Tangan kanan Zamora terangkat, mengusap Pipi kanannya yang Pijar akibat tamparan Arka.
" Kenapa lo nampar gue, hah "
" Lo Nggak tahu....”
" Gue Nggak tahu apaan "
" Lo ...”
" Apa sih, yang gue Nggak tahu ? Gue tahu kalau lo itu anak kebanggaan mama sama Papa ! Gue tahu kalau kehadiran gue di keluarga ini Nggak diinginkan ” suara Zamora yang naik beberapa oktaf memberi efek serak.
" Papa sayang sama kita Nggak ada yang dibeda-bedain Papa keras sama lo karena Pengin lo jadi lebih baik,”
" Lebih baik ? Haha Lu-cu,” Zamora tertawa hambar. “Bahkan ketika guru BP manggil Papa buat datang ke sekolah gara-gara ulah gue, papa nggak Pernah sekali Pun datang Yang ada, dia malah nyuruh asisten Pribadinya yang datang, gantiin dia Segitu nggak Pentingnya gue buat dia Padahal gue berharap kalau Papa datang dan nasihatin gue kayak dia nasihatin lo,” tambah Zamora sambil mengusap kasar air mata yang membasahi kedua Pipinya.
“ Za ... "
" Stop ! I’m fed up," Potong Zamora cepat kemudian langsung melenggang masuk ke dalam kamar meninggalkan Arka yang masih termangu di tempat.
Sesampai di kamar, Zamora mengempas Pintu kamarnya hingga mengeluarkan bunyi dentum yang keras. Setelah itu Zamora mengempas tubuh langsingnya di atas kasur empuk yang terbalut bed cover berwarna toska. Zamora mengusap kasar jejak air mata yang tercetak di Pipinya. Tak ingin terlarut dengan kekesalannya Zamora langsung membuka slide Ponselnya untuk melihat beberapa notifikasi yang masuk,
...Dylan...
...Free sih. Kenapa ? Lo mau Ngajak gue Jalan? Mau ke mana? Mumpung gue lag: malas sama Ara...
Senyum Zamora melebar
" Moodbooster banget,” gumam Zamora sambil mengetikkan balasan untuk Dylan
...Zamora...
...iya, gue mau ngajak lo jalan. gimana kalau kita ke mal ? gue lagi suntuk banget, kangen juga sama Lo Kalian berdua berantem...
" Semoga kalian Cepat Putus,” gumam Zamora dengan senyum sumringah yang tak lepas dari bibirnya.
" Putuskanlah saja Pacarmu. Lalu bilang Love you Padaku,” nyanyi Zamora sambil jari telunjuknya memainkan rambut cokelat bergelombang khas miliknya.
Line
...Dylan...
...Mal Oke, lo siap-siap deh Tiga Puluh ment lagi gue jemput Lo...
" Aaahhaa " Zamora menjerit kesenangan membaca pesan Dhirga. Rasa tak Percaya menyelubungi benak Zamora. Berkali-kali Zamora menampar kedua Pipinya, bahkan hingga Pipinya memerah. Zamora meraih boneka beruang yang tergeletak manis di atas kasur, lalu didekap erat-erat seakan boneka beruang itu adalah Dylan
" Gue bakalan ingat kalau hari ini adalah hari ter-ter-ter-indah buat gue. Gue harus bisa fotoan sama Dylan and then gue upload ke Instagram biar si Ara gerah hati. And then mereka PUTUS,” celoteh Zamora Panjang lebar sambil jarinya menari riang di atas layar Ponselnya.
...Zamora...
...Oke gue siap-siap sekarang Semoga kalian cepat Putus Jangan lupa tembak gue kalau kalian udah Putus....
Setelah Pesannya benar benar terkirim, Zamora Pun langsung melepas Ponselnya dan ngacir ke kamar mandi.
...••••...
" Kamu kenapa, sih " tanya Dylan ketika melihat Ara tiba-tiba senyum dan ketawa sendiri sambil menatap Ponsel yang berada di genggamannya.
" Asli Zamora kocak banget,” kata Ara sambil ketawa terbahak bahak.
" Siniin Hapenya,” Dylan kemudian merebut Ponsel yang sedari tadi Ara Pegang. Mata Dylan terbelalak melihat semua Pesan yang Ara kirim pada Zamora.
" Wah ini Nggak bisa dibiarin," Dylan mengacak rambutnya frustrasi.
" Shttt .... Just wait and see,” Ara meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Dylan mendengus, tak bisa ia bayangkan jika Ara memintanya untuk melakukan semua keinginannya.
" Jalan sama Zamora ? Hell no,” rutuk Dylan dalam hati.
Seakan bisa membaca yang ada di benak Dylan, Ara Pun angkat bicara.
" Kamu Nggak bakalan jalan sama dia kok. Aku cuma Pengin dia ngerasain gimana menunggu, kayak yang udah dia lakuin ke aku.”
Mendengar kata-kata Ara akhirnya Dylan Pun menghela napas lega karena tak harus melakukan apa yang ada di Pesan yang mengatasnamakan dirinya. Tak bisa ia bayangkan jika ia harus jalan berdua ke mal bersama Zamora bukan bersama Ara kekasihnya.
Dylan merangkul tubuh Ara Menghirup wangi tubuh Ara yang menenangkan.
" Mending kita aja yang Pergi jalan-jalan. Aku Pengin ice cream,” rengek Dylan manja.
Dahi Ara berkerut mendengar rengekan Dylan lalu matanya berbinar riang.
" Traktir ya ? Ya, ya, ya ?” Ara mengeluarkan jurus andalan Puppy eyes-nya yang selalu saja berhasil dalam hal rayu merayu.
Tangan Dylan terulur mengacak rambut Ara lalu berkata
" Of course Sayang Kan aku yang ngajakin kamu. Let’s the gentleman Pay,” Dylan mengedipkan mata kirinya genit.
Mendengar kata-kata Dylan Ara langsung bersorak riang.
" Yeay "
Ara sibuk dengan notifikasi di Ponsel Dylan
...Zamora...
...Gue udah siap ini...
...Lo di mana Dylan ini udah 3 menit lho Kita jadi Nggak sih Dylan lo di mana....
" Rasain lo " ucap batin Ara senang.
" Eh, kita fotoan yuk,” ajak Ara sambil mengatur timer kamera Ponsel Dylan. Dylan mengangguk mengiyakan ajakan Ara. Ara menarik Dylan berdiri menghadap kamera. Dylan memasang senyum tipisnya, sementara Ara merangkul Pundak Dylan seraya memamerkan senyumnya.
Cekrek
Kamera Ponsel pun menangkap pose yang mereka Lakukan
" Donel " kekeh Ara senang.
" Cuma satu nih " tanya Dylan yang sudah kembali ke tempat duduknya dan mencomot es krim McFlurry Oreo nya.
" Nanti lagi sekarang aku upload Ke IG dulu. Aku fog out akun kamu ya Aku nggak terima Penolakan,” Ara mengedipkan matanya kepada Dylan, membuat Dylan terkekeh.
Ara mengunggah foto bersama Dylan di akun Instagram miliknya tak lupa ia menandai Dhirga dan dirinya sendiri di foto tersebut Berharap Zamora terbakar api cemburu melihatnya. Seusai mengunggah foto bersama Dylan Ara kembali fog out dari aplikasi Instagram di Ponsel Dylan dan melanjutkan acara makan ice cream-nya yang tertunda.
Zamora yang sedang duduk manis menunggu kehadiran Dylan kaget ketika Ponselnya berdering nyaring.
Saat matanya melihat ke layar Ponsel, Zamora Pun menjawab Panggilan yang berasal dari Dylan
" DYLAN"
" Zam, gue Nggak jadi ke rumah Io.”
" Kok kamu gitu sih ? Kan aku udah dandan cantik buat kamu,” rengek Zamora kesal.
" Sorry " Dan Panggilan Pun dimatikan secara sepihak oleh Dhirga, membuat Zamora berdecak sebal.
Akhirnya, Zamora memilih untuk mengalihkan Perhatiannya dengan membuka Instagram. Tiba-tiba mata Zamora terpaku pada Posting-an milik Ara. Rasa geram dan tak suka Pun membuncah. Zamora mulai naik Pitam melihat Posting-an Ara bersama Dylan. Merasa Ara merenggut kebahagiannya, Zamora langsung mengirim Pesan kepada Dylan lewat akun Line-nya.
...Zamora...
...Pantes Lo Nggak bisa ke rumah gue ternyata lagi nge-date sama si upik abu. Katanya lag: malas sama si upik abu...
...Dylan...
...I’m so sorry...
...•••••...