DYLAN

DYLAN
BAB 18 I THINK



berangkat tanpa membawa tas, hanya membawa dua buah buku Paket beserta lima buku tulis di tangan Ara sedang berusaha menyiapkan mental untuk menghadapi rentetan Pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Karina, Desandra, dan Mutiara nantinya.


langkah lagi Ara memasuki kelas. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah, enam langkah, tujuh langkah, delapan langkah, daaaannnnn... sampai!!!


kelas masih sepi, hanya ada yang memang sengaja datang lebih awal kembali menata langkah menuju ke singgasananya. Saat sudah berada di singgasananya, melongo. Tas yang kemarin ia tinggalkan dalam kondisi rapi aman, dan terkendali sekarang ia temukan dalam kondisi ternganga, semua buku buku berserakan. Bukan hanya berserakan, tapi sudah dirobek dengan sadis bahkan tas itu sudah tak berupa tas lagi.


“ Ya ampun ... catatan gue ! Tas gue,” berteriak histeris sambil memungut robekan demi robekan yang berserakan.


mendadak merasa gerah di pagi hari yang sepoi sepoi itu Pandangan sontak beralih ke atas meja. melihat mejanya dipenuhi kalimat kalimat ajaib yang tampaknya ditulis menggunakan lipstik


Bibir tertarik menyungging senyum sinis.


mendengus ketika tatapannya kembali Pada tas ke sayangannya yang bewarna navy.


“ Ara lo Ngapain,” tanya yang baru saja datang sambil berjalan mendekati Saat akan menjawab, Karina berteriak histeris, membuat kembali menutup mulut.


menggeleng lemah tanpa membuka suara.


“ Lo tunggu di sini Jangan ke mana mana,” ujar sambil berlari menuju ke Pintu kelas.


“ Woy ! Lo mau ke mana,” tanya


" Udah Pokoknya tunggu aja,”


“ Ya, kali anak-anak yang iseng Nggak mungkinlah, Nggak mungkin. Apalagi anak-anak kelas Tulisan mereka nggak ada yang kayak gini.”


berjalan angkuh di koridor kelas X dengan tas di Pundak kiri dengan tangan kanan memegang Puntung rokok. Tak lupa dengan cara berpakaian ala bad boy yang memang sudah tersemat sejak lahir.


Kontan Pun menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara yang berseru nyaring memanggilnya.


melihat gadis itu tengah berlari mendekatinya. Dan saat sudah berada tepat di depan Dylan, Karina mengatur napasnya yang ngo-ngosan karena berlari keliling sekolah hanya untuk mencari Dylan


" Lo Kenapa Rin,”


“ Ara, Gawat. Gawat,”


Mendengar nama langsung tersentak. segera membuang Puntung rokok dan mematikan nyala apinya dengan sekali injak.


Dylan mengguncang bahu Karina kencang.


“ Dia diteror,” .


“ Dia di mana,” tanya Dylan tak sabaran.


" Dia sendirian di kelas.”


" Kenapa gue ditinggal,” gerutu Karina dongkol.


...•••••...


yang sedang menceritakan kronologi kejadian kepada teman teman kelasnya langsung kaget melihat memasuki kelasnya.


“ Dylan ”


Ya, kelas XI IPA 3 sudah mulai ramai siswa dan kebanyakan mengerumuni untuk bertanya apa yang terjadi siapa Pelakunya Melihat situasi itu Pun langsung membelah kerumunan siswa dengan tubuh tegapnya segera menghampiri


" Lo Kenapa,”


menggeleng sambil menghela napas berat. Mata Dylan melihat ke arah tas dan meja Ara


“ ikut gue,” kemudian langsung menarik keluar dari kelas Kembali menerobos kerumunan siswa yang tercengang melihat Perlakuan


melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya 07:30 menetapkan satu titik tersangka. ia yakin ia tak salah lagi.


“ Dylan Mau ke mana, sih,”


masuk ke dalam kelas XI IPS 6 dan langsung menutup Pintu kelas tersebut. Saat itu mata langsung terpaku kepada Zamora yang sedang duduk bersilang kaki sambil mengunyah Permen karet.


melepas tangan Dengan keras menendang meja guru Sontak itu menarik Perhatian Para Penghuni kelas XI IPS 6 yang sedang ribut layaknya di Pasar tradisional. Ara tak kalah terkejutnya.


" Apa-apaan lo ? Pagi-pagi udah nyari gara-gara di kandang orang,” seru Alfin yang tak lain dan tak bukan adalah musuh bebuyutan Dylan


“Oh, lo bahasain kelas lo dengan sebutan kandang ? ZUPER ZEKALE,” sindir Dylan sengit.


“ Dylan .... Lo Ngapain, sih ? Balik yuk,” Ara mengguncang lengan Dylan keras.


Tanpa Ara dan Dylan sadari ternyata Zamora sudah berada di dekat mereka Lebih tepatnya di belakang Dylan Zamora tersenyum sinis kepada Ara sambil membelai leher Dylan dengan gerakan yang membuat Ara mendadak mual.


“Jauh-jauh dari gue,” Dylan langsung menepis kasar tangan Zamora.


“ Kenapa sih ? Oh, apa kamu lupa Waktu di Starbucks, kamu bilang aku cantik, seksi, tajir terusss....”


“ Terus jangan lupa kalau gue juga bilang Sayang, lo bukan tipe gue,” ujar Dylan


“ Heh Kalau lo emang Cowok jangan berani sama cewek dong,” Protes Alfin tak terima.


" Mending lo diam, ini urusan gue sama Zamora," bentak Dylan geram.


Tatapan Dylan kembali ke Zamora.


" Gue Nggak akan lepasin lo, walaupun lo cewek karena lo udah ganggu ketenangan cewek gue," ujar Dylan dengan Penuh emosi.


“ Banci lo,” Tanpa aba-aba Alfin menendang Punggung Dylan membuat Dylan tersungkur bersama Zamora.


" Heh bocah ! Udah dikasih tahu jangan ikut campur juga,” Kali ini Ara yang sebal langsung bertolak Pinggang menghadapi Alfin.


“ Mending lo jauh-jauh dari gue sebelum tangan gue melayang ke muka cantik lo,” sambut Alfin sambil mengepalkan kedua tangannya.


“ Kebuktikan siapa yang banci,” ucap Ara tersenyum sinis.


Dylan segera bangkit dan menarik Ara ke belakang tubuhnya


" Seujung kuku lo sentuh cewek gue, gue Nggak bakalan biarin lo lebih lama hirup oksigen di dunia," ancam Dylan kepada Alfin.


Zamora yang geram melihat Dylan lebih Perhatian terhadap Ara menjambak rambut Ara


" Belum kapok hah ? Atau lo Pengin yang lebih Parah dari apa yang udah gue lakuin,"


“ Arrgghh !! Sakit," Ara memegang rambutnya yang dijambak oleh Zamora sambil memberontak keras.


“ Lepas ...,” Baru saja Dylan hendak melangkah mendekati Ara dan Zamora, tiba-tiba tangan Alfin menghalanginya.


“ Itu urusan mereka,” Alfin menahan Pergerakan Dylan yang akan membantu Ara


Bugghh


Tanpa berpikir Panjang Dylan melayangkan tinju ke rahang Alfin Dan Alfin pun terjatuh. Di saat teman-teman Alfin hendak bangkit Dylan melirik sembari mengancam.


“ Kalian maju, kalian bakalan dapatin yang lebih daripada ini,” Kilat amarah terpancar di mata Dylan


Atmosfer berubah kelam, mencekam, dan Panas. Namun tak ada satu Pun ada yang berani berkutik untuk melerai perkelahian antara Dylan-Alfin dan Ara-Zamora.


Braakkkk


Pintu kelas terdorong dengan keras dari arah luar dan masuklah seseorang yang langsung berteriak geram.


...•••••...