DYLAN

DYLAN
BAB 23 HERE WE ARE



Ara terkekeh membaca Pesan Dylan Ara tak berniat membalas Pesan Dylan karena Ara yakin Dylan sedang berada di Perjalanan ke rumah Bayu.


Setelah menunggu sekitar dua puluh menit dan setelah hot chocolate-nya tandas akhirnya Ponsel Ara kembali berbunyi, menandakan ada Pesan masuk. Dengan gerakan cepat, Ara membuka slide lock, lalu membaca Pesan yang masuk.


...Dylan...


...Sayang Jam 7 kita ketemu di Kafe Vislatte ya. Dandan yang Cantik...


Bibir Ara membentuk lengkungan indah membaca chat yang baru saja ia terima dari kekasih hati


...Ara...


...Oke Dylan...


...Dylan...


...See ya on 7 honey...


Ara menggigit bibir bawahnya.


" Tumben banget Dylan nyuruh dandan.” Gumam Ara. Tak biasa Dhirga tak menjemputnya karena setahu Ara, Dylan tak Pernah mau membiarkan Ara Pergi sendiri Antisipasi katanya.


Dan soal berdandan, sekali lagi tak biasanya juga Dylan memintanya untuk berdandan. Karena setahu Ara, Dylan mencintai apa adanya seorang Ara. Lama kelamaan bibir Ara menyungging senyuman dengan Pipi yang memerah seperti tomat.


Ara melihat jam dinding di kamarnya waktu ternyata sudah menunjukkan Pukul 06.00 masih tersisa satu jam lagi bagi Ara untuk bersiap-siap. Ponselnya langsung ia lempar ke atas kasur sambil tangannya meraih handuk yang tergantung di samping lemari baju Ara menuju ke kamar mandi dengan semangat 45 Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan Dylan


Ara turun dari lantai atas dengan mengenakan dress hitam Putih berlengan Pendek memperlihatkan kaki Ara yang jenjang dan mulus tanpa cacat sedikit Pun tak lupa Ara mengenakan flat shoes bewarna senada dengan bajunya hitam Putih Rambut Panjangnya ia biarkan tergerai tanpa aksesoris. Untuk riasan wajah, Ara hanya mengenakan bedak tipis di wajah dan leher sedikit blush on di kedua Pipi sedikit eye liner di kelopak mata dan sepoles lipgios agar bibirnya tak terlihat Pucat.


Ara. membawa sling bag berbentuk matahari agar memudahkannya untuk membawa Ponsel dan dompet.


" Anak ayah udah Cantik aja. Mau ke mana Sayang ” tegur Rivaldo yang kebetulan baru saja Pulang dari kantor.


Senyum Ara merekah mendengar Pujian sang ayah. " Aku mau ketemu Dylan Ayah Aku Pinjam sopir Ayah ya ? Ayah ganteng deh,” rayu Ara manja sambil mendekap sang Ayah dengan erat.


Rivaldo terkekeh mendengar rayuan sang anak. Tangan Rivaldo terulur mengusap lembut rambut Ara yang tergerai bebas.


" Kamu boleh Pakai apa pun akses yang ada di rumah ini, sopir, mobil ATM, or anything else. it’s yours,” ucap Rivaldo lembut.


Mendengar itu, senyum Ara mengembang lebar, mata Ara berbinar bahagia. Dengan satu gerakan, Ara melepas Pelukannya dari sang Ayah. “ Makasih Ayah Kalau gitu, Ara Pergi dulu, Ayah Bye,” Ara melambaikan tangan sambil berlarian menuju ke pintu utama rumahnya.


Di sinilah Ara di tempat yang Dylan janjikan. Di dalam Kafe Vidlatte. Ara memilih tempat duduk yang terletak sedikit tertutup dari Pintu kafe. Saat Pelayan datang mendekatinya Ara langsung berkata


" Ntar aja deh Mbak. Saya masih nunggu seseorang.”


Pelayan tersebut mengangguk tanda mengerti ucapan dari Ara


Ara mengambil Ponsel di dalam sling bag-nya. Layar Ponsel menujukkan Pukul 07:10 WITA. Namun batang hidung Dylan belum juga kelihatan


" Gue telat apa gimana " ucap batin Ara


Akhirnya Ara memutuskan untuk mengirimi Dylan Pesan singkat.


...Ara...


...Kamu di mana ? Aku udah di kafe....


Sent.


Jam sudah menunjukkan Pukul 07:30 tetapi Ara masih bersikukuh untuk menunggu Dylan dengan Pemikiran bahwa Dylan sedang terjebak macet dan tak sempat menghubunginya. Sudah berkali-kali Pelayan kafe menghampiri Ara untuk menanyakan Pesanan tapi Ara tetap berkata bahwa dia akan memesan ketika Pasangan sudah datang


Satu jam telah berlalu dan jam menunjukkan Pukul 08:30. Ara mulai diselimuti Perasaan kalut Akhirnya Ara mengirimi Pesan singkat lagi.


...Ara...


...Dylan aku udah lumutan nungguin kamu di sini...


...Ara...


...Kamu di mana...


Ara kesal melihat Pesannya hanya dibaca tanpa balasan apa pun.


Line


Suara notifikasi aplikasi Ponsel yang Ara gunakan akhirnya membuat ia lega walaupun belum membuka notifikasi tersebut.


...Dirga...


...send Picture...


Ara melihat foto yang dikirim Dylan tiba-tiba dada Ara terasa sesak. Mata Ara memanas seketika dengan rasa dingin yang menyergap di sekujur tubuhnya. Tanpa bisa ditahan, jantung Ara mulai memompa tidak beraturan. Sakit yang Ara rasakan saat melihat foto itu bisa diibaratkan seperti tertimpa batu besar di badannya, tak ada ruang bagi Ara bernapas. Dalam foto itu tampak Dylan tengah tidur di kasur mengenakan selimut bersama seorang Perempuan.


Usahanya berdandan cantik untuk Dhirga tak mendapat timbal balik. Begitu juga Penantiannya selama lebih dari satu jam tak mendapat timbal balik. Yang ia dapatkan hanyalah Pengkhianatan dari seorang bad boy yang bernama Dylan


Ara merasa disia siakan. Tak seharusnya dia memercayai semua bualan kosong Dylan. Secara perlahan-lahan bulir bening yang sedari tadi menggenang Pun jatuh membasahi Pipi Ara sedikit demi sedikit.


" Dylan brengsek,” rutuk Ara sambil kembali memasukkan Ponselnya ke dalam sling bag dengan kasar.


" Sekali berengsek selamanya berengsek. Seharusnya gue nggak Pernah Percaya sama dia. Bego bego, banget. Hahaha.” ucap Ara tertawa sedih sambil terus menghapus jejak air mata yang tanpa keluar.


" Berengsek "


" Gue benci lo, Dylan Seharusnya gue tahu lo cuma main main sama gue.”


Air mata yang sedari tadi Ara usap bukannya berhenti, malah semakin deras. Membuatnya sesenggukan menahan isaknya.


Saat ini Ara merutuki dirinya karena telah memilih tempat yang jauh dari Pintu masuk.


Ara melebarkan langkahnya agar cepat mencapai Pintu kafe. Namun sialnya, Ara yang tak menatap lurus ke depan malah menabrak salah satu pengunjung kafe yang kebetulan mau menuju ke toilet.


Bruk


Tubuh Ara yang tak siap menerima tubrukan tubuh itu langsung terhuyung dan terjatuh.


" Sshh " Ara mendesis ketika ia merasakan sakit terempas di atas lantai kafe yang dilapisi karpet merah beludru. Setelah itu, Ara bergeming. Terdiam dengan Posisi terduduk di atas lantai kafe membiarkan kelelahan mengambil alih kendali tubuhnya. Membuat seluruh Pengunjung kafe menitikkan fokus Pada Ara dan Pemuda yang baru saja ia tabrak.


" Ara "


Ara mengenali suara itu. Suara yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangannya belajar. Suara yang selalu membuat Ara merasa jengkel dengan semua tingkah usil pemilik suara itu. Dengan gerakan gontai, Ara Pun mendongak.


" EL "


" iya, ini gue Yezkiel.” ujar Pemilik suara itu seraya berlutut di depan Elvira.


" Lo Kenapa " tanya Yezkiel sambil membantu Ara untuk berdiri bersamanya.


Yezkiel mengangguk mengerti. Gadis mungil ini sedang kacau dan butuh Pelampiasan. Tak menunggu lama Yezkiel mengangkat Ara dalam gendongannya. Dan tak ada Protes dari Ara, membuat Yezkiel langsung membawa Ara keluar dari kafe tersebut.


" Lo kenapa " tanya Yezkiel setelah mengambil tempat di samping Ara


Ara yang sedari tadi membisu langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan melempar Ponsel tersebut Pada Yezkiel.


" Busyet nih Cewek main lempar aja,” dumel Yezkiel. Sementara Ara tak lagi memberi reaksi apa apa.


" Gue mesti nyari apaan di HP lo” tanya Yezkiel kebingungan.


" Buka Line " jawab Ara singkat.


" Terus "


" Lihat chat Dylan "


Dahi Yezkiel mengernyit, “Sumpah demi apa gue mesti buka chat Pacar orang ? Gila,” batin Yezkiel.


Tapi rasa Penasarannya lebih menguasai gerak tubuhnya membuat Yezkiel langsung membuka chat dari Dylan untuk Ara


" Berengsek " ucap Yezkiel kaget.


Pandangan Yezkiel beralih kepada Ara yang kembali terisak. Yezkiel langsung menarik dan menenggelamkan kepala Ara di dadanya. Tangan kanan Yezkiel mengusap kepala Ara sementara tangan kiri Yezkiel memeluk tubuh mungil Ara


" Nangis aja sepuas lo. Jangan dipendam sendiri,” ujar Yezkiel.


" Gue bego El. Bego. Gue nggak tahu kenapa gue bisa Percaya sama cowok kayak dia. Cowok berengsek " isak Ara sambil memukul dada Yezkiel sekuat tenaga.


" Lo bisa Pukul gue sepuas lo, yang Penting abis ini lo bisa tenang.”


Mendengar Penuturan Yezkiel isakan Ara semakin keras. " Gue benci Dylan Dia minta gue datang ke kafe dandan buat dia, terus berangkat sendiri. Dan itu Nggak kayak biasanya, biasanya dia nggak Pernah mau biarin gue ke mana-mana sendiri, biasanya dia nggak Pernah minta gue dandan karena dia suka gue natural aja biasanya dia nggak giniin gue, El,” Ara menangkup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.


Air mata Ara membentuk pulau di baju yang dikenakan Yezkiel, tapi Yezkiel tak Peduli asalkan gadis mungil ini bisa merasa lega. Setelah sama-sama terdiam dan berkutat dengan Pemikiran masing-masing selama sepuluh menit, akhirnya Yezkiel membuka suara untuk mencairkan suasana.


" Udah legaan "


Pertanyaan itu hanya dibalas dengan anggukan oleh Ara


" Gue antar Pulang, ya ” Yezkiel mengangkat wajah Ara agar mau menatapnya.


Kali ini Ara hanya menggeleng.


" Gue manusia, bukan benda tak bernyawa. Kalau ditanya tuh, dijawab dong. Bukan angguk geleng,” dumel Yezkiel sebal sambil ibu jarinya menghapus jejak air mata yang bersisa di kedua Pipi Ara. Dan tindakan Yezkiel tak mendapat Protes dari Ara


" Bacot lo, El,” gerutu Ara


" Gue benar kok, abisnya lo ditanyain cuma ngangguk geleng. Lo bisu Nggak, kan ? Bisa ngomong kan ? Jelas, gue tahu lo bisa ngomong,” cerocos Yezkiel yang membuat kuping Ara Panas.


" Ya, ampun Yezkiel. Lo cerewetnya ngalahin cewek. Gue tuh lagi sedih hibur gue dong,” Protes Ara


" Mau gue hibur "


" lya "


" Yakin "


" lya "


" Seriusan "


" lya "


" Miapa "


" Miyabi ! Busyet, bisa gila gue deket lo. Antarin gue Pulang," suara Ara sehabis nangis mulai naik satu oktaf.


" Jangan Pulang dululah. Gue hibur dulu. Beneran deh nggak main-main lagi,” kata Yezkiel dengan bersungguh-sungguh.


" Hmm " dehem Ara


" Ara lo Punya spidol hitam Nggak,” tanya Yezkiel.


" Nggaklah. Buat apaan emang ”


" Buat warnain tanggal merah jadi hitam.”


" Buat apa diwarnain ”


" Ya, biar lo tahu. Nggak ada yang namanya hari libur untuk mencintai lo,” ucap Yezkiel sembari menyeringai Pada Ara


Ara langsung memutar bola matanya malas.


" Gue Nggak minta digombalin, gue cuma minta dihibur.”


" Ya itu hiburan buat lo,” kekeh Yezkiel yang membuat bibir Ara jadi maju lima senti.


...••••...


"Ara lo dicariin Dylan tuh,” ujar Karina yang baru saja duduk di samping Elvira.


" Ngapain dia nyariin gue " tanya Ara ketus.


" Jelas nyariin lo lah Ara. Lo kan Pacarnya Dylan," sahut Desandra. Dan disambut anggukan Mutiara dan Karina.


" Gue lagi malas ketemu Dylan Eh, si Yezkiel mana, sih ? ini udah mau bel malah belum datang.” Kepala Ara celingak celinguk mencari sosok Yezkiel di setiap Penjuru kelas.


" Tumben banget nyariin Yezkiel Ada apakah gerangan ”


" Mimpi apa lo tadi malam "


" Lo Pindah hati dari Dylan ke Yezkiel,"


Ketiga Pertanyaan itu meluncur bebas dari mulut ketiga sahabat Ara membuat Ara langsung berdecak kesal.


" Gue ada misi rahasia sama si Yezkiel, entar juga lo bertiga tahu sendiri,” kata Ara sembari mengibaskan tangannya di udara.


" Lo mau bikin kami bertiga Penasaran ? Najis banget, sumpah,” dumel Karina.


" Nggak setia kawan banget, sih,” sahut Mutiara.


" ya bener ” timpal Desandra sambil mencibir Ara Sementara Ara yang dicibir hanya mengulum senyum.


...•••••...