DYLAN

DYLAN
BAB 26 FORGIVE ME



Tok-tok-tok


Ara yang semula sedang sibuk di dalam selimut langsung duduk tegak di atas kasur setelah mendengar Pintu kamarnya diketuk.


" Siapa " tanya Ara dengan suara serak.


Hening. Tak ada jawaban. Ara mendengus kasar sambil tangannya bergerak mencepol rambutnya yang tergerai bebas.


Tok-tok-tok


Pintu kamar Ara kembali mengeluarkan suara ketukan yang membuat Ara langsung bangkit dari posisi duduknya. Dengan langkah gontai, Ara berjalan ke arah Pintu. Kedua Pipi Ara mengembung dengan bibir yang mengerucut kesal.


" Siapa " tanya Ara tanpa mau memutar knop Pintu kamarnya.


Tok-tok-tok


" Ditanya tuh jawab dong " bentak Ara sebal. Dengan gerakan ogah-ogahan, Ara Pun memutar knop Pintu dengan ocehan-ocehan khasnya. Saat Pintu kamar terbuka Ara mengernyit heran melihat Pemandangan di hadapannya.


Dylan. lya, Dylan, bad boy-nya sedang berdiri tegak di hadapannya. Dylan tersenyum manis dengan sebuket bunga mawar Pink di tangan.


" Hai, gorila " sapa Dylan sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


" Heh Yang ngizinin lo masuk itu siapa " tanya Ara marah


" Aku Nggak Perlu izin buat masuk ke kamar calon istri aku. Eh, aku bawain kamu mawar Pink. ini asli nggak dicelup-celup.” Dylan mengulurkan buket mawar Pink itu kepada Ara


Dengan acuh tak acuh Ara meraih uluran Dylan.


" Makasih Mau ngomong apa " tembak Ara to the Point.


" Mau ngasih kamu Penjelasan " jawab Dylan sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk Ara


" Penjelasan apa ? Gue capek dengarin Penjelasan lo yang gue nggak tahu itu benar atau nggak "


" ini seriusan, aku udah tahu asal-muasal Permasalahan kita.”


" Oh. Jadi selama ini lo Nggak serius sama gue "


" Ya ampun, bukan gitu Sayang Dengarin Penjelasan aku dulu Please.”


" No. Cukup " Ara mengangkat tangannya ke udara.


" Seriusan dengerin dulu. Setelah itu, terserah kamu mau Percaya atau Nggak,” Pinta Dylan dengam wajah memelas.


Elvira) menimang-nimang permintaan Dhirga. Kata-kata Desandra tiba-tiba terngiang di pendengaran Elvira.


“Tapi lo juga salah, lo nggak mau dengar penjelasan dia dulu. Apa sih, salahnya luangin waktu lo beberapa menit buat dengar penjelasan Dhirga?”


Ara menghirup napas dalam-dalam sebelum ia embuskan dengan berat


" Oke. Coba jelasin,” Putus Ara sembari mengambil tempat tepat di samping Dylan


" ini semua ulah Zamora. Dia komplotan sama Rio, mereka jebak aku,” Dylan memulai cerita dengan menyangkutkan nama Zamora dan Rio sehingga akhir cerita. Dylan melirik Ara dengan ekor matanya, jelas terlihat raut kebingungan di wajah cantik yang ia kagumi.


" Gorilaku sayang, kok bengong sih " Tegur Dylan sembari mencolek dagu Ara gemas.


Ara yang tadi melamun Pun kaget.


" Jangan ngagetin bisa kan " Protes Ara sambil melotot.


" Gitu aja marah,” Dylan memajukan bibir bawahnya dengan pipi yang ia kembungkan, Pura-pura merajuk. Melihat tingkah menggemaskan Dylan, Ara jadi gemas sendiri, ingin rasanya ia cubit kedua Pipi Dylan Tapi sayang, egonya lebih tinggi, mengalahkan keinginan hatinya dan itulah yang membuat Ara mengurungkan keinginannya.


" Nggak lucu,” ketus Ara sambil memalingkan wajah ke arah lain.


" Cuma kamu yang berani bilang aku nggak lucu. Cewek lain Pada muji aku ganteng, cakep, unyu, imut, dan sespesiesnyalah, tapi kamu ? Kamu malah bilang aku nggak lucu yang dalam artian jelek. Kamu jahat,” Dylan menarik karet yang Ara kenakan untuk mencepol rambut sehingga rambut Ara langsung tergerai bebas sebatas dada.


" Dylan " sungut Ara geram.


Dylan tersenyum melihat wajah Ara yang mulai tertutup oleh helaian rambut yang bergerak-gerak tertiup angin.


" Kamu tahu "


" Nggak tahu dan Nggak mau tahu " dengus Ara


Bukannya emosi, Dylan malah cekikikan mendengar dengusan Ara


" Kenapa ketawa ? Apa yang lucu " tanya Ara sengit.


" Kamu lucu aja. Aku makin sayang.”


" Bodo amat,” cibir Ara sambil berusaha mencepol kembali rambutnya.


" Nggak usah dicepol. Cantikan diurai,” ujar Dylan sembari menahan Pergerakan tangan Ara


Pupil mata Ara melebar seakan tak percaya dengan kata-kata yang terjun bebas dari mulut Dylan


" Berarti selama ini aku Nggak Cantik ," semprot Ara garang.


" Bukan gitu, kamu selalu cantik kok di mata aku. Tapi, ya, sensasinya beda aja kalau rambut kamu diurai gini. Auranya lebih kuat gitu. Eh Tadi bahasanya kamu Nggak Pakai Lo lagi," seloroh Dylan kegirangan.


" Ups ... " rutuk hati kecil Ara


" itu artinya kamu udah maafin aku kan ? lya kan ?” tanya Dylan antusias.


" Nggak " jawab Ara singkat.


" Tadi itu buktinya Kamu Nggak Pakai bahasa Lo gue lagi Kamu tahu itu artinya apa ? Dan Itu tuh artinya ... mpphhh!!!” Dylan tak sempat melanjutkan kata katanya karena bekapan ganas yang ia terima dari Ara di mulutnya.


" Mumpung sekarang kita udah baikan, aku mau koreksi kamu,” tutur Dylan tegas.


Dahi Ara berkerut.


" Koreksi apaan " tanya Ara


" Bahasa kamu,” jawab Dylan sambil menyilangkan tangan di dada.


" Aku minta kamu tolong kurangi bertutur kata kasar. Kamu cewek, kan ? Cewek itu harusnya sedikit lebih kalemlah, tutur katanya sopan dan dijaga jangan ikutin orang lain. Sekarang kamu itu ahli waris tunggal Alfath Co. Masak iya ahli waris tunggal urakan gini? Bisa hancur bisnis yang Om Rivaldo mulai dari nol.”


" Tapi .... "


" Aku Nggak terima Penolakan,” tukas Dylan cepat.


" Eh aku belum maafin kamu lho ya "


" Dih, kenapa Plin Plan gitu sih ” sungut Dylan tak terima.


" Suka suka aku dong " sahut Ara


" Eh aku mau nyanyi satu lagu dong buat kamu,” Dylan memperlihatkan senyum Pepsodent-nya Pada Ara


" Lagu apaan " tanya Ara sambil tangannya sibuk menyelipkan rambut ke belakang telinga.


“Just wait and listen,” balas Dylan dengan senyum yang tak lekang dari bibir.


...Melihat tawamu mendengar senandungmu Terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu....


...Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu Terlihat jelas bahwa hatimu Anugerah terindah yang Pernah ku miliki...


Dylan menatap mata cokelat terang milik Ara yang akhir-akhir ini ia rindukan.


...Sifat mu yang selalu redakan ambisiku Tepikan khilafku dari bunga yang layu...


...Saat kau di sisiku kembali dunia ceria Tegaskan bahwa kamu Anugerah terindah yang Pernah ku miliki...


" Oke. STOP. Jangan nyanyi lagi " kata Ara sambil mengangkat kedua tangannya di udara.


" Kenapa stop ? Jelek ya " Dylan mengusap tengkuknya sambil tersenyum kikuk.


" Bukan. Bukan itu. Aku cuma bingung aja.”


" Bingung ? Bingung kenapa "


" Dari tadi obrolan kita berdua ngalor-ngidul ya ? Awalnya kita berantem, terus kamu ngajakin aku bercanda, aku tiba-tiba maafin kamu, terus kamu tiba-tiba ngoreksi aku, terus kamu nyanyi kayak Pengamen. Abis ini apa lagi " ucap Ara kesal.


Dylan mengetuk lembut dagunya dengan telunjuk Panjangnya, menimang-nimang kata-kata Ara


" Kamu benar juga. Aku baru ngeh kalau kita dari tadi ngalor-ngidul,” tangan Dylan beralih mengacak rambutnya, menambah kesan bad boy Pada dirinya.


Entah apa Puncaknya, tiba-tiba tawa Ara dan Dylan meledak.


" Hahaha Sumpah deh, kita ini Pasangan ter-gaje yang Pernah ada deh kayaknya,” ujar Dylan di sela tawanya.


" Kita ? Kamu aja yang gaje. Aku normal,” sanggah Ara


" Jahat emang,” sungut Dylan dengan bibir manyun lima senti.


...•••••...


" Zalika "


Iqbal membuka Pintu ruang rawat inap gadis yang ia Puja. Terlihat beberapa kerabat gadis itu sedang tersedu-sedu menangisi gadis malang yang sedang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit Mata Iqbal langsung tertuju kepada Zalika dambaan hatinya yang sedang menatapnya sayu.


" Bal Zalika dari tadi ngomongnya ngelantur,” bisik Kiki sambil menepuk Pundak Iqbal lembut.


" Zalika kamu Kenapa " Iqbal mendekati Zalika dan meraih tangan kanan Zalika yang terpasang jarum infus.


" Aku ... Capek Bal "


" Kamu Nggak boleh ngomong gitu, Zalika Kamu Pasti sembuh,” nada bicara Iqbal mulai bergetar.


" Sem... buh ? Lucu.... Bahkan dokter Pun.... Nggak tahu... apa Pen... yakit aku,” penuturan Zalika mulai terbata-bata, napasnya tak teratur seakan ada yang membatasi ruang Pernapasannya.


Sambil menahan air matanya, Iqbal pun mengelus rambut Zalika yang Perlahan menipis.


Tangis kerabat Zalika mulai Pecah ketika mendengar Penuturan Zalika saat berbicara dengan Iqbal. Semua tahu, ada rasa yang tak biasa di antara Zalika dan Iqbal. Namun, tak ada yang berani memulai. Mereka mencoba terbiasa dengan Perasaan tersembunyi mereka masing-masing Mencoba menghadapi perasaan saling mendamba mereka dengan sikap saling Perhatian antara sahabat. It’s sound crazy, right? But that is the way they show they love each other.


" Aku minta kamu jangan Pikirin yang aneh aneh. Kita sahabat, kan " Iqbal tersenyum kecut di depan Zalika


" iya, kita ... saha ... bat " balas Zalika sambil mengelus lembut Punggung tangan Iqbal.


" Sahabat itu Nggak Pernah saling meninggalkan. Mereka akan tetap selalu bersama, walau apa pun yang terjadi. Meskipun maut, tak akan ada yang memisahkan Persahabatan abadi kita,” tegas Iqbal dengan air mata yang mulai berjatuhan membasahi kedua Pipinya.


" Tapi .... "


Cup


Satu kecupan mendarat di atas dahi Zalika membuat gadis itu langsung tersedu.


" Aku Percaya kamu Pasti sembuh Semangat,” bisik Iqbal lembut.


...•••••...