DYLAN

DYLAN
BAB 29 ANOTHER GIRL



" Misi dong " Pinta Amanda tegas.


Dengan berat hati, Yezkiel pun menyingkir dan memberikan akses kepada Safeea. Kemudian Dylan datang dengan wajah Panik.


" Ara mana " tanya Dylan cemas.


" Dia lagi diperiksa sama Amanda” jawab Mutiara.


" Siapa yang bawa Ara ke sini "


" Gue " jawab Yezkiel dengan tatapan sengit.


" Lo apain Ara sampai dia Pingsan kayak gitu," Yezkiel balik bertanya.


" Hah " Dylan tercengang mendengar Pertanyaan Yezkiel.


" Nggak usah Pura-pura bego deh lo Dylan," geram Yezkiel sambil mencengkeram kerah seragam Dylan dengan kasar.


" YEZKIEL STOP " Karina menarik Yezkiel agar tidak terlibat baku hantam dengan Dylan


" Dylan " seru Desandra yang baru saja datang. Tanpa banyak bicara Dylan menoleh ke arah Desandra yang berdiri tepat di depan Pintu UKS dengan napas terengah engah.


" Tolong, kurangi suara " ketus Amanda yang sedang memeriksa keadaan Ara


" Kita ngomong di luar aja " ujar Dylan seraya melangkah ke luar UKS, kemudian disusul Karina dan Mutiara, tak lama kemudian Yezkiel pun ikut keluar dengan wajah yang ditekuk.


Dylan menarik napasnya dalam dalam. Desandra Pun kembali membahas Permasalahan antara Dylan dan Ara. Sementara Yezkiel, Karina, dan Mutiara hanya menjadi Pengamat tanpa membuka suara.


Dylan duduk di sisi ranjang, jemari Dylan menggenggam erat jemari Ara seakan tak ingin melepaskan gadis itu.


" Sayang bangun dong Aku udah bela-belain bolos demi kamu, masak kamu nggak mau bangun,” gumam Dylan


Ponsel Dylan bergetar singkat, menandakan ada Pesan masuk. Kebetulan Ponselnya terletak di atas nakas samping kasur UKS, jadi mata Dylan langsung tertuju pada layar Ponsel yang menampilkan pop-up Pesan yang masuk genggamannya demi mengetik balasan kepada si Pengirim Pesan tiba-tiba tangan Ara bergerak Pelan membuat Dylan segera mengurungkan niatnya. Ara membuka matanya dengan Perlahan. la menyipitkan matanya untuk melihat keadaan sekitar dan mengerjapkannya berkali-kali. Saat akan mencoba untuk duduk, tiba-tiba,


" Engghh " erang Ara dengan tangan kirinya yang langsung terangkat untuk memegang kepala.


Dengan cekatan Dylan Pun menahan Punggung dan lengan Ara agar tidak terjatuh.


Namun segera ditepis kasar oleh Ara


Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dylan yang Ara lakukan adalah memalingkan wajahnya dari Dylan. Tak ingin di gerogoti oleh rasa Penasaran, Dylan Pun menarik dagu Ara agar mau menatapnya.


Saat Pandangan mata mereka bertemu, Dylan Pun membuka suara, " Kamu kenapa " Dylan menatap mata Ara lama dengan tatapan mengintimidasinya.


Ara bergidik tak Peduli.


" Ngomong dong Jangan diam gitu. Aku lebih suka diomelin sama kamu daripada didiemin kayak gini,” sungut Dylan manja.


" Terus "


" Ya, ngomong, kasih tahu aku. Aku salah apa sama kamu "


" Terus "


" Kamu mau jadi tukang Parkir ? Dari tadi teras-terus teras-terus. Kamu kira aku mobil " sewot Dylan


" Ck " Ara berdecak malas sambil memutar bola matanya.


" Kamu lagi kenapa sih " tanya Dylan


" Aku lagi Nggak Pengin diganggu,” Ara memberikan sedikit penekanan saat mengucapkan kata ‘aku’ dengan harapan agar Dylan Peka dengan rasa sakit hatinya.


" Tapi .... "


" Nggak tuli kan ? Please leave me alone,” Ara mendorong tubuh Dhirga agar menjauh. Dengan berat hati, Dylan pun melangkah menuju ke Pintu UKS.


" Kalau kamu udah tenang kita ngobrol ya " tanya Dylan sebelum melangkah ke luar.


" Hmm " Ara berdehem dengan nada yang terdengar ogah-ogahan Namun, tetap membuat Dylan tersenyum simpul meninggalkan UKS dan Ara di dalamnya.


Sepeninggal Dylan Ara langsung mengacak rambutnya geram.


" Bisa-bisanya dia Pamerin muka sok Polosnya depan gue ! Bukannya minta maaf, malah ngelawak,” dumel Ara


...•••••...