DYLAN

DYLAN
BAB 7 TAWURAN



mau ke kantin bentar. Bentaaaarr aja,"


" Pasti ngeliat cewek, deh, makanya mau ke kantin,” dengus.


“ Zalika,”


" .


" Aawwhh. Jangan mukul helm gue Vir. Sakit nih, kuping gue,” Protes Iqbal sambil tetap menjalankan motornya ke arah dua gerombolan siswa yang terlihat sedang adu mulut.


,” bisik hati kecil Ara


" Iqbaaalll, aaaaarrhhhgg,” Ara berteriak ketika satu batu berukuran besar menghantam badan motor Iqbal hingga oleng.


Motor Iqbal langsung menabrak tubuh Dylan sehingga ia terpental dan berguling di atas aspal yang Panas. Tak hanya Dylan Iqbal dan Ara juga terlempar dari motor menghantam keras aspal.


" Ara,” Pekik Iqbal ketika melihat Ara langsung tak sadarkan diri dengan darah mengalir dari dahi lutut, dan siku Ara


" Ara Bangun,” Dylan berusaha membuka matanya untuk melihat gadis cantik itu sementara tangannya terus berusaha untuk menggapai tubuh Ara yang tergeletak tak jauh darinya.


Iqbal merasakan lengan kirinya berdenyut nyeri akibat menghantam Pembatas jalan dan Pelipis kanannya robek tergesek aspal ketika terpental dari motor Ketika berusaha bangun tiba-tiba Iqbal mendapatkan serangan dari anak buah Alfin. Iqbal mengerang kesakitan ketika anak buah Alfin itu menendang Perutnya dengan keras. Melihat Iqbal mendapat serangan dari anak buah Alfin Dylan bangkit dan balik menyerang anak buah Alfin yang sedang gencar memukuli Iqbal yang tidak tahu menahu tentang tawuran ini.


" Lawan lo itu gue," ujar Dylan yang seraya menarik kerah seragam anak buah Alfin menjauh dari Iqbal. Lalu ia beri hantaman bertubi-tubi ke wajah anak buah Alfin yang Dylan tahu namanya adalah Sandy.


Rahang Dylan menggemeretuk keras ketika melihat Ara masih belum tertolong. “ Gue berharap ada anak PMR yang lewat dan nanganin Ara sekarang,” desis Dylan sambil terus melayangkan tinjunya kepada Sandy. Ketika Sandy mulai terlihat tak berdaya Dylan bangkit dan mendekati Iqbal tanpa memedulikan darah segar yang mengalir dari kepalanya yang tadi terbentur aspal.


" Yang mana yang sakit,” tanya Dylan kepada Iqbal yang meringis menahan sakit.


" Lengan gue,” jawab Iqbal sesantai mungkin. Benar, lengan bawah Iqbal terlihat memar. Dengan Perlahan-lahan Dylan membantu Iqbal untuk bangun dan berjalan mendekati Ara


" Ara,” lirih Iqbal sambil memangku kepala Ara


" Lo tunggu di sini gue cari bantuan,” Perintah Dylan sembari berlari ke arah Liam yang terlihat kewalahan menghadapi lima orang.


" Lima lawan satu ? Nggak adil Bro,” sindir Dylan yang kini berdiri tepat di samping Liam.


" Dylan lo berdarah,” desis Liam Pelan namun dapat didengar oleh Dylan


" Gue baik-baik aja, kok. Bayu mana,”


" Dia Nggak ikutan,” jawab Liam.


Tanpa aba-aba Dylan langsung memberikan tinjuannya di wajah kelima lawan di hadapannya.


Saat Ferry anak buah Alfin hendak menendang Punggung Dylan tiba-tiba saja terdengar bunyi sirene Polisi yang membuat gerombolan Alfin itu langsung bubar, berlari Pontang-panting untuk menyelamatkan diri dari Polisi. Tapi tidak untuk gerombolan Dylan.


Dylan berlari ke arah Ara dan mengangkat gadis itu dengan hati-hati


" Gue bawain anak PMR buat lo Pada,” kata Bayu yang datang bersama 23 orang anggota PMR SMA Cakrawala. Dylan menghela nafas lega.


" Dari tadi kek,"


" Heh anggota PMR itu kalau mau nolong juga ada aturannya. Kalau mau nolongin korban harus lihat situasi dulu, kalau enggak gitu bisa bisa tim Penolong ikut jadi korban juga,” celetuk Amanda selaku ketua PMR.


Dylan menyungging senyum kecut.


" iya, iya. Maaf, gue kan, Nggak tahu. Oh, iya, Polisinya mana,”


" Nggak ada Polisi, gue cuma gertak Pakai nada dering sirene doang udah Pada kabur,” kekeh Bayu.


" Dasar lo. Thanks anyway,” ujar Dylan Bayu hanya mengangguk ringan.


" Evakuasi mereka ke tempat yang aman,” Perintah Amanda sambil memapah Iqbal dengan hati hati ke arah taman depan Pekarangan sekolah mereka.


Dengan gerakan gesit namun berhati-hati seluruh anggota PMR itu langsung mengevakuasi Para korban luka-luka dari kelompok Dylan


...•••••...


Setelah ditangani oleh anggota PMR SMA Pelita, Para korban yang luka serius langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan Perawatan intensif.


Dylan hanya mengalami Pendarahan ringan di belakang kepala. Sementara Iqbal mengalami retak di tulang lengan kiri dan robek di Pelipis kanan Ara ? Ara tidak mengalami cedera yang Parah, hanya luka ringan Pada dahi siku, dan lutut. Ara Pingsan karena shocked.


Ara duduk di sofa ruang VVIP yang diisi oleh Dylan dan Iqbal secara bersamaan.


" Gue Nggak kenapa-kenapa, cuma lecet dikit doang Pingsan juga gara-gara shocked,” jelas Ara


" Lecet dikit apaan ? Darah lo ngucur kaya air mancur,” timpal Iqbal.


" Heh lo Nggak Pernah dengerin Penjelasan guru Biologi, ya,” sambut Dylan sinis.


" Gue siswa teladan Nggak mungkin Nggak dengerin Penjelasan guru,” sanggah Iqbal.


" Terus kenapa bisa nanya kayak gitu ke Ara,”


" Karena emang gue Nggak tahu.”


" Oon lo emang. Jelas aja darahnya itu ngucur kaya air mancur, orang kejadiannya Pas jam dua belas siang. Sekecil apa Pun luka lo pasti darahnya nggak bakalan berhenti,” jelas Dhirga.


" Kok, gitu,” Iqbal mengerutkan dahinya heran.


" Baca buku gih ! Cetek amat otak lo,” ledek Dylan


" Ribut, elah,” Ara melempar kedua sandalnya ke arah Dylan dan Iqbal.


" Sialan, lo,” ketus Iqbal ketika sandal Ara mengenai kakinya.


" Kalian itu ...” kata-kata Dylan terhenti ketika Pintu ruang rawat inap mereka dibuka dan masuklah seorang gadis cantik dengan rambut hitam sepinggang.


" Nyari Iqbal, kan,” terka Ara


Gadis itu Pun membuka suara.


" iya Kak Aku boleh jenguk Kak Iqbal, kan,”


Ara mengangguk santai sambil memusatkan Perhatiannya Pada Ponsel miliknya.


" Lo Ngapain sih,” tanya Dylan sembari melempar kembali sandal Ara


" Kepo, lo,” sahut Ara ketus.


" Knowing every Particular object,”


Ara memutar bola matanya malas.


" Mending lo tidur daripada lo buang-buang waktu ngomong sama gue.” Ara memijit Pangkal hidungnya untuk meredakan rasa Pening yang bertandang di kepalanya yang terbalut.


" Gue Panggiilin dokter, ya,” tawar Dylan lembut.


Ara menggeleng lemah. “ Bal, gue cabut.” Setelah berpamitan dengan Iqbal Ara langsung keluar dan Pulang ke rumah bersama sopir yang sudah menunggunya di bawah.


Dylan mengalihkan Pandangannya kepada Iqbal dan Zalika yang terlihat sedang berbual mesra.


“Dylan,” Panggil Iqbal.


" Hmm,” sahut Dylan dengan nada ogah-ogahan.


" Makasih Maaf juga kalau sebelumnya sikap gue Nggak enak ke lo,” kata Iqbal sambil menyedot susu kotak yang dibawakan oleh


Zalika


" Hmm Santai aja,” balas Dylan tanpa menatap Iqbal.


" Lo itu sebenarnya Pacaran Nggak sih sama Ara,” tembak Dylan Sontak Iqbal langsung terbatuk-batuk


" Kakak Pacaran sama Kak Ara Bukannya ....” kata kata Zalika terhenti akibat mulutnya dibekap oleh Iqbal.


" Ssttt ....” bisik Iqbal kepada Zalika


" Kenapa ? Bukannya apa,” tanya Dylan yang melirik gerak-gerik Iqbal lewat ekor matanya Kecurigaannya kian kuat.


Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengetahui kebenarannya.


...•••••...