
Di l m.
“ itu apa, Kak ? Bagus Aku suka!” seru Ara
“ ini namanya dreamcather.”
...•••••...
hhhnannana
nsnsnsns s
nsnsnana ssmsmma
nsnsnsnas
smaanaaadfd.
nsnznzns.
Tok, tok, tok
mmmmmsmsmdm
Ketukan Pintu itu membuyarkan semua kenangan yang sedang berputar di benak
Ara
“ Siapa,"
Tak ada jawaban atas Pertanyaan Ara itu, yang ada Pintu kamar Ara terbuka dan Iqbal muncul dari baliknya.
“ Oya Nggak kangen sama gue,” Ucap Iqbal dengan senyum sinis di bibirnya.
“ IQBAL,” seru Ara riang beranjak berlari dan memeluk Iqbal dengan erat.
“Miss me, uh,” Iqbal membalas Pelukan Ara tak kalah erat.
Kening Iqbal mengernyit melihat Ara memakai kalung dreamcatcher di lehernya.
“ Tumben Pakai kalung dreamcatcher lagi Beli di mana,” Ara mengusap tengkuknya, berat sekali untuk menjawab Pertanyaan Iqbal yang satu itu.
“ Heh, Punya mulut, kan? Kalau ditanya, ya, dijawab!” dengus Iqbal sambil mencibir.
“lya, iya. Bawel lo ini dari Dylan,” jawab Ara dengan sekali helaan napas.
“ What the... anjiiirr ! Gue bilang juga apa? Lo Pasti terpesona sama tu si bocah berandalan,” seru Iqbal heboh.
“ Ter pe-so-na. Dan kapan lo Pernah bilang kayak gitu,” Ara bertolak pinggang menatap Iqbal sengit.
" Pe je dong, pe je,” Iqbal menggoda Ara sembari mengedipkan matanya dengan ekspresi genit
" Nggak ada PeJe PeJe an. Belum jadian juga,” ceplos Ara
“ Belum berarti akan dong, ya?”
" Hayo, Nggak bisa ngelak, kan lo.” Iqbal mencubit Pipi Ara dengan gemas.
“ iqballl ! Hakit hau!! Hepasin heeehh!!” Ara mencoba melepaskan tangan Iqbal dari kedua Pipi imutnya dengan memukul tangan Iqbal sekeras mungkin.
“ Nggak mau. Pe je dulu.” Iqbal menggelengkan kepalanya seakan sedang menikmati musik DJ yang biasa ia dengar di stasiun radio.
“ Nggak ada PeJe elah Iqbal,” dengus Ara sebal.
" Traktir makan dong, gue lapar,” Iqbal tetap memaksa Ara
untuk mengeluarkan uang untuknya.
“ iya gue traktir makan! Di kafe deket sini aja, Iho, ya, gue Nggak mau uang jajan bulanan gue ludes semua gara-gara traktir manusia Perut karet kaya lo.” Ara memutar knop Pintu kamarnya
Lalu melangkah ke Juar disusul Iqbal. la membuntuti Ara dengan senyum yang merekah.
“ ingat, ya ini bukan Peje. ini cuma traktiran yang berdasar kata kata lapar lo,” Ara mengacungkan telunjuknya di depan wajah Iqbal.
“ Iya, Nona Muda Alfath,” kekeh Iqbal.
Saat mereka melewati ruang keluarga, Rivaldo menghalangi akses mereka.
" Kalian mau ke mana,” tanya Rivaldo dengan secangkir kopi di tangan kanannya.
" Mau kasih makan buat si Perut karet Yah,” jawab Ara asal.
Iqbal mendelik menatap Ara Bukannya takut, Ara malah mengacuhkan tatapan Iqbal yang ia anggap tidak seram sama sekali itu.
“ Nih, Pakai uang ini. Jangan Pakai uang bulanan kamu.” Rivaldo menyerahkan lima lembar uang berwarna merah kepada Ara
" Banyak amat,” desis hati kecil Ara dan Iqbal secara tak sadar.
" Ayo diambil,” Rivaldo menarik tangan Ara, kemudian menyelipkan uang tersebut di tangan Ara
“ Ah ... Makasih Ayah.” Ara memeluk Rivaldo erat. Tanpa ragu Rivaldo membalas Pelukan Ara tak kalah erat. Saat ini Ara kembali merasakan kehangatan Pelukan seorang ayah setelah beberapa tahun Perang dingin itu terjadi.
Ara hampir saja meneteskan air mata menghadapi situasi sendu ini.
Iqbal yang melihat kejadian fenomenal ini hanya tersenyum hangat.
Rivaldo menepuk Punggung Ara Lembut.
“ Buruan, kasihan si Perut karetnya nunggu,” gurau Rivaldo.
Ara mengangguk mengerti.
“ Kami Pergi dulu Om, entar aku antar lagi si cimut-cimut ini,” kata Iqbal sembari menyalami Rivaldo dengan sopan yang kemudian diikuti oleh Ara
Rivaldo menatap Punggung Ara dan Iqbal yang semakin menjauh Ara sudah menerimanya kembali. Tak ada lagi tatapan dingin Ara hanya ada tatapan rindu yang belum tersalurkan sepenuhnya Setidaknya Rivaldo telah mengembalikan sosok Putri kecilnya yang dulu.
...•••••...