DYLAN

DYLAN
BAB 25 TRUTH



" itu buat semua kebodohan lo yang udah menghancurkan hubungan gue dan Pacar gue. Harusnya lo bersyukur, gue masih bisa tahan emosi gue sekarang.” Setelah merasa cukup dengan apa yang ia lakukan, Dylan Pun berbalik badan dan melangkah meninggalkan Rio yang masih bertahan dengan Posisi tersungkurnya.


...•••••...


Dylan duduk di atas bagasi mobilnya sambil mengisap rokok yang tinggal sisa-sisa Penghabisan.


“Aku berdiri disini menunggu mentari. Hingga senja yang hilang dan berganti sepi,” suara Dylan terdengar lirih ketika melantunkan sepenggal bait lagu “Kita Tak Sama” milik Alghifari Bintang. Kepala Dylan mendongak, menatap langit yang tadinya bewarna biru dan sekarang berubah menjadi oranye.


Entah kenapa wajah sedih Ara seakan bermain di Penglihatan Dylan membuat Pemuda itu dirundung rasa bersalah yang teramat sangat.


" Harusnya gue lebih Peka sama Ara Kalau gue lebih Peka Nggak bakalan gini jadinya,” batin Dylan sambil menjambak rambutnya geram.


" Bego " Pekik Dylan sekencang mungkin. Tatapan orang yang berlalu lalang tak ia hiraukan Persetan dengan cibiran orang ucap hati kecil Dylan sambil mengulum bibir bawahnya. Dylan mengambil HP di dalam kantong celananya lalu mencari kontak Ara


...Dylan...


...Hey gorila Aku ke rumah kamu ya...


Dylan menghela napas berat seusai mengirim Pesan singkat tersebut Jantungnya tiba tiba berdetak lebih cepat daripada biasanya. Grogi ? Ya memang sejak Punya hubungan khusus dengan Ara, Dylan yang terkenal seorang berandalan Cakrawala akhirnya bisa merasa grogi, gugup, dan sejenisnya. Namun, rasa grogi, gugup itu berhasil ditutup dengan topeng berandalan yang ia miliki. Tenang.


Mendengar suara Pesan masuk Dylan langsung kalap hingga tangannya salah memencet notifikasi di Ponselnya. Dylan mengerang geram sambil berusaha lebih tenang untuk membuka balasan.


...Ara...


...Oke...


Oke. Hanya Oke Tiga huruf satu kalimat: singkat, Padat dan jelas. Namun, itu sudah cukup membuat Dylan jingkak kesenangan. Tak ingin menyia-nyiakan Peluang yang ada Dylan langsung turun dari bagasi mobil, lalu masuk ke dalam menyalakan mesin, dan menancap gas menuju rumah Ara


...••••...


u


" Ara ini udah mau masuk dua minggu . Kedua tangan kokoh Dylan menahan tubuh Ara yang memberontak di dalam Pelukannya Ara tak lagi memikirkan baju seragam Dylan yang menjadi Pelindung di belakang roknya.


" Dengarin apa lagi Gue Udah muak,” ujar Ara sambil tersedu sedu.


" Dengarin aku dulu Nada Ara,” bisik Dylan tepat di telinga Ara membuat gadis yang sudah merasa lelah itu langsung terdiam dengan isakannya. Setelah merasa Ara sudah mulai tenang, Dylan Pun membawa Ara kembali ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari Posisinya tadi.


••••


Dylan duduk di balkon kamarnya sambil mengisap Puntung yang tinggal setengah. Setelah merasa bosan merokok, ia Pun memadamkan api di ujung rokoknya di atas asbak.


Tangannya terjulur Pada gitar yang terletak di dekatnya. Mata Dylan terpejam memikirkan lagu yang Pas untuk ia senandungkan malam itu. Beberapa detik kemudian, mata Dhirga terbuka dengan senyum tipis tercetak di bibirnya. Tangannya mulai memetik senar dengan lihainya. Dibawakannya lagu Semata karenamu dari Mario


Dylan mengakhiri Petikan gitarnya setelah melakukan sedikit improvisasi.


Selang beberapa menit Ponsel Dylan yang tergeletak cantik di atas kasur berdering nyaring menandakan ada Panggilan masuk Tak menunggu lama, Dylan Pun bangkit dan meraih Ponselnya.


Unknown number is calling


Dylan mengernyit heran baru kali ini ada yang menghubunginya menggunakan Private number. Tak ingin menambah rasa Penasaran Dylan Pun menggeser tombol hijau di layar Ponselnya.


" Halo "


" ..... "


" .... "


•••••


Dylan melangkah cepat menuju ke tempat tujuan, tangannya mengacak rambutnya frustrasi.


Setelah beberapa langkah, Dhirga Pun sampai di dalam SMA Brawidoyo yang bernuansa Putih gading dan cokelat gelap. Mata Dylan menangkap seorang Pemuda sedang duduk di bawah ring basket yang tinggi menjulang. Kaki Panjang Dylan Pun kembali melangkah mendekati Pemuda tersebut.


" Rio " tegur Dylan sambil menyisir rambutnya ke belakang.


" Lo Pasti Dylan kan "


Dylan mengangguk. “lya,” ujar Dylan sarkastis.


Rio tersenyum kikuk sembari mengusap tengkuknya.


" Jadi ceritain " ujar Dylan ketus.


" Sebenarnya, gue yang ngerjain lo ambil foto lo waktu lo tidur sama Zamora. Gue suruhan Zamora, gue terpaksa banget nerima tawaran Zamora. Gue lagi butuh uang Sumpah demi apa Pun setelah kejadian itu, gue Nggak tenang tidur gue dihantui Perasaan bersalah Apalagi Pas Bayu cerita ke gue tentang hubungan lo yang jadi renggang gara-gara foto itu.” Nada bicara Rio mengecil saat menjelaskan inti Pertemuannya dengan Dylan saat itu.


Tangan Dylan mengepal dengan rahang yang mengatup keras sehingga terdengar suara gigi Dylan yang saling bergesekan. Mata Dylan memancarkan kilatan amarah yang sangat menyeramkan. Dadanya naik-turun mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Rio.


" Lo berengsek banget. Demi uang yang gue yakin nggak seberapa, lo tega ngancurin kebahagiaan hubungan gue,” Dylan menarik kerah seragam Rio sehingga Rio sedikit terhuyung. Rio tak berani bersuara atau melawan, mengingat betapa besarnya kesalahan yang telah ia lakukan Pada hubungan Dylan


" Pantesan akhir-akhir ini dia menjauh dari gue dan selalu marah setiap gue minta Penjelasan,” Dylan tertawa sinis di akhir kalimat.


" Sekarang lo jelasin, apa yang udah lo lakuin sampai lo bisa dapat foto itu dan apa yang lo kirim ke Pacar gue,” bentak Dylan


" Jadi sebenarnya waktu lo baru datang, gue yang siapin minuman buat lo karena gue datang sepuluh menit lebih awal dari lo. Dan, di minuman itu gue campurin obat tidur yang dosis kecil, Nggak bikin lo tidur terlalu lama. Kenapa gue ada di sana? Karena Zamora ngasih tahu gue kalau kalian bakalan ada kerja kelompok dan kebetulan juga Bayu itu teman gue, jadinya gue Pun datang dengan alasan udah lama nggak ketemu. Ngelihat lo ketiduran di sofa, Bayu Pun keluar bentar buat jemput Sarah sama temen kelompok lo yang lain. Nah di situ, gue konfirmasi ke Zamora dan Zamora datang. Zamora langsung ambil ha-pe lo, chat cewek lo itu. Abis itu gue bawa lo ke kamar Bayu, gue nggak sendiri ngangkat lo. Zamora bawa teman-teman cowoknya buat bantuin gue angkat lo ke kamar dan di situ...”


" Zamora lepas baju gue dan baju dia sendiri. Dia minta lo buat fotoin dari jauh, seakan emang gue ngelakuin itu sama dia? Gitu ” sela Dylan cepat.


" iya ....” jawab Rio sambil menunduk.


Dylan terkekeh Pelan Tangan Dylan bergerak melepas cengkeraman di kerah Rio. “ Taktik kalian bagus Sukses bikin hubungan gue sama cewek gue merenggang,” gumam Dylan tenang.


Bugh


Rio terhuyung ke belakang ketika kepalan tangan Dylan melayang mengenai rahangnya.


" itu buat sakit hati yang cewek gue rasain waktu nungguin gue di kafe.”


Dylan mendekati Rio yang sepertinya sedang menahan rasa sakit di rahangnya.


Bugh


Dylan kembali melayangkan kepalan tangannya, tapi kali ini Pada Perut Rio.


" itu buat rasa sakit hati yang cewek gue rasain waktu lihat foto itu.”


Bugh Bugh Bugh Bugh


Pukulan ketiga, keempat dan kelima masih mengenai Perut Rio membuat Rio yang sudah tak