
Yummy, gue Pesan lagi boleh kan,” tanya Iqbal sembari mengunyah burger di tangannya.
Habisin aja dulu yang itu,” desis Ara malas.
Nanti boleh mesan lagi, kan,” Iqbal kembali mendesak.di lantai dua
Jingga membuka Pintu kamarnya dan speechless Jingga tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan apa yang ia lihat kini di depan matanya
kamarnya telah di sulap dengan sangat romantis. penuh dengan balon gas di setiap talinya di tempel foto Cahaya dan Al
dan ada juga foto besar di langit-langit kamar Cahaya dengan foto mesra mereka berdua
Regan menghampiri Jingga
Jingga Tak Percaya Regan bisa seromantis Jingga saking Romantis nya Regan Jingga sampai meneteskan air mata ini bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan
Regan mengambil sebuket bunga mawar merah dan kue tart
" happy birthday. happy birthday happy birthday to you Jingga,"
" Happy 2nd month anniversary and I want to say thank you to you all this time because you have given a new color to your life I'm sorry because I often make you sad so long as you know and make you happy seventeenth birthday hopefully your dreams are all achieved yes i love you,"
Jingga langsung memeluk Regan begitu erat dengan Penuh kasih sayang
" Udah dong Nangis nya " sahut Regan mengusap air mata Cahaya
" YaUdah sekarang kamu tiup lilin nya dan jangan lupa mekuis dulu ya "
" iya "
Jingga pun meniup lilin nya dan mekuis di dalam hati harapan nya di hari ulang tahun ini
" Semoga aku sama Regan bisa terus bersama Amin...."
" Sekali lagi makasih iya Kak "
akuarium
merebut Sprite milik Iqbal dan meminumnya hingga bersisa setengah.
“ Eh, minum gue,” Pekik Iqbal tak terima.
“ Kan, uang gue. Ya minuman guelah.” Ara memeletkan lidahnya kepada Iqbal.
“ Beliin lagi. Gue Nggak mau minum bekas lo. Lo kan, Punya penyakit rabies, gue Nggak mau tertular,” rengek Iqbal dengan burger yang Penuh di mulutnya.
“ Ribet bener, deh,” kata Ara sembari bangkit dari duduknya. Lalu Ara Pun melangkah menuju ke order desk. Sewaktu kakinya hendak berhenti di depan order desk, Ara merasa tangannya dicekal.
Kening Ara mengernyit bingung melihat gadis tinggi dengan Postur tubuh yang menawan, rambut bergelombang warna cokelat entah disemir atau alami, sedang mencekal tangannya.
“ El ... el whatever-lah. Lo siapanya Dylan, ya,” tanya gadis itu sinis sembari memperhatikan Penampilan Ara dari atas sampai bawah.
" Dylan itu cuma Punya gue. Aleya Zamora Damanik.”
“ Oh .... see. Jadi, ini yang namanya Zamora si Piala bergilir,” sindir Ara dengan senyum smirk di bibirnya.
“ What the hell are you talking about, huh,” Wajah Zamora merah Padam. Dengan cepat ia mengangkat tangan kanannya untuk menampar Ara
Namun, saat tangan itu melayang dan sudah mendekati Pipi Ara dengan sigap Ara langsung menahan tangan Zamora.
“ Don’t you ever touch me,” desis Ara tajam.
“ Songong lo ya,” decak Zamora.
“Apa? Lo Pikir lo siapa,”
“ Gue Pacarnya Dylan,” ujar Zamora lantang sehingga mengundang Perhatian Pengunjung yang lainnya.
“ Dylan itu cuma Punya gue. Milik gue seorang,” tambah Zamora sengit.
“ Lo Pikir Dylan itu barang sampai lo bilang dia itu milik lo,” Ara menyungging senyum sinisnya.
" Ternyata selain Piala bergilir, lo juga tipe cewek yang Nggak tahu malu ya ? Suka cari sensasi di tempat umum,” tambah Ara
Emosi Zamora sudah memuncak ingin saja ia mencakar dan mencabik-cabik wajah Ara. Ara mengangkat dagu, menatap Zamora dengan pandang menantang, membuat Zamora semakin kepanasan.
“ Mulut lo Nggak Punya saringan ya,” tanya Zamora sambil menjambak rambut Ara sehingga terurai dengan kusut.
“Aw,” teriak Ara saat mendorong tubuh Zamora menjauh. Elvira bisa merasakan bahwa beberapa helai rambutnya rontok akibat dijambak
“ Gue udah bilang, jangan Pernah sentuh gue sama tangan kotor lo itu!!!" teriak Ara keras.
Para Pengunjung tak ada yang berani melerai Pertikaian kedua gadis yang beraura gelap ini karena takut menjadi sasaran mereka.
“ Dasar lo, ye," Pekik Zamora emosi.
Ara menunjuk wajah Zamora dengan jari telunjuknya. “Lo...”
“ Sudah! Hentikan ! kalian Ngapain sih,” teriak Iqbal cepat menghentikan Perkelahian mereka.
“ Oh, si Pahlawan kesiangan udah datang,” ujar Zamora tersenyum sinis.
“ Lo Kenapa,” kata Iqbal menanyakan keadaan Ara yang terlihat kusut.
“ Dijambak sama dia nih,” dengus Ara tak senang.
Pandangan Iqbal langsung berpaling ke arah Zamora yang sedang mengenakan dress hijau toska selutut, sling bag, dan wedges berwarna senada.
“ Lo apain saudara gue ? Untung lo cewek ya ....” Iqbal melotot geram kepada Zamora sembari bertolak Pinggang.
...•••••...