
gelang berbentuk bunga.
hari,” kata Dylan
Blush. Ara segera memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan semburat merah yang tercetak jelas di Pipi Putihnya. Ara tak menyangka seorang bad boy seperti Dylan bisa menciptakan suasana romantis seperti ini. Wait ? Gue bilang Dylan romantis? Please gue yakin tadi itu kesalahan teknis, ujar hati kecil Ara
" Lo gemesin,” kekeh Dylan sambil mengacak Pucuk kepala Ara dengan Penuh kasih.
“ Gue bakalan bikin lo jatuh cinta sama gue. Tahu kan cinta datang karena terbiasa Ya, kali aja, rasa cinta lo ke gue itu bisa Pelan-pelan tumbuh kalau kita barengan terus Lo bisa Pelan-pelan belajar buat cinta sama gue,” ujar Dylan sambil kembali menggenggam erat jemari Ara. Ara mengedipkan matanya berkali kali dengan ekspresi kagetnya. Tak lama, Ara mengulum bibir bawahnya kemudian mengangguk, hal ini sungguh tak sesuai Permintaan logikanya yang menuntut ia untuk membantah ucapan Dylan barusan. Dalam lubuk hatinya Ara sendiri sangat ragu apakah dia bisa melakukan hal itu. Ara menundukkan kepalanya menatap sepatu sneakers Putih yang ia kenakan.
“ Lo mau bunga apa,"
“ Hah ? ini ” Ara mengangkat mawar Putih yang ia dapat dari ibu-ibu yang membawa sebuket mawar tadi ke udara.
Wajah Dylan yang tadi terhias senyum berubah menjadi datar
" Yah rusak deh suasananya,” dengus Dylan
Ara melotot geram kepada Dylan kemudian meralat Perkataannya tadi,
“ Ya maksudnya bunga buat apa,”
“ Sebutin aja lo mau bunga apa Nggak usah banyak tanya,” kata Dylan sambil melirik Ara sekilas.
Dih, kok tiba tiba dia jadi seenak jidatnya ? gerutu Ara dongkol.
" GUE NGGAK SUKA BUNGA,” kata Ara Penuh Penekanan.
" Gue Nggak mau tahu. Suka nggak suka lo harus sebutin,” desak Dylan
“ Kok maksa, sih,"
" Sebutin,” tegas Dylan
“ Mawar Pink. Harus asli,” ujar Ara cepat.
Dylan tersenyum, menikmati kekesalan Ara terhadapnya.
" Berapa banyak," tanya Dylan
" Satu truk,” ketus Ara tanpa mau menatap Dylan
" Boleh Gampang Tapi dengan satu syarat,” ujar Dylan
“ Lo jadi Pacar gue,” kata Dylan tenang.
Mata Ara melotot sempurna bahkan hampir terloncat keluar dari Posisi tetapnya.
“ HAH,”
“ iya jadi Pacar gue.”
Ara menunduk, memainkan ujung sepatunya.
“ Gue Pikir-pikir dulu ya,”
“ Nggak Harus jawab sekarang Kan, tadi lo udah ngangguk waktu gue bilang gue bakalan bikin lo terbiasa dan jatuh cinta sama gue,” sanggah Dylan
Ara menghela napas berat. Entah kenapa Pemuda gila ini cukup Pintar membuatnya terjebak
“ Oke, fine. Terserah lo, deh,” Ara melepas genggaman Dylan kemudian mengangkat tangannya Pasrah, seakan mengibarkan bendera Putih.
Dylan menampakkan senyum bahagia.
" Beneran,"
“lya,” jawab Ara ketus.
“ Beneran Nggak bohong, kan,” tanya Dylan memastikan.
" Beneran Nggak bohong,” jawab Ara
“ Gue Nggak lagi mimpi, kan,”
“ Sekali lagi lo nanya gue Pergi nih,” dengus Ara malas.
“ Hehehe. Peace,” ujar Dylan sambil menyengir. Tiba-tiba Dylan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Rasa hangat menyergap masuk dan membalut hati Ara yang dengan Perlahan mulai membalas Pelukan Dylan
“ Love you, Ara,” bisik Dylan tepat di daun telinga Ara
" Love you too. Maybe,” balas Ara asal.
Ditemani matahari tenggelam dan Ara di Pelukannya, Dylan menghela nafas lega ketika Perasaan cintanya tersampaikan ketika gadis itu mau mencoba menjalin hubungan dengannya. Ara menenggelamkan wajahnya di dada Dylan entah harus senang atau takut dengan keputusan yang sudah ia buat.
...•••••...