
“Jelasin cepat,” desak Desandra.
“ Oke, oke. Tapi entar aja, ya Tuh lihat, Pak Anton udah ngeliatin kita kayak singa kelaparan.” Ara menunjuk ke arah Pak Anton yang sedang berkacak Pinggang dengan tatapan sangar.
“ Cepat baris Jangan gosip terus teman teman kelas kalian yang lain sudah baris,” ujar Pak Anton dengan tenang tapi menakutkan
" Baik Pak,” sahut Ara dan kawan kawan sambil berlari memasuki barisan.
...•••••...
Terik matahari Pagi tanpa awan membuat kulit Ara menjadi kemerahan seperti kepiting rebus siap santap. Seragam olahraga Ara yang berwarna biru toska mulai basah. Tapi Ara terus bola itu di lapangan basket yang semakin lama semakin menarik Penonton.
Suara dentuman bola dan teriakan histeris Penonton duel antar kelas ini menggema seantero SMA Pelita seakan mereka tengah menyaksikan Pertandingan final dua klub raksasa. Ara meliuk liukkan Pinggang rampingnya mengitari lapangan basket melewati tiap anggota tim lawan yang mengincarnya. Dengan bola basket yang masih dalam genggamannya, Ara berlari menuju garis three Point. Diam beberapa detik lalu mulai memfokuskan Pandang ke atas ring. Tapi sayang, lemparannya oleng terkena senggolan lawan. Ara terjatuh dengan keras di lapangan basket yang terik.
Mutiara, Karina, dan Desandra langsung bergegas menghampiri Ara yang lalu duduk dan mengurut kakinya sendiri.
Karina melepas sepatu dan kaus kaki Ara. Pergelangan kaki Elvira terlihat membengkak.
Lo terkilir Lutut lo juga berdarah,” kata Karina yang sempat jadi anggota PMR dulu
Kok bisa terkilir,” tanya Desandra cepat.
adi Pas kedorong kaki kiri gue kesandung kaki kanan gue sendiri Aw, sakit,” ucap Ara yang meringis kesakitan. Sewaktu Karina Mutiara dan Desandra hendak membantu Ara untuk bangun tiba-tiba Dylan datang membelah kerumunan siswa.
Lepas Biar gue aja," Dylan mengambil alih kalungan tangana dari leher Desandra. Setelah merasa tangan Ara sudah benar benar melingkar di lehernya Dylan mengangkat tubuh mungil Ara Desandra, Karina, dan Mutiara mematung melihat
Dylan yang menggendong Ara
" Hah Dia digendong Dylan,"
" Dia Pacarnya Dylan,"
" Kapan jadiannya,”
“ Dylan Punya gue.”
“ Dylan Jahat,"
" Mungkin ceweknya yang kegenitan godain Dylan,”
“ Nggak Dylan yang godain Ara,”
" Dylan genit,"
" Dylan selingkuhin gue.”
Suara suara sumbang itu hinggap di telinga Desandra, Karina, dan Mutiara. Otomatis mereka menggeleng gelengkan kepala menahan sabar untuk tidak memberi Pukulan kepada Para siswi yang bilang Ara kegenitan.
“ Untung aja ini sekolahan,” kata Desandra sambil melanjutkan duel antar kelas dengan Meta sebagai Pengganti Ara
Dylan membuka Pintu kaca ruang UKS yang berhawa dingin itu dengan kaki.
“UKS-nya sepi,” ujar Dylan sambil mendudukkan Ara di atas kasur yang berselimut Putih itu. Dylan Pun mengambil alkohol, obat merah, rol Plester, kapas, dan kain kasa dari etalase obat yang tersedia di UKS.
“ Lo mau Ngapain,” Setelah sekian lama Ara bungkam, akhirnya ia bersuara.
“ Mau racunin lo. Mau bikin lo jadi mau sama gue,” jawab Dylan santai.
" Dasar berandalan mesum,” Pekik Ara
“ Nggaklah ! Jelas-jelas gue mau ngobatin luka lo. Gimana sih, lo,” sindir Dylan yang sudah terduduk di lantai sambil tangannya mengambil alkohol dan kapas untuk membersihkan luka.
Ara mencibir Dylan yang sedang membersihkan lukanya.
" Emangnya lo bisa," Ara lagi-lagi mengeluarkan Pertanyaan bodoh dari bibir mungilnya.
" Kalau gue Nggak bisa, gue Nggak akan ada di sini.”
" Iya juga, sih,”
Setelah luka Ara bersih Dylan langsung meneteskan obat merah Pada bagian yang cedera.
“ Aw sakiiitt ....” ringis Ara
“ Sori ... gue bakalan lebih hati-hati lagi,” ujar Dylan menenangkan.
Dengan gerakan hati-hati Dylan menempelkan kain kasa dan kapas itu di daerah luka Ara. Saat melihat Dylan kesulitan memotong rol Plester, Ara menyambarnya dari tangan Dylan
Dylan mendongak menatap Ara yang sedang duduk di atas kasur UKS.
“Gue bantuin,” kata Ara seraya memotong rol Plester tersebut. Dylan Pun kemudian mengambil Potongan Plester itu dan menempelkannya Pada kapas dan kasa di lutut Ara
“Selesai,” seru Dylan kegirangan.
“ Ara,” Dylan melambaikan tangannya di depan wajah Ara membuat lamunan gadis itu buyar.
" Hah,” Ara tercengang
" Biasa aja ngelihatin guenya Sebentar lagi kan, kita sekamar. Lo bisa ngelihatin gue sepuas lo,” Dylan mengerling nakal kepada Ara
" Sialan,” Ara memukul Pundak Dylan keras hingga ia meringis kesakitan.
“ Sakit Lo jangan kasar gitu dong sama calon suami Masak iya entar malam Pertama, gue jadi babak belur,”
“ Gue Nggak mau nikah sama cowok berandalan kayak lo,” tukas Ara cepat.
“ Gue Pastiin lo bakalan ketagihan sama yang gue lakuin ke lo,”
Dylan semakin gencar menggoda Ara yang sudah merona merah menahan malu mendengar setiap bait kata yang keluar dari bibirnya.
“ Tutup mulut mesum lo,” gertak Ara sambil melotot kepada Dylan
“ Tapi suka, kan,” Dylan mencubit Pipi Ara lalu terkekeh geli.
“ Ngga suka, ih,” Ara mengusap kedua Pipinya yang menjadi sasaran empuk Dylan
...•••••...
Dylan menggenggam tangan Ara yang sedang duduk di sebelahnya.
" Pa kapan aku ngantar Ara Pulang kalau Papa terus-terusan ngajakin dia ngomong,” ucap Dylan
“ Udah deh. Kalau kamu mau Pergi Pergi aja. Mama sama Papa masih betah ngobrol sama Ara,” kata Sandra sambil melotot kepada Dylan
“ Ara dulu Dylan itu suka banget ngompol kalo dia kebanyakan makan sebelum tidur. Jadi Tante selalu ngasih Dylan makan itu dikit aja kalau udah malam.”
" Mama,” sungut Dylan dengan wajah merah menahan malu.
Mendengar cerita Sandra, Ara langsung tertawa terbahak-bahak
" Cakep-cakep tukang ngompol,” ledek Ara dengan tawa meledak di akhir kalimatnya.
" Terus Dylan itu Pernah Pingsan cuma gara-gara dicium sama Rere teman TK-nya,” timpal Gerald berapi-api.
" Papa,” seru Dylan tak terima.
“ Bahahahaha !! Jadi dulu lo takut sama cewek," Ara kembali menertawakan Dylan hingga matanya mengeluarkan air mata.
Dylan mencibir kesal, “ Ledek aja terus,”
“ Sekarang aja sih Dylanya berani sama cewek,” sahut Sandra
“ Mama sama Papa udahan deh.” Dylan menarik tangan Ara beranjak dari ruang tamu.
" Nanti lagi ya Om Tante,” Ara melambai kepada Sandra dan Gerald yang kemudian membalas lambaian Ara
" Kenapa sih, lo,” tanya Ara ketika Dylan membawanya masuk ke dalam kamar.
" Jangan dengerin mereka. Mereka bohong,” kata Dylan sambil duduk di atas kasur empuknya.
" Mereka yang bohong apa lo yang malu,” tanya Dylan sembari mengitari kamar Dylan
" Mereka bohong. Gue Nggak malu Ngapain malu coba,”
“ Terus Kenapa muka lo merah gitu,”
" Gue lagi nafsuan sama lo,” jawab Dhirga sekenanya.
" Dih dasar mesum,” Ara bergidik ngeri.
“ Ara bantu gue kerjain PR PKn dong,” Dylan memasang wajah memelas.
" Ogah Kerjain aja sendiri,” Ara mengambil tempat di meja belajar Dylan
" Calon istri Nggak boleh nolak Permintaan calon suami,” tukas Dylan tak mau kalah.
Ara memasang mimik sebal sambil menimang-nimang apakah dia harus membantu Dylan menyelesaikan PR PKn-nya atau tidak. Dylan langsung memasang Puppy eyes-nya menyatukan kedua telapak tangannya, dan meletakkan telapak tangannya di depan dada, seakan memohon kepada Ara
" Bantuin gue. Sekali aja.”
" Hoams. lya, deh, iya. Gue bantuin Cuma sekali lho, ya Nggak ada lagi lain kali,” kata Ara
Dylan Pun mengangguk cepat dan berlari meraih tas ransel birunya.
...••••••...