
" DYLAN " jerit Ara sambil merebut buket bunga yang berada di atas tumpukan kotak Pizza. Ara menghirup dalam-dalam aroma wangi mawar Putih yang masih segar itu.
" Itu baru sebuket, yah ? Kan dulu aku Pernah janji sama kamu buat bawain kamu setruk mawar Putih Ya sebuket aja dulu,” kata Dylan sambil meletakkan empat kotak Pizza dan dua batang Silver Queen di atas kasur Ara
" Please deh, dulu aku minta mawar Pink. Bukan mawar Putih,” sanggah Ara
" Ah masak sih " Dylan tertawa hambar sambil Pura-pura sibuk membuka kotak Pizza satu Persatu.
" Pikun "
“Nggak, aku nggak pikun.”
“Kamu Pikun dan menyebalkan.”
“Meskipun aku nyebelin, kamu tetap sayang, kan? Ya, ya, ya, know it, sweety,” goda Dhirga dengan alis yang ia naik-turunkan.
" Basi Dylan Basi "
" Yang Penting cinta aku ke kamu Nggak Pernah basi, apa lagi kedaluwarsa. Hahaha " jawab Dylan sambil tertawa keras.
Ara mengeluarkan ekspresi ingin muntahnya ketika mendengar Perkataan Dylan yang menurutnya terlalu Percaya diri.
" Setahu aku basi dan kedaluwarsa itu sama "
" Oh sama ya ? Aku kirain beda " ujar Dylan santai seusai menelan Pizza yang ia kunyah.
" Makanya Nggak usah bolos terus Gimana mau Pintar kalau bolos terus ? Dasar bad boy,” gerutu Ara seraya mengambil Pizza yang dimakan Dylan
" Hey aku ini bad boy yang baik dan rajin " tepis Dylan cepat.
" Hello ... Bad boy ya bad boy, cowok nakal. Nggak ada bad boy yang baik apalagi rajin. Kalau baik dan rajin kamu nggak bakalan dapat gelar bad boy,” ucap Ara santai.
Setelah sepotong Pizza berhasil ia telan Dylan langsung menarik tubuh Ara mendekatinya.
" Dylan apaan sih " sungut Ara yang masih mengunyah.
" Sini aku Pangku " kata Dylan sambil memosisikan Ara tepat
di atas pangkuannya.
" Hmm " Ara bergumam sambil membiarkan Dylan melakukan apa Pun sesukanya.
" Mau diambilin apa " tanya Dylan ketika melihat Potongan Pizza yang tadi Ara Pegang sudah habis.
" Cokelaaaattt .... " jawab Ara dengan mata yang berbinar riang.
" Ambil aja sendiri "
" Dih tadi kan kamu yang nanya mau diambilin apa. Ya udah, itu kan artinya kamu yang ambilin " sungut Ara sambil menyilangkan kedua tangannya.
Walaupun Posisi Ara membelakangi Dylan, Dylan tetap bisa melihat raut wajah gadis kesayangannya itu Seketika Dylan tertawa sendiri melihat bibir Ara mengerucut tanda tak suka. Gadisnya ini memang selalu terlihat menggemaskan di matanya, walaupun berpenampilan biasa saja. Ara tetap menawan di matanya. Tetap menjadi satu satunya di hati seorang Dylan
" Nih " Dylan menyerahkan sebatang cokelat Silver Queen kepada Ara yang ada di Pangkuannya.
Wajah masam Ara langsung berbinar riang, tanpa basa-basi
Ara mengambil cokelat itu dan membukanya dengan Perlahan
" Buka gituan aja lama banget " Protes Dylan ketika Ara tak kunjung selesai membuka bungkus cokelat Silver Queen tersebut.
" Kenapa kamu yang sewot Suka suka aku dong, aku maunya rapih kalau ngebukanya,” ketus Ara tanpa menoleh Pada Dylan.
" Aku juga mau Sayang ...,” kata Dylan
" Ambil sendiri dong "
" Nyebelin banget jadi cewek Pokoknya aku mau yang kamu Pegang,” tutur Dylan tegas Setelah selesai membuka bungkus cokelat Ara Pun berbalik badan dan menghadap Dylan.
" Mau "
" Nggak mau,” Dylan menarik wajah masam.
" Yo wes " Ara meleletkan lidahnya, kemudian langsung melahap cokelat yang ia genggam.
" Yah ... Kan maksudnya itu nggak munkin aku nolak. Siniin cokelatnya,” sungut Dylan seraya merebut cokelat yang sedang dipegang Ara
" Dylan jorok ih ! Kan udah aku gigit cokelatnya,” Ara mengomeli Dylan yang semena mena merebut cokelatnya.
" Emang Kenapa kalau udah kamu gigit "
“Kata Orang kalau kamu makan makanan bekas mulut orang lain...” kata-kata Ara terpotong dengan kata kata yang meluncur langsung dari bibir Dylan
" itu artinya secara Nggak langsung orang itu ciuman. lya, kan,”
Pipi Ara bersemu mendengar kata kata Dylan. Dan sebisa mungkin Ara memalingkan wajahnya dengan maksud agar Dylan tak melihat wajahnya yang memerah menahan malu.
Dylan menarik dagu Ara Pandangan mereka beradu. Rasa tenang menyelinap di lubuk hati Dylan ketika mata legamnya dan mata cokelat Ara beradu Pandang
" Kenapa masih malu kalau bahas ciuman ? Kita kan uda ....”
" Ngomong- ngomong tadi kamu masuknya lewat mana, ya " Ara langsung menyela kata kata yang diucap oleh Dylan
Lagi lagi rona merah menghiasi Pipi Ara " Gombalan klasik Udah deh mending kamu jawab Pertanyaan aku tadi. Kamu masuk ke kamar aku lewat mana ” Ara kembali mengulang Pertanyaannya dengan kepala yang menunduk, seakan tak kuasa menatap mata Dylan
" Aku masuk lewat jendela,” jawab Dylan dengan senyum khasnya.
" Lebay Gimana caranya lewat jendela kalau barang bawaan kamu segudang ? Nggak masuk akal tahu,” tukas Ara cepat.
" Kamu yang Lebay orang aku cuma bawa empat kotak Pizza, dua batang cokelat, dan sebuket mawar doang kok. Lagian aku bawanya Pakai kresek besar, kreseknya udah aku buang ke bawah. Kalau Nggak Percaya, lihat aja di luar jendela,” jelas Dylan Panjang lebar.
Ara berdecak kagum. " The Power of bad boy.”
" Biasa aja Sayang Eh, ambilin Pizza dong.”
Ara mengerucut sambil tangannya meraih kotak Pizza yang sudah dibuka oleh Dylan dan langsung menyerahkan Pizza beserta kotaknya kepada Dylan
" Kamu ngambek atau gimana ? Aku kan minta sepotong doang, malah dikasih semua sama kotaknya,” Protes Dylan yang tetap menerima sekotak Pizza uluran Ara.
" Eh kamu ceritain dong gimana bisa ditabrak sama si Yezkiel.”
" Kan udah aku jelasin di HP Nggak ada yang aku tambahin dan nggak ada yang aku kurangin kok, Dylan,” jelas Ara sambil ikut mencomot sepotong Pizza bersama Dylan
" Tapi, aku Nggak lihat lecet di badan kamu,” kata Dylan sambil memeluk tubuh Ara erat.
" Aku cuma jatuh ke belakang, jadi nggak ada yang lecet adanya sakit doang,” balas Ara sesudah menelan Pizza yang ia kunyah.
" Yang mana yang sakit " tanya Dylan
" ini Pinggang aku,” adu Ara manja.
" Aku Pijitin ya "
" Boleh deh tapi jangan aneh-aneh ya," ucap Ara sambil menunjuk hidung Dylan dengan jari tengah miliknya.
Dylan tersenyum nakal membuat Ara langsung bergidik ngeri
" Kalau gitu mending Nggak usah deh,” kata Ara
" Kenapa " Tanya Dylan
" Muka kamu muka mesum sih Jadinya aku takut " sahut Ara
" Hey, ini muka ganteng bukan muka mesum.”
" Ganteng dari mananya ? Muka mesum tetap muka mesum, Ngaca deh, Mas,” gerutu Ara
" Kamu tuh, ya, kalau udah ngomong, nyelekitnya minta ampun Untung aku sayang sama kamu,” kekeh Dylan
" Kalau Nggak sayang kamu mau apain aku ” tanya Ara dengan sekali tarikan napas.
" Aku iya-iyain kamu di sini tanpa ampun,” jawab Dylan dengan seringaian nakalnya.
" Maksud kamu apaan ”
" Ssttt Nggak usah Pura-pura oon deh. Kamu udah dewasa, kamu Pasti ngerti larinya kata kata aku ke mana,” Dylan menangkup wajah Ara dengan kedua tangannya membiarkan dirinya hanyut akan Pesona keayuan gadis miliknya itu
Dylan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara hingga dahi dan hidung mereka saling bersentuhan Deru napas beraroma stroberi milik Ara menyelinap masuk ke indra Penciuman Dylan, membuat Dylan menahan napasnya selama beberapa detik. Dalam sekejap, suhu ruangan yang semula dingin menjadi Panas. Entah kenapa.
Detak jantung keduanya berpacu cepat seakan berlari maraton dengan jarak yang sangat jauh. Ara meneguk liurnya susah Payah sementara Dylan tetap berusaha tenang walaupun tak kuasa menahan hasratnya untuk mencium bibir Ara.
" Dylan " Sayup-sayup Dylan mendengar Ara menyebut namanya.
" Hmm " Dan Dylan membalasnya dengan gumaman kecil yang ia yakini dapat didengar oleh Ara
Saat Ara menjauhi Dylan dengan sigap menahan tengkuk Ara agar tidak bergerak. Dahi dan hidung mereka kembali bersentuhan
Ara mulai mengulum bibir bawahnya gusar. Ara berusaha menetralisirkan detak jantungnya. Namun, tak membuahkan hasil. Akhirnya Ara memilih menggenggam ujung baju yang dikenakan Dylan
" love you so much, Ara, " bisik Dylan Pelan sangat Pelan.
" Hmm " bisikan Dylan Ara balas dengan gumaman singkat yang jelas tertebak sedang gelisah.
" Balas aku Sayang,” ujar Dylan lagi.
Ara menarik napasnya dalam-dalam lalu diembuskan dengan Perlahan kemudian Ara Pun membuka suara
“ I love you more Dylan "
Dylan menyungging senyumannya lalu menarik Ara ke dalam dekapan hangatnya. Dylan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Ara yang terlindung kerah seragam, Dylan menghirup aroma tubuh Ara yang mampu membuatnya gila bayang.
Sementara Ara hanya mengelus Punggung bidang Dylan dengan lembut, membiarkan Dylan terus menenggelamkan wajahnya di lekukan leher mulus yang Ara miliki
" Aku Nggak mau kamu Pergi dari aku,” bisik Dylan
" Aku Nggak akan Pergi kecuali kamu yang minta aku Pergi " balas Ara sambil membalas memeluk erat tubuh Dylan
" Aku Nggak akan Pernah nyuruh kamu Pergi Cuma kamu yang bisa bikin aku bertekuk lutut kayak gini Ngelepasin kamu itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Aku butuh kamu cuma kamu,” ucap Dylan Parau.
Hati Ara tersentuh mendengar Penuturan Dylan. Ara sudah mulai yakin bahwa dia mencintai sosok bad boy Dylan yang selalu Penuh dengan kejutan. Dan Ara mulai tak ingin kehilangan sosok Dylan dalam kehidupannya. Rasa sayang dan cintanya telah benar-benar muncul untuk Dylan. Hanya untuk Dylan
...•••••...