Dream Love

Dream Love
Tunangan



"Ada apa dengannya?" Tanya Mama Brian pada Ellie.


"Tidak ada apa-apa Ma." Balas Ellie. "Ana hanya sedang bertengkar denganku. Dia akan baik-baik saja besok." Lanjut Ellie.


Mama Bryan hanya membalas dengan senyuman.


"Kalian berdua bertingkah seperti anak kecil." Ucapnya.


Ellie lalu melihat ke arah Brian.


"Bisakah kau membawakan makanan untuknya nanti? Dia marah, jadi aku yakin bahwa dia tidak akan turun ke lantai bawah sampai marahnya itu berakhir." Ucap Ellie.


Brian pun mengangguk. Tak lama kemudian semua orang makan malam. Setelah itu Ellie kembali ke kamarnya.


...----------------...


Keesokan harinya...


Hubungan Ellie dan Ana sudah baik-baik saja. Ellie pun lantas pergi ke kantor setelah selesai sarapan.


Tepat jam makan siang datang, Ellie tengah duduk di meja kantin sambil menikmati makan siangnya. Marco Liam dan Arnold mendekat ke arahnya. Marco berteriak dengan mengangkat tangannya.


"Ellie....." Teriaknya.


Ellie tampak tersenyum kepada mereka semua. Mereka bertiga duduk di meja Ellie. Arnold lalu bertanya kepada Ellie.


"Kenapa kau menyembunyikan hal kemarin dari temanmu itu?"


Ellie menjawab, "dia itu terlalu protektif kepadaku."


"Oh kalau begitu lupakan saja. Kami sudah memposting potongan video dari kamera CCTV itu di media sosial dan Elena sudah dipecat dari pekerjaannya." Ujar Arnold.


"Kenapa kalian melakukan hal itu?" Tanya Ellie.


"Dialah orang yang mengunci mu di gudang. Jadi dia pantas menerimanya. Sekarang tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi." Balas Arnold.


...****************...


PoV Vino


Aku mendapat sebuah panggilan dari perusahaan dan langsung pergi ke perusahaan karena ada sesuatu yang salah terjadi di perusahaan. Aku harus berada di sana dan melakukan pekerjaanku. Aku mendengar kabar dari Mama Brian bahwa Ellie baik-baik saja.


Setelah 10 hari, Papa meneleponku dan mengatakan bahwa Papa akan mengatur pertunangan ku. Aku meminta Papa untuk menundanya karena ada masalah di perusahaan jadi aku ingin menundanya dan Papa pun setuju. Aku merasa bahagia.


Hari-hari berlalu, perusahaan ku mulai berjalan lancar. Papa menginformasikan kepadaku bahwa Papa sudah merencanakan pertunangan ku akhir pekan ini dan memintaku membawa Ellie untuk pergi berbelanja.


Aku lalu pergi ke rumah Brian dan langsung menuju kamar Ellie tapi dia tidak ada di sana. Aku menuju kamar Ellie. Aku lalu melihat ada foto dari Ellie dan 3 orang pria yang berdiri berdekatan. Salah seorang pria bahkan menaruh tangannya di pundak Ellie.


'Apa-apaan dia ini?'


Aku merasa begitu marah. Tiba-tiba Ellie masuk dan mengunci pintu kamarnya tanpa mengetahui bahwa aku ada disini. Aku lalu langsung mendorongnya ke tembok. Dia melihat ke arahku.


"Ku mohon tinggalkan aku. Aku tidak punya kekuatan untuk bicara denganmu. Pergilah." Ucap Ellie padaku.


Aku memegang dagunya, lalu dia melihat ke arahku tanpa tenaga. Aku pun lalu berpikir, kenapa dia bisa setuju dengan pernikahan kami. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


"Jangan katakan kepada mereka bahwa aku ada disini." Ucapku.


Setelah itu aku segera bersembunyi. Ternyata itu adalah Ana.


Ana datang dengan membawa makanan.


"Tolong makanlah sesuatu." Ucap Ana.


"Tidak, aku tidak ingin makan. Aku hanya perlu tidur." Ucap Ellie.


"Baiklah, aku akan membantumu." Balas Ana.


Ellie lalu berbaring di tempat tidur. Setelah itu, Ana lalu menceritakan sebuah kisah kepadanya. Aku berpikir bahwa Ellie itu adalah anak kecil sehingga Ana menceritakan sebuah kisah kepadanya.


Setelah beberapa menit, Ana meninggalkan kamar itu. Aku lalu keluar dan mendapati ternyata Ellie sudah tertidur. Aku lalu keluar dari dalam kamar itu.


Hari minggu berikutnya nanti, aku akan bertunangan dengannya. Aku akan membalas dendam ku kepadanya.


Aku pun meninggalkan kamar itu dengan marah.


...****************...


PoV Author


"Ellie datanglah ke alamat xxx besok. Papa sudah mengatur pertunangan untukmu." Ucap Papa Ellie.


"Papa..." Ucap Ellie.


"Tidak ada Papa.... Papa. Papa mu tidak meminta jawaban darimu. Itu adalah perintah darinya. Datang saja." Ucap Mama tiri Ellie.


Setelah itu, panggilan pun berakhir.


"Kenakan gaun ini sayang. Besok adalah pertunangan mu. Kau harus memakai gaun ini di pesta pertunangan mu itu." Ucap Mama Brian.


"APA???" Teriak Ana.


Ana langsung membawa Ellie pergi ke kamarnya dan bertanya padanya.


"Apa kau akan bertunangan dengan Alan?"


Ellie menjawab, "tidak, aku sudah putus dengannya."


"Akhirnya kau melakukan sesuatu yang baik. Aku tidak menyukainya sejak awal. Tapi karena kalian berdua sudah berhubungan, jadi aku tidak mau memberitahukan mu." Ucap Ana seraya memeluk Ellie dengan bahagia.


Hari berikutnya...


Brian dan keluarganya, Ana dan juga Ellie tiba di lokasi pesta pertunangan. Ellie sudah bersiap di sebuah ruangan. Tiba-tiba Vino masuk ke dalam dan mendekat ke arah Elli.


Ellie bertanya dengan ketakutan.


"Aaa... apa... apa yang kau lakukan di sini?"


Vino tidak menjawab dan mendorong Ellie ke tembok. Secara tiba-tiba pintu terbuka. Vino pun langsung melepaskan Ellie.


Itu ternyata adalah Oma dari Vino. Ellie lantas berlari ke arah Oma Vino dan tersenyum.


"Oma, aku sangat bahagia melihat Oma ada di sini." Ucap Ellie.


Tiba-tiba Papa Ellie dan istrinya masuk ke dalam ruangan itu.


"Ini waktunya untuk pertunangan mu." Ucap Papa Ellie.


"Iya... iya... ayo pergi." Ucap Oma dari Vino.


...****************...


PoV Ellie


Papa mengatakan ini waktunya untuk pertunangan. Aku berpikir apakah aku siap untuk pertunangan ini? Orang-orang tidak menanyakan persetujuan dariku dan aku bahkan tidak tahu dengan siapa aku bertunangan. Papa dan Mama tiri ku membawaku ke dalam lokasi pertunangan itu. Novi di sana berdiri dengan senyuman yang sumringah di wajahnya dia mendekat ke arahku dan memelukku.


Dia lalu berbisik di telingaku.


"Aku sangat bahagia untukmu kakakku tersayang." Ucapnya kemudian pergi.


Di sana hanya ada keluarga Brian, keluargaku dan seorang pria juga Oma dari Vino. Aku tidak bisa melihat dengan siapa aku bertunangan.


Mereka pun mengumumkan bahwa sekarang Ellie dan Vino akan bertukar cincin.


Aku begitu terkejut.


'Apa? Vino? Aku membencinya. Kenapa Tuhan membuat hidupku menjadi dalam neraka? Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenciku?'


Vino mendekat ke arahku, lalu memegang tanganku dan menaruh cincin di jemariku. Dan sekarang giliran ku. Aku memegang cincin itu di tanganku. Namun tanganku mulai gemetar. Aku berusaha mengontrol diriku.


Ana tiba-tiba berlari ke arahku.


"Tunggu dulu... Aku harus memotret momen ini di ponselku." Ucapnya.


Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil gambar.


Oma Vino berkata, "Ellie taruh cincin itu di tangan Vino."


Aku melihat ke arah Vino. Dia hanya melihat ke arahku dengan senyuman manis di bibirnya.


"Sayang ku mohon." Ucapnya seraya mengangkat tangannya.


'Apa? Sayang?'


Aku lalu menaruh cincin itu di jemarinya. Semua orang bertepuk tangan dan berteriak selamat kepada kami berdua.


Bersambung...