Dream Love

Dream Love
Mimpi Buruk Lagi



PoV Ellie


Malam harinya di rumah Ana...


Ada suara ketukan di pintu. Aku mendengar seseorang mengetuk pintu dan aku mendekat ke arah pintu dan membuka pintu itu dengan cepat. Aku melihat Papaku berdiri di sana.


"Bisakah Papa masuk?" Ucap Papa padaku.


"Masuk saja Pa." Ucapku.


Papa pun masuk dan tersenyum padaku.


"Aku akan membawakan kopi untuk Papa. Duduklah di sofa, tunggu sebentar." Ucapku.


Aku lalu pergi ke dapur tanpa melihat ke arah Papa.


'Kenapa Papa ada di sini? Apakah Papa sudah mengetahui sebenarnya atau sesuatu terjadi di rumah?'


Pikiranku penuh dengan perTanyaan. Aku lalu membuat kopi untuk Papa dan langsung membawa kopi itu menuju Papa.


"Terima kasih Ellie." Ucap Papa dan memberikan senyuman cerianya kepadaku.


Ruangan itu pun mendadak hening karena kebisuan diantara kami. Beberapa saat kemudian Papa mulai bicara.


"Di mana Ana?" Tanya Papa.


Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Papa, jadi aku mengatakan kepada Papa bahwa Ana pergi ke rumah orang tuanya.


"Oh, apa kau sendiri sekarang?" Tanya Papa.


"Dia baru saja pergi kemarin Pa." Balasku.


"Bisakah kau kembali ke rumah?" Tanya Papa.


"Tapi Mama...." Ucapku.


"Dia sudah memaafkan mu." Balas Papa.


"Sebenarnya besok pagi aku akan pergi ke kota X untuk melakukan interview." Ucapku pada Papa.


"Apa? Kenapa kau tidak mengatakan kepada Papa tentang hal itu?" Ucap Papa.


Sebelum aku busa menyelesaikan ucapanku, Papa lebih dulu bicara.


"Ikutlah bersama Papa. Bekerja lah di perusahaan Papa."


"Tidak Papa. Aku akan menjalani hidupku secara mandiri, kumohon Papa." Ucapku.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat." Ucap Papa.


"Baiklah Pa. Katakan saja apa syarat Papa." Balasku.


"Papa akan mengatakan padamu saat waktu yang tepat datang." Ucap Papa.


"Baiklah Pa." Balas ku.


"Tapi kau harus memenuhi syarat Papa itu." Ucap Papa.


"Aku berjanji kepada Papa. Aku akan melakukan syarat yang Papa katakan itu." Ucapku.


Aku melihat Papa dan Papa tersenyum lalu mulai meminum kopi yang aku buat.


"Papa harus pergi sekarang, selamat tinggal." Ucap Papa.


Setelah mengatakan hal itu, Papa pun pergi.


'Apakah Papa mengatakan yang sebenarnya bahwa Mama tiri ku sudah memaafkan aku? Itu tidak mungkin bahwa Mama tiri ku bisa memaafkan aku.' ucapku dalam hati.


"Ellie Lupakan semua itu, tidurlah sekarang." Ucapku pada diriku sendiri.


Setelah itu aku pun mulai tidur.


Di dalam ruangan yang gelap, aku mendengar beberapa langkah kaki. Pintu terdengar terbuka dan ada seorang pria masuk.


"Sayang apa kau baik-baik saja?"


Aku tidak bisa melihat apapun. Tanganku terikat dan mataku tertutup. Aku tidak bisa bicara dan aku merasa mulutku ditutup dengan kain. Seseorang berbisik di telingaku.


"Aku tahu kau tidak bisa bicara. Bos mengatakan kepadaku untuk melakukan hal ini padamu." Ucapnya.


Aku merasa kan rasa sakit di leherku. Itu seperti sebuah suntikan. Seseorang menyuntikkan sesuatu dan mulai bicara.


"Aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Selamat tinggal."


Aku pun merasa pusing. Setelah aku kembali kepada kesadaran ku, seseorang melempar tubuhku ke dalam air dengan tanganku yang masih terikat.


"Tolong aku... tolong aku... tolong..." Ucapku mulai tenggelam.


"Tolong...." Teriakku lagi.


Pikiranku seolah mengatakan bahwa aku tengah tenggelam.


'Apakah hidupku akan berakhir seperti ini?'


Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang.


"Ellie.... Ellie.... Ellie.... bangunlah."


Aku membuka mataku dan melihat jam yang menunjukkan pukul 02.22 dini hari. Aku menyadari Brian dan Ana melihat ke arahku dengan wajah yang khawatir.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau..." Aku pun terbatuk tidak bisa menyelesaikan kalimatku.


"Brian, bawalah air cepat." Ucap Ana.


Bryan berlari ke arah dapur dan kembali dengan membawa air. Ana lalu memberikan air itu kepadaku dan aku pun meminumnya dengan cepat.


"Apa kau baik-baik saja sekarang?" Tanya Ana.


Aku menganggukkan kepalaku. Aku bisa melihat dari wajahnya bahwa Ana masih khawatir kepadaku. Ana lalu memelukku dan berusaha membuatku merasa nyaman.


"Bisakah kita memanggil dokter?" Ucap Brian.


"Dia akan baik-baik saja beberapa menit lagi." Ucap Ana Ana lalu melepaskan pelukannya.


"Bisakah kau mengambil obat dari dalam tasku?" Tanyaku kepada Ana.


Ana mengangguk dan mendekat ke arah tasku. Dia mulai mencari obat itu. Sementara Brian masih melihat ke arahku dengan wajah yang sedih.


"Kenapa kau melihat padaku seperti itu Brian? Jangan terlalu khawatir." Ucapku.


"Jika kami tidak datang malam ini, apa yang akan terjadi kepadamu?" Ucap Brian.


Ana lalu membawa obat itu kepadaku dan aku pun dengan cepat meminumnya.


"Terima kasih." Ucapku kepada Ana.


Aku merasa kepalaku begitu berat.


"Cobalah untuk tidur. Aku akan ada bersamamu." Ucap Ana.


"Kapan kau datang dan kenapa?" Tanyaku.


"Aku merindukanmu. Jadi aku kembali untuk memeriksa mu. Tapi saat kami tiba di sini, kau tertidur. Jadi kami tidak mau mengganggumu. Aku tidur di kamarku dan Brian tidur di sofa ruang tamu. Dia mendengar suaramu meminta tolong. Dia lalu membangunkan aku dan kami berdua datang kemari. Tapi kau teriak meminta tolong. Kami mencoba untuk membangunkan mu, tapi kau tidak bangun. Apakah kau mengalami mimpi buruk?" Tanya Ana padaku.


Aku menganggukkan kepalaku. Aku mengingat semua mimpiku itu, kemudian air mataku terjatuh begitu saja.


"Baiklah, kau tidak perlu membicarakan hal itu. Sekarang cobalah untuk tidur." Ucap Ana menghapus air mataku dan mulai menceritakan sebuah cerita padaku.


Aku tidak tahu kapan, aku pun akhirnya tertidur dengan nyenyak.


Bersambung....