Dream Love

Dream Love
Rumah Brian



PoV Ellie


Malam harinya...


Setelah mandi, aku berbaring di atas tempat tidur. Tapi aku tidak bisa tidur.


Aku tidak bisa tidur di tempat baru. Sekarang sudah pukul 12.00 malam. Jadi aku memutuskan untuk mengambil obat tidur. Aku meminum obat tidur dan mulai tidur setelah beberapa menit. Aku mulai tidur, berapa menit kemudian aku merasa hangat di sekelilingku. Aku merasa begitu bahagia dan aku berharap bahwa mimpi ini tidak akan berakhir. Aku pun tidur dengan nyenyak.


Keesokan paginya....


Aku membuka mataku dan aku melihat seorang pria berbaring di sampingku di atas tempat tidurku. Aku berteriak yang membuat dia bangun dan melihat ke arahku. Dia tidak lain adalah Vino.


"Kau....." Teriakku.


Dia langsung menutup mulutku.


"Jangan berteriak." Balasnya.


Aku mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat kearah kamar. Aku tidak mengunci pintu kamar. Jadi orang itu bisa membuka pintu dengan leluasa. Vino membawaku ke arah kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi.


"Apa yang terjadi Ellie? Kenapa kau berteriak?"


Aku mendengar suara Mama Brian bicara. Aku pun melihat ke arah Vino.


"Kenapa kau melihat ke arahku? Jika dia melihatku bersamamu, dia akan salah paham. Katakan suatu kebohongan." Ucap Vino dengan suara yang pelan.


'Apa? Bohong!' Ucapku dalam hati.


Mama Brian mengetuk pintu kamar mandi.


"Apa terjadi sesuatu?" Ucapnya lagi.


"Tidak... tidak Tante. Aku hanya melihat serangga besar dan berteriak. Maaf." Ucapku.


"Oh ya Tuhan. Aku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu gadis nakal. Aku akan pergi sekarang. Turunlah untuk sarapan." Ucap Mama Brian.


Aku mendengar suara langkah kaki itu pergi. Aku lalu mengambil langkah untuk keluar dari dalam kamar mandi, tapi kakiku terpeleset. Aku memegang tangan Vino, tapi dia juga kehilangan keseimbangannya dan kami berdua pun terjatuh ke dalam bathtub.


Setelah beberapa saat, dia pun bicara padaku.


"Bisakah kau lepaskan aku atau aku akan kehilangan kontrol diriku?" Ucapnya.


Aku melepaskan dia dari pelukanku dan berkata, "maaf."


Kami tidak bicara lagi setelah beberapa menit. Dia mendekat ke arah pintu kamar dan menguncinya. Dia mulai mendekat ke arahku. Aku mulai berjalan mundur dan aku terjatuh di atas tempat tidur. Dia tersenyum dan naik ke atas tubuhku.


Aku mencoba untuk bangun dari atas tempat tidur, tapi dia menekan ku di atas tempat tidur dan memegang tanganku.


"Tinggalkan aku atau aku akan berteriak." Ucapku ketakutan.


Dia menyeringai padaku dan membalas ucapannya.


"Jika kau bisa, berteriak lah. Tidak akan ada yang mendengar mu karena kamar ini kedap suara." Ucapnya.


Dia memindahkan wajahnya mendekat ke arah wajahku dan menaruh mulutnya di telingaku. Dia kemudian mencium telingaku perlahan. Dia mulai berpindah ke arah leherku. Aku berusaha menolak. Tapi tidak ada gunanya dan aku pun terus meminta kepadanya.


"Tolong lepaskan aku." Ucapku.


Dia menggigit leherku dan aku pun menangis, kembali memohon padanya.


"Tolong, aku mohon padamu." Ucapku.


Dia pun melepaskan aku. Setelah itu, aku berlari ke arah kamar mandi dan menguncinya. Aku mulai menangis dan setelah beberapa saat, Vino mengetuk pintu.


"Hei, kau harus pergi ke kamarku dan mengambil pakaianku atau aku tidak akan bisa meninggalkan kamar ini. Mereka akan salah paham tentang kita." Ucap Vino.


Aku dengan cepat mengusap air mataku dan mengganti pakaianku, kemudian keluar dari dalam kamar mandi.


"Di sebelah kiri, kamar pertama adalah kamarku. Pergilah ke sana ambil pakaianku dan datang kemari dengan cepat." Ucap Vino.


Aku lalu keluar dari dalam kamar itu mengambil langkah ke kiri masuk ke dalam sebuah kamar dan membuka lemari mengambil sebuah pakaian dan kembali dengan cepat ke kamarku. Aku memberikan pakaian itu kepadanya. Dia mengambil pakaian itu dariku dan langsung pergi ke ruangan ganti.


Bersambung....