Dream Love

Dream Love
Masalah Di Hari Pertama



PoV Author


Jam makan siang datang...


Ellie pergi ke kantin untuk makan siang. Salah satu seniornya, Elena meminta dia untuk memberikan sebuah surat kepada seorang pria bernama Liam. Ellie menolak melakukan hal itu.


"Jika kau tidak mau melakukannya, kau akan kehilangan pekerjaanmu. Kau orang baru di sini bukan? Papaku adalah orang yang berkuasa di perusahaan ini." Ucap Elena.


"Siapa Liam?" Tanya Ellie.


"Kau tidak mengenalnya. Dia duduk di sudut meja itu." Balas Elena dan menunjuk ke arah pria yang duduk di sudut ruangan.


Ellie pun pergi ke meja yang ada di sudut ruangan itu dengan terpaksa dan memberikan surat itu kepada seorang pria. Pria itu lantas berdiri dari mejanya dan langsung menampar Ellie.


Surat itu terjatuh dari tangan Ellie dan Ellie berlari dari sana dengan air mata yang jatuh ke pipinya. Elena memotret hal itu dan langsung mempostingnya di media sosialnya dengan caption 'seorang wanita mencoba untuk menggoda seorang pria tapi gagal dalam misinya.'


"Dia memberikannya kepada teman Liam." Ucap seorang wanita.


"Aku hanya ingin melihat reaksi dari Liam dan malah mendapatkan hal yang lain. Tapi ini lebih menarik bukan?" Balas Elena.


"Kenapa kau mempostingnya di media sosial?" Tanya wanita itu lagi.


"Aku hanya tidak menyukainya." Balas Elena.


Setelah itu, Elena lalu pergi dari kantin.


Ada tiga orang pria yang duduk di meja yang ada di sudut ruangan itu. Mereka adalah Liam bersama dengan kedua temannya. Salah seorang yang menampar Ellie adalah pria bernama Arnold dan yang lainnya adalah Marco.


Marco mengambil surat itu dan mengatakan, "aku rasa dia adalah orang baru di perusahaan kita. Ini pertama kalinya aku melihatnya."


"Kenapa kau mengambil surat itu?" Teriak Arnold kesal.


"Tenanglah Bro. Aku hanya ingin melihat apa yang dia tulis." Balas Marco.


"Lakukan sesukamu. Aku tidak peduli." Balas Arnold dengan marah.


Marco lalu membuka surat itu dan membacanya.


"Jangan marah dengan hal kecil seperti ini, lupakan saja Arnold." Ucap Liam.


"Baiklah... baiklah..." Balas Arnold.


"Arnold, Liam..." Teriak Marco secara tiba-tiba.


Semua orang di kantin langsung melihat ke arah meja mereka.


"Maaf... maaf guys. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian." Ucap Marco canggung.


Marco lalu bicara dengan suara yang pelan pada kedua orang temannya itu.


"Bisakah kita keluar dan bicara?"


Mereka bertiga lalu keluar dan tiba di bagian paling atas dari gedung perusahaan itu. Marco memberikan surat itu kepada Liam dan memintanya untuk membacanya.


Liam mengambil surat itu dan mulai membacanya dengan sangat keras.


"Aku adalah penggemar terberat mu. Aku sangat mencintaimu. Saat aku pertama kali melihatmu, aku mulai mencintaimu. Kau begitu beruntung karena aku tertarik kepadamu. Aku sudah mengikuti mu selama beberapa bulan ini Liam. Aku ingin menyerahkan diriku kepadamu Liam. Jika kau tidak masalah dengan hal itu, datanglah ke hotel nomor 123. Aku menunggumu di sana, sayangku."


"Surat itu ditujukan kepada Liam, tapi dia memberikannya kepada Arnold. Itu artinya dia tidak menulis surat itu dan dia tidak tahu siapa kita. Seseorang pasti memintanya untuk memberikannya, tapi dia memberikannya kepada orang yang salah." Ucap Marco.


"Haruskah kita mengecek CCTV di kantin?" Ucap Liam.


Mereka bertiga lalu pergi ke ruangan keamanan dan memeriksa CCTV dan menemukan bahwa itu adalah rencana Elena. Liam mendapat salinan dari rekaman CCTV itu. Mereka bertiga pun kembali bekerja. Sementara Ellie kembali ke ruangannya dan mulai melanjutkan pekerjaannya.


...----------------...


Pukul 07.00 malam hampir semua karyawan sudah meninggalkan perusahaan, Marco, Liam dan Arnold keluar dari perusahaan dan mereka melihat sepasang wanita dan laki-laki keluar dari dalam mobil.


"Siapa mereka? Kenapa mereka berdiri di sini?" Tanya Marco.


"Mungkin mereka datang kemari untuk menjemput seseorang dari perusahaan kita." Balas Arnold.


"Tapi ini sudah terlambat. Tunggu sebentar guys aku harus melihat siapa yang mereka tunggu." Ucap Marco.


Pasangan itu tidak lain adalah Ana dan Brian. Ana lalu melakukan sebuah panggilan. Beberapa menit kemudian, Ellie keluar dari dalam perusahaan dan berlari ke arah mereka.


"Kenapa kau masih bekerja Ellie? Ini sudah terlambat." Teriak Ana.


"Jangan berteriak. Ini adalah hari pertamaku. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Balas Ellie.


"Kau baru saja kembali dari rumah sakit. Kau tidak bisa membuat dirimu terlalu stres." Balas Ana.


"Maafkan aku Nyonya. Tolong maafkan aku." Balas Ellie dan menaruh tangan di telinganya dan melihat ke arah Ana dengan mata yang berbinar.


"Baiklah... Baiklah... Aku memaafkan mu hari ini. Tapi hari ini adalah terakhir kalinya." Ucap Ana.


Mereka berdua lalu memeluk satu sama lain.


"Kalian berdua melupakan aku." Ucap Brian.


Ellie dan Ana berkata di saat yang bersamaan.


"Bagaimana aku bisa melupakan saudaraku?" Ucap Ellie.


"Bagaimana aku bisa melupakan kekasihku?" Ucap Ana.


Mereka bertiga melihat satu sama lain dan tersenyum.


"Apakah kita bisa pergi sekarang?" Tanya Brian.


Ellie mengangguk, dan setelah itu mereka bertiga lalu masuk ke dalam mobil.


Semuanya obrolan mereka didengarkan oleh Liam, Marco dan Arnold.


"Jadi namanya adalah Ellie." Ucap Marco.


"Dia adalah gadis yang baik." Balas Arnold. "Tapi aku sudah menamparnya." Lanjut Arnold.


"Jangan khawatir, kita akan meminta maaf kepadanya besok." Ucap Liam.


"Tentu. Apa kita bisa pergi sekarang?" Ucap Arnold.


Liam dan Marco mengangguk. Mereka semua lalu pergi dari perusahaan.


Bersambung....