Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 9. Pop!



Angin sepoi-sepoi membangunkan Alea yang rupanya tertidur nyenyak di kediaman Raseyan. Gadis itu tadinya berencana memberi tahu sang kepala suku mengenai penerawangan yang ia lihat. Namun setibanya di rumah pemuda itu, Raseyan justru tidak ada di tempat. Kavindra memutuskan untuk mencari Raseyan di luar rumah. Sedangkan Alea dimintanya untuk menunggu sambil menganalisis foto goresan pada batu yang dicuri oleh para penjarah di masa depan.


Meskipun tidak ada bukti bahwa batu tersebut dicuri oleh grup The Great Destroyer, namun feeling mereka mengatakan sebaliknya. Goresan di batu tersebut ada hubungannya dengan tujuh pemuda ceking yang mereka


temui di Gunung Padang.


“Dingin?”.


Suara Raseyan mengejutkan Alea.


Gadis itu buru-buru bangkit. Jantungnya berdetak cepat saat melihat tatapan lembut Raseyan.


“Gila dia liat gue ileran dong?!” gumam Alea sambil menghapus air liur yang memenuhi sudut bibir.


Alea tidak tahu kenapa ia menjadi secanggung ini. Bukankah dulu ia terbiasa tidur di sebelah Raseyan?


Mungkin saat itu ia hanya menganggap pemuda tersebut sebagai anak bau kencur? Ya, gumam Alea lagi. Ia tidak pernah menganggap Raseyan sebagai seorang laki-laki.


Alea mengingat pertemuan pertamanya dengan pemuda itu.


Ia terbangun di masa lalu dan menemukan dirinya sudah melewati ritual pernikahan dengan seorang pangeran dari bangsa purba. Pangeran tersebut hidup di bawah kutukan Agros yakni bangsa yang membuat kekacauan di zaman peradaban awal.


Alea masih mengingat wajah pucat Raseyan. Pangeran itu selalu terbangun dengan warna wajah yang pucat dan bibir yang kebiruan. Sebelum bertemu Alea, ia tidak bisa setiap hari menikmati dunia. Ia lebih banyak tertidur di ranjang yang dikelilingi oleh bunga-bunga segar. Aroma bunga tersebut dipercaya oleh kedua shamannya dapat menetralisir kutukan Agros untuk sementara waktu.


Tentunya tidak mudah untuk mendapatkan bunga-bunga gunung tersebut. Penduduk Sundayana yang hidup dalam ancaman Agros tidak bisa sering-sering menghabiskan waktu di atas permukaan tanah. Waktu yang mereka miliki untuk mencari bunga-bunga gunung itu sangat singkat. Mereka harus menemukan bunga-bunga itu sebelum pasukan Agros turun ke tanah Sundayana untuk berpatroli.


Tapi Raseyan yang saat ini ada di hadapan Alea memiliki aura yang berbeda.


Ia tidak lagi terlihat sebagai pangeran penyakitan.


Wajah kekanak-kanakannya memudar.


Rahangnya lebih terbentuk.


Pesona Raseyan semakin memukau.


 


Alea buru-buru menggelengkan kepala.


Ia hampir saja terseret dalam pesona Raseyan.


"Mahesaa... maaf" gumam Alea menyesal.


 


Raseyan pelan-pelan mendekati Alea dan menyelimuti pundak gadis itu  dengan selimut bulu binatang.


“Ini hasil buruanku…”.


“Aku nggak tanya….” ujar Alea mencoba bersikap dingin. Ia berharap Raseyan berhenti bersikap manis atau jantungnya bisa meledak di tempat.


Harapan Alea pupus.


Raseyan malah terkekeh geli.


Sial, gumam Alea. Suara bariton Raseyan membuat hatinya berdesir.


“Kemana suara cempreng melengkingnya?” gerutu Alea kesal.


Sosok dewasa Raseyan hampir membuat pertahanannya goyah.


“Kenapa canggung begitu?” tanya Raseyan sambil menatap lembut Alea.


“Siapa?”.


“Ratu Aleaku…”.


“Ras!” hardik Alea. Ia berharap pemuda itu berhenti memanggilnya dengan sebutan ratu.


 


Raseyan menepuk lembut selimut bulu binatang yang ada di pundak Alea.


“Kau tahu, saat menyamak bulu binatang ini… aku memikirkanmu”.


Alea menelan ludah. Ia berharap bisa segera kabur dari rumah Raseyan.


Gadis itu tidak ingin mendengar sepatah kata pun dari mulut pemuda tersebut.


Ia khawatir jika Raseyan akan membuatnya tambah salah tingkah.


“Seperti para pria lain di rumah sebelah, mereka membuatkan selimut-selimut bulu binatang untuk anak istrinya. Aku sering bertanya kapan giliranku?”.


“Kan…. Kan….” Alea menjadi grogi. Ia tidak bisa menemukan kata-kata lanjutan. Jelas sekali kalau gadis itu salah tingkah. Ia tidak sejak kapan mulutnya jadi tidak selaras dengan pergerakan pikirannya.


“Kan apa?” tanya Raseyan seakan menguji. Ia menatap tajam kedua mata Alea.


Pipi gadis itu bersemu.


Ini kali pertamanya ia melihat tatapan maut Raseyan yang dewasa.


“Mati gue….” gumamnya panik.


Ia merasakan ledakan keras di jantungnya.


Tatapan Raseyan membuatnya mati kutu.


Bibirnya kelu.


Tapi ia tidak boleh kalah.


Ini adalah peperangannya dengan Raseyan!


Ia harus lebih kuat!


 


“Kan banyak perempuan disini… kamu tinggal pilih satu!”.


“Ya banyak perempuan…” tawa Raseyan.


Pemuda itu mendekati Alea lalu membelai lembut rambut sang gadis.


“Kalau aku cuma maunya yang ini gimana?”.


 


Alea mematung. Bendera putih baru saja terangkat.


Otaknya menolak untuk bekerja lebih keras.


Seandainya wajah jutek Mahesa tidak terlintas.


Alea yakin seyakinnya, ia akan jadi korban kegombalan Raseyan.


 


Untung saja Raseyan tiba-tiba bertanya mengenai ponsel yang tengah dipegang Alea.


“Itu… smartphone kan…”.


Rupanya pemuda itu masih mengingat benda-benda yang ia temui di masa depan.


“Kenapa kamu memegangnya sambil tertidur?”.


Alea pun teringat dengan goresan di batu pinggir sungai.


Ia hampir saja lupa untuk memberi tahu Raseyan mengenai batu bergores misterius tersebut.


Gadis itu dengan lincah membuka kunci ponselnya dan menunjukkan foto yang ada di galeri.


“Ini…. apa kau mengenalnya? Aku juga melihatnya di batu dekat sungai sana”.


Raseyan terdiam.


Ia meminta Alea untuk menemaninya melihat goresan batu sungai tersebut.


 


“Ee… mau apa?” tanya Alea saat Raseyan spontan menggenggam tangannya.


“Di luar berbahaya, aku akan melindungimu…”.


Gadis itu menepis tangan Raseyan.


“Kau tidak ingat dulu aku yang melindungimu? Jadi aku bisa melindungi diri sendiri”.


Pemuda itu melempar senyumnya.


“Iya, sayangku…. Terserah kamu”.


Sayang???? Telinga Alea panas.


Darimana Raseyan mengetahui panggilan tersebut? Apa dia meniru Kavindra atau Mahesa?


 


Alea beranjak dengan terburu-buru. Ia tidak ingin berada terlalu dekat dengan Raseyan. Setiap pria itu mendekat, Alea buru-buru berlari. Ia mencoba menjaga jarak dengan pemuda yang pernah menjadi suaminya tersebut.


Di dalam hatinya, Alea tidak ingin mengkhianati Mahesa. Ia tahu bahwa setelah ini dirinya harus menghindari pemuda itu sebisa mungkin. Alea tahu jika ia harus segera mencari rumah lain untuk berteduh.


Gadis itu yakin jika perasaannya dibiarkan, ia akan jatuh ke dalam jurang perselingkuhan. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Terlebih lagi jika mengingat apa yang telah dikorbankan oleh Mahesa untuknya.


“Mahesa….” panggil Alea dalam hati.


Ia berharap dewa itu segera datang menjemput.


Walau kali ini Alea tahu cara untuk pulang ke masa depan, tapi ia tidak bisa gegabah.


The Great Destroyer tengah berpatroli di sekitar gerbang yang menghubungkan dunia transisi dengan Gunung Padang. Alea tidak rela jika tujuh pemuda cungkring itu sampai berhasil menemukan pintu masuk. Mereka


jelas akan berbuat kerusakan di dunia yang ditinggali oleh Raseyan. Alea tidak ingin kembali menyesal. Kali ini, ia harus memastikan keselamatan pemuda itu. Ia tidak ingin berpisah dengan ketidakpastian seperti dahulu kala.


Seandainya saja Mahesa datang menjemputnya, misinya kali ini akan selesai dengan mudah. Ya, ia hanya perlu menghalau The Great Destroyer untuk pergi menjauhi gerbang menuju dunia transisi. Ia bisa meminta


Mahesa untuk melindungi penduduk dunia transisi dari ketujuh pemuda aneh itu.


Ia pun bisa mengucapkan salam perpisahan kepada Raseyan, salam perpisahan yang seharusnya sudah ia ucapkan dengan baik sejak dulu.


Gadis itu tertunduk lesu.


Ia tidak ingin berlama-lama ada di dunia transisi.


“Alea…”.


Panggilan Raseyan membuyarkan lamunan Alea. Rupanya mereka kini sudah tiba di pinggir aliran sungai. Alea pun buru-buru menerobos semak belukar. Ia mencari batu yang memiliki goresan aneh di permukaannya.


Dahi Raseyan mengerut. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di bawah dagu. Pemuda itu terlihat tengah memikirkan sesuatu.


“Pernah…”.


“Yang benar?” jerit Alea penuh harapan.


“Ya…”.


“Dimana?” desak Alea tidak sabar.


“Hmm, di setiap bunga tidurku”.


“Maksudmu? Batu bergores ini selalu muncul di mimpimu?”.


Raseyan menggeleng.


“Aku sedang tidak membicarakan batu itu”.


“Lalu?” tanya Alea polos.


Raseyan mengacungkan telunjuknya ke wajah Alea.


“Kamu…. Aku sedang membicarakan kamu”.


Alea terdiam. Ia tidak menyangka jika Raseyan kembali menggombalinya.


“Raseyan!!!!!!!!!” jerit Alea menahan malu.


Pemuda itu tersenyum manis. Ia sepertinya puas telah berhasil membuat pipi Alea kembali bersemu.


Raseyan semakin besar kepala.


Ia tahu jika kini Alea menyimpan sebuah rasa kepadanya.


Pemuda itu kini mencoba mencari cara untuk menjebol pertahanan Alea.


Ia yakin suatu saat Alea akan bertekuk lutut.


Ya, suatu hari gadis itu akan membalas perasaannya, gumam Raseyan yakin.


Bukankah itu adalah alasan kenapa langit mengirimkan Alea kembali ke sisinya? ujarnya lagi.


“Kalau cemberutnya udahan baru aku kasih tau” ujar Raseyan.


Alea memang sengaja berpura-pura cemberut agar Raseyan berhenti menggombalinya. Ia terkejut jika Raseyan bisa membaca taktik pertahanan yang dipasangnya dengan susah payah.


Pemuda itu kemudian mendekati batu yang ditunjukkan Alea. Ia pelan-pelan membersihkan lumpur yang menutupi sebagian goresan tersebut.


“Ini peninggalan Andulu dan Amatya”.


Alea tersentak saat mendengarkan kata-kata pemuda tampan tersebut.


Gadis itu mencoba tidak memberikan reaksi berlebihan. Ia berharap Raseyan bisa lebih banyak memberikan penjelasan.


Pemuda itu tiba-tiba berbalik badan. Ia buru-buru membuka pakaian atas yang ia kenakan.


Alea terkejut. Pemandangan otot-otot di perut Raseyan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.


Untung saja sebelum Alea berpikir yang tidak-tidak, Raseyan ternyata langsung masuk ke dalam sungai. Pemuda itu menjauhi bibir sungai dan menyelam masuk. Sepertinya ia tengah mencari sesuatu di dasar sungai tersebut.


Alea spontan jatuh terduduk.


Dadanya berdebar.


Ia seharusnya tidak berpikir yang macam-macam.


“Dungu, bodohl, lemah iman!” Alea pun menjitak kepalanya sendiri. Ia tidak mengira dirinya sebodoh ini.


“Ketemu Alea!” teriak Raseyan dari tengah sungai. Pemuda itu mengacungkan sesuatu. Dari kejauhan, benda yang ia pegang terlihat seperti sebuah ujung tombak.


Raseyan mendekati Alea yang masih terduduk lemas di atas bebatuan.


 


Ia menyerahkan satu buah batu berukuran sebesar telapak tangan manusia. Seluruh sisi batu itu telah mengalami proses asah. Ujungnya tajam seakan-akan menegaskan fungsinya sebagai mata tombak untuk mengiris dan memotong.


Raseyan merapihkan rambutnya yang basah.


Dada Alea kembali berdesir.


Pantulan sinar matahari dan wajah putih bening Raseyan membuat matanya silau.


“Sial…” gumam Alea sekali lagi.


Sejak kapan visual Raseyan bisa membuatnya menderita seperti ini, tukasnya tidak percaya.


“Ini batu yang kulempar saat aku marah pada Andulu dan Amatya”.


“Marah?” tanya Alea bingung.


“Mereka berniat membangun kembali peradaban di tempat ini… dengan kekuatan Sundayana yang tersisa di tubuhku”.


Wajah Alea memerah.


Ia tidak sengaja bertukar pandang dengan mata Raseyan yang dalam.


Gadis itu berpura-pura memukul batu-batu kecil di depannya. Ia harus mencari cara untuk menghilangkan rasa canggung yang kini menerpa.


Raseyan tersenyum menang.


Ia bukannya tidak tahu jika kini Alea tengah berusaha melawan perasaannya sendiri.


Namun Raseyan masih berupaya untuk menahan diri. Ia tidak ingin langsung frontal dan bersikap terlalu agresif.


Pemuda itu belajar dari para penduduk laki-laki yang ada di perkampungannya.


Apalagi selain cara untuk menaklukkan wanita.


Dulu memang tidak ada yang mengajarinya. Ia terlalu polos untuk percaya bahwa ikatan pernikahan dapat membuat Alea jatuh cinta.


Ia tahu bahwa Mahesa tidak pernah melontarkan rayuan kepada Alea.


Dewa itu terlalu judes, dingin dan narsis. Raseyan percaya bahwa ada sebuah celah yang tidak pernah diisi oleh Mahesa. Itulah kesempatan yang akan ia rebut.


Alea pasti akan jatuh ke pelukannya, gumam Raseyan penuh percaya diri.


Kini pemuda itu memasang wajah cool.  Ia berniat untuk membuat Alea tergila-gila padanya. Raseyan bukannya tidak tahu jika parasnya telah membuat para gadis di perkampungan jatuh hati. Sejumlah tetua dari perkampungan lain pun sempat datang untuk menawarkan anak-anak gadisnya. Ia bahkan tidak tahu darimana kabar mengenainya bisa tersebar. Tapi dengan cara itulah ia tahu bahwa adaperkampungan penduduk lain di sekitar tempat tinggalnya.


“Aku tidak tahu kenapa Andulu bersikeras untuk membangkitkan kembali kekuatan Sundayana yang sudah hilang” lanjut Raseyan.


Alea memasang wajah serius. Ia pun bertanya-tanya mengenai keberadaan kujang Dilahana dan cincin Puteri Agung, dua pusaka bangsa Sundayana yang melebur dalam prosesi pencarian kunci langit.


“Andulu mengambil paksa darahku. Anehnya, kini darahku bisa berhenti dengan mudah”. Pemuda itu memperlihatkan bekas luka di sekujur lengan kanannya.


“Maksudmu, goresan di batu ini adalah goresan yang telah dilumuri oleh darahmu?”.


Hati Alea teriris.


Ia membayangkan jeritan Raseyan saat lengannya diiris paksa oleh Andulu, shaman Bangsa Sundayana.


Pria itu, saat ditinggalkan oleh Alea, bukan merupakan seseorang yang kuat.


Ia masih lemah dan rapuh.


Sejak kapan ia tumbuh menjadi pemuda gagah seperti ini, gumam Alea sambil menatap Raseyan.


“Boleh aku tahu kapan Andulu dan Amatya meninggal?”.


Tatapan Raseyan berubah.


Ia terlihat sedih. Alea memperhatikan air yang memenuhi sudut mata Raseyan yang indah.


“Tak lama…. Tak lama setelah kami mendirikan perkampungan”. Suara pria itu tersendat. Sepertinya ia menyimpan sebuah luka yang belum sembuh dengan sempurna.


Alea tidak tega. Raseyan pasti telah berjuang keras untuk melewati kesendiriannya selama ini.


Gadis itu membandingkan raut Raseyan yang ia ingat dan pemuda yang kini ada di hadapannya.


“Apakah lebih dari sepuluh tahun kau hidup kesepian seperti ini?” gumamnya berkaca-kaca.


Mereka berdua terdiam cukup lama.


Tidak ada kata-kata yang terucap.


Raseyan yang terus menundukkan kepala.


Serta Alea yang hanya bisa memainkan batu-batu kecil di depan kakinya.


Kedua mantan Raja dan Ratu itu kini duduk bersanding.


Bukan dalam singgasana berlapis emas yang mengukuhkan kekuasaan mereka.


Tapi dalam penjara kesedihan, kegelapan dan misteri tak berujung yang mempermainkan hidup keduanya.


 


“Hujan…” seru Alea. Tangan kecilnya menengadah ke atas. Butir-butir air hujan pelan-pelan membasahi tanah. Wangi petrikor mengingatkan Alea pada gua yang sering dikunjungi oleh Kundali.


Kini ia bertanya-tanya di dalam hati.


Kenapa langit memilih dirinya untuk mengalami perjalanan waktu yang tidak berkesudahan?


“Ras, ayo kita…”.


Kata-kata Alea tidak selesai terucap.


Kecupan lembut dari Raseyan terlanjur mendarat di bibirnya.


Pop!


Pop!


Ribuan letupan dan ledakan saling silih berganti. Alea dapat mendengar dentuman kencang yang memenuhi seluruh dadanya.


Ini adalah kecupan pertama Alea dengan seorang pria.


Bahkan Mahesa pun belum pernah ia izinkan untuk melakukannya!


Kenapa, kenapa harus dengan Raseyan? sesal Alea panik.


Ia tidak sanggup membayangkan kemarahan Mahesa.


Akankah dewa itu membunuhnya?


***