Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 3. The Great Destroyer



Jika boleh jujur, Alea tidak bisa lagi membohongi nuraninya. Ia masih penasaran dengan kelanjutan halaman diary peninggalan Raseyan. Namun membaca sisa-sisa halaman diary tersebut tidak semudah harapan Alea. Mahesa mengamati gerak-geriknya tanpa henti.


Tadi malam, dewa itu tidur di ruang TV bersama Nobi bersaudara. Setiap Alea bergerak keluar dari ranjang, Mahesa selalu mengetuk pintu. Sang dewa sepertinya sedang memantau setiap setiap gerakan sang kekasih.


"Feelingnya bagus amat sih..." gerutu Alea dongkol. Kantung matanya terlihat membesar akibat kurang tidur semalam. Ia pun mencoba melupakan masalah dengan melahap pancake saus maple buatan Nobi.


"Hmm, lembut banget..." ujar Mahesa. Mata sang dewa berbinar. Ia sepertinya menyukai tekstur pancake fluffy yang dibuat oleh sang kucing gaib.


"Iya aku nonton acaranya Kak Jamie..." jawab Nobi tersipu.


"Jamie siapa?" tanya Alea penasaran. Apakah diam-diam kucing peliharaannya memiliki tutor masak baru?


"Jamie Oliver..." senyum Nobi dengan pipi memerah.


Alea tertawa sinis. "Ealah... bule dipanggil kakak.... kamu harusnya manggil dia dengan sebutan Sir...atau Mister".


"Sir? Yang begini?" tanya Nobi polos. Kucing itu merapihkan bulu ekornya yang kusut.


"Itu sisir.... ih kamu garing Nobi" tawa Alea lepas.


Mahesa menatap Alea. Sudah beberapa hari ia tidak melihat tawa gadis itu. Ia tahu bahwa kekasihnya sedang menghadapi sebuah masalah yang tidak bisa diceritakan. Oleh karena itu, ia berusaha memastikan keselamatan Alea. Mahesa tidak mau gegabah. Dulu ia meremehkan kekhawatiran Alea mengenai mimpi-mimpinya. Akibatnya Alea pun tersedot ke masa lalu dan sempat menjadi istri dari pria purba yang bernama Raseyan. Dewa itu tidak ingin kisah yang sama terulang. Ia harus menjaga Alea dari ujung rambut hingga kuku kaki.


"Pagi nona...." cium Kobi manja. Ia berputar-putar di leher Alea lalu melompat ke arah sofa. Kucing kecil lucu itu memencet tombol remote TV.


"Memangnya kamu ngerti isi beritanya?" tanya Sobi yang ikut-ikutan duduk di sofa.


"Iya... katanya ada pencurian besar-besaran kan? Tadi malam... aku dengar di radio... jadi penasaran, apa sudah ada berita terbaru".


"Pencurian apa?" tanya Alea sambil melahap buah rasberi segar yang disediakan Nobi.


"Benda peninggalan budaya".


"Iya di Gunung Padang" lanjut Sobi.


Alea hampir tersedak.


Ia buru-buru memperhatikan liputan berita yang tengah ditayangkan.


Mahesa melirik pelan. Ia curiga dengan reaksi Alea yang berlebihan.


Dewa itu berusaha mengendalikan rasa cemburunya. Entah kenapa, ia tidak suka jika Alea masih berhubungan dengan situs megalitikum tersebut.


Meskipun demikian, Mahesa turut mendengarkan berita yang kini ditayangkan di stasiun TV Elang Emas.


Polisi masih memeriksa sejumlah saksi mata yang tinggal di sekitar situs. Ada beberapa lubang yang ditemukan pagi ini. Sepertinya para penjarah menggali lubang untuk mencari benda-benda berharga. Penjaga situs juga melaporkan kerusakan sejumlah batu andesit. Sepertinya para penjarah berupaya memotong batu andesit yang ada.


"Kenapa dicuri? Untuk apa?" tanya Kobi. Kucing itu melompat ke pangkuan Alea. Ia mendesak sang tuan untuk segera memberikan jawaban.


"Mungkin dijual lagi ke pasar gelap... ".


"Untuk apa?".


"Uang...".


"Memang boleh?".


"Ya tidak... itu namanya penjarahan".


"Memangnya mereka tidak tahu bahwa mengambil benda peninggalan budaya itu dilarang? Memang tidak ada undang-undangnya?" tanya Sobi. Kucing itu juga ikut-ikutan duduk ke pangkuan Alea.


"Secara undang-undang masyarakat boleh memiliki cagar budaya, asalkan melapor pada instansi yang berwenang... tapi jika cagar budaya itu sifatnya terbatas, maka negara dapat menguasainya".


"Undang-undang apa namanya?". Sobi terlihat bersemangat. Kucing kecil itu bertindak seperti reporter profesional.


"UU Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya".


"Kok kamu tahu?" tanya Mahesa sambil mengunyah pancake terakhir.


"Kan aku lagi ngerjain proyeknya Kavindra tentang dokumentasi situs bersejarah di Indonesia, mau ga mau jadi tahu".


"Tapi kalau kepemilikannya disebabkan oleh penjarahan bagaimana? Apakah mereka tidak bisa dihukum? Dan bagaimana dengan mereka yang sengaja memburu harta-harta masa lalu itu di pedalaman?". Rupanya Mahesa pun ikut penasaran.


"Aku tidak tahu sedetil itu, tapi selama benda itu tetap berada di dalam wilayah Indonesia, kepemilikan pribadi diperbolehkan... asalkan mereka melapor. Jika mereka tidak melapor, seharusnya jadi ilegal".


Dahi Mahesa mengerut.


"Dan jika kepemilikan itu berpindah pada pemilik yang tinggal di luar negeri, maka itu tidak diperbolehkan".


"Jadi maksudmu orang asing yang tinggal di Indonesia boleh memiliki benda cagar budaya?".


"Ya asal mereka punya KTA... sepertinya demikian".


"Tuan Pushan punya KTA?" tanya Sobi. Kucing itu melompat ke pangkuan Mahesa.


"Ya nggak punya KTA, aku punyanya KTP...".


"Kok bisa? Kan Tuan makhluk asing? Bukan dari bumi lagi..." jawab Sobi polos.


Alea tersenyum mendengar pertanyaan Sobi.


"Emangnya kamu pikir aku alien?".


"Lah kalo bukan alien, terus apa? Kan Tuan memang bukan manusia? Kok bisa punya KTP? Tuan bohong ya sama petugasnya" desak Sobi bak detektif ternama.


Mahesa terlihat kesulitan menjawab pertanyaan kucing kritis tersebut.


"Udah, udah, bahas yang lain aja...". Mahesa mengusir kucing itu dari pangkuannya. Ia pura-pura mengambil minuman dari kulkas.


Saat Mahesa tengah di dapur, Alea diam-diam mengirimkan pesan pada Kavindra.


"Udah nonton berita? Hari ini ayo antar aku ke Gunung Padang".


Tidak lama kemudian balasan dari Kavindra pun datang. Ia akan menjemput Alea di lobi apartemen sekitar satu jam lagi.


***


"Lo ngapain pake topi ama masker item gitu? Kaya penjarah" goda Kavindra.


"Sst... buruan berangkat. Jangan sampai ketangkap basah ama Mahesa".


"Emang kenapa dia?" tanya Kavindra sambil kembali memasang musik yang tadi sempat dikecilkan.


Jantung Alea nyaris copot.


Gendang telinganya hampir pecah saat mendengar dentuman drum dari musik yang didengar Kavindra.


"Kav kuping...kuping gue....".


"Ini Metallica man!".


Kavindra lalu menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah. Ia terlihat menikmati alunan musik metal yang ternyata sudah lama menjadi hobinya.


"On the way to paranoia....On the crooked borderline.... On the way to great destroyer... Yeah!!!" jerit Kavindra dengan jari yang mengacung ke atas.


"Aaaaa.... stop Kav.... gue bisa tuli!".


"Yeaaaaaaah......................" teriak Kavindra seperti orang kesurupan.


Alea buru-buru mematikan tombol radio mobil Kavindra.


"Kenapa dimatiin sih?".


"Ya, elo kenapa juga pake denger lagu kek gini keras-keras... gimana kita bisa diskusi?".


"Kan sebelum beraksi kita butuh lagu penyemangat".


"Ya tapi ga yang liriknya gitu juga... way to great destroyer. Lo berharap kita ketemu makhluk aneh lagi?! Serem ah... gue kapok berhubungan ama dunia non manusia".


"Lah, emang Mahesa manusia?".


Gadis itu terdiam. Ia tahu itu jawaban terbodoh yang pernah diberikannya untuk Kavindra.


Seperti dugaan Alea, Kavindra pun tertawa terbahak-bahak. Ia sepertinya puas sekali menertawakan jawaban "dungu" sang sahabat.


"Jadi kalau para setan punya KTP.... mereka bisa jadi manusia? Hahaha....".


"Udah ah godain guenya. Lagian ga mungkin juga para setan pada bikin KTP" omel Alea.


"Bisa aja Alea... ntar jadinya Kartu tanda Petan.... hahahaha".


Tawa Kavindra semakin menggelegar. Pria itu sepertinya memiliki sejumlah energi tawa yang sudah lama tidak ia lepaskan.


"Makanya jangan kebanyakan jaim, capek kan?" sindir Alea.


"Ya, Le... capek gue kerja ama orang-orang di tempat elo... pada ga asyik gitu ya orangnya? Serius semua...".


"Emang orang kerja harusnya serius... elo aja yang emang gandeng".


"Gandeng?" tanya Kavindra bingung.


"Berisik..."


"Ya tapi ga ada gue.. idup lo pasti garing Le... Mahesa bisa apa selain protes?".


"Heh, judes-judes gitu... punya gue" ucap Alea tersinggung.


"Tapi gue bingung, elo kenapa ga jujur aja sih ama dia mau ke Gunung Padang hari ini... ntar kalau ada apa-apa siapa yang bantu?".


Alea menggeleng. Ia tidak sepaham dengan Kavindra yang mendesaknya untuk memberi tahu Mahesa.


"Dia semalam nginep di unit gue coba! Dan gue sama sekali ga bisa nerusin baca diary Raseyan".


"Udah sampai halaman berapa?".


"Ngga tau... tapi tinggal dikit lagi. Dia udah cerita tentang perpisahan gue yang mendadak itu kok".


Kavindra melirik  ke arah sang sahabat.


"Elo uda makan kan ya?".


"Kenapa lo nanya gitu? Mau nraktir gue?".


"Ya, in case di sana kita ketemu sama barang aneh... kan ga lucu kalau kita perang dalam kondisi kelaperan".


"Maksud lo?". Alea mulai curiga dengan pertanyaan Kavindra. Ia yakin bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu.


"Ada sesuatu kan? Yang gue ga tau?".


Kavindra bersiul.


"Ya tergantung..... lo mau bayar gue berapa...".


"Elo kira gue punya duit?".


"Ya gue tau sih elo jelata....".


Alea hampir saja mencubit tangan Kavindra. Untung ia ingat jika pria itu sedang menyetir.


"Pasti lo belum baca bagian akhirnya kan....".


"Tentang?".


Kavindra diam seribu bahasa. Diamnya pria itu membuat Alea gusar. Wajah Kavindra pun menjadi lebih serius.


"Siluet itu bukan kebetulan kan?" pancing Alea. Ia menyesal tidak membawa diary itu bersamanya.


"Nah, menurut lo gimana?".


Alea mengambil napas panjang. "Penjarahan itu mungkin ada hubungannya kan dengan semua ini".


"Gue juga berpikir demikian" duga Kavindra.


Mata Alea tiba-tiba melihat kabut putih yang banyak. Gadis itu diterjang rasa kantuk yang luar biasa. Lambat laun Alea melihat sebuah bayangan manusia. Jumlahnya lebih dari satu. Mereka membawa sejumlah kapak dan sekop. Para manusia itu nampak menggali tanah dan mencari sesuatu dengan terburu-buru.


"Alea..." panggil Kavindra.


Gadis itu pun tersadar. Rupanya mereka berdua telah tiba di situs Gunung Padang. Alea buru-buru membuka sabuk pengaman. Ia meraih tas selempang yang ada di bawah kursi jok mobil. Alea mendengar suara di balik hembusan angin. Gunung itu menyambut kedatangannya.


Gadis itu lari terburu-buru ke atas situs. Ia mendekati area penjarahan yang kini dipasang garis pembatas polisi.


"Elo selidikin dulu Le...gue bakal ngomong dulu sama juru kuncinya". Alea mengerti maksud Kavindra, gadis itu membaur dengan para pengunjung yang penasaran dengan insiden penjarahan tadi subuh.


Penjarahan tersebut membuat penduduk setempat gempar. Mereka tidak percaya jika masih ada oknum yang tega menghancurkan situs bersejarah dan mencuri benda cagar budaya untuk kepentingan pribadi.


Alea dapat mendengar para penduduk mengutuk perbuatan para penjarah. Ada yang geram dan ada juga yang berharap para penjarah tersebut cepat ditangkap.


Diam-diam Alea memperhatikan tiga makhluk tidak kasat mata yang mengelilingi bebatuan yang merupakan satu dari pintu masuk benteng. Alea dapat mengenali pintu masuk tersebut dari energi yang terpancar.  Ketiga makhluk itu lalu membalas pandangan Alea.  Mereka pun terbang mendekati. Mereka seakan-akan mengenali pancaran aura  Alea.


"Apakah kau pernah menjadi satu dari penguasa tanah ini?" tanya mereka penasaran.


Alea tersenyum kecut. Ia sebenarnya tidak menyukai pernikahannya dengan Raseyan. Tapi tanpa pernikahan tersebut, ia tidak dapat mengklaim bahwa ia pernah bertahta di tanah Sundayana.


Gadis itu pelan-pelan mengajak ketiga makhluk itu bersembunyi ke balik pepohonan.  Ia tidak ingin menjadi perhatian masyarakat yang tengah berkerumun. Alea sadar bahwa penjarahan yang terjadi di situs megalitikum ini melibatkan para manusia yang mengetahui rahasia gerbang waktu.


"Salam Wahai Ratu".


"Boleh aku tahu kalian siapa...".


"Kami penjaga batu suci yang tengah diburu oleh The Great Destroyer, sang penghancur Agung".


"The Great Destroyer?". Nama itu mengingatkan Alea pada lagu metallica yang diputar Kavindra selama perjalanan. Apakah jangan-jangan Kavindra tengah mencoba memberinya sebuah petunjuk? Apakah The Great Destroyer adalah isi dari halaman terakhir diary Raseyan? Sungguh Alea jadi penasaran.


"Iya, mereka menamakan dirinya demikian. Mereka adalah para manusia yang memiliki kekuatan metafisik. Misi mereka adalah mencari tahu rahasia masa lalu peradaban dunia, dan jika mungkin menghancurkan apapun yang bisa mengganggu perjalanan mereka".


Alea mendekati ketiga makhluk yang menyerupai gulungan kabut tersebut. Ia ingin mendengarkan cerita lebih banyak.


"Perjalanan apa maksudmu?".


"Membongkar kekuatan yang tersimpan di peradaban lama. Mereka ingin mencari mustika-mustika yang bisa mereka gunakan untuk kekuasaan di masa ini" jawab salah satu makhluk.


"Kekuatan mereka cukup besar... kami hampir kesulitan untuk melindungi batu suci".


Makhluk yang lain ikut menambahkan, "Mereka akan kembali lagi malam ini.. karena mereka belum menemukan batu suci".


"Batu suci itu maksudmu...." tanya Alea.


"Batu pengatur energi tanah ini".


Gadis itu melihat kedatangan Kavindra dan sang juru kunci. Tapi mereka berdua belum melihat keberadaan Alea yang bersembunyi di balik batang pohon.


Alea menunduk.


"Siluet hitam itu... peliharaan mereka?".


"Itu salah satu dari penjaga gunung. Ia mencoba memberi tahumu mengenai penyerangan para penghancur".


Gadis itu terdiam. Ia mungkin memiliki kemampuan psikis untuk melihat masa lalu tapi ia tidak punya kekuatan untuk melawan segerombolan manusia dengan kemampuan super.


Alea tidak tahu harus berbuat apa. Namun ia tahu bahwa dirinya dan Kavindra tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Ia harus meminta bantuan Mahesa.


Tapi apakah Mahesa mau membantunya? Apalagi jika dewa itu tahu bahwa kegiatan ini ada hubungannya dengan Raseyan. Akankah Mahesa turun tangan dan membiarkan takdir Alea dan Raseyan kembali terulang?


***