
Senjata makan tuan.
Begitu Kavindra mendefinisikan alat kejut listrik yang ia pegang.
Alat tersebut baru saja membuat tubuhnya tersetrum.
Dengan kata lain, ia sendiri yang terluka.
Makhluk penggedor pintu itu berhasil mengembalikan serangannya.
“Pushan, apa yang kau lakukan?” hardik Norgyunma.
Sakra melempar alat kejut itu hingga terpental.
Ia kemudian memeluk Kavindra yang nyaris kehilangan kesadaran.
“Kau mau membunuh tuan kami yang baru ya?” omel Sakra.
Pushan tidak memberikan respons.
Ia menerobos masuk begitu saja. Sejujurnya, ia ingin cepat-cepat meletakkan tubuh Raseyan di sofa.
Hatinya perih.
Sedih.
Ia tidak sanggup memandang Alea.
Apalagi membayangkan jika Alea dan Raseyan yang kini berhak menikmati petualangan cinta.
“Berat?” tanya Norgyunma.
Pushan tidak menjawab.
Alasan di balik tindakannya yang tergesa-gesa.
Tentu saja bukan tubuh Raseyan yang berat.
Tapi kesedihan yang membebani hatinya.
Alea menoleh.
Ia terkejut saat melihat kehadiran dewa berkuping runcing di dekatnya.
“Kamu…..”.
Mata Pushan berkaca-kaca.
Ia teringat dengan pesan Kundali.
Ya, Alea tidak akan mengingatnya sampai jiwa Raseyan meninggalkan bumi.
Memori gadis itu telah dikunci oleh Kaisar Langit.
“Norgyunma? Sakra? Apa yang membuat kalian turun ke bumi?” tanya Alea terkejut. Ia tidak mengira akan bersua kembali dengan sepasang pengawal legenda tersebut. Alea bisa mengingat mereka berdua namun tidak dengan keberadaan Pushan.
“Kami ditugaskan untuk membantu Yang Mulia Kavindra menangkap pengacau yang bernama Maro dan Horrack”.
“Apa? Yang Mulia?”. Mata Alea terbelalak. Telinganya gatal. Ia risih saat sepasang dewa itu memanggil Kavindra dengan hormat.
“Iya, Kaisar Langit telah membebaskan kami dari tugas lama. Kini kami adalah pelindung Yang Mulia Kavindra”. Norgyunma membungkukkan badan. Ia memberi penghormatan kepada tuan barunya.
Sementara itu kesadaran Kavindra masih belum pulih. Sengatan listrik tadi berhasil membuat kepalanya berkunang-kunang.
“Alea…. Alea….istriku….”. Suara Raseyan yang siuman membuat Alea terkejut.
Gadis itu tidak tahu kapan Raseyan tiba di apartemennya.
“Ra-se-yan?”.
Alea berlari kecil mendekati Raseyan.
Ia hampir tidak percaya jika pria itu kembali ke sisinya.
Brak!
Tubuh Alea tanpa sengaja menabrak lengan Pushan.
Gadis itu terperanjat.
Ia baru saja melihat sekilas peristiwa yang membuat bulu kuduknya merinding.
Alea menoleh.
“Ma-he-sa?”.
Pushan terkejut. Napasnya nyaris terhenti.
Bukankah Kundali telah mengunci memori Alea?
“Ah, maaf…. aku tidak bermaksud menabrakmu”. Alea meminta maaf. Namun entah kenapa langkahnya terasa berat. Gadis itu menghentikan langkah. Ia kembali melirik ke arah dewa yang barusan ia tabrak.
“Apa kita pernah bertemu?”.
Pushan terdiam.
Ia tidak berani menatap Alea.
Sayang sekali, interaksi mereka terputus oleh suara panggilan Raseyan. Alea pun melanjutkan langkah. Ia mendekati Raseyan yang terkulai lemah di sofa.
“Kau sudah sembuh?”.
Raseyan mengangguk.
Air matanya berlinang.
Baginya, pertemuannya kembali dengan Alea adalah sebuah keajaiban. Ia mulai yakin jika dirinya dan Alea memiliki sebuah takdir yang panjang.
Norgyunma pun mulai merasa tidak nyaman.
Ia tidak menyukai cara Raseyan menatap Alea.
Hatinya perih saat melihat wajah Pushan yang terluka.
Baginya Pushan lebih dari sekedar sahabat. Dewa itu sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Kebahagiaan Pushan adalah kebahagiaannya.
Oleh karena itu ia benci sekali melihat Pushan yang terpisah dengan Alea.
“Kalau tuan muda sudah siuman, mari kita bicarakan strategi penangkapan Maro dan Horrack. Kita tidak punya banyak waktu” potong Norgyunma.
Dewi itu sengaja.
Ia tidak ingin Raseyan dan Alea bercengkerama.
Norgyunma sudah bertekad akan menjadi penghalang kemesraan dua manusia itu.
“Tapi Raseyan baru pulih….”. Alea khawatir. Wajah Raseyan masih pucat.
“Tidak ada waktu lagi. Maro dan Horrack akan melarikan diri jika tidak kita tangkap sekarang!”. Nada suara Norgyunma yang tinggi membuat Alea cemas.
“Sepertinya kondisinya sudah genting, jika tidak kenapa Norgyunma nampak tergesa-gesa?” pikir Alea.
Gadis itu mengangguk. Ia meminta Norgyunma untuk menjelaskan rencana penangkapan kedua makhluk itu.
“Kita akan membagi diri menjadi dua tim. Kavindra, aku, Sakra, dan Tuan Raseyan bertugas menangkap Maro. Sedangkan Alea dan Dewa Pushan bertugas menangkap Horrack”.
Pushan lagi-lagi terbelalak.
Rencana Norgyunma membuatnya resah. Apa yang tengah direncanakan oleh dewi itu, gumamnya gusar.
“Baiklah… ayo Dewa… maaf siapa namamu sekali lagi….”.
Kavindra mencolek tangan Sakra.
“Alea kenapa?”.
Sakra berbisik pelan. “Ingatannya dikunci sementara waktu. Kita harus berpura-pura tidak tahu juga mengenai cinta segitiga mereka”.
“Serius bro? Ah gila ini sih kejam…. Kasihan banget ama Mahesa….”.
Pertahanan Kavindra runtuh. Pemuda itu menangis tersedu-sedu.
“Yang Mulia, jangan membuat Alea curiga. Kita harus tutupi ini semua….” bisik Sakra.
“Gimana bisa? Ini kisah paling menyedihkan yang pernah gue denger. Bahkan Romeo dan Juliet pun kalah. Kali ini penghalangnya adalah Kaisar Langit. Mami………………………………aku butuh tisu” tangis Kavindra.
Norgyunma memberi kode kepada Sakra.
“Ayo cepat, kita jalankan rencana kita. Sepertinya Yang Mulia sedang emosional”.
Sakra mengangguk.
Ia memasukkan kristal kebijaksanaan ke ubun-ubun Kavindra. Pria itu sempat terdiam. Ia merasakan sensasi energi yang hangat dan bersahabat di dalam tubuhnya.
Namun energi itu belum mampu mengusir rasa sedihnya saat melihat raut sedih Pushan. Sebelum Kavindra berulah lagi, Norgyunma buru-buru menyambar tubuh pria itu dan membawanya pergi.
Sakra memanggil Nobi bersaudara. Ia meminta ketiga kucing itu untuk membawa Raseyan ke luar kediaman Alea.
"Jaga dia.... jangan sampai Tuan Raseyan terluka".
Nobi bersaudara mengangguk.
“Alea nggak apa-apa gitu pergi ama Mahesa aja?” tanya Kavindra cemas.
“Memang itu tujuan hamba Yang Mulia. Memisahkan Raseyan dan Alea” tukas Norgyunma.
“Lalu kenapa kita tidak tinggalkan Raseyan saja di rumah Alea? Kita tidak perlu membawa ia ikut serta kan?”. Kavindra tidak mengerti dengan jalan pikiran Norgyunma.
Dewi itu tidak menjawab. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, dan Kavindratahu itu.
“Ayo kita bergerak, Pushan. Waktu kita terbatas” ajak Norgyunma.
Pushan mengangguk.
“Nama hamba Pushan. Hamba ditugaskan oleh Kaisar Langit untuk menangkap Horrack” ujar Pushan memperkenalkan diri.
Alea menatap Pushan dari atas ke bawah.
“Apa kau yakin…. Namamu bukan Mahesa?”.
Tangan Pushan gemetar.
Ia ingin sekali memeluk Alea dan berkata, ya aku Mahesamu.
Tapi ia ingat dengan janjinya terhadap Kaisar Langit.
Ia tidak boleh gegabah. Masa depannya dengan Alea tergantung dengan pengendalian dirinya.
“Maaf, nama hamba Pushan”.
Air mata Pushan jatuh.
Kata-kata Alea barusan membuat pertahanannya goyah.
“Lea……………………….. Mahesa……………………………………” tangis Kavindra kencang.
Sakra buru-buru menggendong Kavindra.
Ia tidak mengira jika pria itu sangat emosional.
“Mami……………………..”. Suara Kavindra semakin lama semakin tidak terdengar.
Rupanya Sakra berhasil mengamankan Kavindra secepat mungkin.
Ia benar-benar khawatir jika tuan barunya itu akan mengacaukan rencana yang disusunnya bersama Norgyunma.
“Maap ya, temen saya itu emang…. Agak ajaib” ujar Alea sambil mengangkat telunjuknya ke depan dahi. Sebuah kode agar dewa di depannya tahu mengenai keabnormalan Kavindra.
“Ayo kita juga pergi, kita tidak punya banyak waktu” ajak Pushan. Ia mencoba bersikap sedingin mungkin terhadap Alea.
Di luar dugaannya, Alea malah mengulurkan tangan.
Pushan diam.
Tubuhnya gemetar.
Haruskah ia menyambut uluran tangan gadis itu?
“Ayo katanya harus buru-buru. Aku ga punya sayap maupun kemampuan telepati. Kau harus membawaku ke tempat dewa yang ingin kita tangkap. Siapa tadi namanya?”.
“Horrack, Nona Alea” jawab Pushan pendek.
“Panggil saja aku Alea… aku tidak suka panggilan formal” balas Alea.
Pushan meminta izin untuk menyentuh pundak Alea.
Ia berusaha bersikap seformal mungkin.
Mereka kemudian berpindah tempat.
Keduanya kini menuju ke kediaman Maro.
Tempat dimana Horrack, dewa buronan dunia tujuh dimensi bersembunyi.
***
Alea dan Mahesa pun mendarat di sebuah ruangan yang menyerupai gudang. Di dalam ruangan itu ada berbagai benda seperti boneka-boneka kayu maupun keris-keris pusaka.
Gadis itu hampir saja berteriak saat melihat ratusan penampakan secara bersamaan.
Ia spontan memeluk Pushan.
Alea tidak berani membuka mata.
Kehadiran ratusan makhluk gaib itu membuatnya takut.
Sungguh Alea tidak menyukai tempat tersebut.
“Tidak perlu takut… mereka semua tersandera….tidak punya kekuatan lagi” tukas Pushan menenangkan.
Alea kini mengerti maksud Pushan. Ia melihat kalung-kalung besi yang melingkar di leher para makhluk tersebut. Sepertinya memang ada yang sengaja mengikat mereka disana.
“Maro adalah seorang pemburu pusaka. Ia menyimpan koleksi pusakanya di sini…. dan Horrack memanfaatkan energi para makhluk ini untuk menambah kekuatannya” bisik Pushan.
Ia mengeluarkan perisai pelindung. Dewa itu langsung menyelimuti tubuhnya dan Alea.
Dada Alea berdesir. Kenapa momen ini membuat hatinya melompat ke sana kemari. Kalau dipikir-pikir, dewa ini cakep juga, gumamnya pelan.
“Fokus, nona…. Musuh kita bersembunyi di balik cermin itu….”.
Alea sungguh tidak mengira jika Pushan bisa membaca pikirannya.
Ia buru-buru mengalihkan perhatian dan meningkatkan kewaspadaannya.
“Aku membutuhkan bantuanmu” bisik Pushan.
“Aku akan membuatnya keluar dari cermin itu…. saat ia keluar, kau peganglah benda ini”. Pushan mengeluarkan benda yang menyerupai kancing pakaian. Kancing itu terbuat dari batu berwarna putih.
“Ia akan terserap ke benda ini secara otomatis. Saat tubuhnya sudah terserap dengan sempurna, jatuhkan benda ini ke bawah” jelas Pushan.
Alea mengangguk. Ia tidak banyak bertanya. Entah kenapa nalurinya mengatakan bahwa ia bisa mempercayai dewa bertelinga runcing tersebut.
Pushan langsung melesat masuk ke dalam cermin yang ada di hadapan mereka.
Dada Alea berdesir. Pedang yang dibawa oleh Pushan mengingatkannya pada sebuah memori yang tidak bisa ia ingat dengan jelas.
Dari balik cermin, ia bisa melihat bayangan kedua dewa yang tengah berperang. Pedang petir raksasa yang digunakan Pushan berhasil melukai dada Horrack. Dewa jahat itu bergegas melarikan diri ke luar cermin.
Alea pun segera mengangkat kancing batu yang dipegangnya.
Bak magnet, tubuh Horrack langsung terseret dan menempel di kancing batu tersebut.
Horrack terkejut saat melihat wajah Alea.
“Kau…. Kau ternyata ada disini….”. Tangannya berusaha menggapai Alea.
Pushan pun langsung memotong tangan Horrack dengan pedang petirnya.
Seluruh tubuh Horrack kemudian terserap ke dalam kancing batu putih.
Sayang sekali telapak tangannya yang jatuh itu berhasil melarikan diri.
“Alea jangan dijatuhkan dulu………….” teriak Pushan.
Namun instruksi dewa itu terlambat.
Alea terlanjur menjatuhkan kancing batu, yang merupakan batu penjerat buronan langit, ke permukaan lantai.
“Gawat….. kita harus cepat menemukan sisa tubuh Horrack”.
“Kenapa?”
“Horrack memiliki kemampuan seperti kadal. Jika dibiarkan maka potongan tangannya akan tumbuh lagi membentuk tubuh baru. Ia akan membunuh tubuh yang terserap, sehingga usaha kita akan sia-sia. Itulah mengapa sejak dulu prajurit langit selalu gagal menangkapnya” ujar Pushan sambil memeriksa sudut ruangan dengan
pedangnya.
“Seberapa cepat kemampuannya untuk memulihkan diri dan menumbuhkan sel-sel baru?” tanya Alea.
“Cepat, sangat cepat…. Kita harus waspada. Ia telah mengetahui keberadaan kita”.
Pushan kemudian memberikan Alea sebuah tombak.
Gadis itu menatap tombak tersebut dengan perasaan gundah.
Ia mengenal tombak yang dipenuhi batu-batu mulia itu. Tapi ia tidak bisa mengingat apapun.
“Gawat hamba rasa Horrack berhasil kabur ke luar….. kita harus mengejarnya”.
Pushan kemudian membebaskan seluruh makhluk gaib yang tersandera di ruangan tersebut. Makhluk-makhluk penunggu pusaka yang berkekuatan jahat langsung ia musnahkan, sementara mereka yang berkekuatan baik diberikan kesempatan untuk melarikan diri.
“Lari sebelum Horrack menggunakan kekuatan kalian untuk berbuat onar”.
“Kami akan membantumu wahai dewa” jawab ratusan makhluk di ruangan tersebut.
“Baik, cari Horrack… tapi hati-hati” ujar Pushan merespons tawaran mereka.
“Siap, dewa”.
Ratusan makhluk pun langsung terbang ke luar ruangan.
Mereka kini bernapsu untuk membalas ulah jahat Horrack.
Sementara itu, tim yang dipimpin oleh Norgyunma baru saja selesai menyisiri bagian tengah rumah Maro. Rumah pria itu sangatlah besar. Di dalam rumah tersebut, ada tiga bangunan yang dibangun secara berdekatan. Keluarga
Maro rupanya adalah pengumpul pusaka. Bangunan yang berada di bagian timur digunakan sebagai gudang penyimpan pusaka.
Bangunan tengah merupakan ruang utama keluarga.
Sedangkan bangunan barat merupakan lokasi tempat penyimpanan abu keluarga.
“Bau…” ujar Kavindra saat memasuki bangunan timur. Ia mencium aroma tidak sedap.
Mereka semua berpapasan dengan Alea dan Pushan yang baru saja keluar dari bangunan timur.
“Apa kalian melihat potongan tangan?” tanya Pushan.
Sakra menggeleng.
“Ia berhasil lolos lagi?” tanya Norgyunma.
“Kita tidak punya waktu banyak… kalian bantu aku. Nobi, Kobi, Sobi… kau disini bersama Alea, Kavindra dan Raseyan…. Cepat telepon polisi untuk melaporkan penjarahan yang dilakukan keluarga Maro” perintah Pushan.
“Apa maksudmu?” tanya Kavindra bingung.
“Di dalam bangunan ini banyak sejumlah pusaka nusantara yang akan dikirim ke luar negeri melalui perdagangan ilegal. Dokumen bukti kejahatan mereka tersimpan di balik cermin yang ada di lantai dua” jelas Pushan lagi.
Kavindra mengiyakan perintah Pushan. Ia meminta ketiga dewa itu segera pergi untuk mencari potongan tubuh Horrack.
Selepas kepergian Pushan, Kavindra pun langsung menelpon polisi.
Namun naas, keluarga Maro memergoki mereka.
“Pencuri… pencuri…. Ayo tangkap!” teriak seorang kakek tua yang sepertinya sesepuh di rumah tersebut.
Kakek tua itu terkejut saat melihat kehadiran Nobi bersaudara yang menampakkan diri sebagai harimau gaib.
Rupanya kakek tua itu adalah praktisi ilmu hitam. Ia kemudian menggenggam kalung bebatuannya. Mulutnya komat kamit membaca mantra.
Namun ia terkejut karena mantra tersebut tidak bekerja
“Sial, sepertinya makhluk-makhluk yang kita pelihara telah melarikan diri dari kurungannya” omel sang kakek tua.
Alea teringat dengan ratusan makhluk yang terperangkap di gudang pusaka.
Apakah kakek di depannya tersebut berusaha memanggil mereka?
“Serang saja!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ambil golok!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak sang kakek.
Maro yang baru keluar dari bangunan tengah pun mengacungkan goloknya ke arah Kavindra dan kawan-kawan.
“Mati kalian semua……………………….”.
Alea maju menyambut kedatangan Maro.
Ia memegang tombak pemberian Pushan dengan penuh percaya diri.
“Pencuri pusakaaa nusantara, aku tidak akan membiarkanmu merusak negara kita lagi!!!!!!!!!!!!!!”.
***
Dikit lagi tamat, pantengin yaa.................