
Insting Alea mengatakan jika pemuda di depannya bukan manusia normal.
Maro.
Pemuda yang berhasil lolos dari prajurit kuda langit tersebut memandang Alea dengan penuh napsu.
Ia ingin membunuh gadis itu secepat mungkin.
Lalu mengambil ekstrak batu bintang di tubuh Alea.
Sasaran berikutnya adalah pemuda dari dunia transisi itu, gumam Maro senang.
Maro tidak tahu jika tubuh kedua manusia itu tidak lagi memiliki pecahan batu bintang.
Ia masih bernapsu memiliki pecahan pusaka yang konon dapat membuat manusia menjadi dewa.
Alea mengamati pergelangan tangan Maro yang menghitam.
Keringat dingin memenuhi pelipis Alea. Gadis itu yakin jika Horracklah yang berada di dalam tubuh Maro sekarang.
Tangan yang menghitam itu adalah sebuah bukti nyata.
Itu adalah tangan Horrack yang terpotong.
Seperti parasit, ia kini mungkin tengah menumpang pada tubuh Maro sampai kekuatannya pulih.
Alea mengencangkan genggaman tombaknya.
Ia tidak boleh gegabah.
Lawannya bukan manusia biasa.
Ada kekuatan hitam yang tengah menggerakkannya.
“Alea….”
Raseyan mencoba menghentikan aksi Alea. Ia khawatir dengan keselamatan sang istri. Pemuda itu mengambil sebuah patung yang tergolek di depan pintu bangunan.
“Jangan…. Itu pusaka mahal!” teriak sang kakek tua panik.
“Letakkan kembali pusaka itu…” seru seorang pria paruh baya. Ia baru saja keluar dari pintu rumah bersama seorang wanita. Sepertinya mereka adalah ayah dan ibu Maro.
Raseyan melirik ke patung yang tengah ia pegang.
“Lepaskan kami, atau patung ini aku banting”. Raseyan mencoba bernegosiasi. Ia tidak ingin Alea terluka. Mereka baru saja bersua. Tak adakah waktu yang dapat mereka nikmati untuk kembali memadu cinta?
Kegusaran keluarga Maro membuat Alea penasaran.
Patung apa yang tengah dipegang oleh Raseyan?
Alea memang tidak mengerti dunia artifak.
Jika saja ia tidak pernah terlempar ke masa lalu, mungkin dirinya tidak akan pernah peduli dengan sejarah nusantara.
“Kalian sudah seharusnya membusuk di penjara! Keterlaluan sekali kalian….. berani memperdagangkan benda-benda cagar budaya dengan cara ilegal” ujar Alea geram.
“Apa urusanmu anak muda? Daripada benda-benda ini terbuang percuma… lebih baik dijual ke kolektor yang ada di luar negeri. Mereka berani bayar mahal!” seru ayah Maro.
“Iya karena mereka mengerti arti di balik cagar budaya itu!” balas Alea.
“Iya benar…. Jadi lebih baik dijual ke mereka, daripada ditaruh di negeri ini juga…. Lagipula anak zaman sekarang juga mana tertarik dengan benda-benda seperti ini kecuali untuk urusan klenik. Lihat saja museum saja sepi. Daripada jadi bangkai tidak jelas, lebih baik mereka digunakan untuk menambah pundi-pundi kami!”.
Maro menambahkan kata-kata sang ayah.
“Hmm, aku lebih suka menggunakan pusaka itu untuk menyapu bersih manusia macam kalian dari muka bumi”.
Alea benar-benar tersulut.
Ia kini tidak takut lagi dengan Maro atau Horrack.
Satu keluarga di depannya dan dewa kurang ajar yang bernama Horrack itu harus ia beri pelajaran.
“Kalian pikir bisa menjadikan sepinya museum dan rendahnya minat anak muda terhadap sejarah sebagai pembenaran aksi kotor kalian?!” ujar Alea emosi.
Kavindra pun tidak mau kalah. Ia ikut menentang pendapat keluarga Maro.
“Benar kata Alea. Kalian pikir semua generasi muda acuh terhadap budaya bangsanya sendiri?! Aku Kavindra akan membuktikan pada kalian bahwa persepsi kalian salah. Suatu hari museum-museum di negara ini akan dipenuhi oleh anak-anak muda. Kami akan menjadi penggerak kegiatan preservasi dan menjadikan budaya nusantara
sebagai motor pembangunan bangsa”.
“Cih… banyak omong! Ayo, habisi mereka” seru ayah Maro.
Ia memerintahkan tiga pegawainya untuk mengepung Alea, Raseyan dan Kavindra.
Nobi bersaudara langsung menghalangi upaya mereka semua. Ketiga kucing yang telah bertransformasi menjadi harimau raksasa itu menerjang ketiga pegawai keluarga Maro.
Kavindra mengambil golok yang terjatuh di tanah. Ia cepat-cepat berdiri dan mengacungkan golok itu ke arah Maro.
“Nobi….” bisik Kavindra.
“Ya, Tuan Kavindra?”.
“Lindungi Raseyan…. Aku khawatir…. Ia baru saja pulih dari sakitnya”.
Nobi mengiyakan permintaan Kavindra.
Ia memerintahkan Sobi dan Kobi untuk membawa Raseyan pergi dari area pertempuran.
“Lah, akunya siapa yang jaga?” tanya Kavindra celingukan.
Tidak ada siapapun yang melindunginya.
Ayah Maro tersenyum lebar. Ia melihat sebuah kesempatan untuk melumpuhkan lawannya. Pria itu langsung
menyerang Kavindra dengan membabi buta.
“Mami……………….” jerit Kavindra panik. Ia mencoba melarikan diri dari amukan ayah Maro.
“Kav….”. Alea mencoba menolong sahabatnya. Namun naas, Maro menghalangi gerakan Alea.
“Kau harus berurusan denganku”.
Maro mengacungkan golok tajam tersebut.
Namun, Alea tidak gentar.
Ia memukul mundur Maro dengan tombak yang ia peroleh dari Pushan.
Maro tidak mengira jika Alea mampu menghindari serangan-serangannya.
“Aku salah telah meremehkanmu!”. Maro pun tertawa terbahak-bahak. Ia melempar goloknya ke tanah.
Pemuda itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Terima kasih Maro…. Kini aku akan menjadi penguasa untuk diriku sendiri”. Suara Maro berubah.
Nadanya kini terdengar seperti pria tua yang memiliki suara bariton.
Warna hitam di pergelangan tangan Maro pun mulai menjalar ke bagian tubuh lainnya.
Dalam hitungan detik, seluruh tubuh Maro menghitam. Pupilnya juga berubah warna.
Hitam pekat dan berbau asap.
Begitulah penampakan Maro sekarang.
Sang ibu langsung panik saat melihat kondisi Maro.
“Ayah…..” teriak wanita itu memanggil sang suami.
Ia mulai berteriak histeris saat melihat kulit Maro yang mengelupas.
Ayah Maro berhenti mengejar Kavindra.
Ia berlari mendekati anak laki-laki kesayangannya.
Tubuh pria itu gemetar.
Maro terlihat seperti patung artifak yang sering menjadi koleksinya.
“Ampunnnnn………….. Maro, sadar…. Maro, sadar!!!!!!!!!”.
Pria itu hanya mampu berteriak dari jauh.
Kakinya tidak bisa digerakkan. Sepertinya ketakutan telah membuat nyalinya ciut.
Ia benar-benar khawatir sekaligus merasa berdosa.
“Ayah, selamatkan anak kita!!!!!!!!” tangis sang ibu.
“Ini… ini azab Ibu!!! Ampun… ampun….. saya mengaku berdosa!!!!! Saya mau tobat…..” jerit sang ayah sambil menghaturkan sembah berulang kali ke langit.
“Ayah…. Kamu ngapain?”.
“Ibu ayo cepat ikuti ayah…. Jangan sampai kita mati terkubur cor-coran dan tertimpa
meteor!”.
Wanita itu tidak terima. Ia menghardik suaminya dengan kasar.
“Emangnya kita lagi main sinetron azab-azaban!”. Tanpa pikir panjang, ibu Maro memutuskan untuk menyelamatkan sang anak.
Ia tidak mengira jika nyali suaminya hanya sebesar butiran jagung pop-corn.
“Ibu jangan…………….. itu bukan lagi Maro!!!” ujar Alea memperingatkan.
Namun naluri keibuan telah mendorong wanita itu untuk mendekati Maro.
Ia tidak rela jika anaknya menjadi korban dari keserakan keluarga besar mereka.
Krak…. Krak….
Suara retakan terdengar dari dalam tubuh Maro.
Pelan tapi perlahan, tubuh Maro terbelah menjadi dua. Dari dalam tubuh itu muncul segumpal daging berwarna hitam.
Ayah dan ibu Maro pingsan seketika.
Keduanya tidak sanggup melihat pemandangan keji yang terjadi di depan mata dan kepala mereka.
“Ampun……………… ampun……………………..” teriak kakek Maro penuh sesal.
Ia kini menyesali kebodohannya.
Pria tua itu teringat kejadian tujuh belas tahun yang lalu.
Ia yang sangat tergila-gila dengan hal klenik pun terdorong untuk membuka usaha baru.
Penarikan pusaka dari tanah.
Pencarian harta karun raja-raja dan bangsawan nusantara.
Perdagangan benda cagar budaya melalui pasar gelap.
Itulah jenis usaha yang ia rintis tepat di hari kelahiran Maro.
Masih terbayang di benaknya bagaimana kelahiran Maro membawa sejumlah rejeki yang
tidak terduga.
Lima puluh juta rupiah.
Itu bayaran yang dijanjikan oleh sang kolektor pusaka.
Siapa yang menduga jika pusaka yang ia angkat tersebut memiliki kekuatan yang dahsyat.
Di dalamnya tertidur sesosok dewa misterius yang konon tengah bertapa.
Dewa itu menawarkan sebuah perjanjian yang menggiurkan.
Kekayaan abadi.
Kekuatan mistis yang tidak terhingga.
Usaha yang lancar jaya.
Asalkan Suwarso, nama pria tua itu, membiarkan dewa itu menggunakan tubuh sang cucu yang baru
lahir sebagai medium pertapaannya.
Suwarso, yang saat itu tengah dililit hutang akibat hobinya berjudi, pun mengiyakan tawaran Horrack- nama dewa misterius tersebut.
Sejak itulah, Horrack bersemayam di tubuh Maro.
Ia bak parasit yang mengisap saripati. Melindungi sekaligus menggerogoti.
“Maafkan kakek, Maro sayang…… “ tangisnya pedih.
Pria itu itu tak kuasa melihat daging Maro yang terlempar ke seluruh penjuru rumah.
Kini di hadapannya berdiri sosok asli dewa yang menawarkan perjanjian gelap itu.
Horrack berdiri dengan penuh percaya diri.
Ia berhasil memulihkan seluruh tubuhnya.
Kekuatannya kini jauh lebih besar.
Horrack pun tersenyum lebar.
Upayanya lagi-lagi berhasil.
Para dewa dunia tujuh dimensi kembali gagal menangkapnya.
Horrack mendekati Alea.
Ia pun tertawa puas.
“Hahaha… dewa-dewa bodoh itu kini mengejar tangan palsuku ke dunia transisi. Aku pun menjebak mereka kesana. Pintu keluar dimensi sudah kuledakkan, mereka selamanya terperangkap disana!!! Hahahaha, puas ... puas sekali aku…”.
“Apa? Dunia transisi?” gumam Alea panik.
Kepalanya tiba-tiba sakit. Ada sebuah memori yang tidak bisa ia ingat.
Alea merasa dirinya kembali terpisah dengan sesuatu. Ya, sesuatu yang ia pun tidak
tahu apa.
“Kini aku akan menyerap dirimu… lalu pria itu… dan seluruh pecahan batu bintang yang tersisa itu…. akan membuatku semakin kuat… untuk menghancurkan dunia yang diisi oleh dewa-dewa bodoh itu!!!”.
Horrack dendam.
Ia benci dengan dunia tujuh dimensi yang tidak pernah mempertimbangkan dirinya sebagai calon Kaisar Langit.
Padahal ia memiliki kekuatan yang sangat besar.
Bahkan ia mampu meregenerasi dirinya sendiri, sebuah kemampuan yang hanya dimiliki oleh segelintir dewa.
Ia adalah petarung unggul.
Namun, alih-alih diberikan kepercayaan. Kaisar Langit justru memberikan kekuasaan regional bumi pada dewa-dewa berlevel rendah.
Harga dirinya terusik.
Kaisar Langit tidak pernah memberinya tugas apapun. Kepercayaan apapun!
Ia pun berniat menghancurkan dunia tujuh dimensi, termasuk menggulingkan singgasana Kaisar Langit yang ia anggap tidak kompeten dan lemah.
Horrack pun mulai meniupkan energi keributan di bumi agar para dewa saling bertengkar dan mengedepankan hawa napsunya.
Strateginya berhasil. Beberapa region porak poranda. Horrack semakin percaya diri bahwa ia memiliki kriteria sebagai penerus Kaisar Langit. Bukankah ia adalah ahli strategi yang ulung?
“Aku akan menggunakan tubuh kalian untuk membalaskan dendamku pada Kaisar Langit!!!!!!!!!!!!”
ujarnya sambil melempar energi berbentuk bulan sabit ke wajah Alea.
“Le….”. teriak Kavindra panik.
Serangan itu terlalu cepat.
Kavindra yakin Alea tidak akan mampu menghindar.
“Alea………………………………………………….” jerit Kavindra bak suara cicit tikus yang masuk ke dalam perangkap.
Suara sabetan angin yang kencang pun terdengar.
Kavindra tidak berani membuka mata. Ia yakin kepala Alea kini sudah terpisah dari tubuhnya.
“Maafkan gue Le…. seharusnya gue kasih casing hape itu buat elo… ga usah pake bagi dua…. Seharusnya gue ga itungan…. Padahal cuma satu milyar doang harganya…. Alea….. Alea maafkan gueeeeee” tangis Kavindra sambil memukul-mukul tanah.
Ia benar-benar menyesal.
Sahabat terbaiknya telah tiada.
Alea, soulmatenya untuk menikmati kuliner, kini tinggal nama.
Seharusnya ia meminta Nobi untuk turut menjaga Alea.
Kenapa ia hanya meminta kucing-kucing itu untuk melindungi Raseyan?
“Lea……………………………………….” sesalnya dengan air mata berlinang.
“Apa sih, berisik!”.
Suara Alea membuatnya terkejut. Kavindra pun spontan membuka matanya.
“Ya ampun, Lea…. Lo udah jadi arwah… beneran maapin gue ya, Le….”.
Gadis itu menjitak dahi Kavindra sekuat tenaga.
“Gue masih idup tau! Lo nyumpahin gue "lewat" ya? “.
Kavindra melongo.
“Loh, tadi bukannya elo… uda metong?”.
Alea meminta Kavindra untuk melihat adegan di belakang tubuhnya.
Rupanya serangan Horrack berhasil dipatahkan oleh Nazaxenna yang datang tepat waktu. Menaklukkan
Horrack adalah masalah kecil baginya.
Ia sengaja mengulur waktu.
Nazaxenna hanya membutuhkan pengakuan Horrack mengenai pembangkangannya terhadap langit.
Ia dan Clauss kini telah berhasil merekam emosi dan pikiran jahat Horrack.
Rekaman itu akan mereka gunakan untuk menyeret Horrack selamanya ke penjara langit.
Penangkapan yang sesuai prosedur.
Penangkapan tidak sewenang-wenang yang sangat disukai oleh Nazaxenna.
“Terima kasih Alea…..” Clauss menepuk pundak gadis itu.
Alea tersenyum.
Ia menerima sejumlah dokumen dari tangan Clauss.
“Ini adalah bukti kejahatan Keluarga Maro yang tersimpan di balik cermin. Gunakan ini untuk
menyeret mereka ke penjara manusia. Berikan ini pada polisi yang sebentar lagi datang. Hmm, sepertinya tugas kami sudah selesai, sampai bertemu lagi”.
“Tunggu…..” panggil Alea.
Clauss sempat terkejut. Apakah Alea meminta bayaran jasa? Ia sempat cemas karena tidak memiliki alat pembayaran yang digunakan manusia bumi. Konon, gadis di depannya ini gila harta. Bukankah ia pernah mendengar Alea berteriak-teriak meminta uang kepada Kavindra?
“Norgyunma, Sakra dan dewa berkuping runcing itu terjebak dalam dunia transisi…. Horrack mengunci mereka di sana….” jelas Alea.
Clauss pun menarik napas lega. “Hah, aku kira kamu minta bayaran….aku tidak punya uang”.
“Don’t worry, Kavindra akan memberikan aku satu milyar dengan cuma-cuma. Iya kan Kav?” senyum Alea sambil mengerlingkan mata.
Kavindra menelan ludah.
Ia menyesali ketidaktelitiannya.
Seharusnya tadi ia memberanikan diri untuk memastikan kematian Alea, sebelum terlanjur berbicara yang tidak-tidak.
Nasi sudah menjadi bubur. Kavindra kini memiliki hutang satu milyar. Gengsinya terlalu tinggi. Ia tidak mungkin
menjilat ludahnya kembali.
“Iya…. Apa sih cuma satu M doang! Yang penting elo idup! Besok gue transfer cash!”.
“Yeaaaay…… cicilan apartemen gue lunas…. Gue bisa lanjut nikah…”. Alea tiba-tiba terdiam.
Kepalanya kembali sakit.
Menikah?
“Tapi dengan siapa? Masa iya…. dengan Raseyan lagi?”.
Gadis itu menoleh ke arah Raseyan yang tengah duduk di atas pohon jambu. Nobi bersaudara memutuskan untuk
meletakkan pria itu di cabang pohon yang ada di sudut rumah Maro. Sedari tadi ia mengamati pertempuran sambil mengunyah jambu air bersama ketiga kucing peliharaan Alea.
Naluri Alea mengatakan, ada pria lain di hatinya selain Raseyan.
Tapi siapa?
Siapa yang akan ia nikahi jika bukan Raseyan?
Memorinya.... apakah memorinya hilang, gumam Alea curiga.
***
..... aaaa aku ga sabar, namatin cerita ini!
Seperti biasa ditunggu ya!