
Langit kelabu yang menghiasi Jakarta membuat perasaan Mahesa resah.
Ia buru-buru menelpon Alea.
Walau dewa itu tahu bahwa perbuatannya sia-sia.
Alea tidak ada di dimensi ini.
Ia bisa merasakannya.
Dewa itu mengabaikan panggilan telepati yang terus datang dari Royal Universal, rumah sakit tempatnya bekerja.
Hari ini sebenarnya Mahesa harus menghadiri pertemuan penting terkait dengan lonjakan pasien dengan kebutuhan khusus.
Rumah sakit mereka tidak memiliki obat penyembuh yang dibutuhkan. Oleh karena itu, para dokter diminta berkumpul untuk membahas tindakan yang harus mereka lakukan.
"Lea.....".
Pikiran Mahesa tidak tenang.
Ia tahu bahwa kemunculan langit kelabu tersebut bukan sebuah pertanda baik. Ia sudah lama hidup di langit. Terlebih lagi Lembah Nimbostratus, tempat dimana para dewa melepaskan energi-energi negatif merupakan tempat favoritnya untuk berdiam diri.
Ia sangat tahu bahwa awan kelabu itu merupakan representasi berkumpulnya energi negatif yang mungkin tengah dilepaskan oleh para dewa dunia tujuh dimensi.
"Apakah mereka baru selesai berperang? Tapi melawan siapa?".
Mahesa yang kini tengah menyamar di bumi sebagai seorang dokter pun memutar balik mobil SUV hitamnya. Ia segera mengaktifkan GPS mobilnya agar bisa tiba di rumah Nazaxenna secepat mungkin.
Mantan Kaisar Langit itu tersebut memutuskan untuk tinggal di kota dimana Alea dan Mahesa tinggal. Ia sengaja memilih Jakarta sebagai tempatnya beraktivitas. Nazaxenna membeli sebuah properti bergaya kolonial Eropa di tengah kota. Dewa itu menyukai energi yang tersimpan di rumah mantan pejuang kemerdekaan tersebut. Ia mendesain ulang halaman yang lama tidak terawat menjadi taman-taman bunga bergaya tradisional Inggris.
Kedatangan Mahesa di depan pintu gerbang telah membuat pilar-pilar raksasa rumah Nazaxenna bereaksi. Pilar-pilar tersebut sebenarnya merupakan kamuflase dari dua burung garuda besar yang menjadi peliharaan baru sang mantan Kaisar Langit.
Kedua burung itu bertugas mengamankan rumah dari gangguan makhluk-makhluk sekitar yang tertarik dengan energi milik Nazaxenna.
Tentu saja Nazaxenna sengaja menyembunyikan identitas dan juga penampakan energinya. Namun rumah putih itu sudah menjadi perbincangan hangat para makhluk halus. Mereka tergiur dengan aroma serta jumlah cahaya yang terpancar dari rumah baru milik Nazaxenna.
"Tenang saja... ia tamuku" jawab Nazaxenna yang tengah duduk manis di beranda.
Kedua burung garuda yang oleh manusia awam hanya terlihat sebagai pilar rumah biasa tersebut menurunkan kepak sayapnya.
Mereka membuka pintu gerbang dengan sangat hati-hati.
Di belakang Mahesa sudah berjejal para makhluk halus yang ingin menelusup masuk. Mereka sungguh tergoda dengan aroma yang terpancar dari kediaman Nazaxenna.
"Hai..." sapa Nazaxenna ramah. Ia menyenderkan tubuhnya ke pembatas beranda. Dewa tampan itu menyambut kedatangan Mahesa sambil menyeruput secangkir houjicha latte favoritnya.
"Yang Mulia Nazaxenna...." ujar Mahesa memberi penghormatan.
"Ayo masuk ke ruang bacaku..." ajak Nazaxenna riang. Ia memberi tanda agar Mahesa melompat ke beranda lantai dua.
Anak didik Nazaxenna itu mengangguk. Ia pun lompat ke beranda seperti seekor burung yang lincah.
Mahesa sempat berubah bentuk menjadi Dewa Pushan. Ia tidak mungkin melakukan aksinya tanpa bertransformasi menjadi dewa. Sudah menjadi ketentuan langit bahwa dewa yang menyamar dalam bentuk manusia tidak boleh mempraktekkan kekuatan dewata.
Walaupun sebenarnya Mahesa adalah pengecualian. Levelnya yang tinggi dan takdirnya sebagai penerus tahta Kaisar Langit membuat dewa itu mendapatkan sebuah dispensasi.
"Yang Mulia...".
"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan..." senyum Nazaxenna sambil memasuki ruang bacanya yang dipenuhi kekuatan ajaib.
Mahesa terdiam.
Ia mengikuti langkah Nazaxenna dari belakang. Telinganya yang tajam menangkap ribuan suara denting bel dan rapalan orang yang tengah membaca literatur dalam ribuan bahasa.
Mahesa akhirnya tiba di ruang baca favorit Nazaxenna.
Ruang tersebut dipenuhi dengan ribuan buku yang berasal dari berbagai bidang keilmuan. Ini kali pertamanya Mahesa berkunjung ke ruang baca sang mantan Kaisar Langit. Ia terpukau dengan koleksi Nazaxenna yang beragam.
Lebih jauh, Mahesa sebenarnya kagum dengan susunan buku-buku yang diurutkan berdasarkan relasi kejadian. Hanya dengan sebuah lirikan, Mahesa tahu bahwa akan ada beberapa peristiwa yang segera mengguncang bumi.
Kerusakan lingkungan.
Keseimbangan bumi.
Gerakan seismik.
Kontemplasi alam.
Demikian dominasi judul buku yang menghiasi rak terdekat dari meja belajar Nazaxenna.
"Menyelidiki aku?" goda dewa itu sambil tersenyum manis.
Mahesa menunduk.
Ia nyaris lupa jika Nazaxenna masih memiliki kemampuan membaca pikiran seluruh makhluk yang ada di semesta.
"Aku harus banyak membaca,untuk lebih mengerti pemikiran manusia bumi....".
Jemarinya yang lentik mengambil sebuah buku berjudul The Silent Spring.
"Ini buku lama.... tapi menarik...." tawanya renyah.
"Yang Mulia...." Mahesa memberanikan diri untuk memotong pembicaraan basa-basi ala Nazaxenna.
"Aku tahu... Alea bukan?".
Mahesa mengatupkan bibir.
Dewa itu membetulkan kacamatanya. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam pembicaraan yang tak berguna.
Nazaxenna tertawa kecil. Sifat Mahesa terlalu mirip dengan Kundali, sahabatnya yang kini meneruskan tahta Kaisar Langit.
"Jadi kemunculan para Gosta di Royal Universal tidak membuatmu tertarik ya?".
Pertanyaan Nazaxenna membuat alis Mahesa terangkat.
Kenapa dewa itu membahas lonjakan pasien-pasien aneh di tempatnya bekerja? Apa ada hubungan antara lenyapnya Alea dari dimensi ini dengan kemunculan para Gosta?
Selama satu bulan ini, Rumah Sakit Royal Universal menerima kedatangan para makhluk halus yang tubuhnya sudah mengalami mutilasi. Anehnya, para dokter menemukan sambungan pada setiap bagian potongan
tubuh yang menghilang.
Tubuh-tubuh makhluk tersebut seakan telah mengalami modifikasi. Mereka menduga ada sebuah kekuatan yang tengah melakukan eksperimen jahat dengan makhluk-makhluk halus sebagai korban.
Para makhluk yang tubuhnya mengalami mutilasi namun disambung kembali dengan bagian tubuh dari zat yang berbeda ini dinamakan Gosta.
Gosta merujuk kepada kebiasaan seorang penyihir besar Skandinavia di akhir zaman besi yang sering memutilasi korban untuk kepuasan batinnya. Nama penyihir itu adalah Gosta Cola. Legenda turun temurun menceritakan bahwa Gosta Cola memiliki ambisi untuk menjadi kaki tangan dewa langit. Ia ingin hidup abadi.
Ia menamakan dirinya Gosta, yang dalam bahasa Skandinavia tua berarti pelayan Tuhan, dan Cola yang merujuk pada kegelapan.
Ya, penyihir itu menasbihkan dirinya sebagai pelayan Tuhan Kegelapan.
Ia menyembah Tuhan yang tidak berpihak pada dunia yang dipenuhi kasih sayang dan perdamaian.
Gosta menciptakan dunianya sendiri. Ia tergabung ke dalam persekutuan para pengguna seiðr, yakni para penyihir yang menggunakan kekuatannya untuk meramal dan mengubah masa depan.
Dengan kata lain ia adalah seorang seiðmenn, yakni penyihir laki-laki yang mempraktekkan sihir seiðr.
Mahesa pernah mendengar cerita tentang para penyihir seiðr. Seingatnya para penyihir itu berasal dari desa terpencil di utara Skandinavia. Utusan mereka konon pernah mencoba menjebol pertahanan Naga Lung. Mereka mengirimkan ribuan naga-naga bawah tanah untuk mengepung Naga Lung, sang penjaga pintu dunia tujuh dimensi.
Mahesa mendengar sendiri cerita itu dari Naga Lung yang merupakan pengasuhnya sejak ia masih kecil.
"Apa menurutmu kemunculan Gosta yang mendadak itu?".
Nazaxenna mengangkat kedua bahunya.
"Kira-kira?".
"Lalu Alea?" desak Mahesa.
"Kira-kira?".
Mahesa langsung bersimpuh di hadapan Nazaxenna.
"Kumohon... Yang Mulia tahu aku tidak bisa berpikir jernih jika ini mengenai Alea".
"Ya, ya... aku tahu. Oleh karena itu, kami belum bisa mengangkatmu sebagai penerus tahta. Kau masih harus belajar banyak dewa kecilku".
Nazaxenna menyodorkan secangkir houjicha latte ke wajah Mahesa.
"Ayo bangun...kau butuh minuman ini untuk berpikir".
Dewa itu membantu Mahesa berdiri. Ia memaksa Mahesa untuk minuman yang terbuat dari racikan teh hijau Jepang dengan susu panas tersebut.
Mahesa terperanjat. Setiap tetes houjicha latte tersebut menjawab setiap rasa penasarannya.
Tetesan houjicha latte itu mengandung memori dan juga pengetahuan yang dibutuhkan oleh Mahesa.
Nazaxenna mengerlingkan mata.
Mantan Kaisar Langit itu memang terkenal dengan sifatnya yang riang dan juga senang berteka teki. Ia adalah antitesa dari Kundali yang berwajah dingin dan juga tegas.
"Yang Mulia....".
"Ya, seperti yang tengah kau lihat....".
"Tapi bukankah? Kenapa harus terulang lagi? Bukankah aku dan Alea sudah seharusnya hidup bahagia?".
"Ya kalau langsung happy ending.... cerita kalian tamat dong" goda Nazaxenna.
Mahesa mengernyitkan dahi.
Selama beberapa bulan ini ia mengira jika Kundali akhirnya membiarkan ia dan Alea hidup selayaknya pasangan normal. Sejak kepulangan mereka dari peradaban awal, Mahesa menikmati hari-harinya sebagai kekasih Alea. Manusia bumi yang bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit kamuflase milik langit. Tidak sedetik pun ia membiarkan dirinya berlarut-larut dalam pekerjaan. Ia tidak ingin lagi kehilangan momen bersama Alea.
Namun, dugaannya salah. Sebagai dewa yang menyamar sebagai manusia, rupanya ia tidak mungkin menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya.
"Kamu harus mempercayai bahwa Alea bisa...." nasehat Nazaxenna.
Mahesa terdiam.
Ia menyesal telah membiarkan Alea pergi tadi pagi.
Gadis itu kini kembali hilang dari pandangannya. Entah untuk berapa lama.
"Sementara itu kau uruslah para Gosta tersebut.... hingga kau bisa menemukan siapa penyebab dari kekacauan ini... dan saat itu kau pergilah menemui Kundali. Minta izinnya agar kau bisa kembali masuk ke dunia transisi".
Mahesa tertunduk lesu.
Ia sudah rindu dengan Aleanya.
"Kenapa harus dia?" tanya Mahesa lagi.
"Pemuda itu? Ya dia kan sainganmu...." goda Nazaxenna puas.
"Yang Mulia....". Mahesa merengek. Ia berharap kali ini rengekannya didengar. Ia pun meniru wajah Alea saat tengah merayu Nazaxenna.
Dewa itu mendorong tubuh Mahesa ke belakang. Baru kali ini ia protes dengan ulah anak didiknya.
"Kamu ga pantes pasang muka imut gitu...". Nazaxenna bergidik. Ia terlihat geli dengan ulah Mahesa.
"Ah, maafkan aku Yang Mulia" ujar Mahesa tersadar.
Ia kembali tertunduk lesu.
Bayangkan saja, ia harus menyelesaikan sejumlah teka-teki agar bisa membawa Alea pulang kembali ke sisinya.
"Dasar Raseyan kurang ajar! Seharusnya kubiarkan saja dia mati di gua itu" gerutunya kesal.
Mahesa menyesali perbuatan bodohnya. Entah kenapa ia mengiyakan saja instruksi Kundali untuk mengunci pintu benteng Sundayana untuk selamanya.
Di sanalah ia menemukan Raseyan yang tengah sekarat. Air mata Andulu dan Amatya membuatnya terenyuh. Mereka meminta Mahesa untuk menyelamatkan sang Raja, atau setidaknya membiarkan Raseyan meninggal di dalam alam yang lebih indah.
Mahesa saat itu tidak berpikir panjang. Ia pun membuka pintu dunia paralel dan memindahkan Raseyan ke sana.
Ia percaya bahwa Raseyan tidak akan lagi mengganggu asmaranya dengan Alea. Lagipula, tidak ada alasan bagi gadisnya untuk terdampar di dunia paralel masa lalu.
Mahesa mengelabui Amatya dan Andulu, berkata bahwa dunia baru yang mereka tempati adalah Gunung Padang yang terbentuk setelah pergerakan bumi pada awal Holosen mereda. Mereka akan bertemu dengan penduduk baru namun dengan pola pikir yang lebih sederhana. Mahesa sengaja memberi ketiganya kemampuan untuk berkomunikasi dengan manusia-manusia dari zaman batu. Dewa itu juga berbaik hati mencarikan wanita-wanita yang ia harap bisa menjadi istri Raseyan di kemudian hari.
Ia tidak percaya jika Raseyan masih menyimpan rasa pada Alea.
"Apa yang telah ia lakukan sehingga bisa mencuri Aleaku lagi dari masa depan? Lagipula kenapa sih dia masih saja mengincar Aleaku? Kan sudah kukasih banyak perempuan disana. " gumamnya penuh emosi.
Nazaxenna menimpali pikiran Mahesa.
"Lah kamu sendiri kenapa masih suka sama Alea?".
"Aa...a........." Mahesa kehabisan kata-kata. Ia lupa jika Nazaxenna bisa mendengar kata hatinya.
"Sudah sana.... kembali kerja. Atau kulaporkan pada Kundali kalau kau bermalas-malasan di bumi" ancam Nazaxenna dengan senyum manisnya.
Mahesa sungguh tahu kengerian di balik senyuman manis Nazaxenna.
Selama ini ia tidak pernah bercerita pada Alea kenapa para dewi di dunia tujuh dimensi tidak ada yang tertarik dengan sosok Nazaxenna. Bahkan Thera, dewi tercantik di dunia tujuh dimensi saja tidak memiliki keinginan untuk menjadi pendamping mantan Kaisar Langit tersebut.
Nazaxenna sebenarnya adalah sosok dewa perang. Ia merupakan sesosok pemburu ulung. Ia menyembunyikan seluruh kemampuannya di balik dua wajah yang sering ditampilkannya ke penduduk langit. Pertama, wajah yang menyerupai tetua yang bijaksana. Ini adalah wajah yang dilihat Alea saat ia berpetualang pertama kali ke dunia tujuh dimensi. Ia sering menggunakan wajah ini jika bertemu dengan penghuni dari dimensi yang berbeda.
Wajah kedua adalah sesosok pemuda manis yang saat ini ia tunjukkan kepada Alea. Wajah asli Nazaxenna inilah yang membuat Alea terlena. Namun bagi Mahesa, wajah asli Nazaxenna jauh lebih mengerikan dari wajahnya saat menyerupai seorang manusia tua.
Itu adalah wajah yang tidak bisa dibaca oleh siapapun.
Tertawa padahal menguji.
Tersenyum padahal menghukum.
Tak heran sebelum diangkat menjadi Kaisar Langit, ia terkenal sebagai The Smiling General.
Ia adalah Nazaxenna, jenderal yang membunuh para pembangkang dunia tujuh dimensi dengan kekuatannya yang tidak terkira.
Mahesa pun undur diri.
Ia khawatir jika Nazaxenna benar-benar mempengaruhi penilaian Kundali terhadap dirinya.
Kini ia harus bergegas kembali ke Royal Universal dan menemukan pelaku di balik lonjakan Gosta yang mendadak di bumi!
***