
Alea tentu tidak pernah mengira jika suatu hari ia akan kembali mengunjungi benteng Sundayana. Ia pelan-pelan menelusuri koridor gelap yang menghubungkan pintu masuk benteng dengan bilik dalam benteng.
"Kav... Kav... ini pintu masuk yang mana ya? Kok gue ga bisa recall?". Alea curiga. Jalan masuk koridor yang ia lalui seperti berbeda. Apakah gempa bumi telah mengubahnya? Atau memang koridor ini merupakan jalur pintu masuk yang tidak pernah ia ketahui?
"Ini kan uda lama kita tinggalin... wajar aja kalau terjadi perubahan..." jawab Kavindra sambil meraba-raba dinding. Pria itu menyalakan penerangan dari ponsel. Ia sempat berteriak saat melihat wajah Alea yang tengah berdiri di sebelahnya.
"Apa sih!" omel gadis itu sambil memukul pundak Kavindra.
Dugaan Alea tidak salah. Ini bukan koridor yang mereka kenal. Tidak ada tempat untuk menaruh obor di dinding. Bahkan, koridor tersebut terlalu lebar untuk dilalui mereka berdua.
"Ada cahaya Le disana...." bisik Kavindra.
Gadis itu memicingkan mata. Ia melihat seberkas sinar tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kavindra terpaku. Nyalinya ciut. Pria itu menarik lengan kemeja Alea.
"Le... lo jalan duluan ya... gue di belakang".
"Takut?".
"Ya nggak mungkin lah gue takut! Gue mau lindungin elo.... makanya harus jalan di belakang".
"Ah, alasan aja kali. Takut ya?" goda Alea.
"Gue mengadopsi prinsip Tut Wuri Handayani! Guru yang baik itu mendorong dari belakang untuk kemajuan muridnya".
Alea mencibir Kavindra yang jago berkelit.
"Sejak kapan elo jadi guru gue? Udah bilang aja takut!".
Gadis itu melangkah dengan hati-hati. Aroma petrikor yang kuat mendorong keberaniannya untuk maju ke depan. Di tengah kegelapan tersebut, Alea mendengar sayup-sayup kicauan suara burung kecil.
"Kuntilanak kah sis?" tanya Kavindra dengan suara pelan. Pria itu takut, dan Alea tahu itu. Suara Kavindra yang memelas membuat Alea cemas. Suara kicauan burung itu jelas telah membuat bulu kuduknya berdiri. Konon, suara burung kecil atau anak ayam merupakan tanda kemunculan makhluk halus misalnya mbak kunti.
Alea merogoh tas selempangnya. Ia mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Gadis itu akhirnya mengeluarkan payung lipat dari tas. Meskipun ia tidak tahu apakah payung itu dapat mengalahkan mbak kunti, tapi yang pasti memiliki senjata itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Le....".
"Sst...". Alea memarahi Kavindra yang sedari tadi memanggil namanya.
"Ada tangan Le.... punggung gue dicoel-coel ama sesuatu" ujar Kavindra menahan tangis.
"Perasaan kali Kav...".
"Nggak, Le... tajam gitu... kayanya kukunya..." suara parau Kavindra terdengar meyakinkan.
Alea masih berusaha cool. Gadis itu tidak ingin Kavindra tahu jika sebenarnya ia juga ketakutan.
"Le...... kaki gue.... sekarang kaki guee..... dicoel-coel..." tangis Kavindra lebih kencang. Pria itu menyorongkan kakinya ke arah Alea. Tentu saja Alea spontan berteriak saat merasakan sesuatu yang tajam tengah menggores kulit kakinya. Gadis itu berlari terbirit-birit ke arah sumber cahaya.
"Le... tunggu" jerit Kavindra panik. Ia tidak mau terjebak sendirian di dalam gua. Pria itu menggunakan seluruh kekuatan untuk mengejar Alea yang sudah hampir tiba di mulut pintu keluar.
Brak! Kavindra pun menabrak punggung Alea.
"Le... kenapa...".
"Ju...jurang bro!".
Gadis itu meminta Kavindra untuk melihat pemandangan yang terhampar di depan mereka. Suara burung yang mereka dengar rupanya berasal dari tempat tersebut.
Dan itu bukan suara burung kecil! Melainkan suara burung besar yang Alea sendiri tidak tahu namanya. Wajahnya menyerupai elang tapi bulu-bulu burungnya terlihat seperti merak. Warna warni bulu burung itu membuat Alea dan Kavindra terkesima. Jumlah mereka tidak hanya satu, tapi lebih dari empat ekor!
Alea berupaya meraih akar pepohonan di dekatnya. Ia menarik akar itu untuk memastikan kekuatannya. Bak seekor monyet, Alea pun menggunakan akar gantung tersebut untuk berpindah tempat. Ia berhasil meraih pijakan yang lebih kuat, yakni cabang pohon yang berada tidak jauh dari mulut pintu keluar.
Kavindra menelan ludah. Jika saja tadi ia mendorong tubuh Alea, gadis itu pasti sudah mati. Kedalaman jurang yang ada di bawah kakinya tidak bisa ia prediksi. Yang jelas, kalau jatuh, pasti mati.
Celah pintu keluar itu ternyata berada di dinding tebing. Hanya ada batu patahan selebar telapak tangan manusia yang menyangga lubang pintu keluar. Batu patahan itu bahkan tidak bisa dikategorikan sebagai jalan setapak. Terlalu sempit dan juga berbahaya.
"Kav, ayo...".
Kavindra menatap ke arah pohon besar yang cabangnya seakan terjulur ke arah lubang pintu keluar. Ia tidak percaya jika pohon tersebut berdiri tegap seolah-olah akarnya berada nun jauh di bawah jurang. "Setinggi itukah pohon ini?". Dada Kavindra berdegup. Jika ia melompat, itu artinya ia menyerahkan diri sebagai pengikut setia perjalanan misterius Alea. Tapi jika ia kembali ke pintu masuk gua, itu berarti ia harus berhadapan dengan sekumpulan pemuda bau kencur yang menamakan dirinya The Great Destroyer.
"Kav..." panggil Alea dengan wajah sumringah.
Gadis itu nampak gembira dan tentu saja Kavindra tahu kenapa.
Pria itu menarik napas panjang. Ia mencoba mengikuti Alea yang menggunakan akar gantung pepohonan untuk berpindah tempat.
"Awuwo.................................." teriak Kavindra lantang. Tingkah lakunya persis seperti Tarzan sang manusia rimba. Ia memukul dada berulang kali, menjiwai peran barunya di zaman purba.
"Sst... jangan berisik...". Alea berusaha memperingatkan Kavindra agar tidak menarik perhatian para burung yang tengah terbang di angkasa. "Kalau mereka karnivora, habislah kita..." bisik Alea.
Kavindra terdiam. Ia memperhatikan paruh hewan-hewan aneh yang berterbangan di sekitarnya. Benar juga kata Alea, gumam Kavindra. Paruh para burung itu sangat besar. Bisa jadi mereka berdua langsung mati hanya dalam sekali telan.
"Minta maaf ama mbak kunti., ternyata bukan dia pelakunya!"omel Alea sambil membersihkan ranting-ranting tajam dari tubuh Kavindra. Saat pria itu bergerak di dalam koridor, sepertinya ranting-ranting kering tersebut tanpa sengaja menempel di pakaian dan celananya.
Kavindra hanya bisa tersenyum kecut. Ia sadar akan kesalahannya. Setelah membersihkan ranting-ranting tersebut, Alea mengajak Kavindra untuk melakukan eksplorasi.
"Le... pelan-pelan...". Kavindra mencoba mengikuti langkah riang Alea. Ia mengutuk sahabatnya yang tidak pernah kapok untuk berpetualang ke masa lalu.
"Harusnya dia ga usah jadi penerjemah... bagusnya dia jadi guru sejarah aja biar bisa cerita tentang kehidupan masa lalu...." cibir Kavindra.
"Gue denger...." timpal Alea.
"Hahaha... itu pujian Le.... ".
"Gue tau lo boong ....".
"Sial..." umpat Kavindra dalam hati. Akhir-akhir ini ia merasa jika intelektualitas Alea sedikit meningkat dan kepolosannya berkurang. Gadis itu mulai bisa membaca situasi. Ia tidak lagi mudah percaya pada kata-katanya. Selain itu, ia juga semakin lihai dalam membaca jebakan usil yang sudah susah payah ia ciptakan.
"Udah gede dia... ga seru" gumam Kavindra sambil melengos lesu.
Alea melompati cabang-cabang pohon raksasa di depannya dengan sangat lincah. Ia terus bergerak maju seakan-akan sudah menguasai medan. Gadis itu menggunakan akar-akar pepohonan yang bergelantungan untuk menopang gerakan. Ia berpindah tempat dari satu pohon ke pohon lain dengan lancar.
Kavindra mencoba mengikuti gerakan Alea yang gesit. Tangannya sakit saat harus menggenggam akar pepohonan bertekstur kesat. Di samping itu, ia tidak bisa melepaskan pandangan dari pepohonan yang ia lompati. Fakta bahwa mereka tumbuh dari bawah jurang membuat keringat dinginnya bercucuran.
"Sebesar apa, setinggi apa pepohonan ini?" tanyanya penasaran.
Kavindra kembali memanggil Alea yang kini hampir melompat ke arah tebing yang sepertinya terbentuk dari bebatuan komatit.
"Le.... tunggu.....". Pria itu menyusul gerakan lincah Alea. Ia menarik tangan gadis itu dan memperingatkannya untuk bergerak lebih pelan.
"Elo yakin kita bisa pulang? Kita ga mendingan balik aja... hadepin itu para pemuda ingusan?".
"Emang selama ini elo ikut gue yakin bisa pulang? Dulu jika kita ga pernah tau kan... bisa pulang atau ngga?".
Salah bertanya.
Itu kesimpulan akhir Kavindra.
"Terus sampai akhir, gue tetep jadi figuran gitu? Padahal sekali-kali harusnya gue jadi tokoh utamanya..." umpat pria itu dongkol.
Mereka berdua menuruni tebing dengan hati-hati. Sambil mengamati pemandangan sekitar, Alea dan Kavindra tahu jika kini mereka tengah berada di zaman yang berbeda. Koridor benteng Istana Sundayana yang mereka temukan telah membawa keduanya ke tempat misterius, dunia aneh yang dideskripsikan dalam halaman terakhir Raseyan sebagai dunia transisi.
"Kenapa Mahesa ga kasih tau gue ya?".
"Tentang?".
"Fakta bahwa Raseyan terjebak di dunia yang berbeda".
"Cemburu lah..." tukas Kavindra cepat.
"Ya, at least... aku ga ngerasa bersalah.... sesimpel itu padahal".
"Karena?".
Alea membalikkan badan.
"Karena? Maksudnya?".
"Kenapa merasa bersalah?".
Gadis itu menepuk perutnya.
"Karena gue belon bilang kalau gue ga hamil.... dan gue juga pengen pamit dengan baik-baik".
Kavindra menimpali perkataan Alea.
"Berarti ada rasa cinta yang tersembunyi itu...".
"Hush, sembarangan. Ade kecil itu... berondong!!" tepis Alea.
"Kalau nggak ada rasa, kenapa mau ketemu lagi? Kan biarin aja dia ga tau... dan kan elo udah say goodbye.... mau goodbye kek gimana lagi? Pake party-party trus dia senyum-senyum ngedadahin elo?".
Alea terdiam. Perkataan Kavindra ada benarnya. Kenapa ia terus dihantui rasa bersalah? Lagipula jika ia harus mengucapkan kata-kata perpisahan sekali lagi, akankah Raseyan melepasnya dengan senyuman tulus?
Langkah kakinya terhenti.
"Ya udah kita balik aja yuk...".
"Kenapaaa ga bilang dari tadi!!!!!!" omel Kavindra kesal. Tangannya sakit dan ototnya kaku. Bergelantungan di akar pepohonan bukan bakatnya. Seandainya saja Alea mengurungkan niatnya dari tadi, umpatnya kesal.
Saat Kavindra mencoba menggapai akar pepohonan untuk menapaki jalan pulang, tiba-tiba akar pepohonan itu bergerak sendiri.
Pria itu mundur beberapa langkah, terkejut dengan fenomena yang terjadi di hadapan mereka. Akar-akar pepohonan itu mengerut dengan cepat. Begitu juga dengan batang-batang pepohonan yang menjadi pijakan mereka tadi. Mereka seolah-olah menarik diri dari permukaan terdekat. Cabang pepohonan itu bergerak melingkari batang utama. Dedaunannya ikut bersembunyi. Dalam sekejap, seluruh pohon yang mereka lewati kini terlihat seperti tugu-tugu raksasa yang menjulang tinggi.
"Le...." suara Kavindra kembali terdengar memelas.
Alea masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kenapa pepohonan itu mengerutkan diri? Ia pun mengalihkan pandangan ke burung-burung yang mulai meninggalkan angkasa.
"Matahari Kav.... sepertinya mereka bereaksi terhadap matahari yang terbenam".
"Jadi kita harus segera cari tempat berteduh... gue ga mau jadi santapan hewan liar" seru Kavindra.
Alea setuju. Sambil menunggu pagi datang, ada baiknya mereka mencari gua untuk berlindung.
Ajakan Kavindra untuk menuruni tebing diiyakan oleh Alea. Mereka mendengar suara gemericik sungai tak jauh dari tempat mereka berdiri. Mungkin sebelum tidur, mereka bisa menangkap beberapa ekor ikan untuk makan malam.
"Sungai Le... sungai..." ujar Kavindra senang. Pria itu langsung mencari sebongkah batu tajam dan ranting pohon berdiameter sedang untuk menangkap ikan.
"Edan.. menjiwai pol...." kekeh Alea sambil mencoba mencari celah bebatuan yang bisa mereka gunakan sebagai tempat bermalam.
Gadis itu tertegun saat melihat goresan di bebatuan.
Feelingnya mengatakan bahwa goresan itu memiliki makna. Ia pernah melihat bentuk goresan itu di sebuah tempat.
"Le.... di ujung situ ada tempat kaya gua..." ujar Kavindra sambil menunjuk ke balik air terjun berukuran sedang.
Alea menoleh. Ia setuju dengan usul Kavindra. Tempat tersebut terlihat aman untuk dihuni. Gadis itu meninggalkan batu bergores dan bergabung dengan Kavindra yang sudah berhasil menangkap dua ekor ikan berukuran besar.
"Wah, jago..." puji Alea. Gadis itu cepat-cepat memungut bebatuan dan ranting-ranting yang akan digunakan untuk membuat api unggun. Ia dengan sigap mengambil batu tajam di dekatnya untuk membersihkan sisik ikan.
Namun gerakan Alea terhenti saat ia mengamati batu tajam tersebut.
"Kav...".
"Iya?" timpal pria itu sambil mengeringkan kakinya yang basah.
"Ini.... batunya...".
"Kenapa?".
"Kayanya batu asahan". Alea mengamati sisi batu yang sepertinya telah mengalami proses asahan. Ketajamannya tidak alami. Alea juga dapat melihat sisa noda darah yang telah pudar.
"Lo jangan nakutin gue Le!" ujar Kavindra. Pria itu buru-buru mengenakan kedua sepatunya. Ia melirik ke arah sekitar, memastikan bahwa mereka berdua tidak sedang menjadi target pembunuhan.
"Le... bukan manusia kanibal kan yang penting?" bisik Kavindra cemas.
Alea menggeleng. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Kavindra.
Keduanya kemudian dikejutkan oleh suara gesekan dari balik semak-semak. Alea spontan mengambil ranting besar di dekatnya. Ia mengeluarkan saputangan dari kantung kemejanya. Gadis itu buru-buru mengikatkan saputangan untuk mengikat batu tajam tersebut ke gagang ranting.
"Wah... elo beneran kek manusia purba" puji Kavindra kagum saat melihat senjata buatan Alea.
"Psst... waspada".
Suara tersebut semakin terdengar jelas.
Alea dan Kavindra mundur pelan-pelan. Jantung mereka berdegup kencang.
Siapakah sosok yang kini tengah mengintai keberadaan mereka berdua?
**** hutan purba?
Macan gigi pedang?
Atau manusia kanibal seperti imajinasi Kavindra?
***