Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 22. Penyesalan



Penyesalan Gosta Cola sepanjang hidupnya ada banyak.


Tapi sampai kapanpun ia akan selalu mengingat penyesalannya merekrut tujuh pemuda super lemot untuk misi pentingnya.


Gosta Cola pun terpaksa turun tangan.


Ia mengotori tangannya sendiri dengan ilmu yang tidak ingin ia praktekkan.


Sebenarnya penyihir itu tengah melaksanakan sebuah ritual pembersihan.


Sebelum menerima kekuatan besar, ia biasanya melakukan pembersihan diri agar dapat mengadopsi energi yang baru.


Ia sengaja merekrut pemuda-pemuda lokal sebagai perpanjangan tangan.


Dengan demikian, ritualnya tidak terganggu.


Selama 40 hari, ia hanya boleh menyiksa orang satu kali selama satu hari. Sisanya, ia harus menghindari perkelahian dan tidak boleh sampai membunuh manusia. Selain itu ia tidak diperbolehkan makan daging hewan sampai ritualnya selesai.


Oleh karena itu semalam, ia menyuruh The Great Destroyer itu menyiksa Raseyan. Sayang sekali hari ini, ia terlalu kesal sehingga telah menggunakan kesempatan satu siksaan satu hari. Ya, kesempatannya telah selesai. Ia tidak boleh melakukannya lagi.


Gosta Cola benar-benar berada di dalam dilema besar. Ini adalah hari ke-39nya. Apakah ia harus melepaskan dua manusia di depannya begitu saja?


Atau sebaiknya ia melanggar pantangannya?


“Lari, Alea… ia mengincar pecahan batu bintang” bisik Raseyan lemah.


“Tidak…. Tenang saja, kita ada bantuan… Kavindra… loh loh mana dia?” Alea baru sadar kalau ia


tengah berjuang seorang diri. Di sekelilingnya tidak ada Kavindra, Clauss maupun Nazaxenna.


“Cih!” gumam Alea kesal.


Ia baru sadar kalau perbuatannya mungkin tidak sesuai dengan strategi Nazaxenna.


“Wah kalau begitu jangan sampai Gosta Cola tahu kalau dia tengah dimata-matai Nazaxenna. Aku harus berpikir bagaimana cara untuk kabur dari tempat ini bersama Raseyan” gumam Alea.


Sementara itu, Gosta Cola masih dilanda kebingungan.


Ia sebentar-bentar menjambak rambutnya sendiri.


Terkadang ia tertawa lalu menangis.


Para anggota The Great Destroyer pun bingung.


“Mungkin ini strateginya biar musuh lengah” bisik Damar.


“Bisa jadi, berpura-pura gila ya?” duga Leon.


“Iya, nanti kalau musuh lengah, bisa langsung ditangkap….” timpal Awi.


“Kita diem aja dah daripada salah…” ajak Leon.


Ketiganya pun mengangguk.


 


Alea mencoba mengambil kesempatan saat Gosta Cola masih sibuk dengan dirinya sendiri.


Ia menarik tubuh Raseyan, mencoba melarikan diri bersama dengan pria itu.


“Alea, aku akan menghalangimu… tinggalkan aku saja. Kau harus selamat, sayang”.


Alea menatap wajah Raseyan yang penuh luka.


“Bodoh… kau kira aku bisa tidur tenang setelah melihatmu seperti ini?”.


“Wah, benar-benar berita baik. Aku akhirnya ada di dalam pikiranmu” senyum Raseyan lemah.


 


Pemuda itu jatuh roboh ke tanah.


Ia tidak kuat lagi menahan luka akibat pukulan dan tendangan Rico dan kawan-kawan


semalam. Lukanya terlalu dalam. Sepertinya ada organ dalamnya yang pecah.


“Ras… Ras…..” tepuk Alea panik.


“Mau kemana kamu?!!!” saat melihat Alea dan Raseyan sudah berpindah tempat, Gosta Cola pun tersulut.


Ia segera mengambil keputusan.


Apalagi jika bukan mengeluarkan batu brisingamen dari tubuh dua manusia itu dengan mantra rahasianya.


Penyihir itu mengangkat tongkat sihirnya yang terbuat dari tulang manusia.


“Dwalra….dwalra….. “. Gosta Cola membaca sejumlah mantra yang sudah ia pelajari sejak lama.


Mantra itu adalah mantra untuk menarik pusaka dari tanah maupun tubuh manusia.


 


“Arghhhhhhhhhhhhhhhh……………………..” teriak Raseyan kesakitan. Dadanya perih. Ia merasakan ada


sesuatu yang mencoba menarik jantungnya dengan paksa.


“Raseyan!!!!”.


Alea betapa sakitnya proses pengeluaran pecahan batu bintang dari tubuh. Terlebih lagi, proses itu dilakukan oleh penyihir yang diselimuti energi jahat.


Tanpa pikir panjang, Alea pun menerjang Gosta Cola.


Pedang Alea berhasil mengenai pipi penyihir itu. Darah pun mengucur dari pipi kanan Gosta Cola.


“Kau pikir kau bisa mengalahkanku wahai gadis bumi?”.


“Kau belagak seperti dewa. Padahal kau tak lain hanya manusia yang patut dikasihani!” seru Alea.


Gosta Cola tersulut.


“Aku akan menjadi dewa dan memusnahkan umat manusia!!!!!!!!!!!!!” teriaknya sambil melepaskan mantra sihir.


Alea terkejut saat melihat penampakan sosok beruang buas keluar dari tongkat Gosta Cola.


Gigi-gigi tajam beruang itu berupaya melukainya.


Gosta Cola tertawa, ia yakin bahwa mantranya manjur.


Gadis itu akan terbunuh dan ia dapat mengambil pecahan brisingamen dari tubuh Alea.


 


Dar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


Ledakan suara yang kencang pun terdengar.


Gosta Cola tercengang.


Di depannya tergolek kepala beruang yang lahir dari mantra saktinya. Kepala hewan tersebut telah terpisah dari tubuh utama.


Ia segera mendongakkan kepala.


Betapa terkejutnya Gosta Cola saat melihat asap putih yang kini menyelimuti Alea.


“Tidak mungkin, masa pedang gadis itu mampu membunuh beruang jagoanku?” tanya Gosta Cola


tidak percaya.


Ia kemudian bangkit dan membaca mantra lain.


“Kau kira bisa mengalahkan a….. a-ku”.


Mantranya terhenti.


Mata Gosta Cola menangkap sesosok bayangan yang keluar dari asap putih.


 


“Siapapun yang berani menyentuh Aleaku akan mati!”.


Suara Pushan yang menggelegar membuat Gosta Cola ciut.


Siapa dia, gumam penyihir itu panik.


Gosta Cola yakin bahwa sosok di depannya adalah dewa berlevel tinggi.


Aura Pushan terlalu kompleks untuk ukuran dewa.


Sorotan matanya dingin seperti seekor elang yang siap membunuh mangsa.


“Siapa kamu?! Kenapa kau menghalangiku?” teriak Gosta Cola mencoba membela diri.


Ia sebenarnya takut.


Jika dewa itu berpihak pada kedua manusia yang ia kejar, maka tamatlah riwayatnya.


“Tuan ngompol…………….” tunjuk Nando polos.


Gosta Cola terbelalak.


Kecemasannya telah mendorong berbuat sesuatu yang memalukan.


“Ini bukan…. Bukan!!!!” ujarnya menutupi fakta.


 


“Heaa……” Pushan melempar energinya. Gosta Cola pun terpental dengan keras. Tubuhnya menabrak pepohonan hingga puluhan cabang pohon-pohon tersebut patah.


Mata Pushan benar-benar diselimuti amarah.


Siapa yang berani melukai Aleanya? Cari mati, gumamnya kesal.


“Dewa…hentikan!!!! Kita tidak boleh membunuhnya…..” ujar Sol menghentikan langkah Pushan.


Norgyunma buru-buru menotok tubuh Pushan.


Sang dewi menghentikan gerakan sang sahabat dengan kekuatan paling maksimal yang ia punya.


Ia memberi kode agar Pushan mengendalikan diri.


 


Sol mengikat Gosta Cola yang nyaris pingsan dengan cincin api langit.


Ia tersenyum lebar karena berhasil menangkap manusia yang sudah menghancurkan hidupnya.


“Ini untuk Glenr yang kau bunuh” ujar Sol sambil tersenyum puas.


“Kau? Sol…..istri Glenr?”.


“Ya, aku berhasil selamat untuk membalaskan dendamku padamu….. kini kau akan merasakan pedihnya penjara langit!”.


Gosta Cola tertawa.


“Kau tidak bisa menahanku di sana.. aku belum menjadi dewa…..” tawa sang penyihir.


“Kau salah…..”.


Sol menempelkan sebuah batu hitam ke tubuh Gosta Cola. Setelah bertemu dengan penyihir itu, Sol segera melakukan penyelidikan. Ia pun jadi tahu jika Gosta Cola selalu menempelkan batu pusaka yang ia kumpulkan ke sekujur tubuh.


“Mati kau sekarang…. Kau akan menjadi dewa karena batu ini”.


“Tidak……………” jerit Gosta Cola panik.


 


Batu yang ditempelkan tersebut adalah andradit langka, pusaka yang lahir setelah pengorbanan


ksatria gagah berani di pegunungan Wudang, Tiongkok.


“Ksatria itu kesayangan para dewa…. Aku akan memberi tahu mereka bahwa kau yang menyebabkan


kematian sang ksatria” tawa Sol licik.


“Tidak….. tidak……” Gosta Cola benar-benar panik. Ini bukan cara yang ia inginkan untuk menjadi dewa.


Ia pernah mendengar mengenai batu andradit langka. Pusaka itu berhasil membuat sesosok siluman ular level bawah bertransformasi menjadi naga langit. Sayang sekali, penyamarannya terkuak. Ia memang berhasil memasuki dunia para dewata, tapi sebagai penghuni penjara langit.


Sungguh Gosta Cola tidak menduga jika Sol akan menggunakan batu andradit langka tersebut untuk memfitnahnya.


Tubuh Gosta Cola mulai berubah tekstur. Darah merah mulai berhenti mengaliri tubuhnya. Warna darahnya berubah menjadi keunguan seperti layaknya para dewa yang hidup di langit.


“Tidak akan ada yang percaya padamu… aku sekarang adalah kepala penjara langit…. Aku dapat menangkap siapapun yang aku mau” ejek Sol. Ia memandang manusia yang sejak lama ingin dibunuhnya.


Kejahatan Gosta Cola tidak bisa dibalas oleh penjara manusia.


Sol sudah membayangkan suatu hari ia akan berhasil menyeret Gosta Cola ke penjara langit. Ia sendiri yang akan menyuruh para penjaga untuk menguliti kulit penyihir jahat itu, lalu membakarnya tanpa henti hingga Gosta Cola menyesal pernah dilahirkan ke bumi.


“Dan berkatmu… aku akan menjadi pendamping Kaisar Langit berikutnya” tawa Sol sambil mengangkat paksa Gosta Cola.


“Kaisar Langit?” tanya penyihir itu bingung.


“Ya, calon suamiku yang baru, pengganti Glenr…. “ ujarnya sambil menoleh ke arah Pushan.


 


Wajah Sol seketika berubah.


Ia baru saja melihat pemandangan yang membuat hatinya pecah berantakan.


Pushan kini tengah menggendong gadis manusia dengan tatapan mesra.


 


“Alea… Alea….” ujar Pushan menumpahkan rindu.


“Ma-he-sa?”. Alea tidak mengira jika Mahesa benar-benar datang.


Air matanya tumpah.


Alea hampir putus asa. Ia kira tidak ada lagi harapan baginya untuk bertemu Mahesa.


Gadis itu pun seketika teringat dengan kehadiran Nazaxenna di dunia transisi.


“Gawat…kau tidak boleh ada disini. Nazaxenna, Nazaxenna….”.


Pushan menutup bibir Alea dengan telunjuknya.


“Aku sudah tahu…. Yang Mulia yang melindungimu selama ini kan?”.


 


“Ah iya, Raseyan… tolong Raseyan, ia terluka parah!”. Alea spontan turun dari gendongan Mahesa. Ia mencari keberadaan Raseyan yang tadi terjatuh di permukaan tanah.


“Apa?!” tanya Mahesa cemburu.


Pemuda itu masih hidup?


Pikiran Mahesa resah. “Jadi selama ini, Alea terjebak di dunia ini bersama Raseyan?” gumamnya tidak suka.


“Ras… Ras…..bertahanlah” panggil Alea panik.


Norgyunma datang mendekati Alea.


“Alea, apa yang terjadi?”.


“Tolong bantu dia… lukanya parah. Gosta Cola hampir mengeluarkan pecahan batu bintang dari tubuhnya. Kumohon selamatkan dia”.


 


Mahesa menarik lengan Alea.


“Aku mengerti… tolong jangan sentuh dia lagi… “.


Pelan-pelan Mahesa memisahkan gadis itu dengan Raseyan.


Alea pun sadar jika Mahesa cemburu.


Gadis itu hanya bisa diam saat Sakra memapah tubuh Raseyan di belakang punggungnya.


Sudut mata Alea pelan-pelan basah. Ia berusaha keras menahan rasa perih yang kini mendominasi perasaannya.


Saat Mahesa melarangnya menyentuh Raseyan, hati Alea begitu terluka.


Ia pun tidak mengerti kenapa saat ini dirinya justru ingin mendampingi Raseyan.


Padahal kini Mahesa ada di depan matanya.


Apa yang terjadi, gumam Alea tidak mengerti.


 


“Alea….” panggil Mahesa membuyarkan lamunan gadis itu.


Alea terperanjat.


Ia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Air matanya tumpah.


Air mata yang ia tujukan untuk Raseyan.


“Alea…” panggil Mahesa mengejar Alea. Gadis itu berlari ke arah Sakra.


 


Entah kenapa, ia tidak bisa mendengarkan permintaan Mahesa untuk tidak mendekati Raseyan.


“Lea…. “ panggil Mahesa lagi.


Dewa itu berhasil menahan gerakan Alea.


“Kamu kenapa? Jangan bilang….” Mahesa tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia curiga jika Raseyan berhasil mencuri hati Alea.


“Kumohon… aku hanya perlu melihat ia bangun. Aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi miliknya, hanya saja…”.


“Hanya saja, kau pernah terpikirkan untuk memilihnya dan bukan aku?”.


Pertanyaan Mahesa barusan membuat air mata Alea semakin tumpah.


Ia tidak bisa menyangkalnya.


Pertanyaan itu ada benarnya. Alea tidak bisa berbohong lagi.  Akhir-akhir ini ia sering memikirkan Raseyan.


Alea dan Mahesa pun saling bertukar pandang.


Pertemuan yang seharusnya menjadi ajang menumpahkan rindu.


Kenapa berakhir seperti ini, pikir Mahesa.


 


Ia menyesali kebodohannya menyelamatkan Raseyan.


Jika saja pemuda itu ia biarkan mati, tentu tidak ada lagi yang akan menghalangi kisah cintanya dengan Alea.


Bukankah mereka hanya tinggal menikah?


Lalu untuk apa pengorbanannya selama ini?


 


 


“Apakah kau juga tidak bisa menghargai pengorbanan  Yang Mulia Kundali yang sengaja naik tahta hanya


untuk memberikan kita berdua kesempatan untuk memadu cinta sebagai manusia?”.


Suara Mahesa terdengar getir.


Alea tahu ia sangat bersalah.


Ya, ia benar-benar kejam.


Ia baru saja menyakiti hati Mahesa, dewa yang telah menemaninya dalam suka dan duka.


 


Gadis itu menatap Mahesa. Bibirnya kelu. Ada banyak hal yang ingin ia utarakan. Tapi lidahnya tidak mampu.


Ia hanya bisa memandang wajah Mahesa. Wajah yang diliputi kekecewaan yang mendalam.


Sementara itu, Mahesa tidak bisa lagi menenangkan hatinya.


Ia kecewa. Benar-benar kecewa.


Alea tidak setia padanya.


Ternyata selama ini, cinta Alea tidak sebanding dengan cintanya.


Hatinya perih.


Ia tak lagi ingin bertanya.


Pergi.


Itu satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan.


Lembah Nimbostratus.


Itu tujuannya.


Tempat dimana ia bisa menyalurkan energi negatif yang kini menguasai tubuhnya.


Mahesa buru-buru berjalan menyusul Sakra dan Norgyunma.


Dewa itu tidak mengucapkan sepatah kata lagi pada Alea.


Ia melepaskan cincin di jari manisnya. Cincin yang ia pilih sebagai bukti bahwa ia adalah milik Alea.


Mahesa letih. Ia memutuskan untuk berhenti. Ya, berhenti mencintai gadis itu.


Apapun yang ia lakukan, Alea akan memiliki seribu alasan untuk berpaling.


Cincin itu menggelinding ke tengah rerumputan.


Hilang di antara rumput-rumput yang bergoyang.


Alea pun tertampar.


Ia segera berlari dan mencari  cincin yang dilempar Mahesa.


Gadis itu tahu bahwa kekasihnya benar-benar murka.


Tapi ini semua memang salahnya.


Kenapa ia tidak bisa tegas memilih salah satu dari kedua sosok yang hadir dalam


hidupnya?!


 


Alea akhirnya berhasil menemukan cincin yang tergolek di tengah rerumputan.


Dengan hati yang hancur, ia menggenggam cincin tersebut.


Tentu saja, ia tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal.


Kini ada sesuatu yang tidak bisa ia hindari. Alea sadar bahwa apapun yang terjadi setelah ini, ia pasti akan menyakiti keduanya.


Jika ia memilih Mahesa maka hidup Raseyan yang akan hancur.


Namun jika ia memilih Raseyan maka Mahesalah yang terluka.


Alea tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


Ia membiarkan angin dingin menerpa tubuhnya yang ringkih.


Tatapannya kosong.


Ia tidak bergeming dengan penangkapan para anggota The Great Destroyer oleh para prajurit kuda.


Tubuhnya mematung.


Pikirannya terhenti.


Hatinya porak poranda.


Penyesalan.


Apakah ia berhak merasakannya?


***