
Alea dan Kavindra hampir saja buang hajat di celana. Sosok makhluk yang muncul dari balik semak-semak bukan **** hutan, macan gigi pedang, maupun manusia kanibal.
Hewan dengan wajah menyerupai beruang bermoncong panjang dan tubuh seperti harimau raksasa tersebut membuat keduanya tak berkutik.
Alea tahu jika tombak 'ala-ala' buatannya tidak akan mampu merobohkan makhluk buas tersebut.
Kavindra menelan ludah berulang kali. Ia meraba-raba isi tas Alea, berharap payung lipat milik sang sahabat bisa dijadikan senjata untuk mempertahankan diri.
"Ga bisa Kav... gue belon pernah denger ada beruang kalah ama payung lipet".
"Gue juga ga pernah denger kalau kita bisa lawan kunti pake payung lipet".
Kavindra menambahkan. "Dan menurut gue makhluk depan kita bukan beruang.... denger aja suaranya, sepertinya itu serigala".
"Terus mau kita apain? Ada gunanya gitu kita debat apa dia beruang apa serigala?" tanya Alea.
Kavindra menggeleng. "Tapi coba... gue punya ide nih...". Pria itu bergerak pelan. Ia mengambil tubuh ikan yang tadinya akan menjadi santapan malam mereka.
"Tangkappp.... ". Kavindra melempar kedua ikan tersebut ke sang hewan buas.
Prakiraan Kavindra salah. Hewan itu justru terlihat semakin agresif. Ia membuka mulut dan mengaung sekeras-kerasnya.
"La... lari......" jerit Kavindra panik.
"AAaaaa................................." lengkingan suara Alea pun terdengar ke segala penjuru. Gadis itu sebenarnya jarang berteriak saat menghadapi masalah. Kalaupun iya, biasanya suaranya kalah oleh teriakan Kavindra. Tapi kali ini, entah apa yang merasukinya, teriakan Alea benar-benar kencang.
Gadis itu memanggil nama Mahesa berulang kali. Meskipun sebenarnya ia tahu jika sang kekasih tidak mungkin bisa datang ke zaman ini. Aturan waktu tidak memperbolehkan Mahesa sang calon Kaisar Langit untuk mengunjungi zaman peradaban awal tanpa izin dari Kaisar Langit. Alea yakin jika Kundali tidak akan sefleksibel Nazaxenna. Kaisar itu pasti tidak akan pernah mengizinkan Mahesa untuk masuk ke dunia transisi tanpa alasan yang jelas.
"Kav... Kav... itu disana...." seru Alea sambil menunjuk ke arah cahaya yang menyerupai obor.
"Perkampungan Le.... perkampungan....." teriak Kavindra senang. Mereka berdua akhirnya memiliki harapan. Keduanya berteriak sekencang-kencangnya, berharap para penduduk dapat mendengar teriakan mereka.
Usaha Kavindra dan Alea tidak sia-sia. Mereka melihat beberapa penduduk keluar dari rumah-rumah bundar yang terbuat dari serabut tanaman berwarna cokelat.
Mereka menghalau hewan buas itu dengan panah dan juga tombak-tombak bermata batu. Serangan para penduduk membuat hewan itu kewalahan. Ia tersungkur jatuh setelah sekian lama mencoba bertahan.
Beberapa penduduk mendekati Alea dan Kavindra, mereka memandang kedua manusia masa depan tersebut dengan seksama.
Pakaian yang dikenakan oleh Alea dan Kavindra menarik perhatian mereka. Jelas sekali bahwa kedua manusia itu tidak berasal dari tempat yang sama.
Alea menoleh ke arah Kavindra. Para penduduk di hadapannya tidak bicara dengan bahasa yang dapat dimengerti. Suara mereka terdengar sengau dan berat.
"Bukan bahasa Sundayana...." bisik Alea.
Kavindra mengangkat bahu. "Gue rasa dulu juga sebenernya kita ga paham bahasa Sundayana, hanya saja berkat keajaiban langit... kita jadi ngerti bahasa mereka dan mereka juga sebaliknya bukan?".
Alea mengangguk. Ia sepakat dengan kesimpulan Kavindra. Mereka membutuhkan sebuah keajaiban untuk dapat berinteraksi dengan para penduduk purba tersebut.
Kavindra mencoba berkomunikasi dengan bahasa tubuh.
Untung saja manusia purba itu sepertinya mengerti. Mereka membawa Alea dan Kavindra ke rumah bundar yang berukuran paling besar.
"Manusia neolitikum... " bisik Kavindra.
"Maksud elo dunia transisi ini?".
"Ini mungkin akhir masa Greenlandian... ".
Wajah Alea mengerut, ia tidak mengerti penjelasan Kavindra.
"Para pakar biasa menyebutnya sebagai awal Holosen... jangan bilang elo ga tau Holosen juga? Kan elo yang buka Le".
"Tau kalo itu mah! Tapi gue ga ngerti Greenlandian...".
"Greelandian adalah masa awal Holosen, ini zaman dimana manusia hidup setelah zaman es. Setelah Greelandian, bumi akan memasuki zaman geologi yang disebut dengan Northgrippian. Pada zaman ini, kota-kota neolitikum mulai berkembang pesat misalnya kota-kota di Mesopotamia".
"Terus hubungannya apa?".
"Sama?".
"Ya penjelasan elo barusan, sama apa yang kita alami...".
"Jika ini adalah dunia transisi yang disebutkan oleh Raseyan, maka Raja Sundayana itu terjebak pada masa peralihan zaman mesolitikum ke neolitikum".
"Bentar, gue ga ngerti... mangnya dulu dia hidup di zaman apa?".
"Advanced and hidden paleolithic age".
"Hah?" Alea terkejut dengan terminologi yang digunakan oleh Kavindra.
"Lo ga inget penjelasan Kundali? Dunia manusia sebenarnya sudah berkembang pada zaman paleolitik.... tapi hanya kaum-kaum terpilih. Manusia lainnya hidup sesuai dengan sejarah yang diketahui oleh ilmuwan... yakni peradaban paleolitikum yang kemudian dilanjutkan oleh mesolitikum. Dunia yang sudah mengalami revolusi bumi, dunia yang peradabannya dikembalikan ke titik nol".
Alea terdiam. Ia teringat dengan tindakan Iblis Jawn dan Mur yang menghancurkan peradaban manusia-manusia yang hidup di zaman akhir Pleistosen. Kini ia mengerti kenapa Nazaxenna membiarkan kedua makhluk jahat itu mengganggu tatanan bumi. Apakah hilangnya peradaban maju pada zaman Pleistosen memang merupakan alur yang harus dialami bumi?
"Jadi kampung ini?".
"Kalau gue liat mereka udah menetap seperti ini, berarti mereka sudah melalui zaman mesolitikum... dan sekarang sedang bertransisi ke neolitikum" ucap Kavindra sambil mengamati perkampungan sederhana di sekitarnya.
Ada enam buah rumah bundar berukuran sedang yang mengelilingi satu rumah dengan ukuran besar.
Tidak seperti penduduk Sundayana yang terpaksa meninggalkan perkampungan karena penyerangan Agros. Penduduk di perkampungan ini nampaknya bisa menikmati kehidupan di atas permukaan tanah. Di sudut-sudut perkampungan terdapat beberapa tanaman yang sepertinya tengah mereka budidayakan. Alea dapat melihat beberapa pohon berbuah yang mengelilingi sisi kanan perkampungan. Suara hewan-hewan yang sudah didomestifikasi juga terdengar dari beberapa arah. Para penduduk sepertinya berhasil menjinakkan beberapa hewan dan membudidayakannya.
"Mereka sudah semi nomaden.... bukti peralihan ke masa neolitikum" bisik Kavindra lagi. Para penduduk membawa keduanya ke rumah bundar yang berukuran paling besar. Disana sudah ada beberapa penduduk berusia lanjut yang menunggu di depan pintu masuk. Mereka berupaya mengamati wajah Alea dan Kavindra dengan obor yang mereka pegang.
Matahari semakin terbenam dan langit semakin gelap. Sebelum kegelapan menyelimuti perkampungan purba tersebut, para tetua suku itu nampaknya ingin mengenal tamu yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka.
"Le... mereka bukan kanibal kan?". Kavindra terlihat cemas. Wajah para tetua yang mengamatinya dari atas ke bawah membuat perasaannya tidak tenang.
"Aku rasa bukan... lihat mereka membawa masuk hewan buas tadi ke belakang sana. Aku rasa besok pagi, mereka akan menguliti hewan tersebut untuk keperluan mereka sehari-hari" duga Alea.
"Wo..wa..ww.a.du ah uh". Seorang pria paruh baya di depan mereka mencoba berkomunikasi dengan Kavindra.
"Uh... Uh... Ah...." jawab Kavindra sok tahu.
"Ah uh? Duh dah!".
"Dah..." jawab Kavindra lagi.
Alea mencubit kecil pinggang Kavindra. Dengan bibir yang terkatup namun masih dapat mengeluarkan suara, Alea mengkritik tindakan pria itu.
"Bro... kalau ternyata dia nanya apa daging elo enak untuk gue makan gimana?".
"Ga Le... nggak... tadi kata elo mereka bukan kanibal?".
"Ya itu kan dugaan gue sementara aja...".
Suara lembut seorang pria muda mengejutkan Alea dan Kavindra.
"Kami bukan pemakan manusia...".
Alea menoleh. Ia tidak mungkin melupakan suara pria yang pernah menjadi pasangan hidupnya.
Telapak tangan Alea menutupi bibir mungilnya yang terkejut. Sosok Raseyan yang ia cari ternyata hidup di perkampungan purba ini.
Raseyan terlihat lebih dewasa dari saat Alea meninggalkannya. Penampakannya lebih matang dan kuat. Ia tidak lagi terlihat seperti seorang pemuda ringkih yang memerlukan perlindungan.
"Raseyan? Raseyan??????" panggil Alea seraya tak percaya.
Kavindra terduduk lemas. Ia bersyukur akhirnya bisa menemukan manusia yang bisa diajak bicara.
"Kav?????". Raseyan menghampiri Kavindra yang terkulai lemas. Pria itu meminta para penduduk untuk membawa Kavindra ke kediamannya. Rumah bundar besar yang berada di tengah-tengah permukiman.
***
"Kav, ga usah drama gitu...." bisik Alea yang grogi menghadapi Raseyan seorang diri. Kavindra malah asyik tidur lelap di atas tumpukan rumput kering yang menjadi ranjang Raseyan.
Ketampanan pemuda di depannya membuat Alea salah tingkah. Raseyan tak lagi terlihat seperti anak remaja manja yang penyakitan. Kini mereka terlihat seusia, atau bisa dibilang Raseyan sepertinya kini berusia lebih tua darinya.
Pemuda itu menatap Alea tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Senyumnya mengembang.
Sorotan matanya tidak berpindah tempat.
Ia terus mengamati wanita yang pernah menjadi ratunya.
Alea berusaha menghilangkan rasa canggungnya dengan menyeruput air yang berasal dari sari tanaman berwarna hijau.
"Jadi.... apa kabar Mahesa?".
Pertanyaan pertama Raseyan membuat Alea tersedak.
"Ratu... kau tidak apa-apa?".
Raseyan terperanjat. Ia menyadari kesalahan ucapannya. Pemuda itu menggigit bibirnya untuk beberapa saat. Ia kemudian memperbaiki ucapannya.
"Maksudku Alea...".
Wajah Alea benar-benar memerah. Jika dikomparasi, kemerahan pipinya mungkin bisa mengalahkan warna merah apel atau tomat. Jantungnya berdegup saat mendengar suara bariton Raseyan.
Alea tersenyum kecut. Bola matanya melebar mencoba mencari topik pembicaraan untuk menghilangkan kekakuan di antara mereka berdua. Gadis itu menggaruk-garuk telapak kaki Kavindra. Ia berharap pria menyebalkan itu segera bangun dan membantunya mencairkan suasana.
"Sepertinya kau sudah membaca catatan yang kutinggalkan?".
"Ah? Iya..." jawab Alea grogi. Ia dapat mendengar dadanya berdegup bak suara tabuhan drum dari lagu Metallica kesukaan Kavindra. Sebentar-bentar Alea tersenyum kecut. Ia tidak tahu kenapa skenarionya untuk meminta maaf kepada Raseyan buyar begitu saja. Padahal dulu ia sangat percaya diri. Ya, apa susahnya sih minta maaf?
Visual Raseyan yang menawan membuat Alea lupa dengan kata-kata yang telah ia susun. Pada akhirnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar. Bibirnya kelu. Otaknya dungu.
"Mahesa yang membawaku ke tempat ini...".
Alea terperanjat.
Ia berharap pendengarannya salah.
"Ini adalah dunia transisi yang selaras dengan sejarah bumi dimana engkau nanti hidup. Dan aku akan menjadi bagian dari itu".
Raseyan melanjutkan kata-katanya.
"Meskipun namaku tak akan pernah tertulis di dalam sejarah. Aku hanya akan menjadi fosil yang namanya tak akan dikenang manusia".
"Raz, aku... aku...". Alea tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Raseyan mengerlingkan mata.
"Aku sudah tahu Alea. Mahesa sudah menceritakan semuanya....".
"Tentang ini?" Alea menunjuk ke arah perutnya.
Pemuda itu mengangguk pelan.
"Tapi kau tahu... aku yakin takdir tidak akan sekejam itu padaku...".
Raseyan kembali menatap wajah Alea.
"Aku yakin bahwa batu persegi yang diberikan oleh Kavindra akan membawamu kembali menemuiku".
"Kavindra bilang jika ia sudah menguburkan batu itu bersamamu? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Alea penasaran.
"Saat Kavindra meninggalkanku untuk membawa sisa penduduk Sundayana keluar dari tempat ini.... Andulu diam-diam kembali menemuiku. Ia membawa batu persegi yang sudah aku kuburkan bersama Kavindra. Menurut Andulu, batu itu melayang tepat di depannya. Seakan-akan batu itu ingin kembali padaku".
Raseyan diam sebentar. Ia mengarahkan pandangannya ke langit-langit rumah rumbainya.
"Batu itu anehnya hilang... di atas tebing-tebing sana.... setelah aku menceritakan mengenai dunia aneh ini. Dunia yang aku tidak pernah kukenal sebelumnya".
Alea masih belum bisa memahami isi percakapan Raseyan. Jika dunia ini adalah dunia yang akan bersambung ke masa depan. Lalu kenapa batu persegi itu ditemukan di situs Gunung Padang?
"Karena dunia ini akan menjadi kebenaran bagi duniamu, Alea. Penduduk di masa depan tidak akan mengenali dunia dimana Sundayana pernah berdiri. Ini adalah dunia dimana nanti benteng Sundayana terkubur oleh formasi bebatuan baru dan juga peradaban baru dibawah penguasa yang berbeda".
"Dan mereka tidak pernah tahu bahwa kau pernah jadi ratuku..." ucap Raseyan lirih.
Dada Alea kembali berdegup.
Ia tidak ingin mendengar kata-kata Raseyan yang membuat jantungnya melompat kesana kemari.
"Jadi sekarang kau jadi raja baru di tempat ini?" tanya gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
Raseyan melempar senyumnya lagi.
"Ya, aku kembali menjadi kepala suku.... dengan penduduk baru yang kutemukan di tepi sungai... sekumpulan manusia yang terdiri dari beberapa keluarga.".
"Bagaimana dengan Andulu dan Amatya?".
"Mereka sudah tertidur Alea.... beberapa tahun lalu karena penyakit tua. Akhirnya mereka bisa tidur dengan damai. Sudah lama, aku hidup dengan mereka yang tidak mengetahui masa laluku".
Alea terdiam. Ia dapat melihat kesedihan di mata Raseyan.
"Tapi kau kembali lagi kesini Alea... sepertinya kesendirianku akan segera berakhir sesuai dengan mimpiku... bahwa sebentar lagi akan terjadinya perubahan yang membawa kami semua ke zaman yang lebih baru".
Gadis itu terdiam. Ia khawatir jika Raseyan salah sangka. Kedatangannya kembali ke sisi pemuda itu bukan karena Alea ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Raseyan. Bukan pula untuk membantu pemuda itu menuntaskan misi untuk mencapai peradaban baru.
Bagaimana ini?
Apakah Raseyan akan rela membiarkannya pulang sekali lagi ke masa depan?
Alea sungguh tak ingin terjebak di masa akhir Greenlandian. Ia ingin pulang, kembali ke sisi Mahesanya.
***