Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 21. Perintah yang membingungkan



Alis Clauss terangkat.


Ia merasakan kedatangan Pushan ke dunia transisi.


Dewa itu mengirim telepati ke Nazaxenna.


Mantan Kaisar Langit itu melempar senyum.


“Biarkan saja…” timpalnya.


Clauss tidak bisa berkata banyak. Sebagai penjaga pintu masuk dunia transisi, ia memiliki kewenangan untuk mengatur siapa yang boleh datang dan pergi. Namun, keputusan tersebut tidak bisa ia ambil sendiri. Ia harus berkonsultasi dengan para petinggi, termasuk Nazaxenna dan Kaisar Langit.


Sebenarnya, Pushan dilarang masuk ke dalam dunia transisi.


Tapi kali ini, Nazaxenna sendiri yang memberi izin.


Clauss tahu jika pemimpin pasukan zaitun itu memiliki sebuah rencana. Hanya saja, ia sedikit cemas. Apakah Pushan tidak akan berbuat ulah?


Perhatian Clauss pun teralih. Ia mengamati Alea yang sedari tadi menempel tanpa malu ke atasannya.


Gadis itu adalah satu dari sekian manusia bumi yang dapat bersenda gurau dengan Nazaxenna.


Beberapa kali Clauss merasa tidak nyaman. Tingkah laku  Alea yang terlalu casual terhadap pemimpin Pasukan Zaitun tersebut membuatnya risih.


“Boro-boro kami bisa cengengesan dengan Yang Mulia…. seandainya saja kami berbuat seperti itu, leher kami pasti sudah terpenggal”.


“Nazaxenna….. “ panggil Alea.


Telinga Clauss sakit. Matanya spontan terpejam.


Ia benar-benar khawatir jika Nazaxenna akan kehilangan kesabaran.


Selama ini, tidak ada yang berani memanggil nama mantan Kaisar Langit itu tanpa embel-embel Yang Mulia!


“Entah berapa lama lagi Yang Mulia akan memberikan toleransi. Manusia bumi ini….


benar-benar kurang ajar” gumam Clauss geram.


“Ya Aleaku?” jawab Nazaxenna mesra.


Gadis itu memberikan mahkota yang terbuat dari untaian bunga kering.


“Ini mahkotamu…. “.


“Ha… ha… ha…terima kasih gadis kecil” tawa Nazaxenna riang.


Clauss nyaris pingsan. Hatinya panas!


Ia tidak percaya jika Alea baru saja memberikan mahkota murahan pada atasannya! Gadis itu juga berani-beraninya menyentuh kepala Nazaxenna!


Clauss kemudian meremas gagang pedang. Ia tidak sabar. Alea sungguh keterlaluan!


Melihat perubahan raut Clauss, Nazaxenna pun langsung menegurnya.


“Aku memberinya izin”.


Wajah Clauss seketika berubah. Ia terkejut bukan main dengan teguran Nazaxenna.


Dewa itu menunduk. Ia meminta maaf karena berani mempertanyakan keputusan Nazaxenna untuk memberikan hak khusus pada Alea.


“Apa masih jauh?” tanya Kavindra.


Clauss menggeleng.


Ia bisa merasakan keberadaan Gosta Cola di dekat mereka.


“Sebentar lagi…. Kita harus menangkap basah ia maupun pasukannya tengah berbuat kerusakan di dunia transisi”.


Dahi pria itu mengernyit, “Kenapa tidak sekarang saja? Kalian kan dewa, bisa langsung menangkap mereka”.


“Karena mereka semua manusia. Kami membutuhkan alasan agar bisa menghukum mereka dengan hukuman yang berlaku di dunia dewata”.


Jawaban Clauss membuat Kavindra bertambah bingung.


“Sang pencipta telah menciptakan kita semua di alam yang berbeda. Tidakkah kau memahaminya? Masing-masing alam telah memiliki aturannya tersendiri”.


Kavindra memilih diam.


Ia tidak ingin berdebat atau bertanya lebih jauh.


Perutnya sudah terlalu lapar.


Kini konsentrasinya mulai hilang.


 


“Nazaxenna….” panggil Alea.


Clauss belajar menenangkan diri. Ia mencoba terbiasa dengan cara Alea memanggil atasannya.


“Aku punya pertanyaan… “.


“Ya?”.


“Kenapa kalian menciptakan dunia transisi pada zaman neolitikum seperti ini?”.


Nazaxenna tertawa kecil. Kedua matanya menyipit.


“Banyak tanya….” ucapnya sambil mencubit kedua pipi Alea.


Dewa itu berlari kecil dan meninggalkan Alea di belakang.


Kavindra lalu mengejar Alea. Ia menyenggol lengan sahabatnya dengan pelan.


“Aku rasa mereka punya rahasia yang tidak mau dibagi ke kita”.


Alea setuju.


Padahal ia penasaran. Kenapa mereka memilih setting peradaban neolitikum? Setting peradaban yang cocok dengan kehidupan yang biasa dijalani oleh Raseyan. Gadis itu sebenarnya memiliki sejumlah pertanyaan. Misalnya saja, kenapa harus Raseyan yang kembali terpilih untuk menjalani takdir bersamanya?


Tapi Nazaxenna tidak kunjung memberi petunjuk.


 


Saat mereka tiba di area pepohonan bercabang Y, Clauss tiba-tiba menghentikan langkah.


Ia meminta semuanya untuk menunduk.


“Disana…. Kelihatannya mereka sudah letih dan kelaparan…” bisik Clauss.


Senyum Nazaxenna mengembang.


“Bagus… kita pancing mereka sekarang”.


 


Clauss membuka kepalan tangannya. Ia melempar sebuah energi ke bebatuan yang terletak di dekat Gosta Cola.


“Ric….” ujar Nando. Ia merasakan hembusan angin semilir di belakang telinganya.


Rico, sang pemimpin regu juga merasakan hal yang sama.


“Apa ini energi dari pusaka yang kita cari?” bisik Nando.


Rico menatap mata rekannya. “Pelan-pelan… jangan sampai tuan tahu. Kau ingat rencana kita?”.


Rupanya Nando dan Rico telah memiliki rencana sendiri.


Mereka tidak ingin menyerahkan pusaka itu ke tangan Gosta Cola.


Setelah mendapatkan pelatihan mengenai cara menarik pusaka, kedua pemuda itu semakin percaya diri. Nando memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan para makhluk halus. Ia terbiasa bernegosiasi dengan makhluk-makhluk dari dunia lain.


Sementara itu Rico sejak kecil memiliki ilmu kebal. Ia adalah ahli bela diri supranatural yang telah merobohkan ratusan makhluk penjaga pusaka yang mereka buru.


Dari tujuh anggota The Great Destroyer, bisa dikatakan jika Rico dan Nando memiliki kekuatan yang paling sakti. Lima anggota lainnya tidak punya kekuatan spesial. Awi baru belajar ilmu hipnotis. Damar baru belajar ilmu kekebalan.


Paul juga, hanya ikut-ikutan tren. Ia suka membaca dan terobsesi menjadi manusia yang memiliki kekuatan super. Seperti Damar, Paul baru mencapai tingkat bisa merasakan kehadiran makhluk halus. Leon dan Maro memiliki kemampuan yang lebih advanced. Mereka kini sudah menguasai ilmu membaca pikiran dan juga bela diri supranatural.


Maro memiliki intuisi yang tajam, ia satu-satunya di kelompok itu yang memiliki pendamping gaib.


“Yang Mulia…” bisik Clauss saat melihat pendamping gaib Maro.


Nazaxenna tersenyum lebar.


Rencananya berjalan sempurna.


Mereka menemukan sebuah fakta baru di balik kedatangan Gosta Cola ke dunia transisi.


“Lindungi Alea…” bisik Nazaxenna.


Clauss mengangguk.


 


Dewa itu kemudian mengeluarkan perisai pelindung. Alea sempat terdiam saat melihat perisai transparan tersebut. Benda itu mengingatkannya pada Mahesa.


Sang dewa selalu menggunakan perisai pelindung itu menjaga keselamatannya.


“Alea?”.


Alea terperanjat.


Ia baru saja mendengar suara Mahesa.


“Masa iya?”. Alea ragu. Benarkah ia baru saja mendengar suara Mahesa? Atau itu semua hanya halusinasinya?


Nazaxenna mengirimkan energi tambahan ke perisai pelindung.


Ia memblokir upaya Mahesa untuk mengontak Alea.


Clauss cepat-cepat membungkus tubuh Alea dengan perisai tersebut.


Ia tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi Pushan untuk bertemu Alea.


“Mahesa? Mahesa?” panggil Alea. Ia berusaha melakukan telepati, seperti yang sering dilakukannya sejak dulu.


Namun Alea tidak kunjung mendapatkan balasan. Gadis itu pun berpikir bahwa suara Mahesa tadi hanyalah halusinasinya.


Clauss meminta Alea untuk duduk tenang.


“Apapun yang kau lihat, jangan bereaksi sebelum aku memerintahkanmu!”.


Kata-kata Clauss membuat Alea tidak nyaman. “Apa maksudnya?” gumamnya heran.


Tapi semua menjadi jelas saat ia melihat Raseyan yang sedang berada dalam kondisi terikat. Wajah pemuda itu sudah babak belur. Matanya bengkak sebelah. Pelipisnya mengeluarkan banyak darah.


Raseyan nampak tidak kuat lagi.


Darah Alea mendidih.


Ia tidak bisa menyembunyikan amarah.


“Kita harus menemukan cara untuk mengeluarkan sesuatu yang tertanam di dalam tubuhnya. Pemuda brengsek ini tidak akan membuka mulut meskipun aku siksa” ujar Gosta Cola sambil memecut tubuh Raseyan sekali lagi.


Tangan Alea gemetar.


Ia tidak sanggup melihat penyiksaan itu.


“Tunggu dulu… apakah ini….”. Gosta Cola merasakan sebuah energi yang tersembunyi dari balik semak-semak. Ia


membuka dedaunan berukuran besar tersebut dan menemukan sebuah batu hitam yang dipenuhi goresan.


“Ini….” penyihir itu mengangkat batu berukuran sebesar telapak tangan. Batu itu mengeluarkan energi yang tidak


asing baginya.


“Pusaka yang kucari, kini terperangkap dalam bebatuan?”.


Ia membawa batu itu kembali ke sisi Raseyan. Gosta Cola terkejut saat mendapati batu itu mengeluarkan sinar.


Rico menyenggol tubuh Nando sekali lagi.


“Itu pusakanya… tersembunyi dalam batuan bergores”.


Nando mengangguk.


“Tapi Rico, ada yang aneh dengan dunia ini…”.


“Apa?”.


“Dunia ini tidak memiliki makhluk halus… apa ini tidak aneh bagimu? Seakan-akan dunia ini terlarang bagi makhluk


selain manusia… selama ini kita tahu bahwa entitas kita selalu berdampingan”.


Rico menatap wajah Nando.


“Mungkin karena itu pusaka tersebut disembunyikan disini. Pusaka yang terlindung dari makhluk halus. Kau bisa


bayangkan betapa powerfulnya pusaka itu. Aku yakin bahwa pusaka itu hanya bisa dimiliki dan dikuasai manusia”.


Perkataan Rico ada benarnya juga, pikir Nando.


Rico dan Nando adalah sahabat sejak SMA. Mereka dua memang sudah lama memiliki hobi untuk mengumpulkan dan menarik pusaka dari bumi nusantara.


Pertemuan mereka dengan Gosta Cola bisa dibilang tidak sengaja. Saat tengah menarik sebuah keris di desa


terpencil, penyihir itu muncul di hadapan mereka. Keduanya tergoda oleh rencana Gosta Cola. Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut dalam ekspedisi rahasia bersama lima pemuda terpilih lainnya.


Teriakan Raseyan membuat perhatian mereka teralih.


Gosta Cola baru saja menyayat dada Raseyan dengan batu yang ia pegang.


Darah Raseyan membuat batu itu bereaksi.


 


“Benar dugaanku… kau menyimpan brisingamen di dalam tubuhmu…”.


Raseyan tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Gosta Cola. Namun ia mencoba bertahan meskipun penyihir tersebut terus menyiksanya.


“Manusia barbar ini tidak boleh tahu apa yang ada di tubuhku… jika ia tahu, ia pasti akan memburu Alea…” gumam


Raseyan menahan sakit.


Raseyan belum tahu jika Nazaxenna telah mencabut pecahan batu bintang dari tubuh Alea. Pemuda itu mengira jika sang istri masih memiliki batu tersebut.


“Hei, cari benda ini. Ini adalah benda yang cari kita!” seru Gosta Cola.


“Kita cari kali tuan…. “ ujar Nando kembali membetulkan.


Rico mencubit lengan Nando.


“Sudah kubilang tidak usah dibetulin…”.


Gosta Cola terlihat kesal. “Pokoknya cari batu seperti ini! Kumpulkan sekarang, atau kalian semua kupenggal!”.


 


“Sudah berapa kesalahan yang kita catat?” bisik Nazaxenna.


“Tiga. Pertama, memasuki dunia yang bukan dimensinya. Kedua, melukai manusia yang berada dalam perlindungan langit. Ketiga, mempengaruhi manusia-manusia bumi untuk melakukan kejahatan” ucap Clauss sambil mencatat kejahatan Gosta Cola.


“Masih kurang…masih kurang yang fatal sampai kita bisa menyeretnya” senyum Nazaxenna.


Dewa itu memerintahkan Clauss untuk menyebar pecahan batu bintang palsu di sekitar Gosta Cola.


Nazaxenna diam-diam memberi tambahan energi pada sebuah batu.


Ia tersenyum lebar, membayangkan sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat.


“Mati kau Gosta Cola” serunya manis.


Mantan Kaisar Langit itu membetulkan poni rambutnya yang jatuh. Ia menjentikkan jari dan dalam sekejap, tubuhnya sudah berselonjor di kursi pantai. Sang dewa sudah berganti kostum. Kini ia mengenakan kemeja Hawaii dan kacamata hitam. Di tangan kirinya ada sebuah benda yang menyerupai jam. Sedangkan di tangan kanannya, ada segelas minuman dingin yang membuat Kavindra tergiur.


“Mau?”.


Kavindra mengangguk.


Nazaxenna menjentikkan jari sekali lagi.


Ia membuat Kavindra terperangkap dalam kostum dan pose yang serupa dengannya.


“Tugasmu hanya diam saja. Kau harus ada disini untuk belajar bahwa dunia tidak sesimpel satu tambah satu”.


Pria itu melongo. Ia sama sekali tidak paham bahasa ala filsuf yang digunakan oleh Nazaxenna.


“Ah, sudah  datang. Clauss lepaskan perisai pelindungnya”.


Clauss dengan sigap melepaskan perisai pelindung Alea.


Gadis itu spontan berlari keluar. Sedari tadi, ia sudah bernapsu untuk menghukum Gosta Cola atas perbuatannya.


Alea mengambil pedang yang tersarung di pinggang Clauss.


Ia menebas semak-semak yang menghalanginya.


“Mati kalian semua!!!!!!!!!!!!!!” jeritnya berani.


Gosta Cola benar-benar terkejut dengan serangan Alea.


Pedang gadis itu berhasil melukai kulitnya.


Wajah Alea membuatnya yakin bahwa gadis itu tidak berasal dari periode Neolitikum.


Ia sudah berkelana kesana kemari, melintasi waktu dengan bantuan dewa-dewa yang ingin berkhianat pada langit.


Gosta Cola sudah hapal betul dengan karakteristik manusia yang hidup dalam zaman-zaman peradaban tertentu.


“Alea?!” panggil Raseyan terkejut.


Pemuda itu menyuruhnya untuk lari secepat mungkin.


“Alea… kau tidak boleh ada di sini. Lari… lari Alea” teriak Raseyan dengan tenaga yang tersisa.


“Eh, itu kan… itu kan….” Damar terpukau. Ia tidak mengira jika mereka berdua bisa kembali bersua.


“Cewe pencuri casing satu milyar kita?!!!” jerit Awi.


“Iya, itu cewe maruk yang kita cari!” timpal Leon.


Alea mengacungkan pedang ke arah para pemuda itu.


“Siapa dari kalian yang telah melayangkan tangan ke arah suamiku?”.


 


Raseyan hampir tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


Alea memanggilnya sebagai suami?


Ini benar-benar sebuah kejutan indah di telinganya.


 


“Hah, ternyata itu suamimu?” ujar Damar terkejut.


Gosta Cola tertawa puas.


“Hahaha kini aku tahu kenapa aku merasakan energi Odin dan Freya dari tempat ini…. pintar sekali mereka. Hahaha…. Tidak kukira suamimu memiliki kekuatan Odin, dan kau… pasti di dalam tubuhmu ada kekuatan


Freya”.


Dahi Alea mengernyit. Gosta Cola berbicara dalam bahasa asing, namun anehnya ia dapat mengerti perkataan


penyihir itu.


Gosta Cola membuka jubahnya.


Rico terkejut. Ini kali pertamanya ia melihat tubuh Gosta Cola tanpa jubah.


Sekujur kulitnya dipenuhi bebatuan mulia.


“Gadis kecil….  Batu yang ada di tubuhmu… akan menjadi bagian dari koleksi-koleksi ini…. kau akan membantuku mendapatkan kekekalan”.


Alea memotong tali ikatan Raseyan. Ia mengangkat tubuh pemuda itu dengan hati-hati.


Sambil mengacungkan pedang, Alea pun mengancam akan melukai siapapun yang menghalangi pelarian mereka.


“Ayo, mereka tangkap kita!” ujar Gosta Cola dengan suara lantang.


Ia tidak akan membiarkan kedua manusia harapannya pergi begitu saja.


Ketujuh pemuda The Great Destroyer itu diam saat mendengar perkataan Gosta Cola.


"Maksudnya apa bro?" tanya Awi ragu.


"Disuruh pasrah kayanya, disabet ama cewe itu.... " timpal Damar.


"Iya katanya biarin aja mereka tangkap kita..." bisik Leon.


"Ah gila lu... masa kita kudu mati di tempat ini?" balas Awi.


Rico menutup mulut Nando secepatnya.


Jika sampai Nando kembali membetulkan kata-kata Gosta Cola, maka ia kehilangan kesempatan untuk membunuh rekan-rekannya dan menguasai pusaka itu sendirian.


Ini kesempatan langka!


Kapan lagi ia bisa bermain cantik dan mendapatkan keuntungan yang nyata?


***