Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 13. Reuni tiga pengawal legenda



Kemunculan Naga Swarna di dunia transisi telah menyebabkan Sakra dan Norgyunma turun ke bumi. Dua dewa dewi penjaga cawan suci Dinasti Syailendra tersebut mendatangi Rumah Sakit Royal Universal, tempat dimana Pushan alias Mahesa bekerja sebagai dokter manusia.


Kedatangan dewi berambut indah tersebut membuat para suster berbisik-bisik. Rambut hijau Norgyunma memang bisa  dibilang langka. Tidak banyak dewi di dunia tujuh dimensi yang memiliki rambut sehijau Norgyunma.


“Seperti biasa kau selalu menarik perhatian” goda Sakra.


“Berisik… kita tidak punya banyak waktu untuk bercanda” ucap Norgyunma ketus. Ia tidak bisa menyembunyikan


keresahannya. Naga yang hanya muncul saat penasbihan tahta Wangsa Syailendra itu berani membangkang perjanjian mereka.


Dewi itu buru-buru menerobos masuk ke ruang kerja Mahesa.


“Loh, Dokter Mahesa kemana?” tanya Norgyunma kepada suster yang berjaga.


“Oh, hari ini beliau ada di bangunan sayap utara” jawab sang suster. Ia terkesima melihat rambut indah sang dewi.


“Ah…. Ok, terima kasih ya”.


Norgyunma memberi kode kepada Sakra. Ia menarik telinga sang dewa yang dari sayapnya terdengar gemericik air.


“Bangunan sayap utara… benar kan ada kekacauan baru yang muncul” bisik Norgyunma.


Wajah Sakra memerah.


Ia masih kikuk setiap kali Norgyunma mendekat.


Dewi cantik itu memang sangat acuh terhadap lawan jenis.


Sampai detik ini, ia tidak pernah memiliki hubungan terhadap dewa manapun.


Setelah menelusuri koridor rumah sakit, mereka pun tiba di area bangunan sayap utara. Bangunan ini merupakan


area terpisah yang digunakan oleh para dokter Royal Universal untuk menyembuhkan penyakit non-medis dan melakukan penelitian rahasia. Pasien yang dirawat di bangunan sayap utara didominasi oleh makhluk-makhluk gaib dan para manusia yang menderita penyakit non-medis.


Makhluk-makhluk penjaga bangunan pun bereaksi terhadap kedatangan Norgyunma dan Sakra. Patung dua singa bertubuh elang raksasa yang menjaga pintu utama melirik ke arah Norgyunma dan Sakra.


“Apa kata sandi untuk memasuki bangunan ini?” tanya mereka dengan suara yang berwibawa.


Wajah Sakra pucat. Ia lupa!


Padahal sebelum turun ke bumi ia sudah menghapalkan kata sandi untuk masuk ke dalam bangunan sayap utara. Namun ia sempat menganggap bahwa mereka tidak mungkin pergi ke bangunan tersebut.


Bukankah Pushan punya kantor sendiri? Ia berasumsi jika Pushan hanya mengurusi pasien manusia, khususnya mereka yang berasal dari golongan menengah ke bawah. Dewa itu sering mendengar cerita mengenai hadiah ayam yang sering didapatkan Pushan dari para pasiennya.


“Annamaya Kosha….”.


Norgyunma memainkan rambut panjangnya.


Ia tersenyum manis seakan mengejek kealpaan Sakra.


“Ya, ya… aku tau kamu dewi pintar…. Tidak seperti aku…” seru Sakra memuji.


Norgyunma tertawa kecil.  Mengalahkan Sakra adalah hobinya.


“Makanya kalau belajar yang benar…” tawanya lagi.


Mereka berdua pun memasuki pintu bangunan sayap utara. Tempat rahasia yang tidak terlihat oleh para manusia


biasa. Para staf manusia di rumah sakit bahkan tidak ada yang mengetahui keberadaan bangunan tersebut.


“Pushan!” panggil Sakra. Ia mendapatkan koleganya tengah memeriksa potongan tubuh manusia yang sudah dimutilasi.


“Ih, apa ini….” tanya Norgyunma jijik. Perutnya terkocok saat melihat kumpulan belatung bergigi tajam di atas


onggokan daging.


“Gosta….” Jawab Pushan pendek. Ia membetulkan posisi kacamatanya.


“Kamu ngapain sih pake kacamata segala? Memangnya mata kamu minus?” protes Norgyunma sinis. Wajah Sakra berubah pucat. Di dunia tujuh dimensi memang hanya Norgyunma, dewi level rendah yang mampu berkata sesuka hati pada Pushan. Status Pushan sebagai calon penerus Kaisar Langit telah membuat dewa-dewa segan.


Daripada salah bicara, lebih baik mereka diam. Apalagi kejudesan dan kejutekan Pushan sudah terkenal sampai ke ujung dimensi.


Pushan membuang sarung tangan karetnya ke tempat sampah khusus. Setelah menyemprotkan disinfektan ke tangan, ia pun menjawab pertanyaan rekan sekaligus sahabat kecilnya.


“Untuk memikat hati Alea…”.


Norgyunma bertepuk tangan. Ia sungguh tidak sabar lagi menghadiri pernikahan kontroversial Pushan dengan Alea.


“Jadi bulan depan katanya?” tanya dewi itu dengan mata berbinar. Ia tengah memikirkan baju apa yang pantas dipakainya di pesta bumi.


“Ya, jika Alea bisa kembali sebelum bulan depan…”.


Melihat wajah Pushan yang murung, Norgyunma pun menjadi curiga.


“Apa maksudmu?”.


Pushan membalas sorotan mata sang dewi. Tatapannya terlihat sedih.


“Lagi? Terlempar?” bisik Norgyunma.


Ia kemudian menarik telinga Sakra. Dewi itu membentuk sebuah lingkaran kecil yang menyebabkan ketiga kepala mereka saling menempel. Itu adalah kebiasaan mereka bertiga sejak kecil. Mereka melakukannya setiap membicarakan sebuah rahasia mengenai dunia tujuh dimensi.


“Kemana?” tanya Sakra penasaran.


“Dunia transisi neolitik…” jawab Pushan lirih.


“Kamu kesana aja ambil Alea pulang” Norgyunma mulai mengompori Pushan.


“Tidak bisa, Yang Mulia Nazaxenna menyuruhku untuk menunggu. Ia bilang Alea pasti bisa pulang sendiri… jikapun tidak, Yang Mulia akan memberitahuku kapan aku boleh melawan aturan waktu lagi”.


Norgyunma menggeleng.


“Bahaya… dunia transisi neolitik penuh dengan kekuatan yang ingin memanipulasi masa depan manusia”.


“Tapi aku tidak mendapatkan izin” lanjut Pushan.


“Ah, biasanya kamu tukang berontak” desak Norgyunma.


“Bulan depan aku harus menikah dengan Alea…. Jika aku sampai mendapatkan hukuman… kau tahu apa yang akan terjadi bukan?”.


Sakra terenyuh. Rupanya ada sesuatu yang menahan Pushan. Tidak heran wajah sahabatnya itu kusut. Pushan tidak sedang menjadi dirinya sendiri. Calon penerus Kaisar Langit yang ia kenal biasanya akan segera melawan ketidakadilan.


Pushan adalah dewa yang sangat reaktif. Ia jarang berpikir panjang jika menyangkut keselamatan makhluk-makhluk yang disukainya.


“Kau yakin ini bukan cara Yang Mulia Nazaxenna untuk memaksamu naik tahta sekarang juga?”. Norgyunma mulai curiga dengan Nazaxenna. Sejak dulu ia tahu bahwa mantan Kaisar Langit itu memiliki sejumlah rencana yang ajaib dan mengejutkan.


“Sst… jangan sering-sering panggil namanya. Bagaimanapun dia kan pernah jadi Kaisar Langit! Mentang-mentang ia sudah turun tahta, kamu seenak perut memanggil namanya terus” omel Sakra memperingatkan.


Para dewa memang tidak boleh memanggil nama asli Kaisar Langit yang sedang bertahta. Jika mereka sampai


melakukannya, petir akan menyambar  tubuh mereka selama empat puluh hari empat puluh malam.


“Hahaha… dari dulu aku pengen menyebut namanya…. Dia kan pendekar legenda itu…. Jenderal Nazaxenna yang kita pelajari di kitab peperangan” kekeh Norgyunma.


“Ah kami nyaris lupa…. Kami datang ke sini untuk melapor” bisik Sakra. Suara gesekan sayap airnya semakin kencang. Pushan terdiam. Ia tahu bahwa suara gesekan sayap itu akan menguat jika Sakra mengalami kecemasan tinggi.


“Lapor mengenai apa?”.


“Naga Swarna, ia melarikan diri dari kediamannya”.


“Kemana?” tanya Pushan terkejut.


Mereka tahu jika naga tersebut merupakan naga paling patuh di dunia tujuh dimensi. Oleh karena itu ia didaulat sebagai pembuka kekuatan milik kerajaan bumi. Tidak semua naga bisa menjadi penghuni dunia tujuh dimensi, apalagi menyandang status penjaga kekuatan besar yang dikerahkan untuk manusia.


“Kami belum mengecek lagi. Ia menghilangkan jejaknya dengan rapih” tambah Sakra.


Dahi Pushan mengernyit.


Apa yang membuat Naga Swarna, rekan kerja mereka menghilang?


“Tapi aku curiga bukan di dimensi ini…. sepertinya ia pergi ke dimensi gaib atau dunia paralel” bisik Norgyunma.


Ia mulai menarik benang merah antara hilangnya Alea dan Naga Swarna.


“Apakah mungkin ia pergi ke dunia transisi Neolitik? Kau tahu, Alea kan sekarang disana. Kini semua menjadi masuk akal” sahut Sakra.


Pushan terdiam.


“Ngaco kamu… ngapain Naga Swarna pergi ke sana demi Alea? Ia kan hanya keturunan Pandita Taraka… tidak ada kaitan langsung dengan pemegang tahta Wangsa Syailendra” bantah Norgyunma.


“Bisa aja… kan dia wanita yang dicintai oleh raja terdahulu, raja yang memiliki tanda lahir naga. Bisa jadi ia


Norgyunma menginjak kaki Sakra. Ia memberi kode agar dewa itu menjaga ucapannya.


“Bodoh…. Ada Pushan disini… jangan ngomong macam-macam” gumam sang dewi geram.


Pushan akhirnya menimpali dugaan kedua rekannya.


“Aku rasa… sesuatu terjadi pada Kavindra…. Ia adalah pemilik tanda lahir berikutnya”.


“Tunggu… maksudmu? Manusia berikutnya itu….”.


Wajah dewi berambut hijau itu berubah pucat.


Pushan mengangguk. “Ya, ia ikut terlempar ke dunia transisi neolitik”.


Sakra melepaskan diri dari pelukan Norgyunma dan Pushan.


Ia bertepuk tangan.


“Wow… kompleks sekali! Naga itu setia terhadap tuannya… kenapa ia tidak memberi tahu kita terlebih dahulu? Kita


kan bisa menyelamatkannya bersama-sama”.


Norgyunma menjitak dahi Sakra.


“Kau lupa? Tugas kita sudah selesai. Kini kita menanti tugas baru dari Kaisar Langit…. Cawan suci sudah dikunci.


Ia tidak mungkin lagi mengeluarkan energi untuk penerus Wangsa Syailendra” timpal Norgyunma.


“Tunggu… tunggu apa maksudnya? Kundali…ah, maksudku Kaisar Langit baru…. mengunci kekuatan cawan suci?” tanya Pushan bingung.


“Ya… oleh karena itu kita semua dibebastugaskan. Cawan itu tidak memerlukan kita sebagainya pengawal lagi. Awalnya kupikir ini semua karena kau diberi izin untuk hidup sebagai manusia bumi”


jawab Norgyunma.


Pushan lagi-lagi membetulkan gagang kacamata.


“Kavindra, Naga Swarna dan tersegelnya kekuatan cawan suci…. Apa maksud dari semua ini?”. Dewa itu diliputi


kebingungan. Ia tidak bisa membaca tujuan Kundali yang kini bertahta di langit.


Sakra tiba-tiba menjentikkan jari.


“Aku tahu!”.


“Apa??? Apa?” desak Norgyunma penasaran.


“Mereka saling merindukan!”.


Dewi itu kembali menjitak dahi sang sahabat.


“Susah ngomong sama kamu….”.


Norgyunma memandang sosok Gosta yang tengah diteliti oleh Pushan.


Instingnya bekerja.


“Pushan…. Kenapa tiba-tiba kalian meneliti gosta?”.


Dewi itu memainkan rambut panjangnya. Ia yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kemunculan


mendadak para gosta tersebut.


“Kami menerima laporan mengenai lonjakan gosta di berbagai zaman” jelas Pushan. Ia kini memiliki feeling yang


sama dengan Norgyunma.


“Gosta Cola… ia masih hidup?” tanya sang dewi.


Pushan mengangkat kedua bahunya. Ia belum melakukan penyelidikan lebih jauh.


“Jika ia masih hidup, kita sial” tambah Norgyunma. Dewi itu teringat dengan desas desus di dunia tujuh dimensi. Pada peradaban zaman besi manusia, ada seorang penyihir yang mengikatkan jiwanya pada dunia hitam.


Penyihir itu bekerjasama dengan kekuatan kegelapan untuk mencari keabadian. Konon, ia satu-satunya manusia tertua yang masih hidup di bumi.


Ia menyelinap dari satu zaman ke zaman lain untuk mencari kekuatan abadi.


“Ia terobsesi menjadi dewa… kau pasti sudah tahu…. terakhir kali ia membuat kekacauan di Peru. Ia ingin


membongkar kekuatan yang tersimpan di bawah Macchu Picchu”.


Cerita Norgyunma mengingatkan Pushan dan Sakra akan kekejaman Gosta Cola. Manusia itu rela melakukan apa saja untuk menyerap kekuatan yang tersimpan dalam tempat-tempat sakral.


“Kita harus menyelidikinya… jangan-jangan kini Gosta Cola mengincar kekuatan yang tersimpan di dunia transisi neolitik” tambah Sakra.


Mereka bertiga saling bertukar pandang.


Norgyunma dan kedua rekannya tahu mengenai keberadaan kekuatan rahasia di tempat itu. Kekuatan tersebut dapat membantu Gosta Cola untuk naik ke level manusia super.


“Tapi kenapa Alea bisa terlempar kesana? Pasti kau melakukan sesuatu yang membuat gadis itu bisa memiliki karma dengan dunia transisi neolitik” tanya Norgyunma penasaran.


“Aku melakukan kesalahan…” suara Pushan tersendat. Ia terlihat menyesali perbuatannya. Seandainya saja ia tidak memindahkan Raseyan ke tempat itu, mungkin Aleanya tidak akan pernah terlempar lagi ke masa


lalu.


“Aku pikir jika pemuda itu hidup di zaman tersebut…. ia bisa hidup panjang…. Dan ia tidak akan pernah hadir di dalam Alea lagi”.


“Maksudmu siapa?” tanya Norgyunma dan Sakra bersamaan.


“Raseyan… Raja Sundayana yang pernah terkena kutukan Bangsa Agros”.


“Apaaa? Ini masih ada kaitannya dengan kehidupan peradaban awal?” jerit Sakra kaget. Mulut sang dewa pun segera disumpal Norgyunma.


“Jangan keras-keras. Kau ingin semua orang tahu kalau kita baru membahas sesuatu yang terlarang?” ancam sang


dewi galak.


“Aku meletakkan raja itu disana….ah, seharusnya aku membiarkannya mati saja” sesal Pushan.


“Kemana Saseth dan Helith? Kenapa kau yang melakukannya?” tanya Sakra bingung.


“Saat itu mereka harus membenamkan sisa pecahan pusaka ke dalam dasar bumi. Kami memiliki banyak tugas saat itu… sangat rusuh”.


Sakra terdiam.


“Kita harus mencari tahu apa benar Gosta Cola memiliki hubungan dengan semua ini. Aku khawatir jika ia sampai


menemukan cara untuk mencuri kekuatan Naga Swarna…. “ dewa itu menarik napas panjang.


“Artinya bumi akan berada dalam bahaya” tambah sang dewa.


“Ya jika sampai mengetahui siapa itu Kavindra dan siapa itu Alea…. Tamat sudah. Ia akan menggunakan darah Alea dan Kavindra untuk melepaskan energi yang disegel oleh Naga Swarna. Ditambah pula jika ia berhasil mencuri kekuatan yang tersimpan di dunia transisi..... aku yakin kita akan menghadapi kekacauan skala besar” timpal Norgyunma cemas.


“Kita tidak bisa tinggal diam. Kalian bisa membantuku kan? Cari tahu apapun mengenai Gosta Cola… jejak


terakhirnya. Jika memang ia tengah berada di dunia transisi neolitik…. kita harus pergi ke sana dan melindungi Alea serta Kavindra” seru Pushan sambil mengajak keduanya ke luar dari bangunan sayap utara.


Setelah sekian purnama.


Pushan, Norgyunma dan Sakra akhirnya kembali bersama.


Reuni kali ini bukan sebuah reuni yang dipenuhi canda tawa.


Ketiganya tahu jika mereka akan berhadapan dengan penjara langit jika sampai salah bertindak.


Pergi ke dunia transisi, menentang aturan waktu dan menggunakan kekuatan dewata.


Meskipun demikian, Norgyunma merasa sangat bahagia.


Ia tidak sabar lagi untuk melakukan pemberontakan terselubung!


Sesuatu yang pernah dilakukan oleh idolanya, siapa lagi kalau bukan Jenderal Nazaxenna sang pendiri Pasukan Zaitun!


***


Vote, like dan komennya ya Fanalea!!!!


:D muah