Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 4. Berawal dari ronda malam



Jika saja Kavindra bukan titisan Naga Swarna, Alea mungkin sudah mendorong pria itu jatuh dari tebing.


Bayangkan saja, Kavindra mengajukan diri untuk melakukan patroli di lokasi terjadinya penjarahan. Entah pembicaraan apa yang telah dilakukan oleh pria itu dengan sang juru kunci, intinya, Alea kini terseret menjadi anggota tim ronda malam.


"Becanda lo... gimana kalau ada setan muncul?" cubit Alea kesal. Ia menatap ke arah tenda biru yang didirikan oleh Kavindra. Di dalamnya sudah ada sejumlah persediaan seperti biskuit roma, termos air panas dan beberapa sachet kopi instan.


"Kenapa mesti biskuit roma?" tanya Alea bingung.


"Biar kek ronda beneran sis....".


"Apa hubungannya?".


"Ya, ada... kamu kurang syahdu emang orangnya" ujar Kavindra sambil mengoleskan cairan anti nyamuk di sekujur tubuh.


Pria itu lalu mengambil sesuatu dari balik tenda. Ia menyerahkan satu set kain sarung dan penutup wajah ke tangan Alea.


"Ini untuk apa?".


"Kan uda dibilang, biar kek ronda beneran... ".


"Ih, apa sih Kav! Ini malah kek penjahat. Salah-salah kita yang ditangkep penduduk setempat" protes Alea sambil melihat penampakan Kavindra yang kini menyerupai sosok penjarah.


" Gue tau gue ganteng... ga usah segitunya lah memandang gue..." ujar Kavindra yang kemudian memberikan pentungan kayu untuk Alea.


"Ini?". Gadis itu masih belum yakin kenapa Kavindra memberinya sebuah pentungan.


"Senjata para peronda...".


Wajah Alea menjadi pucat. Bagaimana kalau lawan mereka benar-benar kuat? Apakah pentungan yang ia pegang dapat menyelamatkan nyawanya?


Apakah ini waktu baginya untuk menelpon Mahesa dan meminta bantuan?


Jika dipikir-pikir, Alea tahu bahwa ia tidak punya pengalaman bertarung dengan manusia modern. Gadis itu menggeleng berulang kali dan mencoba merayu Kavindra untuk membatalkan partisipasinya di acara ronde malam hari ini.


"Ini gue balikin pentungannya".


Kavindra menolak idea Alea.


"Ah keknya dulu lo nggak secemen ini.... mana Alea sang pemimpin revolusi bumi yang pernah gue kenal?".


"Tapi lawan gue dulu kagak tahu HAM. Gimana kalau muka mereka gue pentung, terus mereka lapor ke KOMNAS HAM?" jawab Alea memberikan pembelaan. Melawan manusia modern tidaklah semudah membantai para pengikut Nyai Gunting Alam dan pasukan Agros. Pada peradaban saat ini, seluruh tindakan manusia akan diatur oleh payung hukum yang berlaku di wilayah setempat.


Kavindra tersenyum. "Tenang sis... gue bisa sewain pengacara kelas kakap yang elo mungkin ga mampu bayar".


"Gak usah ditekankan kalau gue gak punya duit" omel Alea.


"Hahahaha.... kenyataan hidup emang pahit Alea! Tapi semua bisa jadi manis asal elo sering liat-liat muka gue".


Tung!


Alea tanpa sengaja memukul jatuh Kavindra dengan pentungan kayunya.


Tentu saja Alea tidak mengira jika pentungannya barusan bisa menyebabkan Kavindra K.O.


"Kav... Kav... Kav..." panggil gadis itu panik. Ia yakin bahwa pukulannya barusan tidak terlalu kencang. Masa iya Kavindra bisa jatuh tersungkur?


Tiba-tiba Alea mendengar sebuah suara orang tengah berbisik-bisik. Semakin lama suara itu semakin dekat.


Perasaan Alea tidak enak. Ia tidak yakin apakah suara yang ia dengar berasal dari manusia atau makhluk jadi-jadian. Tidak mau mengambil resiko, gadis itu kemudian menyeret Kavindra ke belakang bebatuan andesit terdekat.


"Aduh berat banget...." gerutu Alea.


Ia hampir berniat meninggalkan Kavindra begitu saja. Sayang sekali niat kejinya selalu gagal karena gadis itu selalu ingat akan sumpah yang pernah ia ucapkan. Apalagi selain sumpah untuk melindungi pria yang memiliki tanda lahir Naga Swarna di tubuhnya?


"Gelo....." seru Alea sambil mengeluarkan tenaga terakhir. Ia mengutuk  Kavindra yang menyebabkan dirinya kehabisan napas.


Alea dan Kavindra akhirnya berhasil bersembunyi di balik batu. Dengan wajah yang masih terbalut sarung, Alea pun mencoba mengintip dari celah bebatuan.


"Manusia?" gumamnya penasaran.


Ia melihat sekelompok anak muda yang mengenakan kaos berwarna hitam dan gelang berduri. Dari penampakannya, mereka nampak seperti sekumpulan bikers.


Ketujuh pemuda itu berjalan dengan penuh percaya diri. Mereka tidak terlihat takut berjalan malam-malam di atas situs purbakala yang tidak memiliki penerangan yang cukup. Alea curiga bahwa pemuda-pemuda itu adalah kumpulan para penjarah yang tengah dicarinya.


"Kau hebat... ilmumu semakin mantap!" sahut salah seorang dari mereka.


"Ya ilmu hipnotismu semakin luar biasa. Kau berhasil menidurkan mereka semua" ujar yang lain.


Alea kembali menghitung jumlah mereka. Tujuh pemuda, tidak ada yang lain.


Atmosfir yang mereka bawa mengerikan. Alea dapat merasakan kebengisan yang keluar dari ketujuh pemuda tersebut. Ia semakin yakin jika ketujuh pemuda itu adalah The Great Destroyer.


"Jadi sudah sampai dimana kita kemarin".


"Batu yang kamu iris kemarin bukan yang kita cari" seru salah satu dari mereka.


"Ya... ada yang menghalangi kita. Sepertinya penghuni tempat ini".


"Tapi kau sudah melumpuhkan juru kuncinya bukan?". Kali ini Alea mendengar suara pria yang bernada cempreng. Dari tindak tanduknya, sepertinya ia merupakan pemimpin grup tersebut.


Satu pria mengangguk. "Aku rasa... batu itu disembunyikan di sekitar sini. Aku merasakan energinya. Aku melihat makhluk-makhluk yang beterbangan ke sana kemari".


"Iya aku juga. Energi hari ini lebih kuat ya? Pasti kita semakin dekat dengan apa yang kita cari".


"Kita harus hancurkan...energi yang meliputi tempat ini" ujar pria bersuara cempreng itu lagi.


Beberapa dari mereka mengeluarkan sejumlah perlengkapan dari sebuah tas boston. Para pemuda itu lalu menancapkan sejumlah dupa di berbagai penjuru. Mereka bertujuh kemudian membentuk lingkaran lalu mengucapkan mantra bersama-sama.


"Kami sekumpulan pemimpin dunia baru.... akan menghancurkan peninggalan penguasa lalim yang gagal membawa bumi ke arah kemajuan. Kami manusia yang memiliki kemampuan khusus, akan menaklukan makhluk-makhluk dunia bawah dan menjadikan mereka takluk di bawah kaki kami".


Bulu kuduk Alea berdiri. Dugaannya tidak salah! Ketujuh pemuda itu memang penjahat yang harus ia tangkap. Mantra yang mereka ucapkan membuat keringat dingin Alea bercucuran. Ia merasakan sebuah sensasi panas di punggung yang silih berganti dengan hembusan angin tanpa henti. Gadis itu lalu mendengar suara jeritan minta tolong yang pilu.


Alea pun menoleh ke belakang.


Wajahnya menjadi pucat.


Ratusan makhluk penunggu gunung muncul dari balik bebatuan dan pepohonan. Di leher mereka seperti ada tali tambang putih yang berukuran besar. Tali tersebut memaksa mereka untuk berjalan mendekati lingkaran dimana  ketujuh pemuda tersebut berdiri. Mereka berjalan sambil berteriak kesakitan.


"Ratu..." panggil suara di balik pepohonan.


Alea dapat mengenali suara tersebut. Ya, itu adalah suara makhluk yang tadi siang bercakap-cakap dengannya.


Gadis itu meletakkan telapak tangannya ke permukaan tanah. Ia memejamkan mata. Walaupun Alea tidak tahu harus berbuat apa, tapi ia merasakan sebuah dorongan yang tak bisa ia jelaskan.


"Aku.... meminta kalian yang bersembunyi di bawah tanah, dan kalian yang selama ini telah melindungi tempat kami dari batas angkasa... untuk melawan kekuatan yang tengah berusaha memporak porandakan tempat kita. Aku, yang pernah menjadi penguasa di tempat ini, memanggil seluruh kekuatan yang bersembunyi, kekuatan dari para penerus tahta Raja Raseyan untuk menghalangi para manusia yang ingin menghancurkan energi dari tanah ini".


Sebuah teriakan keras terdengar. Alea tahu bahwa itu berasal dari salah satu pemuda.


"Wah, ngelawan dia bro. Ada energi besar yang mencoba menghalangi kita...".


"Fokus..." ujar pria bersuara cempreng.


Ia melanjutkan kata-katanya, "Ulang lagi mantra yang telah kita sempurnakan.... kita harus menemukan energi rahasia dari tempat ini".


"Ya, jika kita berhasil menemukannya... kita bisa bergerak ke Jawa Tengah... lalu Jawa Timur... dan kita kuasai Tanah Jawa!" ujar pemuda yang lain.


Alea kembali memejamkan mata.


Ia tidak rela jika tanah peninggalan Raseyan akan porak poranda dibuat oleh tujuh manusia berkekuatan misterius tersebut.


Saat gadis itu mencoba untuk melanjutkan semedinya, suara ponsel Kavindra pun berdering kencang.


Now that we're dead my dear, we can be together!!!!!!!


Now that we're dead my dear, we can live forever!!!!!!!!!!!


"Geblek!!!!!!!!!! Pingsan aja masih nyusahin!!!!" gumam Alea panik.


Alea buru-buru mengambil ponsel itu dari kantong Kavindra. Ia melempar ponsel itu ke sisi kanan tempat persembunyian mereka. Gadis itu kemudian merunduk. Ia menutupi seluruh tubuh dengan sarung yang diberikan Kavindra, berharap kamuflase tersebut dapat menyelamatkan mereka berdua.


"Ada handphone jatuh. Busyet Iphone 11! Buat gue ya bro..." ujar pria yang memungut ponsel Kavindra tersebut.


"What?!!!!!!!!!!!!! Iphone gue, siapa yang mau nyolong?" teriak Kavindra yang tiba-tiba siuman. Pria itu buru-buru berdiri dan berlari ke arah pria yang memungut ponselnya.


"Balikin!".


"Wah, wah...lihat siapa ini...." tawa pria tersebut meremehkan Kavindra.


"Hahaha, ada yang belum tertidur rupanya. Awi, ayo gunakan hipnotismu untuk menidurkannya".


Pria yang rupanya bernama Awi tersebut membalas kata-kata temannya.


"Tenang bro.. ini sih gampil" ujar pria itu sambil mengeluarkan pendulum andalannya.


Satu menit berlalu, Kavindra masih berdiri tegak. Pria bernama Awi itu tidak percaya jika hipnotisnya gagal.


"Kok bisa?!" ujarnya panik.


"Ya bisa, demi Iphone yang lo pegang!".


"Masa iya kamu mau meregang nyawa demi hp yang harganya cuma puluhan juta?".


"Well, kalau boleh jujur.... lo boleh ambil iphonenya tapi balikin casingnya".


Awi tertawa. Ia menertawakan permintaan Kavindra yang dianggapnya bodoh.


"Tertawalah sepuas elo. Kalau lo tau harga casingnya pasti elo diem".


Alea menguping. Ia jadi penasaran dengan harga casing Iphone Kavindra.


"Ini... ya paling dua ratus lima puluh rebu...".


Kavindra menggeleng.


"Maaf bro anda salah".


"Berapa yang bener?". Keenam pemuda lain ikut menebak harga casing  pria itu.


"Lima ratus rebu".


"Tujuh ratus rebu".


"Ah ga mungkin item dekil gitu paling seratus lima puluh ribu".


"Hahaha... sepertinya kalian tidak pernah mengenal brand Cartier"  ejek Kavindra angkuh.


"Gahtie?".


Keenam pemuda itu saling berhadapan. Mereka mengangkat bahu bersamaan, sebuah tanda kalau mereka tidak pernah mendengarnya.


"Mungkin buatan temen ceweknya...".


"Dia boong... ini tulisannya kar-ti-er.r..." ujar Awi sambil membawa merk yang tertera di ponsel Kavindra.


"Ha, karti-er.... ya pasti temennya yang buat makanya spesial" sahut salah satu pemuda.


"Hah susah ngomong ama kalian!"  ujar Kavindra sambil memasang kuda-kuda.


"APAAAA??????????????????????? GAHTIE, GAHTIEnya CARTIER??????????????????????!!!!" teriak Alea meniru cara pelafalan ala perancis yang baru saja disebutkan Kavindra.


Gadis itu langsung keluar dari persembunyiannya. Ia menyesal telah melempar ponsel tersebut begitu saja. Harusnya ia menguliti casing ponsel itu dulu sebelum membuangnya.


Alea mendekati Kavindra.


"Kav, jujur berapa harganya?".


"Lah, Le...lo darimana aja?" tanya Kavindra bingung. Sedari tadi ia kira Alea tengah bersembunyi di suatu tempat.


"Jawab harganya... kalau itu mahal, gue akan melindungi nyawa lo".


"Ya lumayan sis... 70.000 USD sih...".


"What 1 M?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!". Alea spontan bergerak melindungi Kavindra. Ia memukul Awi dengan pentungannya. Saat pria ceking itu terjatuh, Alea buru-buru merampas Iphone Kavindra.


Gadis itu tersenyum lebar. Ia membayangkan cicilan apartemennya yang bisa lunas sekejap jika ia menjual casing itu ke toko loak.


"Lah tadi katanya takut HAM, Le?" tanya Kavindra takjub.


"Hak untuk melunasi cicilan apartemen yang mencekik leher juga termasuk hak asasi manusia Kav...." jawab Alea yang air liurnya menetes saat melihat kilauan permata yang menutupi iphone Kavindra.


"Dasar budak duit... matre!" sindir Kavindra.


"Satu M???????" jerit keenam pemuda lainnya. Tanpa pikir panjang, mereka semua langsung berhambur mengejar Alea dan casing iphone  mahal tersebut.


"La... Lari..........................." jerit Alea sambil meraih tangan Kavindra.


Keenam pemuda itu terus mengejar Alea dan Kavindra. Komplotan pemuda yang menamakan dirinya The Great Destroyer itu sadar jika uang senilai satu M bisa membantu logistik untuk perburuan mustika dan energi yang tersimpan di balik Tanah Jawa.


"Kav... gue minta setengah dari uang ini ya...." seru Alea bernapsu.


"Buat apa?".


"Udah lo kan kaya...atau semuanya buat gue. Itung-itung bantu temen".


"Ga bisa... itu edisi terbatas".


"Kalau ga... lo gue tinggalin disini. Gue cuma bawa casing aja pulang ke rumah".


Kavindra mencibir Alea.


"Ya udah.... setengah. Deal".


"Yeeeah!!!!!!!!!!!!!!!!!" tawa Alea puas. Ia kini menjadi lebih percaya diri. Berbulan-bulan terjebak di peradaban Sundayana membuat gadis itu tahu seluk beluk pintu masuk Benteng Sundayana. Lagipula, seluruh elemen di situs purbakala itu kini menampakkan sebuah energi yang hanya bisa dilihat oleh Alea.


Gadis itu melihat pancaran energi yang memandu ia dan Kavindra ke tempat persembunyian yang aman.


"Kav sini...." ajak Alea sambil melompat ke celah-celah bebatuan yang tersusun secara diagonal.


Kavindra memeluk batu andesit kecil di depannya.


"Batu ini akan menyamarkan keberadaan kita...." seru Alea.


"Le... ini kan?" ujar Kavindra sambil menggerakkan tuas yang sudah lama tidak ia lihat.


Brak!


Belum sempat Alea menjawab, mereka berdua pun terjatuh ke dalam sebuah lubang yang membawa mereka kembali masuk ke Benteng Sundayana.


Tempat yang tidak terjamah manusia dalam ratusan ribu tahun.


Tempat rahasia yang hanya diketahui oleh para pengikut Raja Raseyan.


Benteng Sundayana yang dikembangkan oleh Raseyan, Saseth, Helith, dan juga Kavindra!


***