Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 2. Diary yang akhirnya terbaca



"Mbak, ngeboba yuk...." ajak Astri.


Alea menolak ajakan gadis berkacamata itu. Pikirannya belum fokus. Sedari tadi ia masih belum memutuskan apakah dirinya akan membaca buku yang dikirim Kavindra.


Pria itu sepertinya tahu jika sang sahabat tidak kunjung membuka file yang ia kirim. Sudah tiga hari sejak Alea menemukan batu persegi yang berisi rekaman suara Raseyan yang dapat ditranskripsi ke bentuk tulisan.


Alea lagi-lagi mengintip buku yang dikirim Kavindra. Ia pun mengutuk kedunguan Kavindra yang sengaja mencetak sketsa wajah Raseyan besar-besar di sampul buku tersebut.


"Diary from the past" begitu judul buku itu.


"Katanya ga boleh ketauan Mahesa... terus kalau gue bawa ini di tas... emangnya dia pikir suatu hari ga bakal ketangkap basah?". Alea kini meragukan kecerdasan Kavindra. Jangan-jangan kecerdasan pria itu hanya berlaku di masa lalu?


Ia menghela napas panjang, berharap satu tiupan napas dapat membawanya pergi ke dunia dimana ia bisa melupakan rasa bersalahnya terhadap Raseyan.


Alea memandang sketsa wajah Raseyan. Air matanya nyaris tumpah. Sketsa wajah itu mirip sekali dengan pria yang pernah menikahinya.


"Mbak... beneran ga mau bobanya?" tanya Astri lagi. Ia sudah siap melakukan pesanan dengan ponselnya yang dipenuhi stiker berbagai rupa.


Alea menggeleng.


Ia memasukkan buku kiriman Kavindra ke dalam tas selempangnya. Gadis itu menggerakan kursi dan mengarahkan pandangannya ke layar PC kantor.


Hari ini ia harus menyelesaikan terjemahan proposal Kavindra untuk sebuah perusahaan media terkemuka. Pria itu ingin menjual hak siar video dokumentarinya ke Starflix, salah satu perusahaan TV kabel yang sedang naik daun di Indonesia.


"Kan dia bisa bahasa Inggris, ngapain juga dia susah-susah nulis pake bahasa Indo terus nyuruh gue yang nerjemahin?".


Alea membetulkan susunan kalimat Kavindra yang berantakan.


"Ih, bahasa Indonesianya belepotan... ini orang emang ngerjain gue atau apa sih?! Bukannya dia lebih gape berbahasa Inggris? Ngapain juga maksain diri nulis pake bahasa Indo yang ga bisa dipahami manusia normal" omel Alea lagi.


"Mbak, lagi sibuk banget nggak?" tanya Milky. Gadis berambut ikal itu baru saja bergabung dengan Global Connection. Ia masuk untuk menggantikan posisi Alea yang akan berhenti bulan depan.


Nazaxenna meminta Alea untuk bergabung dengan kantor barunya yang bernama Zen Design. Mantan kaisar langit itu sudah merancang kehidupan barunya sebagai manusia bumi. Walaupun Alea tidak memiliki background design, Nazaxenna meminta gadis itu untuk menjadi kepala divisi desain.


"Desain apa?" tanya Alea setengah tidak percaya saat Nazaxenna menawarinya pekerjaan.


"Desain kehidupan...." tawa sang dewa yang membuat hati Alea meleleh.


"Mbak..." panggil Milky lagi.


Lamunan Alea terhenti. Wajah manis Nazaxenna memang bisa membuatnya lupa daratan.


"Bantu aku review hasil terjemahanku.... ini udah digabungin sama video Mas Kavindra".


Tubuh Alea bergidik. Ia sungguh jijik dengan cara Milky memanggil mesra Kavindra.


"Mas... mas, Om brewok tau" gumamnya dalam hati.


Di depan teman-teman kantornya, Alea masih menjaga jarak. Ia belum menunjukkan perubahan sifatnya yang terjadi akibat "salah pergaulan" dengan pria-pria dari dunia dewa dan masa lalu.


Ya, para pekerja di Global Connection masih mengenal Alea sebagai gadis pemalu dan pendiam.


Image itu yang ingin dipertahankan oleh Alea hingga akhir.


Milky mengambil kursi tambahan agar Alea bisa duduk di sebelahnya.


Ia dengan sigap menggerakkan kursor dan menyalakan tombol play .


"Nih mbak... ".


Alea menyimak hasil kerja perdana Milky. Gadis itu memiliki sense yang cukup baik. Beberapa kalimatnya enak dibaca dan ia tahu cara menggunakan idiom yang tepat.


Tapi jika Alea boleh jujur, ia lebih suka jika wajah Kavindra tidak dimunculkan di dalam video dokumentari tersebut. Jika saja ia tidak pernah menghabiskan waktu bersama pria itu, pasti ia juga akan terseret ke dalam pesona Kavindra.


Alea diam-diam tahu jika Milky tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok Kavindra. Bagaimana tidak, pencitraan Kavindra begitu sempurna. Tampan, muda, pintar, dan kaya raya.


"Tunggu sampai dia lihat betapa cepat bulu-bulu Kavindra tumbuh... bah, dan tunggu sampai dia diseret Kavindra ke jurang kematian hanya karena pria itu ga bisa lagi makan ubi!" omel Alea geram. Di dalam hati ia mengutuk segala tindakan nekad Kavindra saat mereka berada di masa peradaban awal.


"Jadi misteri apa yang sebenarnya ada di balik situs megalitikum ini? Benarkah peradaban di Gunung Padang jauh lebih tua dari piramida mesir?". Suara Kavindra terdengar meyakinkan.


Milky meremas roknya. Ia sepertinya sudah terperangkap ke dalam pesona pria itu dan tidak bisa lepas lagi.


"Bah..." dengus Alea. Matanya menatap wajah Kavindra yang muncul di layar PC Milky.


Alea tiba-tiba terdiam. Ia melihat sebuah siluet hitam yang muncul di belakang bebatuan andesit.


"Eh Milky... sorry, boleh minta tolong nggak. Panggilin Pak Bono dong.. minta tolong beliau buatin teh panas buat aku di pantry" pinta Alea.


"Oh ga order di go-food aja mbak?".


"Ga usah...kan kita ada stok di pantry. Bilangin ya.. makasih". Alea berbohong. Ia sengaja meminta Milky untuk mencari office boy yang bertanggung jawab membuatkan minuman untuk para pekerja. Alea tahu jika jam segini Pak Bono pasti sedang minum kopi pahit di lantai dasar. Modusnya jelas, mendekati mbok Tini yang berjualan makanan dan minuman ringan di gedung mereka.


Alea tidak ingin Milky melihat siluet yang muncul di video dokumentari tersebut. Ia berharap kebohongannya dapat membuat Milky pergi untuk sementara waktu.


Setelah gadis cantik itu pergi, Alea buru-buru memutar ulang detik dimana bayangan hitam tersebut muncul di belakang Kavindra.


Pause.


Alea memicingkan mata.


Ia mengambil gambar bayangan hitam itu dengan ponselnya.


Diam-diam Alea juga mengirimkan file video itu ke PCnya. Keringat dinginnya turun. Ia berharap Milky belum menemukan Pak Bono.


60%....


70%...


80%....


90%...


Transfer complete!


Alea menarik napas lega.


Milky pun datang bersama Pak Bono yang tergopoh-gopoh.


"Tehnya abis neng... belum beli lagi".


Keringat memenuhi wajah Pak Bono. Ia terlihat letih setelah dipaksa Milky menaiki anak tangga ke lantai enam, tempat dimana Kantor Global Connection berada.


"Ya udah pak... ntar tolong isi ulang lagi ya...".


Alea menepuk pundak Milky, "Aku sudah tulis masukanku di bagian komen ya...".


"Ah makasih ya mbak...".


Alea tersenyum tipis.


Ia segera membereskan barang-barangnya. Hari ini Alea berniat pulang cepat. Ia akan meminta izin kepada Pak Frederick untuk menemui Kavindra.


Untung akal bulus Alea berhasil. Nama Kavindra ternyata sangat ampuh. Pak Frederick langsung mengiyakan permintaan Alea untuk berdiskusi dengan sang investor.


Gadis itu kemudian segera berlari ke bawah. Ia memesan layanan taksi online dengan terburu-buru.


Di dalam kendaraan, Alea kembali mengamati screenshot siluet dari video dokumentari Kavindra.


Ia mencoba membesarkan foto tersebut.


Feelingnya bercampur aduk.


Gadis itu buru-buru membuka cetakan diary yang diberikan Kavindra.


Alea ingin memastikan bahwa dugaannya salah.


"Masa iya, masih ada misteri yang tertinggal?" gumamnya resah.


Ia pun memberanikan diri untuk membaca diary Raseyan.


Sebelum masalah yang tidak diinginkan muncul, Alea harus menguak misteri di balik kemunculan siluet hitam itu.


Suara pembicara nomor satu: Ehem...ehem...


Begini?


"Pembicara nomor satu?" tanya Alea bingung.


Apakah maksudnya Raseyan, tanyanya lagi.


(Suara pembicara nomor dua terdengar)... ngomong aja Raz, yang alami.... nanti dia rekam sendiri.... trus bisa otomatis disimpan dalam bentuk tulisan juga.


Suara pembicara nomor satu: Ah, jadi kalau aku usap batu ini tiga kali... batu ini akan merekam pembicaraanku? Terus Alea di masa depan bisa apa tadi katamu?


Suara pembicara nomor dua: baca... kaya begini... dia bisa mengerti simbol-simbol yang muncul.


Suara pembicara nomor satu: Wah, kamu sungguh pintar.


(Tawa pembicara nomor dua lalu terdengar).


***


(Suara jeda terdengar cukup lama).


Suara pembicara nomor satu: Halo... apakah benar ini cara pengucapannya ya? Kavindra, temanku dari masa depan memberi tahu jika manusia-manusia di zamannya membuka ucapan salam dengan kata Halo.


Em.... hari ini aku dan istriku akan menikah kembali.


Akhirnya.... ia setuju untuk menjadi ratuku.


Sebenarnya aku malu untuk bercerita.


Kata Kavindra ini namanya cinta.


Aku tidak bisa menyimpan rinduku.


Sejak melihat wanita itu pertama kali.


Ehem namanya Alea. Nama yang indah, nama yang tidak pernah kami dengar di tanah ini.


Kami sudah menikah. Andulu dan Amatya yang melakukan prosesi pernikahan kami untuk pertama kali. Tapi saat itu, ia tidak dalam kondisi sadar. Kami hanya melakukan ritual agar diriku terlepas dari kutukan yang diberikan oleh Bangsa Agros.


Tapi hari ini, kami akan melakukan pernikahan sekali lagi.


Andulu dan Amatya sudah mempersiapkan pakaian yang biasa dikenakan oleh para calon ratu di saat hari pernikahannya.


Akan secantik apa ia?


***


Alea mengerutkan dahi. Ia menduga jika rekaman tersebut dibuat Raseyan pada hari penobatan mereka menjadi raja dan ratu Sundayana.


Saat Alea akan membalikkan halaman, sang supir taksi mengingatkannya bahwa mereka telah tiba di tujuan. Alea pun mengucapkan terima kasih. Ia buru-buru memasukkan buku catatan Raseyan ke tas. Kakinya bergegas meninggalkan taksi online tersebut. Alea tidak sabar lagi untuk segera sampai ke rumah.


Di kepala gadis itu hanya ada satu hal.


Ia harus mendengarkan seluruh rekaman Raseyan sampai selesai.


Brak!


Tubuh Alea menabrak Mahesa yang ternyata sudah menunggu di depan pintu unit apartemen.


"Ah...".


"Ah kenapa? Kok mukanya gitu?".


Alea membalas pertanyaan Mahesa dengan senyum kecut.


"Duh kenapa dia pake ada disini sih?". Alea meraba buku yang tersimpan di tasnya.


Mahesa memiliki sifat aneh sejak mereka tiba di masa depan. Dewa itu sering memeriksa isi tas Alea. Ia curiga jika Alea menyimpan bungkus makanan ringan tanpa sepengetahuannya.


Akhir-akhir ini Mahesa sedang keranjingan makan fish chips rasa telur asin.


Dalam sehari ia bisa makan sampai lima bungkus.


"Nggak ada... hari ini ga bawa..." seru Alea gelagapan.


Mahesa mengikuti langkah Alea dari belakang. Ia menarik tas selempang Alea dan mencoba membongkarnya.


"Nggak ada, dibilangin hari ini ga bawa...".


Mahesa menatap mata kekasihnya dengan manja.


"Kenapa?".


Ia meraba tas Alea sekali lagi.


"Ini apa keras? Kotak snack barukah?".


Wajah Alea makin pucat. Ia yakin jika Mahesa baru saja menyentuh buku diary yang ingin ia sembunyikan.


"Ini... ini perlengkapan wanita. Barang pribadi.... hus hus.... " ujar Alea sambil buru-buru masuk ke kamar dan menguncinya.


"lea.. lea.. barang apa....". Suara Mahesa terdengar di luar pintu.


Alea buru-buru mengeluarkan diary tersebut dan menyembunyikannya di antara rak pakaian.


Tangan kecilnya menggapai kotak stocking yang kebetulan ia beli seminggu lalu. Alea langsung memasukkan kotak yang ukurannya serupa itu ke dalam tas.


Suara ketokan Mahesa terdengar semakin keras. Sambil menghembuskan napas panjang, Alea memberanikan diri untuk menyapa Mahesa yang terlihat curiga.


"Tunjukkan... pasti kue kering ya...".


"Bukan...".


"Terus kenapa sembunyi?".


Mahesa menarik tas Alea. Ia kemudian membukanya dengan paksa.


"Apa ini?". Mahesa mengamati kotak stocking berwarna cokelat muda tersebut dengan aneh.


"Kan uda kubilang... masukin lagi ah!".


"Aneh sukanya yang begini. Ga usah pake baju terbuka, aku ga suka...". Mahesa mengkritik model yang mengenakan stocking jaring-jaring di sampul pembungkus.


"Ya udah sih, aku beli bukan untuk kamu lihat...".


"Terus untuk siapa?" Mahesa mulai cemburu. Ia tidak menduga akan mendengar jawaban seperti itu dari Alea.


"Ini untuk Nobi, Sobi, Kobi! Buat mainan mereka...".


"Oh...". Jawaban Alea sepertinya berhasil membuat Mahesa tenang. Dewa itu memanggil ketiga kucing peliharaan Alea.


"Nih, mainan baru..." seru Mahesa sambil memberikan stocking jaring-jaring itu ke Nobi bersaudara.


"waaah, terima kasih Tuan...". Nobi dan dua saudaranya segera menarik jaring-jaring stocking dengan gembira.


Alea hanya bisa tersenyum pahit. "Stocking empat ratus ribu gue...." gumamnya menahan air mata. Ia sengaja membeli stocking itu untuk menghadiri pesta pertunangan Astri yang akan diadakan minggu depan.


Mahesa meloyor pergi dengan wajah tidak bersalah. Dewa itu lalu membuka kulkas dan mengambil stok toppoki pedas milik kekasihnya.


Alea jatuh terduduk. Kakinya gemetar. Hampir saja Mahesa mengetahui keberadaan diary rahasianya.


Jika dewa pencemburu itu sampai tahu, apakah ia akan membantunya menguak misteri di balik kemunculan sosok hitam di video Kavindra?


***