
PROLOG
Kisah ini merupakan seri lanjutan petualangan Alea di masa lalu.
Gadis yang bernama Alea Avania itu telah melakukan dua kali perjalanan waktu dalam masa yang berdekatan. Perjalanan pertama Alea diwarnai dengan keterlibatan gadis itu dengan dunia langit serta misteri yang menyelimuti Bhumi Sriwijaya pada abad ke-9. Gadis itu tak hanya bersua dengan Raja Balaputradewa, namun ia juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal sosok-sosok dewa penjaga langit yang hidup dalam ruang bernama dunia tujuh dimensi. Perjalanan waktu ini juga telah mempertemukan Alea dengan sesosok dewa langit yang bernama Pushan. Dewa yang memiliki nama bumi Mahesa ini merupakan calon penerus tahta Kaisar Langit. Berkat bantuan Mahesa, Raja Balaputradewa berhasil menyingkirkan penyihir bengis yang ingin menguasai kadatuan Sriwijaya.
Dalam perjalanan keduanya, Alea terlempar ke dunia pada masa akhir Pleistosen. Gadis itu bertemu dengan pangeran yang mendapatkan kutukan dari Agros, bangsa bengis yang membuat kekacauan di zaman peradaban awal. Kehadiran Alea telah meminimalisir kutukan yang dimiliki sang pangeran. Sejak kedatangan Alea, pangeran yang bernama Raseyan itu akhirnya bisa terbangun setiap hari seperti layaknya manusia normal. Kutukan Bangsa Agros telah membuat Raseyan hidup sebagai pangeran lemah dan penyakitan. Berkat Alea, Raseyan pun bisa naik tahta menjadi raja Sundayana. Hidup Alea pun terjepit antara Raseyan dan Mahesa. Dewa itu sendiri tidak bisa sesuka hati mengunjungi masa peradaban awal akibat eksistensi hukum waktu yang ditetapkan oleh Kaisar Langit. Cinta Alea dan Mahesa lagi-lagi diuji. Raseyan menjadi ganjalan bagi hubungan mereka berdua, dan sayang sekali Alea terpaksa harus mengutamakan Raseyan demi menuntaskan misinya.
Cerita Diary from the Past merupakan lanjutan dari kisah petualangan Alea di masa lalu. Kali ini ia bertemu lagi dengan Raseyan, raja Sundayana yang kini terdampar dalam dimensi ruang yang berbeda.
***
BAB 1.
Tentu saja Alea tidak pernah terpikir untuk kembali mengunjungi situs Gunung Padang. Misinya sudah selesai dan Alea tahu itu.
Ia tidak ingin membuka kenangan mengenai Raseyan maupun bangsa Sundayana.
Bukankah kini ia sudah berhasil menjalani lembaran baru dengan Mahesanya?
Tapi apa daya, irisan takdir kembali menyapa dan Kavindra menjadi katalisnya.
Surat kontrak yang ditandatangani oleh Pak Frederick, bos Alea di kantor penerjemahan Global Connection menjadi salah satu sebab musababnya. Jika saja Pak Frederick tidak pernah menjalin kerjasama dengan perusahaan media milik Kavindra, mungkin Alea tidak perlu berurusan lagi dengan situs megalitik Gunung Padang.
Situs bersejarah tersebut jelas menyimpan kenangannya dengan Raseyan, pangeran penyakitan yang berhasil naik tahta menjadi raja dan suami sementaranya. Alea mengutuk Kavindra yang masih bersikeras meneruskan proyek film dokumentarinya. Alasan pria itu klise, ia ingin agar anak muda lebih menghargai aset sejarah yang dimiliki nusantara.
Alea tahu bahwa Kavindra belum move on dari petualangan mereka di Tanah Sundayana, nama bangsa yang menghuni area Gunung Padang pada akhir masa Pleistosen bumi. Di masa lalu Kavindra benar-benar menyalurkan hobinya untuk membuat alat-alat ajaib yang tidak mungkin ia ciptakan di masa ini tanpa biaya. Kehadiran dua sosok dewa penjaga pusaka Sundayana telah membantu Kavindra untuk memuaskan napsu intelektualnya. Saseth dan Helith, nama kedua dewa itu selalu sigap menyediakan bahan-bahan unik dan langka untuk alat-alat buatan Kavindra.
"Kenapa mesti gue ikut sih? Emangnya lo butuh interpreter?" omel Alea kesal. Ia mengkritik tindakan Kavindra yang membawanya dan segenap staf Global Connection ke Gunung Padang. Alea jelas tidak terima. Kontrak kerjanya dengan Kavindra hanya sebatas anggota dari tim alih bahasa. Kenapa juga ia harus ikut serta dalam tim pembuatan film dokumentari dimana Kavindra menjadi pembawa acaranya?
Pria yang baru saja mencukur jenggot tebalnya itu tertawa lebar.
Hobinya memang menggoda Alea.
Ya itu adalah hobi favoritnya.
"Gue takut kalau tetiba balik lagi ke masa lalu, ga ada yang jagain .... kan elu heroinenya". Kavindra mengingatkan Alea mengenai peran gadis dalam petualangan masa lalu mereka.
Alea hampir saja mencubit lengan Kavindra dengan sekuat tenaga.
Ia hampir lupa jika Kavindra adalah investor yang membayar proyek mereka. Jika pria itu tidak memiliki kuasa, ingin rasanya Alea mencubiti pria itu sampai bulu hidungnya rontok semua.
"Mbak Alea... ini dokumennya" seru Astri dan Milky. Kedua gadis itu menyerahkan sebundel dokumen sebagai panduan kerja Alea. Hari ini Astri dan Milky, dua staf dari Global Connection menemani pekerjaan Alea di lapangan.
Keduanya nampak senang meskipun pekerjaan kali ini sebenarnya berada di luar jobdesk mereka.
Ya Alea tahu apa penyebabnya.
Apalagi selain keberadaan Kavindra di situs proyek?
"Pret, mereka belum tau aja orangnya sakit kek apa...." gerutu Alea kesal.
Kavindra kini menjadi populer di kalangan para pekerja wanita. Pencitraan pria itu memang sempurna. Tampan, kaya, pintar, dan nasionalis. Siapa yang tidak terpana?
"Yes cuma gue kayanya yang ga punya rasa ama dia...." gumam Alea lagi. Ia bersyukur sensornya tidak bekerja jika melihat Kavindra. Sebagai wanita yang lemah terhadap pria-pria bervisual indah, ia benar-benar bersyukur bahwa tidak pernah sedetik pun ia jatuh pada pesona pria usil tersebut.
Jujur saja hari ini Alea kesal. Ia tidak mengerti kenapa Kavindra sengaja membawanya kembali ke situs Gunung Padang. Gadis itu juga tidak paham kenapa Pak Frederick mengiyakan saja permintaan Kavindra untuk membawa tim alih bahasa ke acara syuting film dokumentarinya.
"Ngapain juga kita mesti kemari coba? Kan tim alih bahasa mah tugasnya ntar-ntar aja setelah video dia kelar.... lagian emang disini kita mau nerjemahin apa? Bahasa kalbu?!".
Alea mendengus. Ia tahu Kavindra hanya menggunakannya sebagai tameng pelindung. Pria itu pasti khawatir jika kedatangan mereka ke Gunung Padang akan mengundang misteri-misteri lainnya.
Gadis itu menggunakan sepatunya untuk menyapu gundukan tanah yang menghalangi jalan mereka. Ia mengikuti Kavindra yang tengah menyambut kedatangan sang juru kunci. Setelah beramah tamah dan meminta izin, Kavindra mengikuti jejak sang juru kunci yang telah berbaik hati memandu pekerjaan mereka hari ini.
Semakin dalam Alea melangkah, semakin resah perasaan yang ia rasakan. Entah karena rindu atau letih, Alea kini mulai berhalusinasi. Gadis itu teringat dengan situasi Gunung Padang di masa-masa akhir Holosen. Perasaannya semakin tidak menentu. Ia seperti tengah terombang-ambing dalam sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Alea tidak menampik jika pemandangan Gunung Padang yang hijau dan indah mengingatkannya pada Raseyan. Raja Sundayana terakhir itu lebih banyak menghabiskan hidupnya di dalam gua. Jika dihitung, kesempatan Raseyan untuk menikmati sinar matahari benar-benar sangat langka. Apakah sampai sisa akhir hidupnya, ia hanya melihat kegelapan? Pertanyaan itu semakin membuat Alea resah.
Feeling guilty. Demikian Alea menamakan perasaan yang berkecamuk di dadanya.
Seandainya saja Raseyan bisa menemukan ratu yang bisa membalas cintanya, pria muda itu tidak akan mati kesepian, gumamnya sedih.
Gadis itu memandang suasana asri di sekitar situs. Lima Gunung dan lima sungai. Siapa yang mengira jika kelima elemen alam tersebut merupakan tongkat yang sengaja dibenamkan oleh Raja Sutasuna untuk mengurung putri kesayangannya.
Tubuh sang putri itulah yang menjadi sumber kesuburan dan kekayaan mineral Tanah Sundayana hingga beberapa ratus abad ke depan.
"Neng...." sapa Kavindra usil.
"Apa?".
"Ga mau tau cerita terakhir Raseyan?".
Alea menggeleng.
"Ga mau ntar gue sedih...".
"Ih, padahal bisa lo buat novel.... cukup mengharu biru".
"Eh, dodol. Udah, udah... gue ga berani dengernya".
"Terus lo kenapa ga nanya ama gue? Gimana gue bisa balik ke masa depan".
Alea menjulurkan lidah.
"Yang penting elo uda balik... gue ga tertarik ama kisah hidup elo".
"Ih, savage kali.... ntar gaji lo gue potong".
"Heh! Gue bilangin Mahesa biar hidung lo turun ke perut" ejek Alea sebal.
"Bah, gue bilangin Mahesa juga kalau elo ileran pas liat muka Mur" ancam Kavindra balik.
Alea menendang kaki Kavindra. Ia tidak bisa mengendalikan emosi.
"Dasar manusia buluan" ujar gadis itu sambil melengos pergi.
Kavindra tertawa usil. Ia senang jika Alea tersulut. Menggoda Alea adalah satu hobi barunya. Pria itu menemukan bahan mainan untuk menghilangkan kebosanannya.
"Pak Kavindra tidak apa-apa?" tanya Astri yang memperhatikan Kavindra yang sedikit tertatih saat berjalan.
Pria itu melempar senyum. Ia kembali memasang topengnya sebagai seorang investor muda yang cool dan berwibawa.
"Ok ikuti saya ke atas. Coba mana Mbak Keke?" tanya Kavindra memanggil tim make upnya. Pria itu lantas mengambil pose siap direkam. Setelah Keke memulaskan bedak ulang, kameraman yang ia bawa pun langsung merekam aksi Kavindra.
"Para pemirsa. Mencintai budaya nusantara sudah menjadi kewajiban kita semua sebagai anak muda, generasi penerus yang akan mewarisi bangsa ini. Kali ini saya akan membawa kalian semua untuk mengulas situs megalitikum Gunung Padang".
Alea mencibir aksi Kavindra dari kejauhan. Gadis itu memilih untuk mengacuhkan syuting sang investor proyek yang ia anggap berlebihan.
Sebenarnya Alea tidak bisa menggambarkan perasaannya hari ini. Saat melihat formasi batu andesit di depannya, ia tidak sanggup mengendalikan emosi. Air matanya tumpah. Ia mengenali lokasi dimana ia berdiri saat ini.
Tapi jika ia berjalan dan mendekati batu yang menjadi salah satu pintu masuk menuju benteng, Alea khawatir jika aksinya justru akan menguak misteri yang seharusnya tersimpan.
"Apakah di balik pintu itu.... aku bisa menemukan tulang belulang Raseyan?" tanyanya gelisah.
Alea merasa bersalah. Ia belum mengucapkan kata-kata perpisahan yang seharusnya. Gadis itu teringat akan momen perpisahannya yang singkat. Raseyan dipisahkan dengan paksa. Kundali mencegah Raja Sundayana itu untuk keluar dari benteng dan menganggu prosesi pengaktifan pusaka-pusaka peradaban awal.
Bimbang.
Itu yang kini dirasakan Alea.
Haruskah ia menyelinap masuk di saat para pengunjung lengah?
Seluruh pepohonan di sekitarnya tiba-tiba merunduk.
Alea baru sadar jika ini adalah kali pertamanya ia datang ke Gunung Padang di masa sekarang. Sebelum terdampar ke masa lalu, ia tidak pernah berhasil mendatangi tempat itu.
"Benarkah?" Alea jadi tidak yakin. Apakah ingatannya benar? Bahwa ini adalah kunjungan perdananya ke situs megalitikum tersebut?
Alea dapat mendengar bisikan-bisikan yang melintas melalui tiupan angin.
"Ratu Agung... Ratu Agung...".
Gadis itu teringat, bahwa ia pernah menjadi satu dari Ratu Sundayana. Ya setidaknya ia pernah melewati prosesi penasbihan itu.
Alea melempar senyum. Ia tahu bahwa energi-energi yang tersimpan di kawasan tersebut mengenali sosoknya.
Beberapa batu andesit bersinar, seakan-akan menyambut kedatangan Alea dan mengundangnya untuk masuk ke dalam benteng, sekaligus kadaton Sundayana yang terkubur.
Kavindra menghentikan kegiatan syutingnya.
Ia tahu bahwa hembusan angin dingin yang membawa aroma petrikor tersebut adalah sebuah tanda-tanda mistis.
Pria itu buru-buru mencari sosok Alea. Dugaannya tidak salah. Alea tengah berjalan menuju ke formasi batu andesit yang saling menghimpit.
Sayang sekali, ia tidak bisa sesukanya berteriak. Jika ia memanggil Alea, Kavindra khawatir jika para anggota tim yang ia bawa mengenali kejanggalan yang tengah terjadi.
Kavindra mengalihkan perhatian para pengunjung lain. Ia membawa mereka menjauhi tempat dimana Alea berdiri. Pria itu pura-pura tengah membahas sejarah dan misteri yang menyelimuti situs purbakala tersebut.
Sementara itu dari kejauhan, ia melihat Alea yang lambat laun mendekati formasi batu yang Kavindra yakini sebagai satu dari sekian pintu masuk rahasia menuju Benteng Gunung Padang.
Alea sendiri tidak tahu apa yang mendorongnya untuk mendekati formasi batu andesit tersebut.
Langkahnya terhenti saat seekor burung dara berwarna putih melintas tepat di depannya. Di dalam moncong burung itu ada sebuah batu persegi berukuran kecil.
Sang burung kemudian menjatuhkan batu persegi itu ke telapak tangan Alea.
Seketika batu-batu andesit itu berhenti mengeluarkan cahaya. Alea terdiam. Ia tahu jika batu persegi di tangannya menyimpan sebuah rahasia yang belum pernah terungkap.
Gadis itu mengurungkan niatnya untuk memasuki benteng. Ia menyimpan batu persegi itu ke dalam saku tas. Setibanya di rumah, ia akan mencari tahu mengenai misteri dari batu persegi tersebut.
Alea buru-buru menyusul langkah kaki Kavindra. Ia harus meminta pria itu untuk mengakhiri kegiatan narsisnya secepat mungkin.
***
"Ini apa katamu?".
"Jangan ketahuan Mahesa..." bisik Kavindra sambil mengajak Alea masuk ke dalam ruang tamunya.
Pria itu mengeluarkan laptop dari tas ransel bermerk Alexander McQueen.
"Murah ini sis..." kekeh pria itu sambil menyalakan laptopnya.
"Gue ga nanya harga tas elo...".
"Hahaha, takut sakit ati ya sis..." tawa Kavindra puas.
Alea siap mencubit Kavindra untuk kesekian kalinya. Jika saja mulutnya tidak pernah mengutarakan sumpah untuk melindungi keturunan Wangsa Syailendra bertato naga, mungkin nyawa Kavindra sudah lama melayang.
"Ini kaya USB... gue sebut ini alat transkripsi... karena gue tau Raseyan ga bisa nulis.... ya walau dia nulis juga gue ga ngerti dia gambar apaan. Jadi gue ciptain alat ini dengan bantuan Helith". Kavindra memasang batu persegi itu ke port laptopnya.
Pria itu lalu mengutak atik laptopnya. Ia tersenyum lebar setelah berhasil mengambil file yang tersembunyi di batu tersebut.
"Jadi seluruh pesan lisan dia otomatis jadi tulisan. Kaya diary gitu Le... jadi one day, elo atau gue bisa baca ulang.... Ini pesan uda terkubur lama di tanah berarti. Karena gue ama dia yang kuburin di bawah pohon".
Alea terdiam. Ia tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa. Dadanya sakit. Ia tidak mengira akan bersua lagi dengan nama Raseyan.
"Uda gue kirim ke email elo ya. Silahkan dibaca... tapi janji pas Mahesa ga ada".
"Kenapa?".
"Janji aja ama gue... kalau sampe kebongkar, gue khawatir kepala gue bisa ditebas".
"Ini ada hubungan ama perasaan Raseyan ya?" tanya Alea.
Kavindra menatap Alea.
"Elo ga mau denger ceritanya dari gue kan? Gue udah tau... makanya gue sengaja buat ini.. biar elo tau perasaan yang dipendem Raseyan".
"Ah, gue ga mau baca...." ujar Alea takut. Ia berusaha menghindar dari rasa bersalah yang sudah menghantuinya.
"Baca Le... harus... elo tega pesen terakhirnya menguap begitu aja?".
"Tapi... gue udah punya Mahesa...".
"Dia kan ga minta elo meninggalkan Mahesa... sampai akhir hayatnya dia tahu kalau dia hanya bisa berkhayal".
Alea menggeleng. Ia tidak mau mendengar penjelasan Kavindra.
"Ya udah... kapan-kapan aja kalau elo siap Le...".
Gadis itu tertunduk sedih.
Ia tidak tahu kenapa Kavindra harus menciptakan alat transkripsi ini di masa lalu.
"Gue takut...".
"Ya gapapa, toh dia juga berharap elonya selamat. Walau dia ga pernah tahu kalau elo ga pernah mengandung anaknya".
Alea melirik sedih. Ia belum sempat memberi tahu Raseyan mengenai kebohongannya. Apakah sampai akhir hayatnya, Raseyan percaya bahwa ia mengandung penerus Sundayana?
"Sana masak mie dulu...".
"Maksudnya?".
"Kan elo kalau sedih, pasti laper...".
Alea terharu. Kini Kavindra sudah mengenal sifatnya luar dalam.
"Sekalian masakin buat gue ya...gue yang mie sedap ... yang jjinjja pedas" tambah Kavindra sambil tersenyum usil.
"Ye... masak sendiri sana!!!" teriak Alea geram. Gadis itu mendengus lalu pergi meninggalkan Kavindra yang masih tertawa puas di ruang tamunya.
Alea sebenarnya bersyukur karena akhirnya ia bisa menyendiri.
Hatinya bimbang.
Haruskah ia membaca diary yang ditinggalkan oleh Raseyan untuknya?
***