Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 12. Sosok di langit



“Kepalaa suku…”.


Suara berat seorang penduduk mengejutkan Alea dan Raseyan yang tengah bercakap-cakap. Pembicaraan mereka terhenti oleh kedatangan pemuda bertubuh jangkung tersebut.


"Ahu?" panggil Raseyan.


Rupanya pemuda yang bernama Ahu tersebut ingin menyampaikan sesuatu kepada sang kepala suku.


Raseyan pun beranjak. Ia menyambut kedatangan Ahu dengan wajah gusar. Raseyan tahu jika para penduduk jarang sekali menganggu waktu tidurnya. Mereka hanya datang dalam kondisi darurat. Dengan kata lain, perkampungan mereka sedang menghadapi sebuah masalah atau bahkan bahaya.


“Ada apa Ahu?”.


“Langit…langitnya aneh. Angin kencang juga telah membuat pepohonan rubuh”.


Tentu saja Alea tidak mengerti isi pembicaraan Raseyah dan Ahu. Namun ia bisa menangkap sebuah ketidakberesan saat melihat raut serius kedua pria tersebut.


“Ada masalah?” tanya Alea.


“Aku rasa kita harus keluar. Kau pakailah ini” ujar Raseyan sambil memasangkan jubah kulit hewan ke pundak Alea.


Raseyan lalu meminta Ahu untuk memandunya. Sebelum pergi keluar, ia mengambil tombak panjang


yang bersender di dekat pintu masuk. Ia memberikan satu tombak ke tangan Alea untuk berjaga-jaga.


Perasaan Alea tidak enak. Keringat dinginnya perlahan-lahan muncul. Ada sensasi rasa


mual yang ia rasakan. Tubuhnya tiba-tiba limbung. Namun gadis itu menutupi gejalanya dari Raseyan. Ia bergegas


mengikuti langkah keduanya yang berlari menuju ke bagian utara perkampungan.


“Alea….” panggil Kavindra dari kejauhan.


Pemuda itu rupanya sudah berkumpul bersama dengan penduduk perkampungan yang lain. Di mulutnya ada sisa-sisa ikan asin. Perutnya membuncit. Sepertinya ia sudah puas mencicipi makanan yang tersimpan di lumbung penyimpanan makanan.


Ahu menunjuk ke arah langit. Di atas sana, ada beberapa gambar yang muncul. Pemuda itu kini menyampaikan sesuatu ke sang kepala suku. Sayang sekali Alea tidak bisa mengerti isi pembicaraan mereka.


Petir yang menggelegar dan kencangnya tiupan angin membuat bulu kuduk Alea berdiri.


Gadis itu terpana saat melihat karakter yang tertera di langit. Tulisan itu mirip dengan karakter-karakter huruf di masa depan. Namun Alea tidak yakin, dari negara manakah huruf itu berasal.


“For Odin dan Freya”.


Suara Kavindra mengejutkan Alea.


Pria itu ternyata telah berdiri di sebelahnya. Wajahnya kusut. Ia terlihat serius.


“Arti tulisan itu?” tanya Alea sambil menunjuk ke langit.


Kavindra mengangguk. Ia memainkan janggutnya yang mulai tumbuh.


“Aku tidak mengerti…”.


“Apa maksudmu?” tanya Alea.


“Kenapa ada nama mereka di tempat ini…”.


“Kau mengenal nama-nama yang kau sebut barusan?”.


“Ya, mereka merupakan figur penting dalam mitos kaum Norse”.


Dahi Alea mengernyit.


“Norse? Viking?”.


Kavindra mengiyakan pertanyaan Alea.


Gadis itu kembali melirik ke arah langit.  Karakter-karakter berwarna perak tersebut tiba-tiba muncul di langit dunia transisi. Jika dugaan Kavindra benar, apakah kali ini takdir mereka berkaitan dengan nenek moyang kaum Viking?


Alea menggeleng. Ia tidak bisa mencari benang merah di balik kejadian aneh tersebut.


“Tapi… apa hubungannya bangsa Norse dengan dunia ini? Terlebih sama kita?”.


Alea menolak logika yang cacat tersebut. Ia belum pernah mendengar sejarah bahwa penduduk tanah Sunda pernah berhubungan dengan mereka yang menghuni wilayah utara Eropa.


Lagipula bukankah jarak antara kedua tempat tersebut sangat jauh? Apa yang membuat keduanya terkoneksi, tanya Alea dalam hati.


“Ya gue tau sih muka gue blasteran, ganteng gitu....." jawab Kavindra dengan penuh percaya diri.


Alea membelalakkan mata. Telinganya sensitif mendengar kenarsisan sang sahabat.


"Tidak ada…. Seharusnya tidak ada” timpal Kavindra sambil terkekeh geli. Rautnya kembali berubah. Ia sepertinya juga diliputi kebingungan.


“Be-te-we, kok elo bisa baca tulisan itu?” tanya Alea penasaran.


“Gue pernah main game tentang Viking. Nama mereka muncul…. “.


Alea kini mengerti kenapa Kavindra mengenali karakter-karakter yang muncul di langit.


“Dewa apa mereka?”.


“Hmm….” Kavindra mencoba mengorek memorinya.


Teriakan para penduduk membuat Alea kehilangan kesempatan. Penjelasan Kavindra pun terputus. Penduduk perkampungan yang tengah berkumpul kembali menunjuk ke arah langit.


Wajar saja jika mereka histeris.


Kali ini karakter-karakter huruf tersebut hilang. Sebagai gantinya, sebuah penampakan bola mata


raksasa muncul di angkasa. Pupilnya berwarna hijau kebiruan. Ia bergerak ke kiri dan kanan seakan


sedang mematai-matai wilayah perkampungan.


Raseyan spontan menarik Alea ke belakang tubuhnya. Firasatnya berkata bahwa ia harus menyembunyikan gadis itu dari kemunculan sang makhluk.  Sentuhan fisik tersebut membuat Alea kembali melihat masa lalu Raseyan.


Ia melihat lokasi batu pertama yang memiliki goresan darah sang kepala suku. Lokasinya tepat di sungai dekat perkampungan. “Ya, itu adalah batu yang aku temukan di sisi sungai” gumam Alea.


“Menunduk!!!!!!!!!” perintah Raseyan kepada para penduduknya.


Mendengar perintah sang kepala suku, mereka semua langsung merendahkan tubuh. Beberapa


pemuda memberi kode kepada para istri yang tengah mengintip dari kejauhan.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Para wanita itu menutup pintu masuk mereka dengan tumpukan jerami. Sepertinya itu adalah cara umum yang sering mereka gunakan untuk melindungi para wanita dan anak-anak perkampungan.


“Kavindra… Kavindra menunduk!!!!!” teriak Raseyan. Ia baru ingat jika Kavindra tidak mengerti bahasa penduduk setempat. Kavindra  nampaknya tidak menyadari instruksi yang tadi diberikan Raseyan.


Bulu kuduk Alea semakin berdiri. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Gadis itu panik saat melihat sahabatnya masih berdiri tegak dan bertukar pandang dengan penampakan misterius di langit.


“Kav… Kav… menghindar!!!!” jerit Alea. Bagaimanapun menyebalkannya Kavindra tapi bagi Alea, pemuda itu tetap memiliki arti penting untuknya.


Alea segera melepaskan diri dari pegangan Raseyan. Ia berlari menuju ke arah Kavindra yang berdiri mematung tidak jauh dari tempatnya.


“Kav……lari!!!!!!!!!!!!!!!!!!”.


Namun Alea terlambat.


Bola mata di langit itu menangkap keberadaan Kavindra.


Dari sisi kanan penampakan bola mata tersebut tiba-tiba muncul telapak tangan raksasa.


Gerakannya sangat cepat. Dalam hitungan detik, telapak tangan tersebut pun tiba di depan wajah Kavindra.


Para penduduk otomatis mengangkat tombak mereka. Ini adalah teror yang tidak pernah mereka


alami. Kehadiran sosok misterius dari langit tidak pernah menjadi bagian dari hidup mereka. Selama ini hari-hari para penduduk hanya diwarnai oleh serangan binatang buas. Makhluk mistis tidak terdefinisi? Ini baru kali pertama!


“Kavindra……………..” jerit Alea panik. Jika tangan raksasa itu sampai mengenai tubuh Kavindra, ia yakin bahwa pria itu tidak akan selamat.


Alea putus asa. Langkahnya tidak secepat yang ia harapkan. “Kavindra, please… jangan mati” teriaknya sedih.


Gerakan tangan raksasa itu benar-benar luar biasa cepat. Ia membawa serta angin kencang yang melempar para penduduk ke permukaan tanah, termasuk Alea.


Saat telapak tangan itu terbuka, ada warna warni merah menjijikkan yang terlihat.


“Kav…………………………………………..” teriak Alea.


Ia benar-benar terkejut saat tangan itu dengan cepat menyambar tubuh Kavindra.


Putus asa. Trauma. Kejadian tersebut mengingatkan Alea pada kematian Devaputra saat ia berkelana di Bumi Sriwijaya.


Raseyan bergegas melempar tombak ke arah telapak tangan tersebut.


Alea menyesali ketidakmampuannya untuk melindungi Kavindra.


Ia hanya bisa menyaksikan tubuh Kavindra yang diam mematung dan terbawa ke langit.


“Kenapa dia tidak teriak?” gumam Alea curiga. Pria itu adalah pria paling berisik dan pecicilan yang dikenal Alea. Dalam situasi genting seperti ini, Kavindrabiasanya berteriak panik atau menjerit ketakutan. Tapi kenapa ia diam saja, tanya Alea resah.


Malam itu mungkin merupakan malam yang tidak akan pernah dilupakan Alea.


Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana sesosok naga muncul dari dahi


sang sahabat.


Naga besar berwarna emas tersebut memutarkan tubuh dengan gesit.


Ia lalu menggigit tangan raksasa yang menyandera Kavindra.


Gigitannya berhasil menembus kulit sosok misterius tersebut.


“Naga Swarna!!!!!!!!!” pekik Alea senang. Harapannya tumbuh. Ia yakin sang naga bisa menyelamatkan mereka semua.


Mendengar suara Alea, naga itu pun mengaum kencang. Ia mengenali sosok perempuan yang pernah ditemuinya di dimensi yang berbeda.


Entah apa yang mendorong keberanian Alea, gadis itu nekad memanggil sang naga. “Naga Swarna, bawa aku!!!!!!!!!!!!”.


Alea melebarkan tangan, ia memberi aba-aba agar Naga Swarna menjemputnya.


Ketika sang naga terbang mendekatinya, gadis itu merampas tombak penduduk yang terjatuh di tanah.


“Aku harus menyentuh makhluk itu agar tahu identitasnya” bisik Alea yang berhasil melompat ke punggung sang naga.


Raseyan terpana.


Ia tidak tahu bahwa Alea merupakan seorang penunggang naga.


Pemuda itu pernah mendengar kisah mengenai manusia yang bisa mengendalikan sosok-sosok hewan langit. Sebelum kedua shamannya meninggal, mereka bercerita mengenai sosok penunggang ular raksasa yang akan mengembalikan kejayaan Sundayana.


“Alea? Sosok itu Alea?” gumam Raseyan bimbang.


“Lepaskan Kavindra!!!!!!!!!!!” teriak Alea sambil menghujamkan tombak tersebut ke penampakan tangan raksasa. Serangan itu membuat sang makhluk lengah. Genggaman tangannya melemah sehingga Alea bisa merampas tubuh Kavindra kembali.


Gadis itu tidak mau membuang kesempatan. Ia meletakkan telapak tangannya ke salah satu jemari tangan raksasa.


Alea terserap ke dalam sebuah memori makhluk tersebut.


Ia melihat sejumlah bangkai-bangkai musang dan tupai yang bergelantungan. Di sekelilingnya ada wadah-wadah besar berisi air yang busuk. Ia melihat lambang-lambang aneh yang asing. Satu menyerupai ular melingkar dan satu lagi menyerupai kuda tanpa kepala.


“Grao!!!!!!!!!!!!!”


suara Naga Swarna membuat Alea tersadar. Naga itu rupanya mencoba menghindari serangan tangan raksasa yang membabi buta.


“Naga Swarna, bantu aku untuk naik lebih ke atas!”.


Hewan langit itu mengikuti perintah Alea. Ia terbang lebih tinggi hingga posisi mereka mendekati penampakan bola mata raksasa.


Alea melemparkan tombak ke tengah pupil tersebut.


Dugaan gadis itu benar. Sosok tersebut merupakan makhluk asing yang mencoba melakukan perjalanan antar dimensi. Lemparan tombak Alea berhasil mengusirnya. Dalam sekejap langit kembali damai. Sosok misterius itu menghilang begitu saja.


Demikian juga dengan tangan raksasa yang telah meneror para penduduk perkampungan.


Alea memeluk erat sang naga. Sudah lama mereka tidak bersua sejak insiden di tanah Sundayana.


“Kau selalu hadir untuk tuanmu ya?”.


Naga itu mengerlingkan mata. Ia pun menunjukkan kemanjaannya pada Alea.


Naga Swarna adalah sosok makhluk langit yang ditugaskan untuk menjaga cawan suci Dinasti Syailendra. Makhluk itu umumnya muncul saat penasbihan raja-raja yang memiliki tanda lahir khusus. Kavindra adalah salah satu keturunan Wangsa Syailendra yang memiliki tanda tersebut. Tidak heran jika sang naga berulang


kali menampakkan rupanya untuk keselamatan sang penerus tahta.


“Ayo kita turun dan menyapa para penduduk….” ajak Alea lembut.


Kedatangan Alea dan Kavindra membuat para penduduk bersorak sorai. Mereka belum pernah


melihat naga sebelumnya, apalagi seorang gadis yang mampu mengendalikan naga!


“Alea…” panggil Raseyan dengan wajah terkesima. Pemuda itu belum bisa mengatakan rahasia yang ia simpan. Ia yakin suatu hari ada waktu yang lebih tepat untuk membicarakan hal tersebut dengan Alea.


“Ini Naga Swarna…. Perkenalkan”.


Naga itu menghembuskan napasnya dengan kencang. Itu adalah tanda perkenalannya yang khas. Sebenarnya jarang sekali ia muncul ke hadapan manusia. Tapi kali ini naga itu mencium bahaya. Ia tahu bahwa tuannya dan Alea tidak memiliki penjaga di dimensi dunia transisi.


Hewan legenda tersebut nekad melanggar norma para naga. Ia memutuskan untuk menjaga Alea dan Kavindra hingga keduanya berhasil kembali ke dunia normal.


“Na… naga…..” rintih Kavindra lemas.


Naga Swarna menjilati wajah Kavindra. Air liur sang naga ternyata memiliki kekuatan penyembuhan. Pemuda itu akhirnya siuman hingga Alea bisa bernapas dengan lega. Kecerewetan Kavindra merupakan indikator kesembuhan yang tidak bisa terbantahkan lagi. Alea tidak mau ambil pusing meskipun sang sahabat kembali melontarkan guyonan-guyonan tidak lucu.


Bagi gadis itu, keselamatan Kavindra lebih penting daripada egonya.


“Le….”.


“Apa?” jawab Alea ketus.


“Makasih ya…. Udah nyelametin gue….”.


Gadis itu tersenyum kecut. Ia curiga dengan kata-kata Kavindra yang dirangkai dengan indah dan teratur.


“Sebagai hadiah, gue akan memberikan satu set pakaian eksklusif dan home décor limited edition bergambar wajah gue yang ganteng untuk hadiah pernikahan elo!”.


Alea memicingkan mata.


“Nggak perlu….” Timpal gadis itu sinis. Ia membayangkan rumahnya dipenuhi dengan wajah Kavindra di setiap sudut. Gadis itu bergidik jijik, ia tidak sanggup meneruskan imajinasinya.


“Pernikahan?” tanya Raseyan.


“Iya Alea sama Mahesa sebenarnya mau menikah bulan depan” jawab Kavindra polos. Ia baru sadar jika pemberitahuannya tidak tepat saat melihat wajah Raseyan yang terusik.


“Maksud gue bro…. Alea ama Mahesa… di masa depan…. Gini, gitu…”. Pria itu mulai kesulitan merangkai kata. Ia tahu bahwa Raseyan tidak lagi mau mendengarkan penjelasannya. Kepala suku purba itu diliputi kecemburuan.


Wajahnya masam. Tatapannya dingin.


Alea dapat merasakan kecemburuan Raseyan.


Tapi ia tidak ingin Raseyan besar kepala. Bukankah sejak awal ia memang sudah menjatuhkan pilihannya kepada Mahesa? Raseyan tidak pernah ada dalam kamus percintaannya.


Sifat Raseyan yang dingin membuat Alea dan Kavindra kikuk. Pemuda itu membalikkan badan.


Ia terlihat menyuruh para penduduknya untuk pulang ke rumah masing-masing. Raseyan tidak berkata sepatah katapun kepada Alea maupun Kavindra. Ia pergi meloyor begitu saja dan berjalan pulang ke kediamannya.


Alea dan Kavindra pun bertukar pandang.


“Sis, where should we sleep tonight?” bisik Kavindra dalam bahasa Inggris. Ia sengaja menggunakan


bahasa asing agar Raseyan tidak memahaminya.


“I don’t know…. He looks angry…. Probably, he will kick us out tonight”.


“You sih, pake have a wedding plan with another guy!” protes Kavindra.


“Lo kok jadi nyalahin gue? Yang mulutnya ember kan elo….” balas Alea tidak terima.


“Me? Me? So, I should tell him that you are eligible for him?”.


“Aaaa…. Udah ah…. Muka tembok aja…. Kita ikutin dia dari belakang”.


Alea tidak mau tidur di luar pondok hari ini.


Lebih baik ia menelan harga dirinya dibandingkan harus tidur bersebelahan dengan para binatang buas di sekitar perkampungan.


“Raseyan tunggu….” panggil Alea penuh percaya diri.


Gadis itu berjalan mengikuti langkah Raseyan dari belakang.


Ada banyak hal yang harus ia lakukan. Oleh karena itu, ia tidak boleh membiarkan Raseyan membencinya sebelum seluruh misinya selesai.


***