
Suara petir yang menggelegar membuat Alea terkejut. Sudah beberapa hari ini hujan turun di dunia transisi.
Sebenarnya Alea sedikit khawatir jika air hujan sampai merembes ke dalam kediaman Raseyan.
Gadis itu menatap ke langit-langit rumah yang terbuat dari materi yang menyerupai jerami. Ia tidak tahu seberapa kuat atap jerami tersebut mampu menahan deras air hujan.
“Duh gue pengen minum kopi hangat…” tutur Kavindra berkhayal.
“Iya ya… dingin-dingin gini enaknya ngopi anget” timpal Alea. Kedua sahabat itu membayangkan racikan kopi hangat yang dapat menghangatkan tubuh mereka.
Mendengar komentar kedua tamunya, Raseyan pun beranjak dari duduknya.
Pria itu mengambil sebuah tembikar kecil dan memanaskan air di atas perapian rumahnya.
Tangannya dengan cekatan meletakkan beberapa lembar daun kering ke dalam tembikar tersebut.
Alea terdiam.
Ia memperhatikan tembikar yang digunakan oleh Raseyan.
“Kalian sudah terpikir untuk membuat pot kecil seperti ini untuk memanaskan air?” tanya gadis itu penasaran.
Pemuda itu mengangguk.
“Ya, Andulu dan Amatya yang mengajarkan hal ini pada mereka”.
Nama kedua shaman itu mengingatkan Alea pada pengalamannya saat berpetualang di Tanah Sundayana. Jika dipikir-pikir, Bangsa Sundayana tidak mewakili penduduk pada zaman batu. Walaupun mereka hidup di masa
peradaban awal bumi, tapi kebudayaan mereka sudah lebih maju dibandingkan dengan kehidupan di zaman Mesolitikum.
Gadis itu membandingkan benda-benda yang ada di kediaman Raseyan. Beberapa tembikar dan peralatan yang digunakan jauh lebih sederhana dibandingkan dengan apa yang pernah ia temukan di Sundayana.
Apabila hipotesa Kavindra benar bahwa mereka kini berada di zaman peralihan menuju Neolitikum, maka cerita
Kundali tidak salah. Revolusi bumi telah menutup lembaran sejarah yang tidak pernah diketahui oleh manusia modern. Selama ini mereka percaya jika penduduk zaman batu adalah manusia pertama yang hidup di muka bumi.
Kebudayaan mereka dimulai dengan penggunaan alat-alat sederhana yang terbuat dari bebatuan.
“Apa kau juga yang mengajarkan mereka untuk membuat pola-pola itu?” tanya Alea lagi. Ia tertarik dengan pola menyerupai titik-titik sejajar di tembikar untuk merebus air tersebut.
Raseyan menggeleng.
“Aku rasa mereka terinspirasi oleh tanda yang ada di tubuh Andulu dan Amatya” jawab pemuda itu. Ia sempat
termenung. Sepertinya Raseyan merindukan kedua shaman yang telah merawatnya sejak kecil.
Tubuh Andulu dan Amatya memang dipenuhi oleh sejumlah gambar yang dipercaya dapat menjadi rajah pelindung bagi kaum Sundayana.
Alea membisikkan sesuatu di telinga Kavindra.
“Apa kau tidak penasaran?”.
“Penasaran kenapa? Bentar… bentar ini yang ngomong Alea atau setan sungai?” tanya Kavindra curiga. Pria itu
meraih ranting kayu di dekatnya. Ia bersiaga seandainya Alea berniat menikamnya.
“Eh dodol…. Ini gue!” cubit Alea kesal.
“Aw.. aw…aw… iya gue percaya, percaya….” ringis Kavindra kesakitan. Di zaman ini tidak dodol, pikir Kavindra. Tidak mungkin setan sungai bisa mengetahui keberadaan dodol. Sudah pasti gadis di depannya adalah Alea, gumam pria itu lagi.
“Kenapa kebudayaan pada zaman batu memiliki kemiripan antara satu tempat dan lainnya? Kamu bayangkan deh, zaman dulu kan ga ada internet….” seru Alea serius.
Kavindra berusaha menyimak walau perutnya sedikit lapar.
“Kok mereka bisa mendesain sesuatu dengan cara yang serupa? Siapa yang mempengaruhi atau mengajarkan mereka?” lanjut Alea.
Kavindra menggaruk dagu. Tindakan pria itu membuat Alea kesal. Gadis itu mengira jika Kavindra tengah mengabaikan isi pembicaraannya.
“Aku dengerin, dengerin kok! Sebenernya ga gitu sama sih Le…. Kalau di Jepang, pola tembikar yang ditemukan pada masa neolitikum itu menyerupai pola tali. Sedangkan kalau di Korea, polanya lebih menyerupai sisir. Tapi di Yordania, pola tembikar yang ditemukan jauh lebih simpel dari kebudayaan Jomon maupun Jeulmun”.
Mulut Alea menganga.
Ia nyaris lupa jika Kavindra adalah satu dari manusia pintar nusantara. Pengetahuan pria itu sangat luas, tidak
heran jika ia berhasil masuk ke Universitas Harvard.
“Eh bentar yang Korea Jomon atau Jeulmun ya?” tanya Alea.
“Jeulmun…. terus habis kebudayaan Jeulmun, itu kebudayaan Mumun. Mau tahu apa yang unik dari kebudayaan Mumun?”.
“Apa?” tanya Alea penasaran.
“Tembikar mereka cenderung tidak berpola alias plain gitu meskipun mereka hidup di zaman perunggu”.
“Loh kok bisa? Bukannya semakin mendekati masa perunggu, dekorasi dan polanya semakin beragam?” Alea mencoba mengingat perjalanannya ke berbagai museum di belahan bumi yang berbeda.
Kavindra mengangkat kedua bahu. Ia juga tidak tahu jawabannya.
“Tapi yang pasti benar kata elo, Le. Di Mesopotamia ada yang namanya kebudayaan Halaf. Kebudayaan ini berkembang di awal neolitikum, dan mereka sudah menggunakan warna hitam untuk mendekorasi tembikar-tembikarnya. Mereka juga mulai membentuk patung-patung yang konon melambangkan dewi kesuburan. Jadi makanya Mumun itu unik, karena mereka anti-mainstream, haha”.
“Gue jadi penasaran dengan makna di balik pola-pola yang digunakan oleh para penduduk prasejarah” ucapan Alea
terhenti. Apa makna gambar titik-titik berjejer pada tembikar di hadapannya?
“Kalau di sejarah nusantara gimana? Kebudayaan tembikar kita pada zaman batu?”.
Kavindra menggaruk kepala.
“Gue lupa-lupa inget sih Le. Tapi seingat gue salah satu kebudayaan tembikar prasejarah yang cukup terkenal itu
kebudayaan Buni”.
“Buni? Kelinci?”.
“Itu bacanya ba-ni, neng! Ini Buni… Buni, nama tempat di Bekasi. Tapi kebudayaan ini sebenarnya diduga udah lebih maju dari zaman batu sih. Kalau ngga salah ingat, udah zaman paleometalik gitu”.
“Hah, apaan tu….” Alea pun menyerah. Pengetahuan sejarahnya terbatas. Sejujurnya jika ia tidak pernah kembali ke masa lalu, gadis itu juga tidak ingat bahwa ada tiga periode prasejarah yang dimulai dengan masa Paleolitikum.
“Elo anak negara mana sih, kebudayaan negara sendiri kagak apal…”.
Sindiran Kavindra benar-benar telak.
Panah kejudesan pria itu baru saja menembus kalbu Alea yang terdalam.
“Jadi kebudayaan Buni itu diduga sebagai pendahulunya Kerajaan Tarumanagara”.
“Hah, Tarumanagara itu nama kerajaan? Gue pikir nama universitas di Jakarta” timpal Alea polos.
Kavindra menatap Alea dengan sinis. Ia pun tidak ragu lagi menjitak dahi sang sahabat.
“Elo kalo pulang lagi ke masa depan coba ke perpustakaan atau museum mana kek, jangan ngemol aja…. Kalau bukan anak bangsa yang tahu sejarah, siapa lagi yang bakal melestarikan ke anak cucu?” omel Kavindra.
Alea termenung. Ternyata banyak sekali yang tidak ia ketahui mengenai masa lalu nusantara.
“Gue tau sih… elo kalau ga ada cowok cakepnya pasti ga napsu belajar sejarah” sindir pria itu lagi.
“Hush… sembarangan”.
“Ya udah next time, elo minta Kaisar Langit untuk kirim kita ke Tarumanagara aja… siapa tau ada raja atau
pangeran ganteng yang bisa lo kecengin”.
“Heh jangan asal ngomong. Emangnya lo kira gue duta besar kebudayaan masa depan apa?” protes Alea.
Perdebatan Alea dan Kavindra terhenti oleh kedatangan Raseyan. Pemuda itu menyorongkan dua cawan kecil yang berisi minuman hangat.
“Ini diminum mumpung hangat”.
Tanpa pikir panjang Kavindra pun menyeruput minuman tersebut.
Matanya terbelalak.
Ia mengangguk puas.
“Lagi…. Nambah” serunya sambil tertawa lebar.
Alea pun penasaran. Ia tidak mau kalah dengan Kavindra. Gadis itu cepat-cepat menyeruput minuman yang disediakan Raseyan.
“Eh ini… kopi?”.
Raseyan menggeleng. “Aku menemukan daun pahit ini tanpa sengaja. Dedaunan ini ikut masuk ke dalam rebusan air minumku”.
“Enak ya…. “. Alea tersenyum lebar.
Ia menghirup aroma minuman yang mengingatkannya akan kopi favoritnya di masa depan.
“Pahit?” tanya Raseyan. Pemuda itu memberanikan diri untuk duduk di sebelah Alea.
“Emang kamu punya gula? Atau apa yang manis gitu?”.
Alea harus mengakui jika rasa minuman itu sedikit pahit. Mungkin gula bisa membuat minuman tersebut lebih enak, pikirnya.
“Ada… “ jawab Raseyan pendek.
Pemuda itu tidak bergeming sehingga membuat Alea bingung.
“Mana?”.
Raseyan menunjuk dirinya.
Wajah Alea memerah.
Ia tidak menyangka jika Raseyan kembali melontarkan gombalan maut.
Gadis itu jadi salah tingkah.
Sifat agresif Raseyan benar-benar di luar dugaannya.
Pemuda itu menyeruput minuman sambil tersenyum kecil. Alea sempat menangkap senyuman itu dengan sudut matanya.
“Kenapaaaa dia senyum gitu sih? Serem” gumam Alea panik. Ia khawatir Raseyan akan melancarkan serangan berikutnya.
Keadaan pun diperburuk oleh Kavindra yang memutuskan untuk meninggalkan Alea begitu saja. Pemuda itu berniat pergi ke tempat penyimpanan makanan yang terletak di tengah-tengah perkampungan. Ia membawa obor dengan penuh percaya diri sehingga Alea buru-buru mencegah kepergian sahabatnya itu.
“Petir Kav…. Bahaya”.
Gadis itu mencoba mengingatkan Kavindra akan petir yang tengah menggelegar di angkasa.
“Perut gue laper, Le…. Gue mau ke tempat si kakek itu… yang jaga lumbung makanan. Gue mau minta ikan asin”.
“Hah? Untuk apa?”.
“Minum kopi gini enaknya sambil ngemil ikan asin”. Kavindra tentu saja merujuk ke tempayan-tempayan berisi ikan
yang telah diawetkan oleh para penduduk. Pada masa peralihan mesolitikum ke neolitikum, manusia diketahui telah mencoba menyimpan makanan di dalam tempayan-tempayan tanah liat.
“Ah ga matching… sejak kapan orang ngemilin ikan asin sambil minum kopi. Udah sini aja” protes Alea. Gadis itu
khawatir jika Raseyan akan berbuat yang tidak-tidak jika Kavindra tidak ada.
“Tidak apa-apa Alea. Biarkan Kavindra membawa makanan untuk kita juga…. “ timpal Raseyan.
Alea melongo. Kecurigaannya terbukti. Raseyan senang jika Kavindra pergi.
“See you bebih…. “ seru Kavindra melangkah pergi.
Saat itu juga Alea ingin menangis.
Ia tahu bahwa Raseyan akan memanfaatkan kepergian Kavindra. Gadis itu mengingat kebodohan yang sudah ia lakukan. “Kenapa gue pake ngekiss dia sih….” sesalnya.
“Alea…” Raseyan menggenggam tangan wanita yang pernah menjadi ratunya.
Brak!!!!!!!!
Pegangan tangan Raseyan membawa Alea ke sebuah momen yang tersembunyi di dalam masa lalu pemuda itu.
Lagi-lagi ia mendengar mantra yang pernah disenandungkan oleh Andulu dan Amatya.
Kepala Alea seperti diserbu oleh seribu jarum.
Ia tidak yakin dengan apa yang tengah dilihatnya.
Ledakan gunung berapi yang memuntahkan batu-batu terbungkus uap panas.
Gelombang tsunami yang mendinginkan bebatuan.
Lalu kemunculan sepasang sosok perempuan dan laki-laki.
Sepertinya mereka adalah sosok yang sama dengan yang pernah ia lihat dalam penerawangan sebelumnya.
Alea kemudian mendengar suara seperti lolongan binatang buas.
Di saat binatang itu melolong, kedua sosok tersebut meletakkan sejumlah batu di atas gundukan pecahan bintang
yang terkubur.
“Batu suci?” tanya Alea terkejut.
Tiba-tiba Alea merasa ada sesuatu yang melemparnya ke luar bingkai penerawangannya.
"Alea?".
Gadis itu menoleh. Ia mendapati Raseyan tengah menatapnya dengan wajah khawatir.
“Apakah pola di tembikar itu…. Maksudku tato Andulu yang ditiru oleh para penduduk… adalah gambar bintang-bintang?” tanya Alea dengan suara gemetar.
Dahi Raseyan mengernyit.
“Alea…” panggilnya lagi.
Wajahnya bingung. Raseyan berharap dugaannya salah.
“Dimana kuburan Andulu dan Amatya?” desak Alea.
“Alea…” panggil Raseyan lagi. Pemuda itu mencoba menenangkan Alea yang terlihat panik. Ia mengusap rambut Alea dengan lembut.
“Bawa aku kesana! Sekarang juga….” bentak gadis itu setengah menangis. Sentuhan Raseyan kembali membawanya ke penerawangan yang berbeda.
“Alea ini sudah gelap. Di luar ada petir…. Terlalu berbahaya di luar sana” elak Raseyan.
“Tidak bisa Raseyan… aku harus memecahkan misteri ini….atau…”.
“Atau apa Alea?” tanya Raseyan. Rautnya berubah. Ia kembali berharap dugaannya salah. Ya, sebaiknya Alea tidak tahu, gumam pemuda itu lagi.
“Atau The Great Destroyer akan membunuhmu…. dan mengambil alih peradaban ini”.
Raseyan mengernyitkan dahi. Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Tapi pemuda itu tahu bahwa Alea tidak sedang bermain-main.
Ia sudah mengenal sifat sang istri, jika ia masih boleh menyebut Alea dengan sebutan itu. Meskipun Alea mudah lapar namun hal itu tidak menyurutkan keberanian gadis itu untuk melawan kejahatan.
“Alea, bisakah kau jelaskan ulang padaku?”.
“The Great Destroyer… maksudku ada sekumpulan pemuda di masa depan yang mengincar keberadaan batu
suci… ya aku baru ingat jika makhluk-makhluk halus di Gunung Padang menceritakan kepadaku mengenai batu suci itu… dan The Great Destroyer, mereka, mereka….”.
“Alea… tenangkan dirimu… satu-satu, aku tidak bisa mengikuti percakapanmu” ujar Raseyan mencoba menenangkan sang pujaan hati.
Pemuda itu menawarkan Alea untuk duduk sejenak. Ia buru-buru menuangkan sisa air rebusan daun ke cawan sang gadis.
“Minum dulu…. Coba pelan-pelan ceritanya”.
Entah bagaimana Alea pun luluh. Ia patut memuji kemampuan Raseyan untuk menenangkan kegalauannya. Suara lembut Raseyan seakan menawarkan kenyamanan yang tengah ia cari. Sesungguhnya Alea sangat khawatir.
Jika penerawangannya benar, maka ia dan Kavindra harus mencari pecahan batu-batu suci itu di dunia transisi. Mereka harus menyelesaikan misi tersebut sebelum The Great Destroyer menemukan cara untuk masuk ke dalam dunia yang dihuni Raseyan.
“Raseyan… besok pagi, bawa aku ke makam Andulu dan Amatya” pinta Alea gemetar.
Pemuda itu menggenggam tangan Alea.
“Argh…. “ teriak gadis itu tiba-tiba.
“Alea?”.
“Untuk sementara jangan sentuh aku…. setiap kau menyentuhku, aku melihat sesuatu….dan sepertinya tubuhku saat ini belum kuat untuk membaca memori yang tersimpan di tubuhmu”.
“Kau membaca masa laluku?” tanya Raseyan terkejut.
Alea mengangguk.
“Aku melihat apa yang telah kau lalui ketika pertama kali tiba di tempat ini…”.
Raseyan tertunduk lesu.
“Apa kau juga melihat bagaimana aku mencoba melawan rinduku padamu?”.
“Ras…. jangan alihkan pembicaraan….” pinta Alea lagi.
“Tidak Alea… aku harus membicarakan hal ini… karena itu yang diinginkan Andulu, aku yang merindukanmu... akan membawamu kembali ke tempat ini agar darahmu dan darahku kembali bersatu…”.
“Apa maksudmu?”.
“Aku berusaha mencegah itu semua Alea….aku tidak ingin kau datang ke sini... aku menolak permintaan Andulu…. tapi ia terus memaksaku “.
Alea terkejut saat melihat air mata Raseyan.
“Kau dan aku…. raja dan ratu Sundayana… perpaduan darah kita berdua akan memindahkan dunia transisi ini ke
dimensi dunia yang tengah dibayanginya”.
Raseyan melanjutkan kata-katanya.
“Dan dunia dimana Sundayana pernah berdiri… akan berpindah menjadi sejarah di dunia bayangan”.
Kini gantian Alea yang mengernyitkan dahi.
“Ini adalah dunia paralel Alea…. Yang satu membayangi yang lain… dunia ini bisa bertukar peran… tergantung siapa yang menguasai batu-batu suci yang telah diturunkan oleh nenek moyang pendiri tempat ini”.
Hampir saja jantung Alea berhenti berdetak.
Apa ia tidak salah dengar? Kenapa takdir selalu melibatkan dirinya ke dunia-dunia yang tidak terjamah akal manusia?
***