Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 7. Tanpa dewa, tanpa magis, dan tanpa kopi



Melewati satu malam bersama Raseyan ternyata tidak semudah bayangan Alea.


Alea tidak bisa memungkiri jika senyum tipis Raseyan berhasil membuatnya grogi.


Cara Raseyan menahan diri juga telah membuat jantungnya berlari kesana kemari.


Ia terlihat lebih berwibawa, lebih dewasa, dan tentu saja lebih jantan.


"Kalau dulu gue ketemu dia yang udah sedewasa ini.... apa gue bakal pasang bendera putih ya?" gumam Alea gugup. Seratus cara ia pikirkan, namun sayang sekali gadis itu tidak berhasil memejamkan mata.


Gadis itu mengutuk Kavindra yang sedari tadi tidur mendengkur.


"Dasar ga bisa baca perasaan temen...".


Alea hanya bisa menggerutu dan menyalahkan Kavindra sebagai kambing hitamnya.


Ia tidak mungkin serta merta mengakui bahwa pesona Raseyan berhasil membius hatinya.


DAR!!!!!


Sebuah suara yang sangat keras membuat Alea terbangun.


Terlalu sering menghadapi mara bahaya membuatnya jadi waspada. Alea bersiaga. Di dalam genggamannya, sudah ada payung lipat andalan. Ya, itu adalah satu-satunya senjata yang terbawa di dalam tas selempang kebanggaannya.


"Tidurlah...". Raseyan menyelimuti pundak Alea dari belakang.


Alea tentu saja terkejut. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kikuknya. Selimut bulu binatang yang diberikan Raseyan berhasil membuatnya semakin salah tingkah.


Pipi Alea semakin memerah saat Raseyan memutuskan untuk duduk di sebelahnya.


"Itu suara Pardusa...".


Pemuda itu mencoba membuka pembicaraan. Ia terlihat masih ingin bercakap-cakap dengan Alea.


"Pardusa?".


"Ya, binatang yang mengejar kalian... penduduk sini menyebutnya sebagai pardusa...".


Alea teringat dengan hewan misterius yang hampir saja mengoyak tubuhnya. Hewan berwajah beruang bermoncong panjang tersebut ternyata bernama Pardusa. Hewan itu sepertinya hanya hidup di zaman prasejarah. Alea belum pernah melihat hewan dengan wajah seaneh itu sebelumnya. Jika dilihat-lihat, Pardusa mirip dengan perpaduan beruang, serigala, dan juga macan gunung.


"Aku akan melindungimu.... kau tidur saja...". Raseyan menepuk pundak Alea dengan lembut.


"Apa kau yakin ia tidak akan masuk ke dalam tempat ini?". Alea jelas curiga. Pintu rumah bundar Raseyan tidak memiliki daun pintu. Bagaimana jika hewan itu tiba-tiba muncul, pikirnya tak tenang.


Raseyan tertawa kecil.


"Dia tidak akan berani masuk ke sini...".


"Kenapa bisa?".


"Karena ia tidak akan tega mengganggu aku yang tengah jatuh cinta...".


Alea tidak berkutik.


Ia kehabisan kata-kata.


Sejak kapan Raseyan jadi pintar menggombal, gumam Alea semakin grogi.


Pemuda itu tertawa kecil. Ia membaca perubahan sikap wanita yang pernah menjadi ratunya itu. Kecanggungan Alea diinterpretasikan Raseyan sebagai sebuah kesempatan untuk mencuri hati gadis masa depan tersebut.


Raseyan tahu bahwa Alea menunjukkan ketertarikan yang berbeda. Cara Alea memandangnya tidak sama dengan Alea yang ada di dalam ingatannya.


Kali ini, gadis itu sama sekali tidak berani membalas pandangannya.


Ini adalah momen yang tepat untuk membuat Alea kembali jatuh ke dalam pelukannya.


Bukankah takdir sudah memberikannya kesempatan kedua?


***


"Le... Le...." panggil Kavindra membangunkan Alea yang tengah tidur meringkuk.


"Hmm?".


"Bangun, sarapan....".


"Sarapan?". Alea spontan membuka matanya lebar-lebar. Ia dapat melihat secercah cahaya di balik punggung Kavindra.


"Haha... kita makan daging hari ini... hasil buruan penduduk!".


Alea terdiam. Rupanya ia tidak sedang bermimpi. Serat-serat tanaman yang menjadi bahan dasar rumah Raseyan membuatnya tersadar. Ya, pertemuannya dengan Raseyan bukan sebuah bunga tidur.


Sejak lama, Alea berharap dalam bertemu sekali lagi dengan Raseyan meski hanya dalam mimpi. Namun sejak kepulangannya ke masa depan, ia sama sekali tidak pernah memimpikan Raja Sundayana tersebut.


Alea kadang-kadang berpikir jika Mahesa mungkin sengaja ikut campur.


Dan kini ia berharap agar Mahesa kembali melawan aturan Kaisar Langit. Ia berdoa supaya dewa itu akan menyusulnya ke dunia transisi.


Bukankah Mahesa yang membawa Raseyan ke dunia ini?


Artinya kehadiran Mahesa di dunia transisi bukanlah sesuatu hal yang mendekati mustahil?


"Mahesa..." panggil Alea dalam hati.


Ia sungguh takut.


Takut jatuh dalam pesona Raseyan.


"Yuk Le.... uda disiapin bbqnya" ajak Kavindra yang terlihat lapar.


Alea mengikuti langkah Kavindra dari belakang. Ia mewanti-wanti pria itu agar terus berdiri di sampingnya.


"Emang kenapa?".


"Udah nurut aja...".


"Karena Raseyan jadi cakep ya? Terus elo grogi?" goda Kavindra.


Cubitan Alea rupanya tidak berhasil mendiamkan mulut pria itu. Kavindra kini curiga dengan keganjilan sikap sang sahabat.


"Naksir ya?".


"Nggak...".


"Terus kenapa?".


"Kan kita harus pulang, Kav.... lo ga inget pepohonan di atas sana?".


Terbitnya matahari merupakan kesempatan bagi Alea dan Kavindra untuk meniti jalan pulang. Cabang-cabang pepohonan tersebut pasti sudah kembali ke posisi semula. Jika mereka berhasil melewati pepohonan di atas tebing batu, maka selangkah lagi, mereka bisa pulang ke masa depan.


"Raseyan nggak akan biarin gue pulang... ".


"Tapi dia ga perlu gue kan le? Ya ga papa juga, gue aja yang pulang, lu disini aja, membangun rumah tangga baru ama doi".


Jitakan Alea membuat Kavindra mengaduh kesakitan.


"Kalau elo pulang tanpa gue, emangnya Mahesa akan tinggal diam? Bisa-bisa elo bakal dikulitin hidup-hidup" ancam Alea.


Kavindra tersenyum kecut. Ia tidak mengira jika Alea seserius itu. Perubahan sikap Alea membuat Kavindra yakin jika gadis itu kini menaruh hati pada Raseyan. Jika tidak ada bibit-bibit asmara yang muncul, kenapa Alea tidak berani menatap mata Raseyan?


"Reaksi pertama manusia kalau suka ama orang.... itu malu-malu" bisik Kavindra dengan teori jatuh cintanya.


"Sotoy.." jawab Alea ketus.


"Reaksi kedua, denial alias penyangkalan...pura-pura ga suka padahal kalau dideketin, jantung mau lepas" lanjut Kavindra.


"Udah, ga usah berisik. Ambil sarapannya terus kita kabur".


"Reaksi ketiga, transisi dari malu tapi mau....".


"Kav...." ujar Alea memperingatkan pria itu untuk menutup mulut.


"Reaksi keempat, perubahan agresivitas, dari mau.... jadi mau banget".


Alea pun melayangkan cubitannya yang paling kencang.


"Nah ini, contoh nyata..... orang yang denial biasanya pemarah kaya gini...." seru Kavindra mencoba meyakinkan Alea.


Tanpa disadari oleh Kavindra, rupanya Raseyan tengah mencuri dengar.


Pemuda yang kini dinobatkan menjadi kepala dari suku purba tidak bernama itu menimpali kata-kata Kavindra.


"Kalau aku sudah melewati empat reaksi itu ya berarti?".


"Maksudnya?" tanya Kavindra polos.


"Aku sudah pada tahap akan melakukan apapun agar bisa bersama".


Alea buru-buru bersembunyi di balik punggung Kavindra. Ia khawatir Raseyan melihat pipinya yang bersemu. Kata-kata Raseyan memaksa jantungnya untuk berolah raga di pagi hari. Ini kali pertamanya ia mendengar gombalan yang bertubi-tubi.


Apakah Raseyan sengaja? gumam Alea khawatir.


"Wah, teori baru ini...." timpal Kavindra yang tidak bisa membaca situasi.


Tawa anak-anak kecil membuat Alea terperangah. Mereka mendatangi Kavindra dan memberi pria itu untaian rumput liar sebagai hadiah.


"Anak-anak? Penduduk yang Raseyan temukan ..... ".


Ia juga melihat ada tiga remaja perempuan yang tengah menyiapkan makanan untuk penduduk perkampungan.


"Ras.... mereka? Bukan dari Sundayana?".


Alea ingat betul jika kutukan Agros menyebabkan lenyapnya wanita dan anak-anak kecil dari tanah Sundayana. Raseyan adalah pemuda terakhir yang hidup, oleh karena itu kehamilan Alea benar-benar disambut oleh penduduk yang tersisa.


"Berarti kamu bisa meneruskan keturunanmu!" jerit Alea senang!


Ia lega bukan main. Dengan demikian, Raseyan tidak perlu lagi mengejarnya.


Alea bisa segera pulang ke masa depan. Bukankah Raseyan baik-baik saja?


"Ya, kau benar" senyum Raseyan menimpali kata-kata Alea.


"Jadi yang mana istrimu? Ah selamat ya".


Alea benar-benar bahagia. Beban di pundaknya kini hilang! Ada wanita muda di perkampungan purba yang dipimpin oleh Raseyan.


"Yang......." Raseyan mengangkat jari telunjuk.


Alea pun mencoba mengikuti gerakannya. Sebentar ke atas, sebentar ke bawah, lalu ke kiri, kanan, dan akhirnya berhenti.


Ya, berhenti tepat di muka Alea.


"Yang ini....".


Bah!


Wajah Alea kembali merah padam.


Raseyan baru saja mengerjainya.


"Yang bener ah! Aku serius!" omel gadis itu.


"Aku serius, aku sudah punya ratu... untuk apa menambah wanita lain?".


"Raseyan! Kamu harus memikirkan masa depanmu! Kamu harus melanjutkan hidupmu...".


"Sudah".


"Lalu?".


"Ya masa depanku, bersamamu....".


Alea kehilangan kata-kata. Ia tidak bisa menampik jika Raseyan berhasil membuatnya tak berkutik. Kata-kata pemuda itu telah membawanya ke langit ketujuh. Seandainya saja dirinya single, Alea yakin ia akan takluk di tangan mantan Raja Sundayana tersebut.


Di dalam hati, Alea mengutuk kebodohan Raseyan. Untuk apa ia bersikeras menungguku yang tak mungkin jadi miliknya? gumam gadis itu emosi.


Alea mendengus.


Ia memilih mendekati perempuan-perempuan muda yang tengah membakar beberapa ekor hewan yang terlihat seperti unggas.


Sayang sekali Alea tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Gadis itu hanya bercakap-cakap dengan bahasa isyarat.


Alea memperhatikan para wanita yang bekerja dengan sungguh-sungguh di saat pagi tiba. Memang benar kata Kavindra. Ini adalah perkampungan peralihan neolitik. Terbaginya peran wanita dalam urusan perkampungan merupakan salah satu ciri permukiman pada akhir zaman batu. Menariknya ini akan terjadi di seluruh dunia.


Revolusi seksual.


Begitu para ahli sejarah menamakannya.


Meningkatnya peran wanita dalam komunitas masyarakat neolitik akan mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap keagungan para dewi.


Kekuatan yang mereka sembah mulai memiliki jenis kelamin. Kepercayaan terhadap kekuatan para dewi akan terus berlanjut hingga zaman perunggu. Penemuan di seluruh dunia menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat zaman perunggu terhadap sosok dewi penjaga permukiman, atau yang saat ini kita sebut sebagai kota kuno.


Namun kekuatan para wanita akan menurun setelah zaman besi. Konon, patrialisme menguat karena pekerjaan laki-laki dianggap jauh lebih signifikan untuk menjaga keberlangsungan komunitas. Pekerjaan-pekerjaan yang tercipta membutuhkan kekuatan para laki-laki. Dari sinilah, peran wanita mengecil. Mereka hanya dianggap sebagai pengurus rumah tangga dan tidak selayaknya bekerja di luar dengan para lelaki.


"Alea..." sapa Kavindra sambil menyerahkan potongan buah liar ke tangan sang sahabat.


Pria itu memberi kode agar Alea pura-pura tertarik memungut buah-buah yang jatuh dari pepohonan.


"Pas mereka lengah, kita lari. Gue udah liat... pohon-pohon ini tumbuh di sepanjang jalan pelarian kita semalam".


"Elo yakin? Bahwa pohon-pohon ini bisa mengarahkan kita kembali ke tebing atas sana?" bisik Alea.


"Seratus persen.... gue yakin".


Alea pun mengambil sebuah wadah yang terbuat dari anyaman tanaman liar. Ia dan Kavindra berpura-pura mengumpulkan buah-buah hijau yang menyerupai kedondong kecil. Sambil berdendang kecil, mereka memungut buah-buah tersebut.


Tiga pohon berhasil mereka lalui tanpa menimbulkan kecurigaan.


Empat pohon.


Lima pohon.


"Sekarang Le!" ajak Kavindra.


Mereka berdua langsung lari terbirit-birit meninggalkan perkampungan.


Alea dapat melihat sungai dimana ia dan Kavindra bertemu dengan pardusa.


Sedikit lagi!


Sedikit lagi mereka akan tiba di atas tebing!


"Kav..... sampe!" ujar Alea lega. Mereka akhirnya tiba di atas tebing batu yang terhubung dengan cabang-cabang pohon raksasa itu.


Kavindra berteriak gembira. Ia lega karena akhirnya bisa kembali menemukan jalan pulang. Ya ini akan menjadi perjalanan masa lalu tercepatnya! Sebentar lagi, ia akan dapat mandi dengan air panas dan menikmati kopi favoritnya.


Itu sebelum ia menyadari jika pupil mata Alea tiba-tiba berubah menjadi putih.


"Le?".


Kavindra tahu ada yang salah dengan kondisi Alea saat ini. Ia mengguncang tubuh sang sahabat berulang kali.


"Le?".


"Kav.... kita belum bisa pulang sebelum misi kita selesai...". Kesadaran Alea kembali. Rupanya ia baru saja melihat sebuah penerawangan.


Kavindra bingung. Bukankah tadi Alea tidak menyentuh benda apapun? Lalu kenapa gadis itu bisa melihat sesuatu?


"Aku tahu kenapa kita kemari Kav...".


Kavindra melongo. Wajahnya cemas. Feelingnya berkata kalau dia tidak akan pulang dalam waktu dekat.


"Goresan di bebatuan sungai, The Great Destroyer!" pekik Alea berbalik badan.


"Ha? Grup cengengesan itu kenapa lagi Le?".


Alea berlari kembali menuruni tebing. Ia buru-buru mencari goresan yang ia temukan di salah satu batu sungai.


Goresan panjang itu akhirnya ia temukan. Alea pun merogoh ponselnya. Ia menunjukkan sebuah foto yang diambilnya kemarin.


"Ini.... sama kan?".


Kavindra mencoba mengamati batu yang ada di galeri foto Alea dengan batu di depannya.


"Oh My God!....".


Alea mengangguk. Ia mengiyakan dugaan Kavindra.


"Artefak yang dicuri oleh The Great Destroyer.... berasal dari zaman ini. Mereka masih mengincar yang lain.... dan bukan tidak mungkin, mereka akan mencoba datang ke tempat ini!".


"Terus mesti kita apain? Ga sebaiknya kita pulang.... trus minta tolong Mahesa?".


"Mereka tengah mencari jalan masuk ke sini. Aku melihatnya.... Kalau kita keluar, sama saja kita memberitahu mereka cara untuk sampai kemari".


Alea melanjutkan penjelasannya.


"Kita harus menghentikan mereka... tapi sebelum itu, kita harus tahu pusaka apa saja yang tengah mereka incar!".


Kavindra mengelus dada. Bagaimana caranya mereka berdua memecahkan misteri tanpa bantuan siapapun yang memiliki kemampuan supranatural?


Ia jelas tidak bisa.


Alea juga cuma bisa setengah kesurupan. Ditambah lagi kalau lihat pria tampan, akal sehatnya lenyap.


Raseyan? Bisa apa dia? tanya Kavindra kehilangan harapan.


Sepertinya hirupan secangkir kopi hangat benar-benar akan menjadi khayalannya belaka.


Tanpa dewa, tanpa magis, tanpa kopi.


Petualangan apa yang akan menanti mereka?


***