
“Putus….” ujar Kavindra shock.
Ia tidak bisa menyeruput minuman yang diberikan oleh Nazaxenna.
Putusnya Alea dan Mahesa membuat pikirannya buntu.
Baginya ini adalah berita terbesar sejagad raya. Pasangan unik yang pernah dimiliki oleh semesta itu kini tak lagi bersama.
“Gawat…. Alea, Alea Yang Mulia…” panggil Kavindra. Ia cemas. Alea tidak bergerak sejak tadi. Tubuh gadis itu bak sebuah patung. Tatapannya kosong.
Namun Nazaxenna melarang Kavindra untuk bergerak dari kursinya.
“Pertunjukkan belum selesai Kavindra”.
Benar saja.
Setelah prajurit kuda menangkap para anggota The Great Destroyer dan terbang ke angkasa, ada sebuah fenomena ganjil yang muncul.
“Lah yang ituuu belom ketangkep” teriak Kavindra.
Maro.
Pemuda yang paling pendiam di kelompok The Great Destroyer.
Pemuda yang terlihat lemah dan sering kikuk itu berdiri.
Ia berhasil selamat dari kejaran para prajurit kuda.
Maro, pemuda berambut keriting dan berkulit sawo matang itu membetulkan kaosnya yang kusut.
Ia tertawa lebar.
“Selamat tinggal teman-temanku yang bodoh”.
Maro menatap ke angkasa.
Kini ia bisa membuka topengnya.
Identitas sebenarnya.
Manusia pemburu pusaka.
Manusia yang mengabdikan dirinya pada ilmu hitam.
“Kini di dunia ini hanya ada kita dan gadis itu….”.
Maro mengamati sosok Alea yang masih diam mematung.
“Gampang sekali mengelabui gadis bodoh itu…. dan yang terpenting, ia memiliki batu yang kita inginkan”.
Sesosok makhluk bertaring muncul di sebelah Maro.
Tubuhnya tinggi jangkung.
Kedua bahunya memiliki tanduk.
“Siapa dia?” tanya Kavindra terpukau.
“Horrack” jawab Clauss.
“Siapa?”.
“Horrack, ia dulu adalah dewa di dunia tujuh dimensi. Namun ia iri pada kekuasaan yang diberikan langit kepada Odin. Ia meniupkan permusuhan di antara mereka dengan memanfaatkan Gosta Cola. Penyihir itu tidak sadar jika ia hanya dimanfaatkan oleh Horrack” lanjut Clauss.
Keringat dingin memenuhi pelipis Kavindra.
Ternyata buronan langit yang dicari oleh Nazaxenna adalah Horrack! Bukan Gosta Cola!
“A…. Aleanya gimana?” tanya Kavindra panik.
Ia khawatir dengan keselamatan Alea.
Horrack terlihat sangat bernapsu.
Makhluk itu tersenyum lebar setiap melihat sosok Alea.
“Apa yang ia lihat dari Alea? Bukankah Alea tidak lagi memiliki batu pecahan bintang di tubuhnya?”.
Nazaxenna tersenyum.
“Karena Alea adalah Aleatoire…. Energinya manis dan akan menarik perhatian para makhluk
pencari kekuatan” gumam dewa itu.
Kavindra tidak bisa menginterpretasikan senyum Nazaxenna.
Ia tampak bingung dan cemas.
Bagaimana caranya ia bisa melindungi sang sahabat?
“Jadi apa yang sebenarnya dicari oleh Harrock? Eh Horrack?”.
“Pecahan batu bintang yang sebenarnya….” Jawab Clauss.
“Maksudmu? Brisingamen?”.
Clauss menggeleng.
Dan tiba-tiba Kavindra dikejutkan oleh kedatangan tamu tidak diundang.
Ia berteriak histeris.
Kemunculan Oor membuat rahangnya terbuka lebar.
“Oooor????”.
Dewa itu melambaikan tangan.
“Kamu, kamu bukannya udah ditangkap? Dibawa ke atas?” tanya Kavindra terkejut.
Oor tertawa.
Ia menepuk pundak Kavindra.
“Terima kasih telah ikut berperan di dalam sandiwara kami”.
Pria itu melongo.
Jadi selama ini, ia dan Alea hanya pemeran figuran?
Tidak heran Clauss mengizinkan Oor untuk tinggal di tempat ini.
Seperti penjelasan Clauss, dunia transisi ini adalah dunia perangkap.
Nazaxenna, Clauss, dan Oor bekerjasama membangun dunia ini untuk menangkap dewa-dewa serakah pemburu kekuasaan. Dewa yang telah mencoba mengganggu tatanan keseimbangan semesta.
“Jadi sejak awal.. pecahan batu bintang itu berita bohong?”.
Oor mengangguk.
“Kami sengaja membuka pintu itu agar Gosta Cola bisa merasakan energi kamu… dan Horrack juga”.
“Wow.. ini konspirasi namanya….” ujar Kavindra bertepuk tangan.
“Pemuda yang bernama Maro itu… berbahaya…. “ sahut Clauss.
Oor memperjelas kata-kata Clauss.
“Aku ingin kau melaporkan pada pihak yang berwajib mengenai penjarahan yang telah dilakukan oleh Maro. Kami tidak ingin mencampuradukkan permasalahan dewa dan manusia. Kami akan mengurus Horrack, kau dan Alea mengurus Maro”.
“Sebentar, sebentar… jadi Freya? Brisingamen?”.
Oor menggeleng.
“Brisingamen bukan pecahan batu bintang. Itu adalah tipu muslihat untuk menjebak Horrack. Kami sengaja menghembuskan isu mengenai kekuatan di balik Brisingamen”.
“Tapi kematian Freya?”.
“Freya belum mati. Ia bersembunyi di sebuah tempat dan menjalani ritual pembersihan”.
“Semua penerawangan yang dilihat Alea? Batu bergores? Semua ilusi?”.
Anggukan Clauss dan Oor menjawab dugaan Kavindra.
“Bagaimana kita harus menceritakan ini semua pada Alea?”. Kini Kavindra tidak tega.
Tatapan kosong Alea menyiksanya.
“Ini bagian dari ujian mereka bertiga…” jawab Nazaxenna dengan tawa renyah.
Ia membereskan kursi-kursi pantai tempatnya bersantai dengan jentikan jari.
Kini Nazaxenna dan Kavindra kembali mengenakan pakaian mereka yang semula.
“Sudah cukup bermain-mainnya. Pasukanku, ayo kita pasang perangkap untuk Horrack”.
Clauss memberi tahu Kavindra mengenai misi yang harus ia selesaikan.
“Ia akan mengejarmu sampai ke masa depan. Di sanalah kau harus ungkap kejahatan Maro, dan kami akan menangkap Horrack”.
“Kenapa tidak sekarang saja?”. Kavindra penasaran.
“Kami ingin mencari sebuah barang tempat ia menyimpan energi-energi dari pusaka yang ia curi” jawab Clauss.
“Tidak, sepertinya ia menyimpannya di duniamu. Selama ini kami kesulitan mencari Horrack karena ia pintar bersembunyi dan berkelit. Kini kami berhasil mendeteksi keberadaannya. Tinggal satu langkah lagi, kami bisa menangkapnya”.
Kavindra mengangguk. Ia paham dengan rencana dewa berambut emas itu.
“Sekarang kau berlari ke arah Alea, pegang tangan gadis itu… dan selanjutnya tugas kami untuk memindahkan kalian” perintah Clauss.
Pria itu tahu bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti Clauss. Ia segera berlari sekuat tenaga. Tangannya menyambar Alea yang masih terdiam kaku. Sebelum Horrack sempat memangsa Alea, Kavindra telah membawa gadis itu kembali ke dunianya.
***
Jakarta, 7 Juni 2020
Saat Alea dan Kavindra kembali ke dunia mereka, kalendar menunjukkan tanggal 7 Juni 2020.
Itu artinya sudah enam bulan mereka tinggal di dunia transisi. Keduanya terhenyak. Mereka hanya menghabiskan waktu beberapa minggu di sana, namun kenapa waktu berjalan sangat cepat? Jika dibandingkan dengan petualangan-petualangan mereka sebelumnya, pergeseran waktu kali ini terlalu ekstrim.
“Coronavirus?”. Berita di televisi membuat pria itu terdiam.
Ketika mereka pergi, kemunculan virus itu belum terdeteksi di dunia. Kavindra tidak mengira jika virus itu mampu melumpuhkan kehidupan vital perkotaan. Kini, berpergian di Jakarta juga tidak sebebas dahulu kala. Ada protokol yang harus mereka patuhi untuk keselamatan bersama.
Kavindra bangun dari sofa. Ia mencoba mengajak Alea berbicara. Bagaimanapun Alea harus tahu mengenai misi terakhir mereka berdua.
Melaporkan Maro. Mencari benda rahasia yang disimpan oleh Horrack. Benda yang konon dapat mengguncang peradaban manusia.
Namun Alea tidak membalas kata-katanya. Kavindra mencoba berempati. Ia tahu jika Alea baru saja kehilangan Mahesa. Hubungan mereka berakhir, tidak sesuai impian keduanya.
Kavindra tahu bahwa sahabatnya terluka.
Meskipun ia ingin menyalahkan Alea yang mudah tergoda, tapi Kavindra sedikit memahami situasi gadis itu.
Mungkin jika ia berada di posisi Alea, ia juga akan mengalami dilema serupa.
Dua pria.
Well, satunya dewa sih, gumam Kavindra.
Berdiri di antara dua cinta.
Keduanya nyaris sempurna.
Mahesa yang berwajah dingin dan memiliki sifat cuek.
Lalu Raseyan yang berwajah tampan dan penuh kehangatan.
Dua makhluk itu memiliki pesonanya masing-masing.
Terlebih lagi, mereka berdua hanya terobsesi pada Alea.
Kavindra buru-buru menyembunyikan tumpukan katalog pernikahan di ruang tengah Alea. Ia meminta Kobi bersaudara untuk membantunya.
“Apa? Nona dan Tuan Mahesa putus?!” jerit Nobi. Ia menangis tersedu. Kedua makhluk itu adalah pasangan favoritnya. Sobi dan Kobi juga ikut menangis. Mereka menjatuhkan diri ke atas kasur. Merebahkan diri untuk menangisi kejamnya nasib.
“Eh ga usah ikutan nangis… ntar Alea denger tambah sedih!”.
Nobi menggeleng.
Hatinya hancur.
Harapannya untuk menjadi pengiring pengantin buyar sudah.
“Hadeuh ini kelinci-kelinci baperan….ayo udah kita ga ada waktu meratap, cepet sembunyiin barang-barang persiapan pernikahan Alea”. Kavindra menepuk dahi. Ia tidak tahu kenapa ketiga peliharaan Alea malah sibuk menangis.
“Tapi kami kucing tuan….” isak Sobi.
“Penting apa? Udah, udah ayo cepet bantu beberes sebelum Alea sadar” tukas Kavindra kesal.
Kobi mencoba mengangkat tubuh. Namun sepertinya ia belum kuat. Tubuhnya terbanting lagi ke kasur. Berita berakhirnya hubungan Alea telah membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Nobi dan Sobi juga menunjukkan tanda-tanda serupa.
Kedua kucing gaib itu tidak mampu menggerakkan tubuh mereka.
Kesedihan mereka terlalu dalam.
“Padahal kita sudah pesan kostum ya…. Sudah mau pesan menu khusus kucing juga…”.
Sobi mengangguk. Jarang-jarang ia bisa menemukan sepatu khusus kucing yang sesuai ukurannya.
“Aduh, ini kucing-kucing ga jelas. Bukannya bantuin gue….” keluh Kavindra membereskan sejumlah peralatan milik Alea. Ia sebentar-bentar mengintip sang sahabat yang masih duduk terdiam di pinggir jendela.
“Kamu lihatin sana, takut dia ngapa-ngapain”.
Malam ini, Kavindra memutuskan untuk menginap di unit apartemen Alea. Ia sebenarnya ragu dan tidak nyaman. Keluarganya telah mendidik Kavindra dengan prinsip-prinsip ketimuran. Ia diajarkan untuk menggambar batas jelas dalam hubungan insan yang berbeda jenis. Di masa lalu, ia bisa mengerti jika terkadang dirinya dan Alea harus tidur di bawah atap yang sama. Tapi tidak di masa ini.
Tabu.
Kavindra sadar betul jika ia hidup di negara yang masih menganut norma-norma sosial yang kental. Salah-salah ia bisa dituduh sebagai pasangan kumpul kebo. Padahal daripada tinggal sama Alea, ia sebenarnya lebih suka tinggal dengan kerbau. Kerbau tidak rakus sedangkan Alea maruk. Gadis itu sering merebut makanannya. Ia adalah rival terkuat Kavindra dalam menikmati kuliner.
Semoga tidak ada razia, gumamnya cemas.
Ya, ia lebih takut digelandang oleh satpol pp daripada digondol oleh Horrack.
Lagipula, malu.
Malu pada keluarganya jika ia melanggar tradisi dan norma yang diajarkan.
Kini ia dan Alea hanya berdua.
Walaupun ia sama sekali tidak memiliki rasa pada gadis itu, tapi belum tentu masyarakat sekitar akan percaya.
“Mahesa sih enak, kalau digedor satpol PP, dia tinggal ngilang… nah gue, mau ngilang kemana?”.
“Eh, kamu bisa sihir juga?” tanya Kavindra penasaran. Jangan-jangan ketiga kucing peliharaan Alea bisa membantunya untuk menghilangkan jejak.
“Bisa kalau tidak susah…huhuhu” isak Nobi bersaudara.
“Kalau ada satpol pp yang gedor, bisa buat aku ga keliatan?”.
Nobi menggeleng.
“Waduh… ga bisa ya? Aku ga berani tidur sini…. Ntar kalau digerebek gimana….” Kavindra ragu. Apa sebaiknya ia membawa Alea ke apartemennya? Security dan kontrol sosial di tempatnya tidak terlalu ketat. Ia hampir tidak pernah melihat tetangganya, dan satpam pun jarang mengganggu privacy para penghuni. Tapi kalau Alea diboyong, bisa habis isi kulkasnya. Bukankah orang patah hati itu biasanya lebih banyak makan, gumam Kavindra yang terlalu banyak membaca novel picisan.
Karakter kediaman Alea memang sedikit berbeda. Tower yang padat, dinding apartemen yang cenderung tipis, dan keberadaan ibu-ibu yang suka nongkrong dekat lift membuat Kavindra resah. Bisa jadi salah satu dari mereka melaporkan kehadirannya ke petugas penjaga.
“Kayanya selama ini sih ga ada yang rewel… kalaupun ada yang gerebek kan ada perisai pelindung Tuan Pushan” sahut Kobi.
“Perisai pelindung? Dimana?” tanya Kavindra antusias.
Kobi mengacungkan tangan mungilnya ke laci lemari baju.
“Ah disana?”. Kavindra bergegas membuka laci itu. Selain perisai pelindung ia menemukan sejumlah barang aneh lain. Pria itu tersenyum. Malam ini ia bisa menginap dengan tenang.
Seandainya malam ini satpol pp menggerebek unit apartemen Alea, ia bisa bersembunyi di balik perisai tersebut.
Jika yang datang adalah Horrack dan Maro, ia juga bisa membela diri.
Senjata-senjata yang ada di laci Alea cukup untuk melumpuhkan serangan makhluk gaib.
Kavindra memilih senjata kejut listrik sebagai senjatanya. Ia memasukkan alat tersebut ke saku celana. Ia meminjam bandana Alea dan mendandani dirinya.
“Yeah, I am a warrior….” tukasnya sambil bergaya di depan kaca. Kini penampilannya persis Rambo, jagoan yang populer pada saat zaman sang ayah muda. Ikat kepala dan kaos hitam you can see. Itu adalah trademark Rambo. Kavindra kembali berkaca. Ia mengagumi ketampanannya.
“Tuan…. “ panggil Kobi polos.
“Yes?”.
“Ada yang gedor pintu…….”.
Wajah Kavindra pucat.
Ia berharap Kobi salah dengar. Pria itu menyelinap keluar dari kamar Alea. Ia memastikan bahwa pendengaran mereka tidak salah.
“Mati, beneran… digedor!!!!”.
Kavindra melirik ke belakang. Alea sedang tidak dalam kondisi yang bisa diharapkan. Tatapan gadis itu masih hampa. Ia nampaknya masih belum bisa berdamai dengan keadaan.
Akhirnya, Kavindra memberanikan diri untuk mengintip dari lubang pintu.
“Gelap ….Ga keliatan….” gumam pria itu panik. Ia mengambil napas panjang.
Gedoran pintu itu tidak disertai suara manusia.
“Kayanya ga mungkin satpol PP deh….” pikirnya yakin. Lagipula kan ada bel. Masa mereka tidak pakai menekan bel terlebih dahulu?
“Tapi kalau Horrack… masa iya pake gedor pintu? Kan dia bisa tembusin ini pintu….”.
Tidak ada jalan lain, Kavindra harus memastikan siapa yang datang dengan mata kepala sendiri.
Ia menggenggam erat senjata kejut listrik dan perisai pelindungnya.
Satu
Dua
Tiga.
Ia pun membuka pintu dengan gagah berani.
“Come to papa…………..” teriaknya sambil membuka pintu apartemen Alea.
Siapapun yang datang, bersiaplah menerima kehebatan aksi Rambo dari Jakarta!
***