
Langit masih berpihak pada Alea.
Tali ikat kepala Raseyan yang tertinggal di kediaman Oor memberikannya sebuah petunjuk.
Ia bersyukur karena Raseyan telah ceroboh. Namun, benda itu menyimpan memori yang dibutuhkan Alea untuk mencari lokasi batu bergores.
Mereka berdua pelan-pelan menggeser batu pipih yang melindungi kediaman Oor.
Satu, dua, tiga!
Setelah yakin keadaan telah aman, Kavindra dan Alea menyelinap ke luar celah.
“Sebentar ….”. Alea melangkah dengan hati-hati. Ia rupanya memberanikan diri untuk menyentuh batu dolmen Andulu dan Amatya.
Gadis itu tertawa senang. Ia mendapatkan informasi yang ia butuhkan melalui sentuhan tangannya. Alea bersyukur telah terlahir sebagai seorang clairsentient. Kekuatannya untuk membaca memori melalui sebuah sentuhan tersebut sangat membantu ekspedisinya kali ini.
“Itu pohon bercabang Y…. Persis seperti penerawanganku”.
Mereka berdua tiba di sebuah area yang didominasi pohon-pohon dengan bentuk cabang yang menyerupai huruf Y.
Kavindra menggeleng. Terlalu banyak bebatuan di sekitar pepohonan.
“Cari yang ada goresan…. Yang agak kasar permukaannya. Seperti batu yang kita temukan di pinggir sungai pertama” perintah Alea.
“Le…. darah elo ga dipake. Biar kita langsung nemu….” usul Kavindra.
“Elo nyuruh gue kehabisan darah apa? Cek dulu batu bergoresnya ada apa nggak, baru kita tetesin untuk mastiin apa itu pecahan batu bintang apa bukan”.
Kavindra bergidik.
“Elo belum pernah jadi pendonor darah kan?”. Pertanyaan pria itu membuat Alea heran.
“Kenapa emangnya?”.
“Ngeri aja yang nerima darah elo. Ternyata, menyimpan banyak bahaya”.
Alea menjitak kepala Kavindra.
“Beneran ni Le, kalau orang lain nerima darah elo… berarti mereka menerima pecahan batu bintang juga? Sama darah siapa dulu pendahulu elo… Pandita apa gitu…”. Kavindra sungguh penasaran.
“Nggak tahu… udah ah, ayo kita cari dulu batunya”.
Alea menyisir area dengan cermat. Ia meraba seluruh bebatuan dengan penuh konsentrasi. Ada tiga batu bergores yang ia temukan.
Gadis itu meneteskan darahnya ke salah satu batu. Namun, batu itu tidak bereaksi.
“Gawat, darahku tidak akan cukup untuk menemukan lima batu yang tersisa”.
Alea terpukul.
Pencarian batu bergores lebih rumit dari bayangannya.
“Seharusnya ada cara lain, tapi apa?”.
Memori yang ada di ikat kepala Raseyan tidak cukup untuk mengungkap keberadaan batu bergores. Begitu pula dengan penerawangan yang ia miliki saat menyentuh Raseyan.
“Cara ini tidak akan berhasil….” Alea mulai menangis.
Kavindra menepuk pundak Alea.
“Dicoba Le… kita ga bisa menyerah. Raseyan… kita harus menyelamatkan Raseyan”.
Sambil meneteskan air mata, Alea kembali melanjutkan usahanya.
“Le….. nyala, Le….. berhasil kita…..” tawa Kavindra saat melihat batu ketiga bersinar dengan terang.
“Terus kita apain?”.
Alea diam.
Ia juga tidak tahu.
Masa iya mereka harus membawa batu seberat itu kembali ke kediaman Oor.
“Ada yang salah dengan cara kita….” tukas Alea setengah putus asa.
Keduanya kemudian menangis bersama.
“Le… Le… gue ada ide…”.
Alea menghapus air matanya.
“Apa?”.
“Mahesa… Mahesa ga mungkin ke sini ya?”.
Alea menggeleng. “Sepertinya ia tidak bisa berpindah dimensi lagi… ini melawan aturan langit”.
“Gimana kalau Saseth dan Helith?”.
Gadis itu kembali menggeleng.
“Mereka kan dari peradaban awal. Tidak mungkin ke era ini, apalagi ini dunia paralel. Pasti ada dewa khusus yang berjaga di….. disini”.
Mata Alea terbelalak.
Kenapa ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya?
Dunia ini pasti memiliki seorang penjaga. Jika Oor hanyalah dewa pendatang yang melarikan
ke tempat ini, jelas sekali bahwa ia bukan dewa yang ditugaskan langit untuk berjaga.
Alea menyentuhkan telapak tangannya ke permukaan tanah.
“Apakah aku bisa berkenalan denganmu, namaku Alea manusia bumi yang berasal dari dunia
yang berbeda. Aku akan sangat bersyukur jika kau mau bertemu denganku. Aku membutuhkan bantuanmu”.
Satu detik, dua detik, kemudian lima menit.
“Mungkin ga ada Le… mungkin dia sudah dibunuh Oor? Kalau ga gimana Oor bisa nguasain dunia ini dari pas Raseyan kecil?”.
“Iya juga ya….. “
“Sembarangan……” suara itu mengejutkan Alea dan Kavindra.
Mereka terpana.
Kehadiran sosok berambut emas di hadapannya membuat mereka hening sejenak.
“Halusinasi….” ucap Alea.
“Iya kayanya kita udah putus asa banget ya… sampe lihat penampakan dewa. Terus kita harus gimana dong Le?” tukas Kavindra.
Keduanya terus berbicara dan mengabaikan keberadaan dewa berambut emas tersebut.
“Hei…” panggil sang dewa.
Alea dan Kavindra masih tidak menghiraukan panggilan dewa itu. Mereka berdua sibuk menghapus air mata dan meratapi nasib.
“Hei………..” panggilnya lagi sambil memukul pelan kepala kedua manusia itu dengan punggung pedang.
“Seperti biasa, Aleaku ini memang paling lucu….” kekeh sesosok dewa yang kemudian ikut menampakkan diri.
Alea mendongak. Ia mengenal suara tersebut.
“Nazaxenna!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”.
Gadis itu menghamburkan diri ke pelukan Nazaxenna. Ia lupa dengan status dewa tersebut. Alea tidak lagi peduli. Kehadiran Nazaxenna adalah harapannya.
“Kembalikan aku ke duniaku….. aku mau bertemu Mahesa…………..”.
Nazaxenna menepuk lembut rambut Alea.
“Belum bisa sayangku…. Kau harus menyelesaikan misimu dulu”.
“Tapi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan….. wait jadi dari tadi dewa ini beneran? Kami kira halusinasi kami saja”. Alea memandang sosok dewa berambut emas di sebelah Nazaxenna..
“Perkenalkan namanya Clauss”. Nazaxenna memperkenalkan bawahannya.
Dewa yang bertubuh jangkung itu menundukkan kepala. Ia memberikan salam penghormatan pada Alea.
“Namaku Clauss, aku adalah dewa penjaga dunia transisi. Aku memberi izin pada Oor untuk menyembunyikan pecahan batu bintang di dunia ini”.
“Jadi kamu belum mati? Terus kenapa dari awal ga muncul? Kami udah mati ketakutan seperti ini… terus kenapa kamu membiarkan Gosta Cola masuk ke dunia ini????” desak Kavindra kesal.
“Wow… wow… sabar” ujar Clauss.
“Iya benar juga… kenapa kamu baru muncul?” tanya Alea.
Clauss menunduk.
“Yang Mulia baru mengizinkanku untuk menampakkan diri”.
Alea pun teringat dengan kata-kata Oor mengenai dewa patron yang melindunginya.
“Apakah kau dewa patron yang dimaksud Oor?”.
Dewa itu menggeleng.
“Itu Yang Mulia. Yang Mulia sudah mengikutimu sejak tiba di dunia ini”.
Nazaxenna tersenyum usil.
“Aku pun ada di sana saat Alea sama Raseyan…..hihihi” Nazaxenna sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.
“Arrrghh……………………………………………” jerit Alea malu.
Ia tidak berani menatap wajah mantan Kaisar Langit itu.
“Ampun, ampun jangan lapor ke Mahesa…. Ampun” pinta gadis itu. Tubuhnya lemas.
“Jadi Alea mau pilih yang mana?” goda Nazaxenna lagi.
“Ah, betul juga… apa kau bisa cabut pecahan batu bintang ini dari tubuhku? Aku tidak mau berurusan karma lagi dengannya”.
Permintaan Alea tersebut dibalas dengan senyuman Nazaxenna.
“Apa kau yakin Alea?”.
Alea mengangguk. "Setelah ini usai, putuskan hubungan karmaku dengan Raseyan".
“Baiklah, tapi kau tidak boleh meminta hubungan itu dipersatukan kembali” janji sang mantan Kaisar Langit.
Sebenarnya hati Alea bimbang. Ia mulai memiliki perasaan khusus pada Raseyan. Tapi jika pecahan
batu bintang di tubuhnya tetap dibiarkan ada, sampai kapanpun ia akan berada dalam konflik cinta segitiga.
“Baiklah Clauss… kembalikan semua pecahan batu bintang itu menjadi satu. Kita harus menangkap Gosta Cola” perintah Nazaxenna.
“Sebentar aku punya pertanyaan… “ Kavindra memberanikan diri untuk memotong pembicaraan para dewa.
Clauss melirik.
Ia meminta persetujuan Nazaxenna yang menjadi atasannya.
Dewa itu memberi persetujuannya.
“Apa kalian sengaja membuka pintu dunia ini untuk menangkap Gosta Cola? Lalu bagaimana dengan Oor? Freya? Brisingamen?” tanya Kavindra penasaran.
“Satu-satu Kavindra….”.
Nazaxenna menyentuh pundak Kavindra.
“Semua akan jelas pada waktunya… sementara ini bantulah Alea untuk menjalani takdirnya”.
Pria itu terdiam.
“Alea…” panggil Nazaxenna. Sebuah jentikan jari dari Nazaxenna membuat tubuh gadis itu menggigil.
Wajah Alea membiru.
Perutnya mual.
Ia mulai berkunang-kunang.
Clauss menyokong tubuh Alea yang limbung. Ia membiarkan Nazaxenna mengeluarkan pecahan batu bintang yang tersimpan di tubuh Alea.
“Saa…. Sakit….” tangis gadis itu. Ia tidak mengira proses pengeluaran pecahan batu bintang akan membuatnya kehabisan energi.
Ini kali pertamanya Kavindra melihat pecahan batu bintang dalam warna aslinya. Batu itu menyerupai warna
darah. Semakin lama ia lihat, semakin pusing kepalanya.
“Sebaiknya kau tidak melihatnya secara langsung. Batu ini akan memancarkan energi negatif sampai ia mencapai suhu konstan” nasehat Clauss dengan suara yang berwibawa.
Nazaxenna akhirnya berhasil mengeluarkan batu tersebut dengan sempurna.
“Sini…” tepuknya lembut. Ia menenangkan Alea yang kehilangan banyak energi.
“Kau akan merasakan lemas untuk beberapa saat. Tubuhmu harus mengganti energi yang hilang akibat kepergian batu ini”.
“Apakah… Raseyan… batu ini juga akan kau keluarkan dari tubuh Raseyan?” tanya Alea lemah.
Clauss mencoba menjawab pertanyaan Alea.
“Kau tidak perlu khawatir. Kami akan mengeluarkannya setelah sisa pecahan batu bintang terkumpul”.
Mata Alea mulai dipenuhi titik-titik hitam. Kecemasan yang ia rasakan telah menganggu proses pemulihan tubuhnya.
“Jangan banyak pikir… Raseyanmu akan baik-baik saja… “ bisik Nazaxenna lembut.
“Raseyanku?” tanya Alea bingung.
Apakah Nazaxenna merestui hubungannya dengan pemuda itu? Dan bukan dengan Mahesa?
“Apa yang akan kau lakukan kepada Mahesa?”.
Nazaxenna mengangkat alis.
“Tidak ada…”.
“Apa dia baik-baik saja?”.
Nazaxenna mengangguk.
“Ah, kau salah paham dengan kata-kataku ya… tenang Alea… aku merestui hubunganmu dengan siapapun yang
akhirnya akan kau pilih. Kau sudah menjalani banyak hal yang diinginkan langit”.
Kavindra memotong pembicaraan mereka berdua.
“Tapi apakah saya boleh meminta dua hal?”.
Clauss terkejut saat Nazaxenna mengizinkan manusia bumi itu untuk berbicara.
“Pertama, sampai kapanpun… jangan pernah aku memiliki karma perjodohan ama Alea”.
Alea menatap sinis Kavindra.
“Eh, dodol. Gue juga ga bakal mau ama elo. Ge-er amat jadi manusia”.
“Le… lo masih bisa ngomong?” tawa Kavindra lega.
“Deal… lalu apa permintaan kedua?” tanya Nazaxenna.
“Dewi penjaga penjara… boleh ga aku kenalan sama dia?”.
Nazaxenna menggeleng.
“Kalau kamu berkenalan dengannya, artinya kamu akan masuk ke dalam penjara langit. Apa itu yang kau inginkan?”.
Kavindra pun membatalkan permohonannya.
Ia tidak mau hidup dalam penyiksaan tiada henti.
“Ga jadi deh Om, aku request satu dulu aja”.
Nazaxenna tersenyum. “Jangan marah jika permintaanmu tidak terkabul. Langit lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk keseimbangan kehidupan”.
Kavindra tersipu malu. Ia baru saja mendapatkan nasehat ampuh dari mantan penguasa langit. Sudah sepatutnya ia merenungkan sifat serakahnya kembali.
“Ini juga berlaku untukmu gadis kecilku”.
Alea tidak berani menatap mata Nazaxenna. Pertama, karena ia terlalu tampan. Kedua, ia malu karena memiliki
terlalu banyak permintaan di dalam hati.
Clauss memasukkan pecahan batu bintang yang berasal dari tubuh Alea ke dalam sebuah botol kaca.
“Benar katamu Yang Mulia. Ini batu bintang inti….”.
“Nazaxenna…. Clauss, aku rasanya pernah melihat ia di suatu tempat. Apakah kami pernah bertemu sebelumnya?”.
Nazaxenna tertawa saat mendengar pertanyaan Alea.
“Tentu saja kita sudah pernah bertemu gadis pemakan buah zaitun…” kekeh Clauss sambil mengumpulkan seluruh pecahan batu bintang ke hadapannya.
Enam pecahan batu bintang tersebut melayang di angkasa. Ukurannya bermacam-macam, ada yang besar dan ada juga yang kecil. Dewa itu menyatukan mereka semua menjadi satu.
Alea masih tidak mengerti. Apa maksud Clauss, gumamnya bingung.
“Ia adalah panglima Pasukan Zaitun. Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya di Iram” bisik Nazaxenna memberikan petunjuk.
Mulut gadis itu menganga. Ia teringat dengan petualangannya ke Tanah Iram beberapa waktu yang lalu.
“Jadi? Kalian disini sebagai …..”.
“Ini adalah dunia perangkap Alea. Kami sengaja membawa para buronan ke dunia ini. Mengelabui mereka dan kemudian menangkapnya”.
“Dunia transisi ini? Dunia perangkap?”.
“Yang Mulia….” Clauss terkejut. Ia tidak mengira Nazaxenna akan membongkar rahasia mereka.
“Ini adalah dunia paralel yang kami ciptakan untuk menangkap para buronan langit. Termasuk kali ini Gosta Cola. Ah aku lupa memperkenalkan diriku sekali lagi. Namaku Nazaxenna, aku adalah pemimpin Pasukan Zaitun”.
Alea terperanjat. Jadi pertemuannya dengan Nazaxenna di Tanah Iram bukan merupakan sebuah kebetulan? Sejak lama, ia memang sudah bertugas sebagai pemimpin pasukan pemberontakan?
"Kaisar Langit sekaligus pemimpin pemberontakan? Wow, kau memang spesial".
Nazaxenna tersenyum.
"Ya dan kalian berdua akan membantuku untuk menangkap manusia yang telah merusak tatanan kehidupan bumi dan dunia para dewata".
Alea dan Kavindra mengangguk. Mereka kini menjadi bagian dari Pasukan Zaitun bentukan Nazaxenna.
"Sebentar.... ini berarti gajiku double? Kan, aku juga anggota Secret Army...." seru Kavindra.
"Hahaha aku nyaris lupa.... ya, benar. Kalian bekerja double rupanya. Baiklah, setelah semua usai... aku akan mengabulkan permintaan kalian.
Tapi aku tidak akan mengabulkan permintaan untuk menghidupkan jiwa yang telah terpisah dari jasadnya.
Lalu, menghancurkan bumi. Tiga, menghancurkan langit".
Kedua manusia itu mengangguk.
Mulai hari ini mereka resmi menyandang status sebagai anggota pasukan Zaitun!
***