Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 16. Dua berita besar untuk langit



Lari.


Hanya itu kata-kata yang terlintas di kepala Raseyan.


Ia tidak yakin jika naga pelindung Kavindra bisa mengalahkan puluhan naga yang tengah mengepung mereka.


Pemuda itu melirik ke arah Alea.


Kekhawatiran menyelimuti dirinya.


Seandainya saja, ia masih memiliki kujang Dilahana, pikirnya resah.


Kini ia hanya seorang pemuda yang tidak memiliki kemampuan magis.


Di tangannya hanya ada tombak dengan mata yang terbuat dari batu asah biasa. Tidak ada yang spesial


mengenai tombak tersebut. Senjata itu hanya ia pakai untuk membunuh hewan-hewan buruan. Tidak sekalipun tombak ini dipakainya untuk melawan makhluk mistis maupun dewa seperti Oor.


“Alea, kita harus pergi…”.


“Kemana? Tidak ada tempat aman tanpa Naga Swarna”.


“Alea, kau yakin naga itu bisa mengalahkan seluruh naga ini?”.


Gadis itu mengangguk. Ia percaya dengan kekuatan sang naga yang telah menemaninya di berbagai perjalanan waktu.


“Aku tahu tempat yang aman. Kita harus membawa penduduk desa ke sana”. Raseyan menatap Alea. Ia berharap gadis itu tidak membantahnya.


Sayang sekali,


Alea keras kepala. Ia menolak ajakan Raseyan.


“Kau saja yang pergi memberi tahu penduduk desa. Aku akan disini bersama Naga Swarna. Kau bawa Kavindra… lihat wajahnya sudah membiru seperti itu”.


Raseyan menggenggam tangan Alea.


“Kau harus ikut aku…. aku tidak akan membiarkanmu sendiri di sini”.


“Keselamatan pendudukmu lebih penting!”.


“Terus kau berharap aku meninggalkanmu?” tanya Raseyan. Ia menatap wajah Alea dengan lembut. Raseyan membelai rambut gadis itu.


“Kau istriku… apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kau terlepas lagi dari genggamanku”.


Alea menggigit bibir. Ia tidak tahu kenapa kata-kata Raseyan barusan membuat hatinya bergetar. Ia menatap tangannya yang kini berada di genggaman pemuda itu. Alea sendiri tidak paham kenapa ia membiarkan Raseyan menggenggam telapak tangannya begitu saja.


“Apakah karena sentuhan ini bisa membuatku menguak misteri untuk keluar dari dunia ini? Atau karena aku tanpa disadari mulai menyukainya?” gumam Alea bingung.


Hatinya berkecamuk. Ia benci dirinya.


“Le…pacarannya ntar aja….. tolongin gue dulu….” jerit Kavindra. Pria itu berlari dengan air mata yang berlinang. Ia terlihat ketakutan. Seekor naga bertubuh kecil tengah mengejarnya. Gigi-gigi naga tersebut sangat tajam dan terlihat seperti puluhan pisau dapur yang berderet rapih.


Raseyan spontan melempar tombak yang ia pegang. Mata sang naga pun terluka. Lemparan Raseyan berhasil mengenai mata kanannya.


Naga tersebut kemudian mengeluarkan api dari mulutnya. Ia mencoba membalas serangan Raseyan.


“Alea….” Raseyan dengan sigap menarik tubuh Alea.


Jika saja pemuda itu terlambat, tubuh Alea pasti sudah terbakar.


“Tidak ada jalan lain… kita harus lari!” ajak Raseyan.


Alea tetap menolak ide Raseyan.


“Kau saja yang pergi dengan Kavindra…. Aku akan tetap disini”.


“Kenapa kamu begitu keras kepala?”.


Alea melepaskan genggaman tangan Raseyan.


Gadis itu kemudian mendongak ke langit.


Sejak tadi ia mendengar suara dengan frekuensi tinggi.


Ia yakin jika suara tersebut tidak berasal dari geraman para naga.


Itu suara yang pernah didengarnya saat melintasi dunia tujuh dimensi.


“Mahesa?” gumam Alea.


Ia berharap jika suara itu merupakan tanda datangnya Mahesa ke dunia transisi. Alea sudah lelah. Ia tidak ingin terhanyut dalam pesona Raseyan. Ia ingin segera kembali ke pelukan Mahesa.


“Alea, awas!!!” jerit Kavindra.


Seekor naga dengan tanduk tumpul mencoba menyerang Alea dari belakang.


Melihat hal tersebut, Naga Swarna langsung terbang. Ia memukul mundur sang naga dengan libasan ekornya.


“Naga Swarna, apakah kau mendengar suara dengingan?”.


Naga itu memberikan reaksi. Sepertinya ia juga mendengar suara yang berasal dari langit.


Namun wajahnya terlihat tidak senang. Ia menggeram berulang kali, seakan-akan mencium tanda bahaya.


Warna langit perlahan-lahan berubah menjadi terang. Sebuah sinar terang muncul dari sela-sela awan yang berwarna putih bersih.


Kavindra tercengang.


Kemunculan kereta kencana yang ditarik oleh empat kuda bersayap dari balik awan mengingatkannya pada dongeng-dongeng yang pernah dibacanya saat kecil.


Kereta ini membelah angkasa dan membuat para naga Skandinavia terhempas jatuh ke tanah.


Naga Swarna kembali menggeram.


Ia mulai memasang pose siap berperang.


Alea bertanya-tanya. Apakah yang membuat Naga Swarna begitu marah?


Kereta kencana  tersebut mendarat dengan mulus di permukaan tanah.


Keempat kuda yang menariknya kemudian berubah bentuk.


Kini mereka berdiri tegak dan menyerupai manusia yang tengah mengenakan topeng kuda sebagai pelindung wajah.


Dua dari prajurit kuda tersebut langsung melesat ke arah Oor.


Mereka mengikat Oor dengan lingkaran api yang berwarna biru keputihan.


“Sial…. Kenapa penjaga penjara langit bisa ada disini!”.


Alea terkejut.


“Penjaga penjara langit? Suara yang aku dengar… bukan kedatangan Mahesa?”. Alea tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Berapa lama lagi ia harus berada di dunia transisi?


Naga Swarna langsung menyerang kedua prajurit kuda lain yang berusaha menangkapnya.


Makhluk itu menyemburkan api yang besar. Ia mencoba melawan prajurit bertopeng kuda tersebut dengan beringas.


Alea tidak mengerti kenapa para penjaga langit menyerang Naga Swarna.


Pertarungan yang sengit tersebut membuat Alea cemas.


Apakah para penjaga penjaga langit tersebut tidak memihak kepada mereka?


Lalu kenapa mereka datang ke tempat ini? tanya gadis itu heran.


Pintu kereta kencana yang berwarna putih gading itu pelan-pelan terbuka. Dari balik pintu muncul sesosok dewi cantik yang memiliki rambut panjang berwarna emas.


Bola matanya biru dan hidungnya mancung.


Alea terkesima. Dewi di depannya jauh lebih cantik dari Thera!


Kavindra juga tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia terbius oleh kecantikan sang dewi yang mengenakan baju panjang berwarna putih tersebut.


Di tangan dewi itu ada sebuah cambuk panjang yang terbuat dari kobaran api.


Uniknya, api tersebut berwarna putih bercampur biru.


Warna yang jelas-jelas tidak berasal dari bumi.


Ia kemudian mengangkat cambuknya ke langit. Seketika muncul awan-awan tebal yang mengikat tubuh seluruh


naga Skandinavia hingga mereka tidak bisa bergerak.


“Kalian berani-beraninya masuk ke tempat ini!” ujarnya penuh kemarahan. Tali-tali yang terbuat dari awan tersebut dengan cepat menarik mereka semua ke langit. Tubuh mereka pun hilang di balik kumpulan awan putih di angkasa.


Oor berdecak geram. Dewi itu baru saja mengirimkan seluruh naganya pulang ke tempat asal.


“Mereka tidak boleh masuk sembarangan ke dimensi lain. Termasuk dirimu, apa yang kau lakukan disini?” tanya sang dewi.


Kedua prajurit kuda langsung memasang perisai pelindung.


“Perisai itu… perisai yang selalu digunakan Mahesa…” gumam Alea.


Tidak salah lagi, mereka berasal dari dunia tujuh dimensi. Namun kenapa mereka menyerang Naga Swarna? tanya Alea dalam hati.


Saat Oor lengah, cambuk sang dewi melilitnya.


“Tidak ada yang bisa lolos dari cambukku…. Aku adalah kepala penjaga penjara langit”.


Oor mencoba melepaskan diri. Namun ikatan cambuk itu terlalu kuat. Ia tidak bisa bergerak dengan bebas. Sang dewi kemudian melemparkan benda menyerupai cincin raksasa ke depan wajah Oor. Cincin tersebut lalu mengikat tubuh Oor dengan kuat.


“Kenapa kau bisa tahu aku disini? Aku sudah menyembunyikan diri dengan hati-hati” seru Oor penasaran.


 


Dewi itu tersenyum.


“Aku tidak tahu kau ada di sini…. Aku hanya ditugaskan untuk mengembalikan naga emas yang lari dari kediamannya. Siapa yang mengira jika buronan langit ternyata juga bersembunyi di tempat ini. Pantas kami tidak bisa menemukanmu”.


“Apa? Dia mencoba menangkap Naga Swarna?” gumam Alea tidak percaya. Ia mulai bertanya-tanya apakah kedatangan sang naga ke dunia ini telah melanggar aturan langit.


Alea nekad mendekati sang dewi. Ia berlari ke arah Oor dan menyentuh pundak dewa itu dengan tangan telanjang.


Dewi penjaga penjara langit itu tersentak.


Alea dapat dengan mudah menembus lingkaran cincin yang mengelilingi Oor.


Ia melihat gadis manusia itu dengan seksama. Tiga kali ia memeriksa Alea dari atas ke bawah. Ia tidak menemukan tanda-tanda dewata yang mencurigakan.


“Mustahil…. Api itu akan membakar kulit manusia… kenapa ia dapat melewati halangan itu tanpa terluka?”.


Sang dewi bergegas mendekati Alea. Saat ia akan menghempaskan gadis itu ke tanah, tangannya tiba-tiba terasa panas. "Energi panas darimana?" tanyanya penasaran.


“Sudah, aku tidak akan mengganggunya lagi. Aku sudah mendapatkan informasi yang kuperlukan” sahut Alea.


Naga Swarna menghempaskan para penjaga dengan ekornya. Ia terbang mendekati Alea yang kini berada hanya satu jengkal dari tubuh sang dewi penjaga penjara.


“Graoooooooooooooooooooooooooo………………………….”geram Naga Swarna mencoba memperingatkan dewi tersebut.


Sang dewi semakin penasaran.


Kenapa Naga Swarna mencoba melindungi gadis manusia di depannya?


Ia menggoyang cambuknya. Tubuh sang naga pun seketika tidak bisa digerakkan.


“Bodoh… kau pasti akan kalah di tanganku. Aku memiliki kewenangan untuk menangkap makhluk-makhluk


yang keluar dari area tugasnya” ujarnya sambil memasang cincin api di tubuh Naga Swarna.


“Naga Swarna!” teriak Alea. Gadis itu menghampiri sang naga dan mencoba melepaskan cincin yang dipasang oleh dewi penjaga penjara.


“Awas bahaya!” jerit sang dewi. Ia tidak mau membunuh manusia yang tidak memiliki kaitan dengan misinya.


Raseyan berlari ke arah Alea.


Namun ia terlambat. Alea terlanjur menyentuh lingkaran cincin api yang mengikat Naga Swarna.


Dewi itu nyaris pingsan.


Ia membayangkan hukuman yang akan ia terima dari Kepala Penjara Langit. Mereka tidak seharusnya membunuh manusia yang tidak ada kaitannya dengan misi penangkapan buronan.


Dan hari itu adalah hari yang tidak mungkin dilupakan sang dewi.


Seumur hidup, ia baru pertama kali melihat seorang manusia yang mampu menyentuh cincin


pengikat buronan tanpa terluka. Alea seperti tengah memegang tali biasa. Walaupun ia tidak bisa membuka ikatan sang naga, namun ia sama sekali tidak terbakar oleh cincin yang terbuat dari api langit tersebut.


Keempat prajurit kuda juga tercengang.


Begitu juga dengan Oor.


Sebagai dewa, ia tahu betapa kuatnya cincin pengikat buronan. Jika penjara langit sudah menetapkan buronan yang harus diburu, tidak ada satu makhluk pun yang mampu melepaskan diri dari ikatan cincin pengikat tersebut. Api langit adalah kekuatan level tinggi, dan sedikit sekali dewa bumi yang mampu menandingi kekuatan api langit.


“Gadis itu.. ada dewa level tinggi yang mengikutinya” teriak Oor.


Dewi penjaga penjara mengernyitkan dahi. Apakah kata-kata Oor dapat ia percaya?


Namun ia tidak mendeteksi energi dewata di tubuh Alea.


“Tidak mungkin…. “ ujarnya lagi. Sebagai kepala penjaga penjara, ia telah melewati latihan khusus. Dengan kemampuannya, seharusnya tidak satupun dewa yang bisa bersembunyi dari inspeksinya. Posisinya berada satu level di bawah Kepala Penjara Langit. Itu artinya tidak banyak dewa lain yang memiliki posisi di atasnya. Tapi siapa yang menjadi Dewa Patron gadis manusia di depannya?


Tubuh sang dewi tiba-tiba mendeteksi kedatangan makhluk berkekuatan jahat di langit.


Ia terkejut saat melihat kemunculan mata raksasa yang tengah mengintip di balik awan.


“Samarkan tubuh kalian….” Perintahnya ke para prajurit kuda. Saat menjalankan misi, mereka tidak boleh berurusan dengan makhluk-makhluk di luar kewenangan mereka.


Mereka adalah makhluk yang menjaga penjara langit. Tugas mereka hanya mengamankan mereka yang sudah masuk ke daftar buronan.


“Le…. datang lagi monster matanya……………” teriak Kavindra panik.


Naga Swarna menggeram sekali lagi. Ia mencoba melepaskan diri. Sang naga khawatir jika Kavindra kembali menjadi target makhluk misterius tersebut.


“Gosta Cola?!”.


Kata-kata Oor membuat dewi penjaga penjara terbelalak. Ia melihat ke arah mata raksasa yang tengah mengintip ke arah langit.


“Sial, kita harus kembali ke langit dan mengajukan misi penangkapan manusia itu….” ujarnya pada keempat prajurit kuda.


“Jangan… jangan pergi dulu. Kau harus pastikan keamanan manusia-manusia itu… mereka tidak akan


bisa selamat jika Gosta Cola menyerang tempat ini” pinta Oor dengan wajah khawatir.


“Gosta Cola?” tanya Alea bingung.


"Masa dia penemu minuman Coca Cola?" timpal Kavindra asal.


“Mereka membutuhkan naga itu untuk melindungi nyawa mereka….” lanjut Oor lagi.


“Tidak bisa… kami harus membawamu dan naga itu sesuai perintah langit” jawab sang dewi dingin.


“Pangeran… cepat masuk ke dalam kediamanku… jangan biarkan Gosta Cola menemukanmu!” jerit Oor.


Raseyan mengikuti instingnya. Ia mengajak Alea dan Kavindra untuk berlari ke celah yang terletak di antara dolmen para shamannya.


“Jika kau tidak mau menggunakan kekuatan pecahan batu bintang… tutup mereka semua dengan


rasio emas!” seru Oor yang lambat laun hilang dari pandangan Raseyan.


Sang dewi penjaga penjara buru-buru kembali ke kereta kencana. Ia membawa serta Naga Swarna dan Oor kembali ke dunia tujuh dimensi.


Hati sang dewi resah. Ia tidak sabar untuk mengadukan kemunculan Gosta Cola, manusia pembuat onar yang menjadi otak pembunuhan beberapa dewa di benua Eropa. Sayang sekali mereka tidak memiliki kewenangan untuk menangkap manusia. Ya, manusia adalah ranah yang berada di luar kewenangan penjara langit.


Kali ini kepulangannya akan membawa dua berita besar.


Ia berharap sang kepala penjara cukup punya nyali untuk melaporkan dua kasus yang ditemuinya hari ini.


Pertama, kemunculan Gosta Cola di dunia transisi.


Kedua, kemunculan manusia bumi yang tidak terluka oleh api langit.


Pikirannya gelisah. Ia tidak tahu apakah Kepala Penjara cukup punya nyali untuk berdiskusi mengenai hal ini ke Kaisar Langit.


Pemimpin baru dunia tujuh dimensi terkenal dengan sifat dingin dan ketusnya. Ia tidak segan-segan menghukum para dewa yang malas bekerja.


“Apakah sebaiknya aku melaporkan langsung padanya? Tapi apakah nanti aku juga akan mendapatkan hukuman karena melompati prosedur? Ah…. Kaisar Langit yang sekarang terlalu saklek. Meskipun ia pasti mengambil sebuah tindakan tegas jika mengetahui dua kasus ini…. tapi aku juga tidak mau mendapatkan hukuman darinya


atas ketidakpatuhanku” gumam sang dewi.


Ia memandangi mata raksasa tersebut dari balik jendela kereta kencananya.


Apakah ada harapan baginya untuk menangkap Gosta Cola, manusia yang menjadi otak pertikaian


para dewa di Skandinavia?


Dan.....manusia yang telah menyebabkan kematian Glenr, suaminya dalam pertikaian beberapa puluh tahun yang lalu tersebut.


Sebelum bekerja di penjara langit, nama sang dewi adalah Sol. Ia adalah salah satu dewi Skandinavia


yang selamat dari pertikaian berdarah tersebut. Kaisar Langit memperbolehkannya untuk tinggal di dunia tujuh dimensi dengan satu syarat. Ia harus melupakan dendamnya pada para pembuat onar yang menyebabkan kematian sang suami.


Tapi kini Kaisar Langit telah berganti, apakah artinya ia diperbolehkan untuk membunuh Gosta Cola dengan tangannya sendiri?


***


Like, vote dan komennya selalu ditunggu ya. Maap lama update... lagi banyak PR....