
Ayunan tongkat Oor membuat Raseyan terkejut. Ia tidak mengira jika sosok pelindungnya sejak kecil tersebut kini berusaha menyerang Alea.
“Oor, hentikan….” pinta Raseyan.
“Pangeran, jangan halangi aku. Ada sesuatu yang harus kupastikan”.
“Apa itu? Dia bersamaku…. Dia bukan orang jahat”.
Oor tersulut.
Ia yakin ada sebuah energi yang tersembunyi di balik sosok Alea. Oor khawatir jika energi tersebut mencoba mencuri pecahan batu bintang yang mereka sembunyikan di dunia transisi.
“Gadis itu mungkin berbahaya. Kau tidak boleh bersamanya”.
“Dia istriku… jangan menyerangnya” bentak Raseyan. Ia maju ke depan dan mengarahkan tombaknya ke wajah Oor.
“Istrimu?”.
Raut Oor berubah. Ia terlihat panik sekaligus bingung.
“Apakah gadis ini yang telah membuang kutukan pangeran?” gumamnya penasaran. Saat ia pertama kali menemukan Raseyan di dunia transisi, Oor sebenarnya terkejut. Tubuh pangeran itu telah bebas dari kutukan. Ya, kutukan yang ia sendiri tidak bisa hilangkan.
Saat Oor berkelana ke dunia transisi, ia mendengar sebuah rintihan di balik koridor dimensi. Ia menemukan seorang anak kecil yang menggigil ketakutan. Tubuh anak itu diselimuti oleh puluhan ribu energi kegelapan.
Oor pun mengusir energi-energi itu dengan kemampuannya. Ia lalu membawa anak tersebut ke dunia transisi untuk bersembunyi dari makhluk-makhluk jahat.
Namun setiap anak itu kembali ke sisinya, seluruh tubuh sang anak kembali dipenuhi energi kegelapan. Tapi ketika terakhir kali Raseyan dewasa masuk ke dunia transisi, Oor tidak melihat energi kegelapan tersebut.
“Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Oor semakin curiga.
Ia khawatir dewa yang menjadi patron Alea akan menjadi penghalangnya.
“Maafkan aku pangeran…” ujar Oor sambil memutar tongkatnya.
Ia menjatuhkan Raseyan dalam satu kali pukul. Saat Raseyan tersungkur ke permukaan
tanah, Oor langsung menyerang Alea secara membabi buta.
Gadis itu terkejut. Ia tidak mengira akan mendapatkan serangan bertubi-tubi.
Alea berupaya menghindar dari serangan Oor. Anehnya, gadis itu merasa ada sesuatu yang
kini tengah menggerakkan tubuhnya. Seharusnya tidak semudah itu ia menghindar.
Tubuh Alea seperti dapat membaca arah serangan Oor. Jika makhluk itu berusaha memukul dari sisi kanan, maka tubuh Alea bergerak sendiri ke kiri. Demikian pula sebaliknya.
“Sial, tunjukkan dirimu!” ucap Oor geram.
Ia kemudian memejamkan mata dan merapalkan sebuah mantera.
Telinga Alea berdenging. Itu adalah rapalan mantera yang ia dengar saat menerawang
Raseyan. Mantera yang diucapkan oleh Andulu dan Amatya.
“Aaaa….. aa…..” seru Alea sambil menutup telinga.
Dari pecahan batu bintang tersebut keluar energi yang meluap-luap. Sepertinya mantera itu adalah medium untuk mengaktifkan kekuatan batu bintang.
Tongkat Oor kemudian diselimuti oleh energi yang berasal dari pecahan batu tersebut. Ia pun mengarahkan kekuatan pecahan batu ke arah jantung Alea.
“Tunjukkan dirimu, dewa!!!!!!!!!!!!!”.
Alea memejamkan mata. Hembusan angin yang luar biasa kencang membuatnya panik. Ia yakin bahwa dirinya tidak akan selamat dari serangan Oor.
Namun Alea salah, yang terpental justru Oor!
Dewa itu terlempar sekali lagi ke arah dinding ruangan.
Kali ini dari mulutnya keluar darah berwarna marun keperakan. Tudungnya terbuka. Kini Alea dapat melihat wajahnya dengan sempurna.
Mata Oor yang tembus pandang membuat tubuh Alea bergidik. Paras dewa itu menyerupai manusia bertanduk
kerbau. Wajahnya terlihat kaku dan mengerikan. Di sekujur lehernya terdapat puluhan bekas luka.
Alea pun meneguk ludah.
Ia sepertinya tengah berurusan dengan dewa yang sangat kuat.
Oor pun mencoba bangkit. Emosinya tersulut. Sebagai salah satu dewa penguasa daratan Skandinavia, kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Bahkan Panglima Bumi, dewa yang mengatur pembagian kekuasaan daratan dan lautan pun mengakui keberadaannya.
Dewa itu menghentakkan dasar tongkat ke permukaan lantai.
“Kau salah jika meremehkanku! Aku adalah Oor, penguasa Skandinavia. Mungkin kau tidak kenal dengan namaku, hai dewa misterius. Beri tahu padaku, apa statusmu dan mana daerah kekuasaanmu?”. Suara Oor kini terdengar seperti hewan buas.
Permukaan tanah pun bergetar. Sepertinya kemarahan Oor menjadi penyebab semua itu.
Alea semakin bingung.
Ia melihat ke sekelilingnya. Gadis itu curiga jika Oor mulai gila. “Tidak ada siapa-siapa disini kan…” gumamnya cemas.
Gadis itu buru-buru menunduk. Ia lantas merayap mendekati tubuh Raseyan yang terkulai di lantai.
“Ras bangun…. Ras…. aku tidak kuat menggendongmu….”.
Alea menepuk pipi pemuda itu dengan sekuat tenaga. Ia khawatir jika kemarahan Oor akan berdampak pada keselamatan Raseyan.
“Hentikan…. Kau bisa membunuhnya”.
Mata Oor telah dibutakan oleh amarah.
Keberadaan dewa patron Alea benar-benar telah mengusik harga dirinya.
“Aku tidak akan mencelakai pangeran… tapi kau…. Kau dan dewa di belakangmu itu…. akan mengambil
kekuatan yang tersimpan di dunia ini untuk Pangeran Raseyan”.
Sejujurnya Alea masih bingung. Ia tidak paham saat Oor terus membicarakan dewa di belakang
Alea. Apakah ada dewa jahat yang mengintilnya, gumam gadis itu bingung. Tapi benar juga, siapa yang sedari tadi membantunya untuk menghindari serangan Oor, lanjut Alea keheranan.
“Tapi aku tidak berniat jahat terhadap Raseyan…”.
“Aku tidak yakin, apalagi kekuatan dewa di belakangmu itu nampaknya cukup kuat. Ia pasti ingin mencuri sesuatu dari tempat ini”. Oor pun mengayunkan tongkatnya. Seketika tongkat tersebut berubah bentuk menjadi ular panjang.
Sisik ular itu memiliki pola yang sama dengan tongkat Oor. Sedangkan matanya menyerupai tekstur pecahan batu yang ada di belakang Oor.Tubuh ular itu kini meliuk-liuk seakan tengah mencari posisi mematuk yang tepat.
Gadis itu segera bangkit. Ia harus melindungi Raseyan dari patukan sang ular.
Alea pun melangkahi tubuh Raseyan. Tangannya sengaja ia rentangkan lebar-lebar agar ular itu mematuk dirinya terlebih dahulu.
“Kau pikir aku tidak akan melukaimu?” seru Oor.
Ia kemudian memerintahkan ular tersebut untuk menyerang Alea.
Sang ular membuka mulut dan menunjukkan taring-taringnya yang tajam. Nyali Alea ciut.
Namun ia ingin membuktikan kata-kata Oor. Jika benar ada sesosok dewa yang tengah melindunginya, bukankah dewa itu akan muncul saat ular tersebut menyerang?
Apakah dewa tersebut berniat mencuri kekuatan pecahan batu bintang yang tersembunyi di
dunia transisi? pikir Alea tidak yakin.
“Alea jangan….” suara rintihan Raseyan membuat gadis itu terkejut.
Tangan Raseyan berusaha menggapai tungkai kaki Alea. Ia berupaya bangun meski wajahnya
nampak kesakitan.
“Ras….”.
Alea segera menyambut tangan Raseyan.
Pemuda itu menggeleng. Ia meminta Alea untuk tidak menantang kekuatan Oor.
Saat Alea lengah, ular tersebut pun menerjangnya. Taringnya yang tajam hampir saja
mengenai pipi kiri gadis itu.
Raseyan langsung mendorong tubuh Alea ke samping. Ia mengambil tombak untuk menghalau serangan
sang ular.
“Oor… hentikan….”.
“Pangeran sadarlah, gadis itu ingin mencuri kekuatan yang kami persiapkan untukmu”.
Raseyan mengernyitkan dahi.
“Kau salah Oor… gadis ini yang dulu ingin dipanggil ke dunia ini oleh Andulu dan Amatya…. “.
Oor terlihat terkejut. Di saat yang sama, wajahnya menunjukkan sebuah penyesalan.
“Seharusnya kalian lebih hati-hati…. Gadis ini tidak seperti yang terlihat. Energinya terlalu berbahaya untuk menerima energi pecahan bintang. Kau harus memisahkan diri darinya. Ia tidak boleh menjadi istrimu”.
“Tidak…. Aku lebih baik mati daripada berpisah dengannya!”.
Wajah Alea memerah.
Ia berharap kata-kata Raseyan hanya sebuah gertakan. Alea khawatir jika Raseyan sungguh-sungguh akan mengakhiri hidup jika ia sampai pulang ke masa depan.
Raseyan terlihat sangat serius. Ia menantang Oor, dewa yang telah melindungi nyawanya sejak
lama.
“Pangeran!” hardik Oor.
Hardikan Oor tidak membuat Raseyan berubah pikir. Alea adalah miliknya! Alea adalah
hidupnya!
Sifat keras kepala Raseyan pun membuat Oor kesal. Ia mengangkat tangan dan menarik sesuatu dari tubuh pemuda itu. Sesuatu yang selama ini telah melindungi Raseyan dari kejaran kekuatan jahat.
Mata Alea terbelalak.
Bukankah itu adalah bayangan hitam yang selalu menghalangi upayanya untuk membaca memori
Raseyan?
Gadis itu spontan menyentuh tangan Raseyan.
Psssaatttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!
Ratusan ribu memori Raseyan pun terbaca olehnya. Tidak ada lagi sosok hitam yang menghalanginya untuk menyelidiki masa lalu pemuda itu. Alea pun mendapatkan informasi mengenai lokasi pecahan batu bintang yang lain. Kini ia mengerti kenapa Andulu dan Amatya membutuhkan goresan darah Raseyan, dan kenapa Oor bersikeras untuk memberikan energi dunia transisi kepada Raseyan.
“Freya…” ucap Alea.
Wajah Oor membiru.
Ia terkejut saat Alea menyebut nama itu.
“Dan kau memiliki nama lain, yaitu Odin?”.
Wajah Oor semakin pucat. Kecurigaannya terbukti. Tidak seharusnya Raseyan memperistri Alea.
“Apakah Freya terkurung di sebuah tempat? Kau membutuhkan perpaduan energi raksasa untuk menyelamatkan Freya dari kurungannya??”.
Oor tersentak.
Bagaimana Alea dapat mengetahui keberadaan Freya, istrinya?
“Apakah kau bisa membaca memori? Kau seorang clairsentient?” tanyanya panik. Ia melihat ke kristal hitam yang ada di telapak tangannya. Oor sengaja menanamkan kristal hitam tersebut di tubuh Raseyan untuk berjaga-jaga.
Kristal itu memiliki fungsi untuk menyembunyikan aura Raseyan dari para makhluk gaib yang berniat memburu kekuatan pecahan bintang.
Oor langsung melempar kristal itu kembali ke tubuh Raseyan. Untung saja Alea sigap. Gadis itu menghalangi masuknya kristal tersebut dengan tubuhnya.
Darrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sebelum kristal itu menghujam tubuh Alea, ada sebuah energi yang membuatnya meledak.
Alea segera menutup telinga.
Suara ledakan tersebut sangat keras dan hampir saja merusak gendang telinganya.
Harapan Oor musnah.
Kristal hitam itu adalah barang langka. Benda itu tidak lagi dapat ditemukan di bumi maupun dunia transisi. Ia mendapatkan benda tersebut dari sebuah area khusus di dunia tujuh dimensi. Di area tersebut hanya dewa-dewa berlevel tinggi saja yang dapat melihat pintu masuknya.
Oleh karena itu Oor sangat bangga. Ia adalah sekian dari dewa yang memenuhi kriteria tersebut.
“Kau harus mati manusia!” ujarnya geram. Ia khawatir Alea akan menghalangi upayanya untuk menyelamatkan
Freya.
Raseyan segera menarik tangan Alea. Apapun yang terjadi, ia harus melindungi istrinya. Ia tidak mengerti kenapa Oor tidak menyukai Alea. Apa yang membuat Oor begitu murka?
“Aku bisa membantumu membebaskan Freya” teriak Alea.
Tawaran Alea sempat membuat Oor berpikir sejenak.
Namun dewa itu tidak mau jatuh ke dalam jebakan Alea. Ia tidak akan bekerjasama sebelum gadis itu menunjukkan siapa dewa patron yang ada di belakangnya.
“Tunjukkan dulu siapa yang melindungimu sekarang!”.
Alea menggeleng.
“Aku tidak paham maksudmu! Jika kau melihat sesuatu di belakangku, harusnya kau yang memberi
tahuku, bukankah kau dewanya? Aku tidak punya kemampuan seperti para dewa!” jawab Alea.
Oor menggeleng.
“Kau berbohong. Tidak mungkin manusia biasa dapat menghalau seranganku, apalagi menghancurkan
kristal dari dunia dewa”.
Dewa itu mendorong Alea dan Raseyan dengan hembusan angin yang sangat kencang. Kini mereka berdua terdorong ke luar celah.
“Alea?”. Kavindra terkejut saat mendapati sang sahabat terpelanting jatuh ke permukaan tanah.
“Kav, menunduk!!!” perintah Alea.
Oor keluar dari celah di antara dolmen kembar dengan wajah yang dipenuhi amarah. Tubuhnya semakin lama semakin besar. Matanya merah menyala. Ia terlihat sangat murka.
Sang dewa mengubah ular yang berasal dari tongkatnya menjadi seekor naga. Di hadapan Alea dan Raseyan kini berdiri naga dengan sisik kasar yang berwarna abu-abu tua. Kedua sayapnya sangat besar hingga menutupi sebagian angkasa.
Ia menghentakkan kakinya berulang kali untuk menakuti Alea. Naga itu tahu siapa target yang harus diterkamnya. Siapa lagi selain manusia yang telah menghancurkan kristal hitam milik sang tuan.
“Grao!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” erangan naga tersebut dibalas oleh Naga Swarna.
Oor menoleh. Ia benar-benar terkejut saat melihat kehadiran seekor naga asing di dunia transisi.
Sisik emas sang naga membuat keringat dinginnya bercucuran.
Warna emas itu adalah tanda naga langit. Naga penyimpan kekuatan suci.
“Apa yang makhluk itu lakukan disini?!”.
Naga Swarna segera melesat ke arah Alea. Ia mengeluarkan suara untuk memperingatkan naga jadi-jadian di depannya.
Oor tahu jika naga Skandinavia buatannya tidak akan mampu mengalahkan kekuatan naga emas yang berasal dari dunia tujuh dimensi.
Ia membutuhkan lebih dari satu naga untuk setidaknya membuat naga langit terluka.
Haruskah ia melakukannya? Sungguh Oor berada di dalam dilemma.
Dewa itu kini semakin curiga. Apakah dewa patron Alea adalah dewa yang berpangkat tinggi?
“Sial sepertinya aku harus mengerahkan seluruh naga Skandinavia untuk membongkar topengmu”.
Oor kehilangan akal sehatnya. Sebagai penguasa daratan Skandinavia, Oor memiliki otoritas terhadap para naga yang hidup di dalam suhu dingin dan kegelapan.
Ia pun membangunkan sejumlah naga yang tengah tertidur di utara bumi dan dunia transisi.
“Rrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………………….”
Suara para naga menggoncang dunia transisi. Dunia tersebut baru saja menerima kedatangan puluhan naga yang berukuran raksasa.
Tubuh para naga tersebut berwarna hitam kusam. Permukaan tubuh mereka dipenuhi duri-duri kecil yang kasar dan ada juga yang memiliki selaput lendir yang menjijikkan.
Setiap langkah kaki mereka menimbulkan getaran hebat.
“Gawat, penduduk perkampungan….” seru Raseyan khawatir.
Alea menggenggam lengan Raseyan dengan erat. Ia menggeleng dan memberi isyarat agar pemuda itu tidak beranjak dari posisinya.
Kavindra menangis ketakutan. Ia buru-buru merayap mendekati Alea dengan air mata yang membasahi pipi.
“Le….. Le…….” panggilnya dengan tubuh gemetar.
“Apa? Ga usah bilang mau ke toilet!” ancam Alea. Gadis itu ingat dengan kejadian di masa lalu dimana Kavindra selalu ingin buang air kecil di saat-saat genting.
Alea melirik cemas ke para naga yang kini mengelilingi mereka.
“Kenapa Oor tidak percaya bahwa aku bisa membantunya menemukan Freya?” gumam Alea putus asa.
“Le.... ini naga-naga preman ya? Kok mukanya serem-serem?" tanya Kavindra sambil berlinang air mata.
Pemuda itu melihat ke arah Naga Swarna.
Apakah mungkin naga pelindung Wangsanya mampu mengalahkan tiga puluh naga yang kini tengah mengepung mereka?
***