Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 20. Cinta yang dirasakan Sol



Sejak pagi, terjadi kegaduhan di Istana Kaisar Langit.


Kepala penjaga penjara yang bernama Sol memberanikan diri untuk bertamu di luar jadwal kunjungan. Tindakannya tentu saja dicegah oleh para penjaga istana.


Namun Sol terus memanggil nama Kaisar Langit dengan lantang.


Saat para penjaga tengah menahan dewi itu, Mahesa alias Pushan tiba di gerbang istana.


Sang dewa berjalan dengan penuh percaya diri, diikuti oleh Norgyunma dan Sakra yang melangkah santai di


belakang.


Sol terpukau saat melihat Pushan.


Mata indah dewa itu baru saja membiusnya.


Sosok Pushan mengingatkannya pada suaminya yang telah meninggal. Mereka berdua memiliki bentuk mata yang serupa. Hati Sol bergetar. Ia belum pernah melihat dewa tampan itu sebelumnya.


“Pushan… pelan-pelan….” panggil Norgyunma.


“Pushan? Penerus tahta Kaisar Langit?” gumam Sol terkejut. Seluruh penduduk dunia tujuh dimensi tentu tidak


asing lagi dengan namanya.


Pushan adalah kesayangan seluruh petinggi di dunia tujuh dimensi.


“Ia adalah anak emas Kaisar Langit yang sebelumnya, dan bahkan kaisar langit yang sekarang…” gumam Sol saat melihat Pushan dengan mudahnya memasuki pintu istana.


Dewa itu tidak perlu melewati pemeriksaan seperti dirinya.


Jelas sekali bahwa status Pushan memang spesial.


Sol terhenyak. Pesona Pushan hampir saja membuat ia lupa dengan tujuannya.


“Kaisar, mohon izinkan hamba masuk. Hamba ingin menyampaikan padamu dua berita besar…. Gosta Cola, Gosta Cola sekarang berada di dunia transisi!!”.


Pushan, Norgyunma dan Sakra spontan menoleh.


Mereka mencoba mendengar ucapan sang penjaga penjara sekali lagi.


“Ah, selain Gosta Cola… hamba juga menemukan seorang manusia yang tidak seharusnya ada di sana. Ia memiliki kekuatan aneh…. api langitku tidak mempan padanya…. Tapi ia bukan seorang dewi… dan aneh sekali, hamba juga tidak melihat keberadaan patronnya. Tolong selidiki hal ini Kaisar!”.


Pushan memberi kode pada kedua rekannya.


Ia melerai Sol yang hampir menggigit telinga penjaga istana.


“Aku mendengarmu. Kapan kau melihat mereka?”.


Norgyunma tersenyum lebar.


Tidak salah lagi, dewi yang mengenakan seragam penjaga penjara itu pasti baru saja kembali dari dunia transisi.


Ia meminta penjaga istana untuk melepaskan Sol.


“Aku akan bertanggung jawab. Lepaskan dia” ujar Norgyunma.


Wajah Sol memerah. Ketampanan Pushan membuatnya grogi.  Ia tidak mengira jika penerus tahta Kaisar Langit memiliki wajah yang bisa membuatnya mabuk kepayang.


“Hei, kau tuli? Aku bertanya padamu” tanya Pushan ketus.


“Ah, maafkan hamba. Hamba terkejut karena Dewa Pushan tiba-tiba berkenan memberikan perhatian”.


Sol meletakkan rambut panjangnya ke belakang telinga. Ia berharap Pushan akan terpesona dengan kecantikannya. Sol tahu bahwa ia cantik.


Beberapa dewa telah menyatakan lamarannya. Sebagian dari mereka bahkan memburu Sol dengan agresif. Namun sampai detik ini, ia tidak mau membuka peluang untuk kembali jatuh cinta.


Kematian sang suami telah membuatnya trauma.


Kehadiran Pushan telah membuatnya kembali merasakan gelora asmara.


Sayang sekali Pushan tidak paham kenapa Sol terus merapihkan rambutnya ke belakang telinga.


“Kenapa? Kupingmu gatal?”


Sol terkejut. Ia tidak mengira jika Pushan memiliki sifat ketus. Biasanya trik tersebut berhasil membuat para dewa tergila-gila padanya.


 “Kalau tidak ada yang ingin kau sampaikan, ya sudah. Hei penjaga, lanjut tangkap dia” ujar Pushan.


“Tunggu………… maafkan hamba. Hamba akan bercerita” sesal Sol. Ia nyaris membuat dirinya terusir dari gerbang


istana.


Sol pun mulai bercerita mengenai misi yang ia terima. Ia memulai penjelasannya dari proses penangkapan naga emas yang kabur dari kediaman langit.


“Naga Swarna? Kau menangkap naga swarna?” tanya Sakra panik. Ia dan Norgyunma saling bertatapan.


“Bagaimana kau tahu?” Sol terkejut.


“Ia adalah naga penjaga kekuatan pusaka yang kami lindungi” jawab Norgyunma.


“Dimana dia?” desak Sakra.


“Sudah kembali ke kediamannya. Kami memasang pengawasan penuh agar ia tidak lari lagi”.


Pushan mendekati wajah Sol.


Wajah dewi itu memerah.


Jantungnya berdegup.


Pushan terlalu agresif, pikirnya.


“Apakah ia menyukaiku?” gumamnya tersipu.


“Katakan tentang manusia bumi yang kau temui di sana. Apakah ia seorang wanita?”.


Sol mengangguk. Ia pun bercerita mengenai kehadiran wanita bumi dengan kekuatan aneh. Wanita itu berhasil


menembus api langit tanpa terluka.


“Aku tidak mendeteksi kehadiran dewa di sekitarnya, itu sangat aneh. Apa ia menyamar atau ia seorang penyihir?”.


Pushan menatap dalam ke arah mata Sol. Ia mencoba menyelidiki kebenaran cerita dewi itu.


“Kau bisa membawa kami semua ke sana? Kami butuh bantuanmu” bisik Pushan.


Hati Sol benar-benar bergetar.


Suara bisikan Pushan membuat penjagaannya goyah.


Ia ingin menyandarkan diri ke bahu sang dewa.


Sol seketika menginginkan Pushan untuk menjadi miliknya.


Oleh karena itu, ia harus mengambil hati sang dewa.


“Ikuti hamba… hamba akan membantu dewa untuk pergi ke dunia transisi”.


 Norgyunma dan Sakra tersenyum lebar.


Kehadiran dewi penjaga penjara akan mempermudah perjalanan mereka ke masa lalu. Mereka bertiga bisa berdalih tengah membantu sang dewi untuk menangkap buronan dunia tujuh dimensi.


Dengan demikian, mereka tidak akan mendapatkan hukuman berat dari Kaisar Langit.


“Apakah gadis itu Alea?” bisik Sakra.


Norgyunma mencubit pinggang sahabatnya,


“jangan terlalu keras… kau tidak lihat cara ia menatap Pushan?”.


“Apa maksudmu?”.


“Ah, dasar lemot! Makanya kamu ga ngerti-ngerti…” omel Norgyunma.


“Ngerti apa?” Dahi Sakra mengernyit. Ia tidak tahu kenapa dewi berambut hijau itu begitu tersulut.


“Ah, sudahlah” Norgyunma menyerah. Ia merapihkan rambutnya yang tertiup angin.


Matanya diam-diam mengawasi dewi penjaga penjara tersebut.


Norgyunma yakin. Dewi itu menyukai Pushan.


Ia pun mengutuk Pushan dan Sakra yang tidak sensitif.


“Kenapa aku mesti bekerja dengan mereka? Dua dewa bodoh yang tidak bisa membaca perasaan lawan jenis!”.


Dewi cantik itu mendekati Sol.


“Hai, kita belum berkenalan. Siapa namamu?”.


Sol terkejut. Meskipun ia tidak mengetahui status Norgyunma, ia tetap menunjukkan rasa hormatnya.


“Nama hamba Sol. Hamba bekerja sebagai kepala penjaga penjara langit”.


“Ah, kau kepalanya? Tidak heran kau bisa membantu kami untuk berkelana ke dunia transisi. Apakah kami akan naik kereta kencana?” tanya Norgyunma.


Sol mengangguk. “Hamba bisa mengaturnya”.


Dewi itu telah dibutakan oleh napsu.


Ia ingin agar Pushan memperhitungkannya sebagai pendamping saat dewa itu naik tahta.


Kaisar langit sebelumnya telah bertahta tanpa pendamping, begitu pula dengan kaisar saat ini. Keduanya tidak menunjukkan keinginan untuk memilih permaisuri.


Tapi tidak ada yang tahu dengan kaisar berikutnya. Posisi permaisuri yang sudah kosong selama dua periode itu bisa jadi memang dipersiapkan untuknya.


“Jika aku bisa menjadi permaisuri langit, aku akan menghancurkan Gosta Cola… dan juga membasmi seluruh


dewa-dewa tanah utara. Mereka akan takluk di tanganku” senyum Sol berkhayal.


Sol mengajak mereka bertiga ke dalam penjara langit.


Ia memberikan tiga kostum penjaga penjara kepada Pushan, Norgyunma dan Sakra.


“Dengan pakaian ini, Naga Lung tidak akan mencurigai kalian…”.


Pushan tersenyum kecut.


Ia hampir membuka identitasnya sebagai sahabat dekat Naga Lung.


Norgyunma mencubit kaki Pushan.


Selain Alea, hanya ia yang berani melakukannya.


Pushan tidak berani menatap mata Norgyunma.


Ia tahu dewi itu tengah menegurnya.


Di dalam hati, Norgyunma sebenarnya ingin merobek-robek wajah Sol.


Ia tidak suka dengan cara Sol melihat Pushan dengan penuh cinta.


“Kenapa kau ingin menangkap Gosta Cola?” tanya Sakra memecah keheningan.


Sol sempat gagap. Ia belum mempersiapkan jawaban.


“Hamba… hanya pernah mendengar mengenai kekejamannya. Namun ia tidak bisa ditahan di penjara langit karena ia bukan dewa”.


“Gosta Cola… apa kau tahu apa yang telah ia lakukan?” tanya Pushan.


Di satu sisi ia ingin mengambil hati Pushan.


Namun di sisi lain, ia tidak ingin membuka masa lalunya. Kematian Glendr telah memberinya trauma yang sulit


disembuhkan.


“Maaf, hamba hanya tahu sedikit”.


Pushan tidak merespon permintaan maaf Sol.


Ia pun tidak berkata apapun sepanjang perjalanan.


Dewi itu resah. Ia masih ingin mendengar suara Pushan. Tapi topik apa yang harus ia lempar agar mereka bisa


melanjutkan percakapan?


“Mol… “ panggil Pushan tiba-tiba.


“Nama hamba Sol, Dewa Pushan”.


Norgyunma berpura-pura tidak mendengar pembicaraan kedua makhluk itu. Ia sebenarnya hampir kelepasan


tertawa.


“Percuma saja mencoba menarik perhatiannya… di matanya hanya ada Alea” gumam Norgyunma bangga.


“Ah ya, apapun namamu…. “ Pushan menunjuk ke arah gulungan tornado yang dikelilingi puluhan petir.


“Apa itu pintu masuknya?”.


Sol mengangguk penuh semangat.


Ia memiliki banyak harapan.


Pertama, berhasil menangkap Gosta Cola dengan bantuan tiga dewata yang ia bawa.


Kedua, mendapatkan apresiasi dari Kaisar Langit atas prestasi dan inisiatifnya.


Ketiga, diizinkan untuk mengganti pekerjaan. Ia ingin menggunakan pakaian yang bagus seperti Norgyunma. Sol


melihat ke arah seragamnya yang terlihat kaku.


Tidak heran jika Pushan tidak langsung jatuh cinta, pikirnya. Ia diam-diam mengamati pakaian Norgyunma yang terbuat dari katun awan berkualitas terbaik.


Perasaan dewi itu resah.


Apakah Pushan dan Norgyunma memiliki hubungan khusus?


Apakah mereka berdua saling menjalin asmara?


Sol gelisah. Ia khawatir jika Norgyunma menghalangi upayanya mendapatkan Pushan.


“Bersiap-siap… kita akan masuk!” seru para prajurit kuda yang memimpin perjalanan mereka.


Deru suara petir terdengar dari seluruh penjuru.


Angin yang kencang pun menerpa kereta kencana.


Tentu saja kereta tersebut tidak akan rusak. Benda itu memang sudah didesain untuk menahan kekuatan para dewa.


Pushan tidak sabar.


Ingin rasanya ia melompat keluar dari kereta tersebut.


Ia tidak terlalu peduli dengan Gosta Cola. Kini di kepalanya hanya ada Alea.


Sudah berapa lama ia tidak bertemu gadis itu?


Apakah ia baik-baik saja?


Apakah ia kelaparan? gumam Pushan khawatir.


Norgyunma terlihat cemas dengan perubahan raut Pushan. Tentu saja ia sudah mengenal sifat sahabatnya itu luar dalam.


“Hei, pemberontakan jangan dimulai dulu…. Kalau kita tidak menangkap Gosta Cola maka kereta kencana ini akan membawa kita pulang sebagai tawanan karena sudah melanggar aturan ”.


Dewi itu mengirimkan telepati. Ia berharap Pushan mau mengikuti rencana rapih yang telah mereka susun.


Pushan lalu membalas tatapan Norgyunma.


Mereka seperti tengah berkomunikasi dengan isyarat mata.


Rupanya Sol melihat kejadian tersebut. Kecemburuan pun mulai menguasainya.


Ia sengaja memerintahkan para prajuritnya untuk meningkatkan kecepatan. Dengan demikian ia bisa berpura-pura melimbungkan diri ke tubuh Pushan.


“Ah, maaf….” ucap Sol dengan suara yang dibuat-buat.


“Mol, kau menginjak kakiku….” dorong Pushan kasar.


“Aaaah…. Maafkan hamba, Dewa Pushan. Tapi nama hamba Sol bukan Mol…”.


Pushan mengabaikan penjelasan Sol. Saat kereta tersebut mendarat di permukaan tanah, hal yang pertama ia lakukan adalah membuka pintu.


"Sampai juga" ujarnya sambil  menghirup udara dunia transisi.


Ia bisa merasakan energi yang sama. Energi dunia dimana ia telah meninggalkan Raseyan agar tidak mengganggu hubungannya dengan Alea.


Wajah Pushan berubah. Ia baru saja menangkap keberadaan energi yang luar biasa besar.


“Energi siapa ini?” gumamnya terkejut.


“Pushan…………..” panggil Norgyunma.


Dewi itu kembali memperingatkan Pushan agar tidak gegabah.


 


Ia menarik tangan sang dewa dan menggenggamnya.


“Kamu mau kami berdua mati ya? Kamu sih enak kesayangan Yang Mulia… nah kami? Bisa-bisa leher kami ini keburu putus sebelum masuk pintu sel penjara” bisik Norgyunma.


Dewi itu mencubit telapak tangan Pushan.


“Aoch…. Kau gila ya? Sakit!” omel Pushan.


Norgyunma meletakkan kepalanya di pundak sang dewa.


Ia sengaja membuat Sol cemburu.


“Kalau kamu tidak mau aku memberi tahu Alea bahwa waktu kecil kamu cadel, turuti semua perintahku” ancam


Norgyunma.


Dugaan dewi itu tepat. Wajah Sol diliputi amarah. Sorotan matanya dipenuhi rasa cemburu.


“Bagus, dengan demikian… ia tidak akan menyalurkan kemarahannya hanya pada Alea. Ia akan mengira Pushan adalah dewa playboy yang memiliki banyak wanita” gumam Norgyunma.


Ia khawatir Sol akan menyalahgunakan wewenangnya sebagai kepala penjaga penjara dan menyakiti Alea.


“Apa gadis yang dimaksud Mol itu adalah Alea?” bisik Pushan.


Norgyunma sengaja tidak membetulkan pengucapan sang sahabat. Sambil terkekeh geli, dewi itu menimpali pertanyaan Pushan.


“Bisa jadi… tapi aku sungguh penasaran, siapa yang telah melindunginya? Bahkan kita saja bisa terluka oleh api


langit”.


“Yang Mulia Nazaxenna?” bisik dewa itu lagi.


Norgyunma terdiam sejenak.


“Hanya ada beberapa petinggi yang tidak bisa dibakar oleh api langit, mereka adalah Panglima Langit, Dewi Tempo,


Tiga Suci, dan Kaisar Langit”.


“Benar juga Yang Mulia Nazaxenna kini telah bebas melakukan apa yang ia suka. Aku rasa ia yang melindungi Alea”.


“Belum tentu…” ujar Norgyunma.


“Apa maksudmu?”.


“Kau tidak curiga? Kaisar Langit juga sudah beberapa lama tidak menemui siapapun?”.


“Ah, tidak mungkin…. Ia memiliki banyak pekerjaan…. “.


Norgyunma mengalungkan kedua tangannya di pundak Pushan.


“Hei, apa-apaan ini” ujar Pushan bergidik jijik.


“Aku sedang berakting, bodoh! Ikuti saja permainanku!”.


“Kenapa?”.


“Mol… sepertinya menyukaimu. Aku khawatir ia memiliki ide dan harapan yang salah. Tapi kau tidak boleh memberitahunya dulu mengenai Alea. Aku khawatir ia akan melukai Alea kita”.


“Dasar Mol kurang ajar. Sini aku cekik dia!” Pushan emosi.


Norgyunma menginjak telapak kaki Pushan.


“Heh… kita masih butuh dia sebagai alasan ekspedisi gila kita ke dunia ini. Kalau tidak bagaimana kita bisa membela diri di hadapan Kaisar Langit dan Yang Mulia Nazaxenna? Kan aku sudah bilang, pikirkan kami….” .


Pushan menarik napas. Ia mencoba mengendalikan emosi sebaik mungkin.


“Mungkin kesannya jahat. Tapi kau harus tarik ulur padanya” ucap Norgyunma memberi nasehat.


“Tarik ulur?” tanya Pushan bingung.


Norgyunma mengangguk.


“Ok…” seru dewa sambil menjentikkan jari.


“Kyaaa……….”.


Suara jeritan Sol spontan membuat Norgyunma terkejut. Ia menoleh ke arah Sol dan mendapatkan dewi itu tengah berputar ke sana kemari seperti sebuah gasing. Tubuhnya terikat tali tambang yang sangat kencang.


“Katanya tadi disuruh tarik ulur?”.


"Bukan itu maksudku! Bebaskan dia sekarang sebelum ia tahu ini perbuatanmu" hardik Norgyunma geram.


Pop, tali itu lepas! Sol pun terjatuh dengan keras ke atas permukaan tanah.


Untung Sol tidak curiga. Ia malah memperingatkan semuanya untuk berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan.


"Gosta Cola sudah mengetahui kedatangan kita! Siapkan senjata kalian!" ujar sang dewi dalam kondisi yang mengenaskan. Rambutnya acak-acakan dan seluruh pakaiannya dipenuhi lumpur.


Norgyunma tersenyum puas.


Meskipun ia sempat geram dengan kebodohan Pushan, tapi balas dendam seperti ini ternyata menyenangkan juga!


Ya, ia tidak akan mengizinkan siapapun untuk merebut posisi Alea.


Hanya Alea yang ia izinkan untuk menjadi pendamping Pushan!


***