
Sungguh Kavindra tidak tahu apa yang membuat Alea begitu berani.
Petualangan mereka kali ini berbeda.
Ada sesosok makhluk misterius di luar sana, dan tidak ada satu pun yang tahu bagaimana cara mengusirnya. Kini mereka bertiga terperangkap di dalam kediaman Oor. Perasaan Kavindra semakin tidak nyaman. Celah yang merupakan jalan keluar masuk mereka terlalu sempit. Ia bahkan tidak tahu bagaimana mereka barusan bisa masuk ke dalam kediaman sang dewa.
Gua yang tersembunyi di balik celah sebenarnya berukuran cukup luas. Tapi di dalamnya hanya ada beberapa benda seperti bebatuan dan guci-guci dari tanah liat. Ada satu benda yang menarik perhatiannya, apalagi kalau bukan batu pecahan bintang yang terletak di tengah ruangan.
“Ini meteorit?”.
Alea menoleh. Ia pun mendekati Kavindra.
“Kok kamu tahu ini pecahan bintang jatuh?”.
Pria itu mengangguk.
“Ya, dari bentuknya aja kelihatan Le. Tapi kenapa ini ada disini?”.
“Ini batu yang dibawa oleh Oor dan Freya. Mereka menyembunyikan pecahan batu bintang di dunia transisi. Aku tidak tahu apa tujuan mereka, yang pasti ada pecahan-pecahan lain yang disebar di tempat ini” jawab Alea.
“Terus apa pecahan batu bintang itu… yang dicari oleh The Great Destroyer?” tanya Kavindra.
Alea terperanjat.
Benar juga, bagaimana bisa ia melupakan para pemuda tidak jelas itu?
“Apa menurutmu, pecahan batu bintang itu yang dicari oleh The Great Destroyer? Bukan Kujang Dilahana maupun cincin apa itu namanya?”.
“Tidak mungkin mereka semua sudah melebur….” gumam Alea. Ia tidak mau Kavindra dan Raseyan tahu bahwa seluruh pusaka itu telah melebur ke dalam tubuh Mahesa.
“Aku yakin bukan… mereka mencari hal lain…”.
“Maksudmu batu bergores itu adalah pecahan batu bintang yang disebar Oor dan Freya?” potong Raseyan.
Alea mengangguk. Ia pun menceritakan mimpinya.
“Kalau begitu, ada yang membantu mereka untuk datang ke dunia ini? Maksudku, mereka kan awalnya bukan penguasa tempat ini?”. Pertanyaan Kavindra membuat Alea terdiam sejenak. Jika penjelasan Kavindra mengenai mitos Skandinavia itu benar, maka kejadian di dunia ini memang menjadi aneh.
Apa yang menyebabkan mereka pindah ke dunia paralel ini? tanya Alea penasaran.
“Sebentar… bisa kau ulang penjelasanmu?”.
Raseyan mengernyitkan dahi. Ia tidak paham apa mau Alea.
“Yang itu… bahwa Andulu dan Amatya membutuhkan darahmu, darahku untuk mengembalikan kejayaan Sundayana? Apa hubungan itu semua dengan batu-batu yang bergores darahmu?” desak Alea.
Raseyan hampir tidak bisa menjawab pertanyaan Alea. Ia terkejut karena gadis itu masih mengingat kata-katanya.
Ia tersenyum kecut.
Menarik napas panjang.
Berharap ia bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan misteri di dunia transisi.
“Saat aku kecil… aku bertemu dengan Oor… ia membawaku melalui sebuah koridor yang gelap”.
Raseyan diam. Ia sengaja memberi jeda di antara penjelasannya.
Matanya beralih ke pecahan batu bintang yang ada di tengah mereka bertiga.
“Saat itu…. tempat ini…. masih tidak memiliki pohon-pohon tinggi. Kalian apakah melalui pepohonan raksasa saat
memasuki tempat ini?” tanya Raseyan.
Kavindra mengiyakan pertanyaan kepala suku purba tersebut.
Ia bercerita mengenai pohon-pohon yang batangnya bergerak sendiri, termasuk hewan-hewan aneh yang mereka lihat di sekitar pepohonan tersebut.
“Apa kau percaya jika tidak ada satupun dari pendudukku yang dapat melihatnya?”. Pertanyaan Raseyan membuat Kavindra resah. Ia tidak menduganya. Ia sempat mengira jika dunia transisi adalah dunia yang diselimuti kekuatan magis. Ternyata ini adalah dunia biasa. Dunia dimana manusia dapat melihat yang gaib dan tidak gaib, seperti layaknya bumi yang ia tinggali.
“Aneh bukan? Menurut Andulu dan Amatya, hanya orang-orang yang pernah menginjak Tanah Sundayana yang dapat melihatnya. Para pendudukku jelas tidak berasal dari daerah itu. Sepertinya mereka berasal dari dataran lain”. Tangan Raseyan meraih sebuah alas duduk dari terbuat dari untaian jerami.
Ia menepuk alas duduk itu berulang kali. Setelah bersih, ia menarik lembut tangan Alea.
“Ayo duduk di sini..”.
Alea pun salah tingkah. Apalagi Raseyan melakukan aksinya itu tepat di hadapan Kavindra.
“Ras, apaan sih…. Aku bisa duduk sendiri… tidak usah berlebihan” tolak Alea canggung.
Pemuda itu membelai rambut Alea, ia kemudian berbisik di telinga gadis itu.
“Aku justru ingin ia melihatnya, agar ia bisa bercerita pada yang lain mengenai kita”.
“Apa maksudmu?” tanya Alea tidak paham. Kata-kata Raseyan barusan terlalu tendensius. Alea tidak suka mendengarnya.
“Aku nyaris mati… saat Oor menemukanku.
Ia membawaku ke suatu tempat… dan aku ingat bahwa ia memasukkan sesuatu ke dalam tubuhku, agar aku tetap hidup…”.
Alea mengangguk pelan.
Kini misteri mengenai batu pecahan bintang itu mulai terurai.
“Sepertinya…. Kau menerima pecahan batu bintang itu sehingga kau bisa hidup, dan itu yang membuatmu bertahan dari kutukan Agros” ujar Alea.
Gadis itu kemudian menyentuh pundak Raseyan yang kini berdiri di hadapannya.
“Dan aku…. tanpa sengaja menerima pecahan batu bintang tersebut…. saat menikahimu. Aku melihatnya, saat Andulu dan Amatya menyelesaikan prosesi pernikahan kita berdua. Mereka melakukan sebuah ritual yang membuat sebagian dari pecahan batu bintang itu masuk ke tubuhku”.
Alea menceritakan kembali penerawangan yang ia lihat.
Matanya terpejam.
Ia kini melihat kembali ritual pernikahannya dengan pemuda itu. Alea tentu saja tidak mengetahui bagaimana ia dan
Raseyan berakhir dalam sebuah ikatan pernikahan. Prosesi itu dilakukan oleh kedua shaman Sundayana tersebut saat dirinya tidak sadarkan diri.
Rupanya saat Raseyan mengucapkan sumpah pernikahan, pecahan batu bintang itu memecahkan dirinya sekali lagi. Ia masuk ke dalam tubuh Alea sebagai bentuk kesetiaannya terhadap Raseyan. Pecahan batu bintang yang ada di dalam tubuh pemuda itu adalah bagian inti dari keseluruhan batu yang dibawa oleh Oor dan Freya.
Sejak itulah, sampai kapanpun Alea dan Raseyan akan memiliki ikatan karma.
“Ternyata…. Ini alasan mengapa aku dan dirinya bertemu kembali. Setelah urusan ini selesai, aku akan meminta
Nazaxenna untuk mencabut batu bintang ini dari tubuhku” gumam Alea.
Alea sekarang mengerti kenapa Andulu membutuhkan darah Raseyan. Pecahan batu bintang yang tersebar di dunia transisi akan bereaksi terhadap darah pemuda tersebut. Hanya batu yang merupakan pecahan batu bintang saja yang akan mengeluarkan warna saat digores oleh darah Raseyan.
“Tak heran Andulu dan Amatya menginginkan kedatanganku. Pecahan batu bintang itu tidak sempurna… ada energi yang hilang sehingga mereka tidak bisa mengaktifkan kekuatannya. Ya karena energi yang tersisa itu, ada di tubuhku”.
Kavindra melempar kain di sebelahnya ke wajah Alea.
Kain itu berbau tidak sedap.
Sepertinya kain itu digunakan oleh Oor untuk membersihkan kediamannya.
“Apaan sih pake lempar kain pel, bau tau?!” hardik Alea kesal.
“Nyamuk mau ganggu dulu boleh?” tanya Kavindra dengan suara yang dibuat-buat.
“Siapa nyamuk?” tanya Alea bingung.
“Aku…” tunjuk Kavindra.
“Hah?” gadis itu bergidik geli.
Suara cempreng Kavindra membuat bulu kuduknya berdiri.
Kavindra tersenyum manja. Ia menirukan gaya nyamuk yang sedang terbang. Pria itu berputar-putar di ruangan
Oor sambil mengepakkan sayap.
“Tuan, nyonya.. boleh ganggu sebentar ga????? Aku mau bicara”.
Alea melempar kain kotor itu kembali ke wajah Kavindra.
“Apa-apaan sih? Lo mau ngomong apa benernya?”.
“Ya abisnya… elo mesra gitu duduknya ama Raseyan… gue ga dapat panggung, terus siapa… siapa dong yang meratiin gue?” rengek Kavindra manja.
Wajah Alea memerah. Ia baru sadar jika posisinya dan Raseyan dapat menimbulkan kesalahpahaman. Kedua tangan Raseyan seakan tengah mengepung tubuh gadis itu. Posisi tubuh Raseyan pun sangat condong ke arah Alea yang tengah duduk di atas meja bebatuan. Jika dilihat dari jauh, mereka berdua memang terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta. Apalagi kedua telapak tangan Alea kini sedang bertengger di bahu Raseyan.
“Fix.. gue nyamuk di affair cintanya Alea” seru Kavindra.
Alea pun spontan mendorong tubuh Raseyan hingga pemuda itu terjungkal ke lantai.
“Gue… bukan… itu sentuh… bukan… aaaaa, gue ga ngapa-ngapain kok!!!!” ujar Alea membela diri. Ia tidak mungkin memberi tahu Kavindra bahwa sebenarnya ia tengah meneliti masa lalu Raseyan sekali lagi.
Gadis itu segera menghampiri Kavindra. Ia meraih kerah baju pria itu dan mengancamnya.
“Awas kalau ngadu macem-macem ke Mahesa!”.
“Well, tergantung ongkos tutup mulut”.
“Ya itu sih ga usah dipertanyakan neng… “ jawab Kavindra menohok.
Pria itu tersenyum licik. Ia ternyata bukan meminta uang. Pria itu berharap Alea mau membantunya berkenalan dengan sang dewi penjaga penjara.
“Gila itu cewek tercantik yang pernah gue liat… kalau boleh Le… ya, ya, minta Mahesa ngenalin dia ke gue hihi…” tawa Kavindra genit.
“Ok deal, pokoknya 500 juta dari penjualan casing hp elo tetep jadi milik gue ya…”.
Alea terdiam.
“Casingnya… casing hp elo dimana?”.
Kavindra melotot. Ia kemudian
menggeleng, mengangkat bahu pertanda ia tidak tahu.
“Becanda kan elo?” tanya Alea pucat.
“Nggak…. Bukannya elo yang terakhir pegang?”.
Tanpa pikir panjang, Alea pun segera berlari ke luar celah. Ia seakan lupa bahwa ada mata raksasa yang tengah
mengintai mereka.
“Le… di luar ada monster!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Kavindra.
Alea tidak peduli. Ia harus mencari casing Iphone Kavindra yang seharga unit apartemennya.
“Ada apa? Kenapa Alea berlari?” tanya Raseyan panik. Pemuda itu memang tidak tahu duduk permasalahannya.
“Cari barang…. Barang jatuh!” jawab Kavindra sambil mencoba mengejar Alea. Ia berhasil meraih pakaian atas Alea. Namun gadis itu menggigit tangannya.
“Le… nyebut Le… nyebut…..”. Kavindra meringis kesakitan. Alea bak seekor serigala liar yang kelaparan. Gadis
itu mendorong sang sahabat sekuat tenaga.
“Alea….” panggil Raseyan.
“Percuma… percuma dia ga bakal dengerin kita….. sia-sia aja kalau manggil dia”.
Kavindra meminta Raseyan untuk membantunya bangkit.
“Terus apa yang mesti kita lakukan?”.
“Ditangkep… diiket…. dilockdown sampe kita bisa nemuin barang itu” usul Kavindra.
“Barang apa sebenarnya yang dicari istriku? Ehem maksudku Alea…”.
Kavindra menatap bola mata sang kepala suku.
“Itu… kalau kamu ingat alat komunikasi yang ada di masa depan… kan ada penahannya tuh.. nah itu yang dicari
Alea”.
Dahi Raseyan mengernyit.
“Loh bukan alat komunikasinya yang dicari? Kok aneh?”.
Kavindra mengangguk.
“Aku sudah tahu dari dulu kalau dia aneh….” ujar Kavindra sambil meraih tali di dekat pintu.
Kedua pria tampan itu berlari mengejar Alea dari belakang.
Dada Kavindra berdegup kencang.
Bagaimana kalau monster raksasa itu melihat keberadaan mereka? Tanpa Naga Swarna, apa mungkin mereka mengalahkan makhluk mengerikan tersebut?
Sebersit ide cemerlang pun muncul di kepala Kavindra.
“Le………….. ketemu!!!!!!!!!! Ternyata gue yang bawa……”. Tentu saja Kavindra berbohong.
Gadis itu menoleh ke belakang. Indera pendengarannya bekerja sempurna.
“Serius Kav?”.
Alea memutar badan. Ia berlari ke arah Kavindra yang memancingnya ke arah celah kediaman Oor.
Cilaka, mata raksasa itu menangkap keberadaan Alea.
“Le… buruan…..” pekik Kavindra stres.
Ia tidak mengira jika mata raksasa itu berhasil mendeteksi gerakan Alea.
“Aku akan mengalihkan perhatianmakhluk itu… kau terus pancing Alea kesini”.
Raseyan mengambil tombak yang ada di kediaman Oor.
Ia menyelipkan tubuh langsingnya di antara celah.
Pemuda itu langsung berlari secepat kilat. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi.
“Gosta Cola! Aku disini!!!!!!!!!!!”. Raseyan sengaja menaikkan volume suaranya.
“Le…….. cepet… cepet… masuk sini…………” jerit Kavindra putus asa.
Ia khawatir dengan keselamatan Raseyan.
Hatinya terenyuh. Cinta Raseyan begitubesar terhadap Alea. Pemuda itu rela mengorbankan keselamatannya demi gadis itu.
“Aduh gue harus ngeship siapa kalau begini…. “.
Kavindra mulai bingung. Hati kecilnya ingin mendukung Raseyan. Jika dipikir-pikir disini posisi Raseyan
lebih legal dari Mahesa. Dewa itu adalah orang ketiga dalam hubungan Alea dan Raseyan. Bagaimana juga kedua manusia itu sudah berstatus sebagai suami istri.
Sampai saat ini belum ada pembatalan pernikahan meskipun Alea terus menyangkal legalitas hubungan tersebut.
“Duh ini lebih rumit dari hubungan Lee Tae Oh ama Dokter Sun Woo…” keluh Kavindra sambil mengingat peliknya cerita Drama The World of The Married yang sudah mengguncang nusantara.
Pria itu memandang sosok Raseyan dari kejauhan.
“Gue ga tega kalau dia jadi Da Kyungnya….“.
Tapi sejujurnya, ia takut dikutuk Mahesa.
Jangan sampai dewa itu tahu bahwa kini ia mendukung hubungan Alea dan Raseyan.
“Duh…Aleaaaaa….. cepetan masuk sini…..”.
Di dalam hati Kavindra bersyukur bahwa Alea mudah dikelabui dengan makanan dan uang. Setelah ini ia harus
mengikat Alea. Gadis itu tidak boleh kemana-mana sampai pikirannya kembali sehat.
“Raseyan balik badan………. Alea uda mau sampe………… ayo cepetan sini………”.
Keringat dingin Kavindra mengucur dengan deras.
Mata raksasa itu kini mengincar Raseyan. Ia seperti menemukan apa yang tengah dicari.
Dari balik awan-awan yang gelap pun muncul telapak tangan yang sangat besar.
“Ras, tangannya muncul lagi!………………………..” jerit Kavindra khawatir.
Alea terperanjat saat mendengar teriakan sahabatnya itu. Ia menoleh dan baru menyadari kehadiran mata raksasa
itu di langit.
Ia spontan teringat pesan Oor untuk melindungi Raseyan. Jika benar mata itu adalah manifestasi Gosta Cola, maka
Raseyan dalam bahaya!
Makhluk itu datang untuk mencari manusia pemilik pecahan batu bintang inti. Ya, ia datang mencari Raseyan! Manusia yang jantungnya berdetak karena kekuatan batu bintang inti.
“RAAAAAAAAASEYANNNNNNNNNNNNNN” teriak Alea.
Gadis itu berlari sekuat tenaga ke arah Raseyan.
Ia menyesali kebodohannya.
Jika Raseyan sampai mati di tangan Gosta Cola maka ia tidak akan bisa mengampuni dirinya sendiri!
***
Bantuan vote dari Fanalea benar-benar saya apresiasi ya... yang pengen cerita Alea sering update.... ayo dukung saya dengan vote, like, dan komen kalian ya...
Thank you!