Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 10. Di balik sentuhan Alea



Ada serentetan peristiwa yang dilihat Alea saat Raseyan menyentuh bibirnya yang mungil.


Gadis itu melihat wajah Andulu dan Amatya yang tengah mengikat Raseyan di antara akar-akar pohon raksasa.


Pohon tersebut mengingatkan Alea akan pohon-pohon ajaib yang berada di dekat lubang masuk menuju benteng Sundayana.


“Raseyan…” gumam Alea.


Hatinya terenyuh.


Ia tidak sampai hati saat melihat wajah Raseyan yang kesakitan. Cerita pemuda itu ternyata benar. Andulu mengiris lengan kanan pemuda itu dengan paksa. Sang shaman menggunakan sebuah batu tajam untuk mengiris lengan Raseyan.


“Tapi untuk apa?” tanya Alea penasaran.


Jeritan Raseyan menggema hingga ke seluruh hutan.


Ia memohon kepada Andulu untuk berhenti mengiris kulitnya.


“Tidak….tidak… berhenti. Ini semua tidak ada gunanya!”.


Andulu bersikeras.


Ia meminta Amatya untuk mengambil racikan ramuan dari berbagai tanaman liar.


Sang shaman meneteskan darah Raseyan ke dalam racikan tersebut. Ia lalu menggores darah yang telah bercampur racikan tanaman ke sebuah batu berukuran sedang.


Andulu kemudian merapalkan sebuah mantra.


Mantra itu rupanya menguras energi Alea.


Gadis itu jatuh lemas terkulai.


Ia nyaris terbanting ke arah  bebatuan sungai.


Untung saja Raseyan berhasil  menahan  tubuh Alea.


Pemuda itu panik saat mendapati Alea yang pingsan.


Ia menepuk pipi Alea berulang kali.


“Masa iya karena…..” Raseyan mengatupkan bibir. Ia mulai merasa bersalah. Jangan-jangan perbuatannya barusan merupakan penyebab pingsannya Alea. Ia buru-buru menggendong Alea pulang.


Hatinya resah. Di perkampungannya tidak ada tabib. Selama ini para penduduk perkampungan selalu meminta bantuannya. Selain bertindak sebagai pemimpin suku, Raseyan juga berperan sebagai ahli pengobatan untuk para pengikutnya. Ia hanya mempraktekkan apa yang dipelajarinya dari Andulu dan Amatya.


Namun ia tidak punya cukup pengalaman untuk mengobati orang yang jatuh pingsan. Apalagi ini menyangkut nyawa Aleanya. Raseyan berharap ia tidak terlambat!


Pemuda itu mempercepat langkahnya. Ia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa mengendalikan diri. Kecantikan Alea dan kerinduannya pada gadis itu telah mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang di luar batas. Ia sadar bahwa perbuatannya salah. Tapi bagaimana lagi, ia merasa hanya Alea yang bisa mengobati luka hatinya.


“Eh, Raseyan… Alea kenapa?” tanya Kavindra yang baru saja akan masuk ke dalam rumah Raseyan.


“Kavindra bantu aku… tolong nyalakan perapian” seru Raseyan. Nadanya panik. Sang kepala suku purba itu nyaris terpeleset saat akan memasuki rumahnya sendiri.


Kavindra membantu Raseyan yang terlihat kewalahan.


Mereka berdua menempatkan Alea ke atas tumpukan jerami lembut yang digunakan Raseyan sebagai ranjang tidur.


“Kenapa dia?” tanya Kavindra panik.


Raseyan tidak menjawab. Ia hanya meminta Kavindra untuk mengambilkan kain kering yang terletak di meja.


“Eh panggil penduduk perempuan yang lain... Masa kamu yang gantiin baju dia?” tolak Kavindra. Ia tahu bahwa di masa lalu Raseyan merupakan suami Alea, tapi hati kecilnya menolak jika Raseyan melakukan sesuatu yang di luar kehendak sang sahabat. Kavindra tahu jika Alea tidak pernah menganggap Raseyan sebagai pasangan hidup. Lebih jauh, Kavindra tidak mau jika menjadi korban amukan Mahesa. Jika dewa itu tahu bahwa Kavindra membiarkan Raseyan menyentuh tubuh Alea, ia yakin jika jiwanya akan dibumihanguskan Mahesa.


“Bentar ya… gue panggilin bibik yang tinggal di depan rumah”. Pria itu dengan sigap memanggil wanita paruh baya yang tinggal tidak jauh dari rumah Raseyan. Tidak lama kemudian, wanita itu datang dengan tergopoh-gopoh.


Raseyan menyapa wanita bertubuh besar tersebut dengan ramah.


“Ah, Sohore, aku perlu bantuanmu” seru Raseyan dengan bahasa setempat.


Wanita itu mengangguk. Ia mengambil kain kering dari tangan Raseyan. Permintaan sang kepala suku untuk mengganti pakaian tamunya ia lakukan dengan serius.


Sementara itu Raseyan berjalan mendekati Kavindra yang tengah termenung di dekat pintu keluar.


“Alea ga kenapa-kenapa kan?” tanyanya khawatir.


Raseyan tidak menjawab.


Ia malu mengakui perbuatannya.


“Kayanya dia kecapekan deh, soalnya dia kurang tidur juga. Kecapekan juga karena sebelum kita ke Gunung Padang, dia begadang semalaman untuk cari-cari kesempatan baca diary yang elo tinggalin”.


Mata Raseyan terbelalak.


Ia semakin merasa bersalah.


Sedari tadi ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia dan kerinduannya kepada wanita yang pernah menjadi Ratu Sundayana itu.


Raseyan menyesal.


Ia tidak mengira jika Alea sedang tidak dalam kondisi prima.


“Sudah, pemimpin…” ujar sang wanita yang membantu proses penggantian pakaian Alea.


“Ah,  terima kasih. Silahkan beristirahat, maaf mengganggumu Sohore” ujar Raseyan.


Wanita bernama Sohore itu pamit undur diri. Pekerjaannya selesai. Ia kemudian meninggalkan kediaman


Raseyan yang berada di tengah komplek perkampungan.


Setelah mengantar kepergian Sohore, Raseyan pun bergegas mendekati Alea. Ia menyelimuti gadis itu dengan selimut bulu binatang hasil buruannya.


“Alea…. Cepat bangun agar aku bisa meminta maaf” ujarnya lirih.


Ia benar-benar menyesal telah bertindak sembarangan.


Pemuda itu menambah jumlah kayu bakar untuk menghangatkan perapian. Tidak ada yang bisa ia


lakukan selain memastikan agar tubuh Alea tetap hangat.


Keberadaan Kavindra membuatnya canggung. Jika ia berada terlalu dekat dengan Alea, pasti


pria itu akan bereaksi.


Raseyan hanya bisa terduduk lesu di sebelah Alea.


Ia berulang kali memainkan jerami kering. Bibirnya bolak balik berdoa agar Alea cepat diberikan kesembuhan.


“Kalau Alea udah bangun kabarin yak” seru Kavindra sambil menumpuk jerami di dekat perapian. Ia mengambil selimut bulu binatang dan menghangatkan dirinya sendiri.


Suara rintik hujan dan dinginnya malam telah membuatnya semakin mengantuk. Ia memutuskan untuk tidur lebih cepat. Lagipula tubuhnya memang letih setelah mengikuti perjalanan misterius Alea di dunia transisi.


Tidak sampai dua menit, suara dengkuran Kavindra pun terdengar. Setelah memastikan bahwa Kavindra telah tertidur lelap, Raseyan pun memberanikan diri untuk tidur di dekat Alea. Ia sengaja merebahkan tubuh di sebelah gadis itu. Pria itu ikut memejamkan mata. Ia berharap saat matahari menyapa, Alea sudah pulih seperti


sedia kala.


***


Ada sebuah mimpi indah yang menghampiri Alea.


Ia melihat sebuah pecahan bintang yang jatuh ke bumi. Kejatuhannya diiringi oleh dentingan


indah suara harpa dan alunan suara gemericik sungai yang menenangkan hati.


Saat bintang itu jatuh, warna langit berubah menjadi putih keemasan.


Seketika ia melihat kecambah-kecambah tanaman yang tumbuh dengan cepat.


Mata-mata air muncul dan mengalirkan air bening ke seluruh penjuru permukaan.


Bintik-bintik hijau bermunculan.


Sekumpulan bintik tersebut dengan cepat menjalar dan menutupi seluruh permukaan tanah.


 


Alea tertegun.


Ia melihat sepasang sosok makhluk menyerupai manusia dari kejauhan.


Mereka bergandengan tangan.


Sosok wanita itu menyebarkan pecahan bintang yang tersisa ke dalam aliran sungai.


Sedangkan sosok pria membenamkan pecahan bintang tersebut ke dalam tanah.


Alea melihat bintang-bintang seakan membentuk sebuah formasi dan mereka menari-nari dengan riang.


Ia belum pernah melihat formasi seperti itu.


Tidak jelas apakah formasi tersebut menyerupai bentuk panah, hewan atau makhluk menyerupai dewa.


Alea terbangun.


Saat matanya terbuka.


Ia melihat sisa-sisa pecahan bintang itu masuk ke dalam dahi Raseyan.


Pemuda itu kini tengah tertidur di sebelah Alea.


Alea diam-diam mengamati pria itu.


Parasnya yang rupawan tersebut ternyata menyimpan banyak kesedihan, gumam Alea tidak tega.


Ia masih teringat dengan penerawangannya.


Jika Raseyan terbangun, Alea ingin bertanya lebih jauh.


Apa sebenarnya tujuan Andulu menggoreskan darah Raseyan ke bebatuan? Apakah tindakan tersebut ada hubungannya dengan kekuatan Sundayana yang tersimpan di tubuh sang raja?


Alea diam-diam menyentuh pipi Raseyan.


Ia memejamkan mata, mencoba melihat penerawangannya yang tidak selesai.


Sungguh gadis itu penasaran.


Apa yang membuat Andulu tega mengiris lengan Raseyan?


Apa yang terkandung dalam darah Raseyan?


Apakah pecahan bintang yang ia lihat dalam mimpinya?


Kabut hitam pun segera menyambut penerawangannya.


Alea melihat sosok-sosok yang mencoba menghalanginya untuk melihat memori yang tersimpan di tubuh Raseyan.


Gadis itu terkejut, ia kini merasakan cakaran panas di kedua lengannya.


“Siapa yang mencoba menghalangiku?” tanya Alea terkejut.


Ia melihat ke arah lengannya.


Ada bekas cakaran!


Tepat di tempat dimana energi aneh itu menyentuhnya dalam penerawangan.


“Tidak mungkin” ujar Alea lagi. Ia memberanikan diri untuk kembali menyentuh pipi Raseyan.


Alea pun disambut oleh hembusan angin kencang berisi pasir.


“Uhuk…uhuk….”.


Pasir yang entah datang dari mana memenuhi mata dan hidungnya. Alea benar-benar tidak percaya. Ada suatu misteri yang menyelimuti keberadaan Raseyan di dunia ini. Tapi apa?


Gadis itu kembali nekad. Bukan Alea namanya kalau mudah menyerah, tekadnya bulat.


Ia kini menyentuh ubun-ubun Raseyan hingga pria itu terbangun.


 


“Alea?” tanya Raseyan bingung.


Ia mendapati Alea tengah menjambak rambutnya.


“Ah, dia pasti marah besar padaku….” gumam Raseyan salah sangka.


“Le… Le…. lo kenapa?” ujar Kavindra mencoba menghentikan ulah Alea. Saat pria itu terbangun, ia melihat Alea tengah menjambak rambut Raseyan dengan kuat. Mata gadis itu memerah. Ia terlihat seperti sosok yang berbeda, gumam Kavindra panik.


“Awas jangan ganggu…. Lo pergi aja….” hardik Alea marah.


“Kesurupan… kesurupan setan sungai!!!!” teriak Kavindra histeris. Pria itu terbawa kata-kata Raseyan yang bercerita bahwa Alea pingsan di pinggir sungai.


Di zaman dimana pemujaan pada roh-roh yang tersimpan di benda mati masih kental dilakukan oleh penduduknya, bukankah kesurupan adalah hal biasa?


“Hah?” Raseyan panik.


Apakah ia bisa mempercayai kata-kata Kavindra? Alea menjambaknya karena kesurupan? Bukan karena marah akibat ulah lancangnya mengecup bibir gadis itu?


“Lepasin… lepasin!” seru Alea memberontak. Ia tidak tahu kenapa Kavindra tiba-tiba menuduhnya kesurupan.


“Le… sadar, Le… sadar….. jangan kalah ama makhluk halus. Elo harus lawan Le…”. Kavindra memberi kode kepada Raseyan agar menahan tubuh Alea. Ia lalu menarik salah satu kaki Alea dengan paksa.


Kavindra pun buru-buru memijit ibu jari kaki Alea dengan sekuat tenaga. Ia meniru adegan-adegan para pemburu hantu yang sering dilihatnya di kanal video populer nusantara


“Saaaaaaaa…..kit!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”  teriak Alea.


“Siapa nama elo! Siapa nama elo? Kenapa lo ganggu temen gue?!” bentak Kavindra galak.


“Apa-apaan sih…. Raseyan lepasin!” teriak Alea. Pria itu mengikuti perintah Kavindra untuk menjepit tubuh Alea dengan kedua lengan dan kakinya.


Kavindra menjitak dahi Alea berulang kali.


“Keluar… keluar….. keluar dari tubuh temen gue!!!”.


Raseyan terpana. Apa benar Alea pingsan karena kesurupan penunggu sungai?


“Kav, kalau benar ia kesurupan… kita tidak bisa pakai cara ini” seru pemuda itu.


“Maksud elo?”.


“Ambil kayu di ujung sana, panaskan di perapian….. Alea harus dicambuk dari belakang” seru


Raseyan.


“Hah????????????????????????????????” jerit Alea kaget.  Omong kosong apa lagi yang dilontarkan Raseyan?


"Argh, siaaaapa bilang gue kesurupan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!".


Gadis itu semakin meronta. Ia mencoba melepaskan pegangan Raseyan yang kokoh. “Sejak kapan dia jadi sekuat ini sih….” gumam Alea panik.


Ia tidak ingin cambuk kayu itu merusak kulitnya. Mata Alea terbelalak saat melihat Kavindra  tengah memanaskan cambuk kayu di perapian.


“Gue ga kesurupan. Kavindra!! Berhenti!!!!!!! Atau gue laporin Mahesa” tangis Alea putus asa.


Langkah kaki Kavindra terhenti.


Ia yakin jika setan dari tubuh Alea sudah pergi.


Jika tidak, bagaimana mungkin setan itu berani menyebut nama calon penerus Kaisar Langit tersebut dengan lantang?


“Aleaaaaaaa, welcome back…..” tangis Kavindra pecah.


“Alea…”. Raseyan pelan-pelan melepaskan pegangan. Ia memeluk Alea dari belakang seraya membisikkan


permintaan maaf di telinga gadis itu.


“Maaf ya tadi.... maafkan aku”.


Alea terdiam.


Ia kembali melihat penerawangan.


Gadis itu mematung untuk beberapa saat. Ia kembali bisa melihat momen dimana Raseyan ditandu oleh Andulu dan Amatya.


Saat Raseyan melepas tubuhnya, penerawangan itu tiba-tiba berhenti.


“Hah?” Alea melirik ke arah Raseyan.


Rasa curiga memenuhi benaknya.  “Masa iya?”.


Alea pun menguji hipotesanya. Ia sengaja menghuyungkan tubuh ke dada Raseyan.


Dugaannya tidak salah! Bayangan hitam itu kembali untuk menghentikan penerawangannya.


Namun saat Raseyan menyentuh pinggang Alea yang terhuyung, bayangan hitam itu lenyap begitu saja.


“Kau tidak apa-apa? Kau perlu berbaring?”.


Alea menggeleng.


Ia melepaskan diri dari pegangan Raseyan.


Hipotesanya benar! Ia tidak boleh menyentuh Raseyan dengan niat melakukan penerawangan. Pria itu


dikelilingi sesuatu yang mencoba menyembunyikan misteri di balik batu bergores.


Tapi jika Raseyan yang menyentuhnya, kekuatan itu tidak bekerja.


Seperti saat Raseyan mengecupnya, memori-memori yang tersimpan di dalam tubuh mantan Raja


Sundayana itu pun terkuak.


Alea berbalik badan. Ia penasaran.


Gadis itu mengecup bibir Raseyan di depan Kavindra.


Tujuan gadis itu sebenarnya hanya untuk menguji hipotesanya sekali lagi. Apakah bibir adalah area khusus yang memungkinkannya melihat masa lalu Raseyan?


Atau semua itu tidak ada hubungannya?


Selama Alea yang melakukan sentuhan terlebih dulu, maka makhluk itu akan menghalangi usahanya?


Sayang sekali, kecupan yang dilakukan Alea telah menyebabkan salah sangka di antara mereka bertiga.


“Masih kesurupan!!!!!!!!!! Setannya balik !!!!!” Kavindra tanpa ragu langsung menerjang Alea dari belakang.


Alea yang ia kenal tidak akan mengecup Raseyan begitu saja. Kavindra yakin bahwa ini ulah roh jahat.


Mana mungkin Alea, gadis penuh prinsip itu akan mengecup laki-laki sembarangan? Ia sudah lama berpetualang dengan Alea. Ia tahu bahwa Alea tidak akan semudah itu menyerahkan dirinya pada seorang lelaki.


Raseyan menghalangi serangan Kavindra. Ia terkejut saat melihat Kavindra hampir melayangkan cambukan ke punggung Alea.


“Jangan ketipu bro, itu makhluk halus….. “ seru Kavindra dengan sorotan tajam.


Raseyan menggeleng. Ia berdalih jika Alea mungkin sedikit linglung karena letih.


“Mungkin ia kira aku Mahesa…”.


Hati Raseyan teriris saat mengatakan hal tersebut. Ia hanya berkilah. Tentu saja ia


mengatakan hal tersebut untuk menenangkan Kavindra.


Pemuda itu berharap bahwa Mahesa bukan alasan kenapa Alea melakukan hal itu kepadanya.


Kavindra terdiam. “Ya bisa jadi ya… dia kan baru kesurupan, jadi ga sadar ama sekelilingnya” ujarnya membenarkan teori Raseyan.


Pria itu menurunkan cambuknya. Ia kemudian pelan-pelan mengajak Alea duduk di atas tumpukan jerami kering. Sejujurnya, Kavindra telah menganggap Alea seperti adik sendiri. Ia berjanji akan melindungi gadis itu bahkan dari gigitan semut api sekalipun.


“Le, pokoknya elo harus sembuh…. Ntar nggak ada yang gue kerjain kalo lo kenapa-kenapa…” ujar Kavindra berkaca-kaca. Ia memijit-mijit pelan telapak kaki sang sahabat.


Alea memandang kakinya dengan tatapan kosong.


Ia bukan sedang kesurupan atau linglung.


Gadis itu memiliki puluhan pertanyaan dalam hati.


Saat ia mengecup Raseyan, sosok hitam itu kembali datang. Sosok gelap tersebut sepertinya memiliki empat buah tangan. Tubuhnya besar namun tidak memiliki bentuk jelas. Ia mencoba meninju Alea dengan kepalannya yang besar.


Sementara itu Raseyan mencoba menenangkan diri.


Kecupan Alea barusan membuat dadanya panas. Ia tidak tahu apakah kecupan itu bermakna bahwa


Alea membalas perasaannya? Tapi jika iya, kenapa tatapan gadis itu sekarang kosong seperti mayat hidup?


Benarkah Alea sempat kerasukan setan sungai atau roh jahat seperti dugaan Kavindra?


Raseyan melirik ke arah Alea.


Setelah Kavindra pergi, ia ingin memastikan perasaan Alea untuknya.


***


Terima kasih udah ikut jauh-jauh ke sini untuk baca Alea. Dua episode terakhir ini ada adegan yang ga biasa ya dari Alea. Tapi janji ini maksimal hahaha... diusahakan tidak ada lagi adegan kecup mengecup begini di episode-episode berikutnya biar aman dibaca untuk semua usia.


Mohon dukungannya selalu ya. Di mangatoon ini kalian juga bisa vote cerita Aela setelah mengumpulkan poin baca (Caranya macam-macam, entah dengan nonton iklan, online lebih dr 10 menit). Vote kalian akan berharga buat author. Biar semangat double wfh (work ama write from homenya).


Selalu ditunggu komentar dan jempol-jempol likenya.


Muah xoxo.